
Pulang dari hotel Seruni meninggalkan kesan super manis untuk Ami. Menjadi makmum sholat meski kemudian ada yang menyusul masbuk dua orang laki-laki yaitu Ayah Anjar dan Papa Darwis. Tetap saja ia sangat terkesan karena Akbar yang menjadi imam. Bangga dan berbunga-bunga. Yakin pilihannya tidak salah melabuhkan hati pada pria berjambang tipis itu. Ilmu dunia akhirat dimiliki.
Bunga mawar merah masih segar meski sudah sehari berada di kamar. Itu karena Ami langsung memindahkannya ke dalam vas yang sudah diisi air dingin. Dipastikan tangkainya harus sampai terendam air. Tahu cara mempertahankan kesegaran bunga mawar yang sudah dipetik agar kuat selama seminggu, itu karena ilmu dari Ibu. Sang ibu hobi berkebun mawar yang lokasinya ada di area gazebo Dapoer Ibu. Selalu dijadikan spot foto oleh pengunjung rumah makan.
Pagi ini menjadi waktu yang kompak bagi semua keluarga yang akan melakukan perjalanan arus balik. Itu karena cuti lebaran sudah berakhir. Mulai masuk kantor lagi besok. Termasuk Zaky yang juga harus kembali ke Singapura. Pagi ini, nampak kesibukan packing di rumah Ibu Sekar.
"Aa jangan pulang ya. Aa tinggal disini aja sama ate, sama nenek." Ami mendekap Rasya usai membantu memakaikan sepatu sneaker warna hitam putih.
"Nanti kalau Aa kangen Umma gimana? Nanti nangis. Papa juga suka nangis kalau kelual kota. Kalena gak bisa bobo sama Umma." Rasya seperti dilema. Antara masih betah tidur bersama Ate Ami tetapi juga tidak mau jauh dari Umma. Ia tak mengerti kenapa kini semua orang tertawa ngakak.
"Aa kenapa gak bisa jaga rahasia sih. Kan Papa jadinya malu sama nenek, sama Ate Ami, sama Ate Aul, sama Om Panji, sama Om Zaky. " Rama terkekeh sambil geleng-geleng kepala sama kepolosan putra pertamanya itu.
"Iya kan kalo Papa kelual kota telus vc Aa suka bilang gini sama Umma. Umma....Papa gak bisa tidul kalo gak peluk Umma dulu. Hik hik hik." Rasya mempraktekkan dengan ekspresif.
"Ahahahaha....." Gelak tawa kembali menggema. Rama hanya bisa menepuk jidat karena kebiasaannya saat LDR dibongkar Rasya.
Canda tawa pagi harus berakhir karena sudah waktunya berpisah. Bersalaman dan berpelukan antara ibu serta kakak beradik. Ibu Sekar dan Ami juga Panji dan Aul pun mengantar sampai pintu gerbang. Mobil Rama akan menuju dulu rumah Enin. Karena akan berangkat sama-sama dengan rombongan Papi Krisna dengan Damar sebagai sopirnya.
"Dadaaaah.....Aa pulang." Rasya melambaikan tangan dengan memasang wajah imut. Tidak kentara kesedihan. Berbanding terbalik dengan orang dewasa yang merasa sedih karena perpisahan. "Assalamu'alaikum nenek, ate Ami, ate Aul, Om Panji. Mmuach." Sliding door bergerak otomatis usai Rasya memberi kecup jauh. Pintu tertutup rapat dan terkunci. Dengan sekali klakson yang ditekan Rama, mobil pun melaju di jalan raya.
__ADS_1
"Bu, Panji harus pulang lagi sekarang. Mau ada tamu teman ke rumah satu jam lagi."
"Iya, nak. Jangan ngebut nyetirnya!" Ibu melepas Aul dan Panji pergi. Mereka memang menyempatkan datang satu jam yang lalu untuk ikut melepas kepergian keluarga kecil Rama juga Zaky. Tiga anaknya sudah pergi. Ia merangkum bahu Ami mengajak masuk. Baru saja pecah tawa memenuhi rumah. Kini keheningan kembali menyergap ruang rumah dan ruang kalbu. Tentu saja perubahan tidak bisa dicegah dan dihindari. Anak-anak menjadi dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Ia pun dulu sama harus meninggalkan orang tua karena menjalani hidup baru, berkeluarga. Begitulah siklus hidup.
"Berdua lagi kita, Bu. Sepi lagi." Ami menghempaskan bokong di sofa bed ruang tengah. Ponsel yang tergeletak di dekat bantal, segera diraih. Belum ada lagi chat dari Akbar.
"Iya. Nanti giliran Ami yang bakal ninggalin Ibu. Jadi kuliah di UI?" Ibu duduk di sisi kanan Ami.
"Iya, pengennya sih. Moga aja keterima. Dan kalau giliran aku harus jauh dari Ibu, ada Papa yang akan nemenin Ibu. Aku gak akan khawatir sama Ibu."
"Papa siapa?" Kening Ibu Sekar berkerut.
"Papa Happy lah Bu. Kan Pak Bagja sama anak-anaknya dipanggil Papa. Masa aku manggilnya Akang. Kan itu mah panggilan sayang ibu sama pak jenderal."
Ibu Sekar beranjak bangun begitu mendengar dering dari ponselnya yang tersimpan di meja televisi. "Bu Mila telpon, Mi."
Ami duduk tegak dan mendengarkan Ibu yang menjawab salam. Ikut penasaran ada apa gerangan.
"Saya hari ini gak kemana-mana, Bu Mila."
__ADS_1
"Tentu bisa. Baik, untuk jam 12 ya Bu Mila. Saya tunggu kedatangannya."
"Wa'alaikum salam."
Ami menatap Ibu yang baru menyudahi sambungan telepon. Sorot mata meminta penjelasan.
"Bu Mila sekeluarga mau pulang ke Jakarta. Tapi mau makan siang dulu disini. Barusan booking gazebo yang dekat taman mawar. Ami telpon Indra, bilangin gazebo nomer 4 udah direservasi."
Ami mengangguk. Segera mencari kontak Indra yang baru setahun ini dipercaya sebagai manajer rumah makan Dapoer Ibu. Ia sudah tahu jika Akbar sekeluarga akan pulang ke Jakarta hari ini. Hanya baru sekarang tahu jika akan mampir dulu ke sini. Dalam hati merasa senang sejak kemarin di hotel Seruni, ibunya dan Mama Mila semakin akrab. Saling bertukar nomer ponsel.
Waktu bergerak menuju siang. Jam setengah dua belas, mobil Akbar sudah sampai di depan rumah. Ami mengintip dari kaca jendela ruang tamu, orang-orang yang baru keluar dari mobil. Ia melihat Iko menenteng goodie bag besar. Galih suaminya Iko, memangku parsel buah. Dan semua orang berjalan memasuki pintu gerbang besi yang terbuka setengahnya.
Ami terkaget karena Mama Mila memimpin naik ke teras. Bukannya berjalan ke sebelah kanan ke arah pintu masuk rumah makan.
"Aduh, Mama Mila ngetuk pintu. Hah? Gak mungkin kan ini acara lamaran." Ami membekap mulutnya begitu membayangkan jika dirinya akan dilamar. Hanya karena melihat parcel buah dipegang oleh suaminya Iko. Untung kaca jendelanya hitam. Sehingga kehebohan sikapnya tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di luar.
"Bu, itu ada Bu Mila di depan. Ngetuk pintu. Tuh sekarang mencet bel." Ami menghampiri Ibu Sekar yang ada di dapur dengan berlari. Ia malah panik. Semua gara-gara melihat buah tangan yang dibawa suami istri Galih dan Iko. Menggiring pikiran untuk menduga ke arah lamaran.
"Kenapa gak dibuka dulu pintunya. Ibu lagi tanggung nih mau cuci tangan dulu. Kasian mereka nunggu lama. Sana buka dulu, Mi!"
__ADS_1
"Sama Ibu aja ah bukanya. Aku mau ke kamar mandi dulu. Mules." Ami menghindar dengan berlari menuju tangga.
Ibu menghela nafas panjang karena Ami malah berlari menaiki tangga bukannya membukakan pintu. Bergegas ia menuju ruang tamu.