
Sabtu jam enam pagi, Ami mengikuti Ibu dan Papa olahraga pagi menyusuri jalan pedesaan. Jika orang tuanya melakukan joging dengan berjalan cepat, Ami memilih lari. Bagaimana pun juga kebugaran fisiknya harus selalu terjaga karena sebagai atlet kejuaraan silat. Bahkan besok ada jadwal latihan di Padepokan.
Rasanya kurang afdhol kalau belum laporan kegiatan kepada Ayang. Ami menghentikan lari sambil menunggu Papa dan Ibu yang tertinggal di belakang. Ponsel dikeluarkan dari saku hoodie. Tiga kali selfie dilakukan dengan latar belakang orang tua yang juga ter capture.
[Olga pagi dulu biar kuat ngadepin sidang paripurna 🤪]
Caption menyertai satu foto yang paling bagus sudah dikirim kepada Akbar. Ami menyimpan lagi ponselnya ke dalam saku. Melanjutkan dengan peregangan otot sambil menatap pemandangan gunung syawal yang menjulang tinggi dan rimbun pepohonan hijau.
Pulang dari berolahraga, menyempatkan mampir dulu ke tukang serabi. Pedagangnya sudah kenal dengan keluarga Ibu Sekar. Bahkan menanyakan kabar Puput yang juga dulunya biasa suka jajan di kios serabi oncom yang masih melestarikan cara masaknya dengan kayu bakar.
"Teh Puput alhamdulilah sehat, Bah. Tinggal di Jakarta ikut suami. Anaknya sekarang udah dua." Ami berjongkok di depan tungku karena ingin membuat sendiri serabinya meskipun sudah ada yang matang.
"Alhamdulillah, syukur Abah mah seneng dengarnya. Neng Aul juga udah nikah ya. Berarti tinggal Cep Zaky sama Neng Ami nih. Ah, sepertinya yang mau segera nikah mah Neng Ami dulu ya?"
Mendengar ucapan Abah penjual serabi, sontak Ami menatap Ibu dan Papa yang duduk di bangku kayu, sedang menikmati serabi hangat. "Bu gimana ini aminkan jangan ucapan Abah," seringai jahil terbit menghias di wajahnya.
Ibu Sekar hanya tersenyum mesem. "Ini anak dari kemarin sore bicaranya mancing-mancing terus ke topik nikah. Sampe mau tidur jadi kepikiran siapa itu tamu nanti," ucap batinnya sambil mengunyah serabi dan mengamati Ami yang bersemangat mengangkat serabi matang hasil karyanya sendiri.
Sudah cukup kenyang. Apalagi Ami mengajak pulang. Pak Bagja membayar dengan uang seratus ribu untuk total delapan serabi yang dimakan bertiga. Dan menyerahkan kembaliannya untuk Abah. Tentu saja diterima dengan penuh rasa syukur dan haru dengan iringan doa keberkahan. Semuanya berjalan menuju mobil yang disimpan di lapangan desa. Pulang ke rumah.
"Relax and relax and relax." Ami mensugesti dengan menatap pantulan dirinya di cermin. Tegang, iya. Dan ia sedang membangun kepercayaan diri. Karena harus bisa menjawab lugas jika ada pertanyaan dari Ibu atau Papa. Kisi-kisi kemungkinan pertanyaan sudah diberitahu Akbar subuh tadi saat video call. Tanpa dibriefing jawabannya harus bagaimana. "Karena jawabannya harus dari hatimu, Cutie. Aku akan dengerin jawabanmu nanti." begitu katanya.
Sudah jam delapan. Ia baru selesai berdandan merapihkan jilbabnya. Riasan wajah tak berlebihan. Cukup mengaplikasikan sunscreen dan cushion serta memoles bibir dengan lip serum sehingga bibirnya menjadi berwarna merah muda segar.
[Otewe, Cutie]
Huft. Ami menarik nafas dari hidung, menghembuskan perlahan dari mulut. Berulang tiga kali. Akbar memang sudah bercerita subuh tadi. Sengaja akan datang lebih awal. Selalu saja pergerakan penuh perencanaan ayangnya itu tak terduga oleh Ami. Ia harus menunggu di kamar sampai ada yang memanggilnya turun.
Ami terjengit saat ponsel di pangkuannya menggelepar. Ia sedang fokus menghitung jarak tempuh dari hotel Seruni ke rumahnya. Video call dari Padma.
"Mi, gimana Kak Akbar jadi datang?"
"Jadi. Lagi otewe nih."
"Hihihi."
"Eh, Munaroh. Napa cekikikan kayak kunti?"
"Hihihi. Ngaca dong ngaca! Marimar bisa tegang juga. Kirain harimu bakal selamanya santuy." Padma cekikikan dengan begitu lepas.
Ami yang sedang duduk di tepi ranjang, bergegas menuju cermin. "Keliatan tegang dimananya sih? Perasaan B aja." Ia beralih menatap Padma yang memenuhi layar ponsel.
__ADS_1
"Tapi bo ong. Hihihi." Padma memeletkan lidah sambil mengangkat telunjuk sebagai isyarat 1 - 0.
"Hais, Munaroh. Ini lagi jam serius jangan dulu ngajak canda!"
"Justru harus dibawa santuy seperti biasanya. Biar Marimar gak grogi kalau nanti dibilang Ibu."
"Iya sih. Munaroh, temenin dulu ya sampai ayang datang. Paling 10 menitan lagi juga sampe."
"Okay. Apa sih yang enggak buat bestie."
***
Mobil Lamborghini kuning perlahan menepi di bahu jalan, di depan rumah Ibu Sekar. Meluruskan posisi hingga terparkir sempurna tanpa menghalangi pintu gerbang keluar masuk ke rumah pemilik rumah makan Dapoer Ibu itu. Pintu mobil terbuka ke atas. Seorang pria tampan dalam balutan kemeja slimfit lengan pendek warna hitam berpadu celana chino warna moka, keluar dari supercar itu. Dialah Akbar Pahlevi Bachtiar.
Langkahnya tegap, pembawaannya tenang. Refleksi dari kepercayaan diri yang dimiliki. Akbar menggeser pintu gerbang yang tak terkunci itu. Tangan kirinya menenteng paper bag sebagai buah tangan bertamu. Ia berdiri di depan pintu. Menunggu pintu dibuka usai satu kali menekan bel.
"Bi Ela, tolong bukain pintu dulu!" Ibu Sekar sedang serius diskusi dengan Pak Bagja di meja makan, saat mendengar bel berbunyi. Diskusi tentang menu yang harus disiapkan untuk dihidangkan pada acara khusus sabtu depan. Atas lobi suaminya itu, acara silaturahmi purnawirawan TNI AL yang rutin diagendakan setiap tahun, kini diadakan di Ciamis. Dan rumah makan Dapoer Ibu menjadi tempat gelaran acara.
Bi Ela bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu yang dikunci. Tak berselang lama, datang menghampiri Ibu Sekar yang sedang menulis catatan di kertas.
"Bu, ada Mas Akbar mau ketemu Ibu."
"Mas Akbar. Sepupunya Rama, bukan?" Ibu menautkan kedua alisnya mencoba menerka.
"Oh iya." Ibu menutupkan dulu bukunya. Membiarkan Bi Ela berlalu ke dapur. "Kirain yang mau bertamu ke Ami," ujarnya menatap Pak Bagja yang sedang menyeruput kopi. Namun ia lihat jam saat ini baru menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Pa, temenin yuk!"
"Nanti nyusul. Mau abisin dulu kopi."
Ibu Sekar memundurkan kursinya. Berjalan santai menuju ruang tamu dan menyempatkan berkaca di cermin kecil di atas bufet. Memperbaiki jilbabnya.
"Assalamu'alaikum, Bu." Akbar berdiri menyambut kedatangan pemilik rumah.
Ibu Sekar menjawab salam dengan iringan senyum ramah. Bertanya kabar saat pemuda santun itu usai mencium tangannya.
"Alhamdulillah, sehat. Ibu dan Bapak bagaimana kabarnya? Oh ya, Mama titip salam sama Ibu." Akbar duduk di tempat semula. Berhadapan dengan Ibu Sekar terhalang meja.
"Alhamdulillah, Ibu dan Bapak juga sehat. Salam kembali untuk Bu Mila ya, Mas Akbar."
Akbar mengangguk dan tersenyum. "Ini ada sedikit oleh-oleh dari Jakarta." Ia menyerahkan paper bag berukuran sedang. Menyimpannya di meja.
__ADS_1
"Duh, kenapa repot-repot bawa oleh-oleh segala. Kalau lagi kunker ke Tasik, Mas Akbar jangan sungkan mampir kesini. Gak harus bawa oleh-oleh." Ibu Sekar tak urung mengucapkan terima kasih dan memindahkan paper bag itu ke kursinya.
"Akbar tidak sedang kunker, Bu. Emang sengaja dari Jakarta buat silaturahmi kesini."
"Oh. Alhamdulillah atuh." Ibu Sekar tersenyum semringah. Keluarga besar Rama memang sudah dikenal baik sebagai keluarga yang baik dan ramah. Hingga Panji saja dulu tidak sungkan sering main hingga naik status menjadi menantu.
Obrolan terjeda karena kedatangan Pak Bagja. Ibu Sekar memberi kesempatan pada sang suami dan Akbar untuk saling menyapa. Hingga suaminya itu duduk satu sofa dengannya.
Tak lama, Bi Ela datang membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan sepiring kue lapis legit. Menghidangkan di meja.
"Mas Akbar dari Jakarta sama siapa? Sudah ke rumah Enin belum?" Ibu Sekar melanjutkan obrolan santai usai Bi Ela berlalu meninggalkan ruang tamu.
"Akbar sendirian, Bu. Rencana akan ke rumah Enin sepulang dari sini. Karena bertemu Ibu dan Bapak adalah tujuan utama. Akbar ada yang mau disampaikan sama Ibu dan Bapak."
"Wah, ada apa nih? Kok serius keliatannya." Ibu Sekar tersenyum sambil menoleh ke arah Pak Bagja. Suaminya itu tak berkata-kata. Namun fokus memperhatikan sang tamu.
Akbar tersenyum simpul. "Serius tapi santai ini, Bu. Begini....Akbar kan sedang mencari calon istri. Dan ada seorang gadis yang Akbar suka di kota ini. Sudah lama diamati dan dinilai. Baik dari kepribadian juga latar belakang keluarganya. Dan Akbar udah merasa cocok. Hari ini Akbar mantap ingin meminta restu pada orang tuanya."
"Masya Allah. Mas Akbar naksir gadis Ciamis juga? Jadi minta tolong Ibu dan Bapak buat nganter, gitu? Emang siapa gadis yang beruntung itu?" Ibu Sekar nampak terkejut sekaligus tak sabar menunggu kelanjutan ucapan sang tamu. Sementara Pak Bagja tetap tenang menyimak.
"Namanya Rahmi Ramadhania. Gadis bungsu Ibu dan Bapak." Akbar mengamati perubahan ekspresi wajah Ibu Sekar dan Pak Bagja. Terutama Ibu Sekar yang nampak terjengit sampai menegakkan punggung.
"Mas Akbar jangan bercanda ah. Serius siapa atau anaknya siapa?" Ibu Sekar tersenyum kaku karena antara percaya dan tidak percaya.
"Akbar serius, Bu. Akbar meminta restu untuk meminang Ami." Ucap Akbar lugas dan tenang. Bukannya tidak tegang. Namun mampu diredam dalam hati.
"Ami kemarin bilang akan ada tamu yang akan bertemu kami jam sembilan hari ini. Apakah tamu yang dimaksud itu kamu?!" Baru kali ini Pak Bagja bersuara dengan aura tegas seorang jenderal.
Akbar mengangguk kuat. "Benar, Pak." Ia bisa merasakan aura intimidasi dari sorot tajam ayah sambungnya Ami. Aura yang ingin merontokkan mental. Namun ia tak gentar. Niat dan tujuannya baik.
"Ibu, coba panggil dulu Ami nya!" Pak Bagja menepuk bahu sang istri yang masih terkesiap itu.
"Bi...Bi Ela." Ibu Sekar melambaikan tangan melihat Bi Ela sedang menyapu ruang tengah. Ia yang sudah bangun dari duduknya, urung meninggalkan ruang tamu.
"Ada apa, Bu?"
"Panggil Ami di atas. Suruh kesini sekarang ya!" Ibu Sekar menatap kepergian Bi Ela dengan kerjapan mata resah dan gelisah.
...****************...
Ada yg belum follow? yuk follow igeh @authormenia, video dan foto visual tokoh selalu hadir di instastory. Bisa dilihat juga dipostingan dan sorotan ya.
__ADS_1
Huhuhu. Duarrr. Bab² tegang dan gempar keluarga besar ada di depan mata. Aku harus banyak ngopi dan mandi kembang biar inspirasi lancar dan strong nulis 😁😁🥰