Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
114. Hari Lamaran


__ADS_3

"Teh, nasgor spesialnya dua. Pedasnya sedang ya." Ucap Ami di samping Kia yang sedang mengiris-ngiris daun bawang dengan cepat. Sengaja wajahnya memakai masker. Sekalian menguji. Apakah dikenali atau tidak.


Suara yang familiar itu membuat Kia mendongak dan menoleh ke samping. Menatap wajah yang mengenakan masker itu dengan mata menyipit. "Ish, Ami. Pakai masker segala. Untung kenal suaranya."


Ami terkikik. Ia lalu menyapa bapaknya Kia yang sedang mengaduk nasi goreng dengan cekatan. Tak berlama-lama ngobrol karena tak ingin mengganggu konsentrasi memasak.


"Ami sama A Zaky, ya?" Tebak Kia. Ia mengingat betul informasi dari Ami tentang tanggal kepulangan anak archi itu.


"Iya. Itu udah duduk di lesehan. Kia, aku tunggu di sana ya." Ami menunjuk gelaran tikar di teras toko paling sisi.


Kia penasaran menoleh. Dan wajah tampan yang sedang menunduk menekuri ponsel itu membuat jantungnya deg-degan. "Siap, Mi. Nanti aku anterin ya."


Ami menghampiri Zaky dan duduk sila di sampingnya. Malam ini cuacanya cerah. Pengunjung mulai ramai berdatangan untuk kulineran malam. Tak afdhol rasanya kalau tidak selfie dulu. Ia mencolek lengan Zaky agar sadar kamera. Waktunya update status.


"Ada Kia-nya, Mi?" Zaky meletakkan ponsel di depannya. Beralih memperhatikan Ami yang sedang mengetik.


"Ada. Nanyain Aa barusan juga."


Zaky menetap kedatangan seorang pelayan yang membawakan dua gelas teh. Ia ucapkan terima kasih dan tersenyum ramah.


"Kia anak baik. Rankingnya kedua lagi. Tapi kalau Kia beda kelas sama aku, dia bakal ranking satu. Karena total nilainya Kia sama dengan yang ranking satu di kelas IPA 1 dan 2."


"Lagian Aa gak akan ngizinin kalau Ami gaulnya sama genk anak nakal, tukang bolos, tukang main. Alias circle toxic. Punya teman seperti Kia harus dipertahankan." Zaky menjawab tenang.


Ami beralih membuka ponselnya setelah mendengar notif. Feeling mengatakan itu pesan dari Akbar yang mengomentari statusnya. Dugaannya tidak meleset.


[Gak ngajak-ngajak ih. Lagi di mana itu, Cutie]


Ami tersenyum simpul. Jempolnya lincah mengetikkan balasan untuk Akbar. Ia katakan sedang jalan-jalan malam bersama Zaky di wilayah Tasik. Dan kini akan makan nasi goreng.


[Have fun, sayang 😘]


Ami hanya membaca sambil mengulum senyum. Perhatiannya teralihkan pada kedatangan Kia yang datang membawa dua porsi nasi goreng.


"Kia, apa kabar?" Zaky tersenyum menatap Kia yang mendekap nampan usai menyimpan dua piring nasi goreng.


"Alhamdulillah. A Zaky kapan datang?"


"Udah 10 menitan lah. Kan bareng Ami." Zaky tersenyum mesem.


"Maksudku dari Singapura ke Ciamis." Kia tersipu malu mendapat respon tawa kecil Zaky dan cekikikan Ami.


"Oh, kirain nanya datang ke sini. Yang jelas dong." Zaky sebenarnya bukan tak paham pertanyaan. Namun sengaja menggoda Kia. "Sampai rumah kemarin malam, Kia."


Kia manggut manggut. "Ya udah. Selamat makan. Aku tinggal dulu ya."


"Lagi sibuk ya, Kia?"


"Nggak juga. A Zaky dan Ami kan mau makan. Nanti terganggu sama aku." Kia sudah setengah berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Bersiap bangun.


"Nggak kok. Duduk sini aja temenin kita makan." Zaky menepuk ruang kosong di sisi kanannya.

__ADS_1


Raut wajah Kia nampak ragu. Sebagai pengagum rahasia, lihat dari jauh atau hanya mendengar namanya saja sudah deg-degan. Apalagi harus duduk berdekatan dengan orangnya yang tercium wangi aroma parfum begitu nyaman. "Gimana ya. Tapi kapan lagi kesempatan ini," perang batin dalam dilema.


"Tenang, Kia. A Zaky nggak akan gigit udah jinak kok. Dijamin!" Ami tersenyum menyeringai melihat Kia yang nampak bimbang dan ragu.


"Dasar, Ami." Kia meminta Ami menggeser duduk biar duduknya di dekat Ami saja. Tapi sama sekali tidak dikasih ruang. Justru menyuruh duduk di samping Zaky. Jadilah Kia mengalah. Orang yang didekatinnya nampak memulai makan dengan santai.


Satu jam lebih berada di tempat mangkal nasi goreng Kabita. Makannya cepat, ngobrolnya yang lama diselingi canda tawa. Ami. Hingga berakhir dengan memesan 5 porsi untuk dibawa pulang. Ami dan Zaky pun pamit kepada bapaknya Kia yang merasa senang kedatangan Ami dan Zaky. Ingin menolak uang pembayaran karena sungkan, namun Zaky keukeuh menempelkan uang di telapak tangan bapaknya Kia itu. Dan menolak uang kembaliannya.


"Aa, ini lima buat siapa aja. Ibu dan Papa nggak pesan. Mereka nggak pernah makan malam lewat jam setengah delapan." Ami baru ada kesempatan bertanya setelah mobil melaju meninggalkan bahu jalan.


"Sedekahin aja, Mi. Sambil jalan suka lihat ada pemulung ngumpulin botol bekas. Sisakan satu buat Bi Ela di rumah."


"Asiap." Ami acungkan jempol pada ide kakaknya. Ia mengamati jalanan terkhusus sebelah kiri. Satu pemulung nampak di depan mata sedang mengais di tong sampah. Ia meminta Zaky memelankan kecepatan mobil untuk mengulurkan sebungkus nasi goreng. Sepanjang jalan menuju arah pulang, 4 bungkus nasi goreng pun sudah habis dibagikan. Bukan hanya pada pemulung, tetapi juga ke penyapu jalan dan tukang parkir yang sudah tua.


***


Waktu tak terasa bergulir semakin dekat menuju tanggal 28. Akbar dan keluarga sudah tiba di hotel Seruni jumat sore. Ikut pula Leo dengan keluarga kecilnya. Sebagai pihak laki-laki, persiapannya terbilang santai. Sejumlah kotak hantaran sudah siap. Ada Mama Mila dan Iko yang mengurusnya.


Tommy kebagian sibuk menyambut kedatangan keluarga Akbar dengan menyiapkan pelayanan terbaik. Di samping itu merasa senang, merasa mendapat kehormatan karena ia dan istri diajak ikut serta mengantar besok.


Usai makan malam, Akbar baru menghubungi Ami yang belum tahu jika ia tiba lebih awal. Ami tidak diberitahu adanya perubahan jam berangkat. Masih mengira tengah malam ini baru akan tiba di Tasik.


"Udah sampai mana, Kak?"


"Belum berangkat, Cutie. Diundur nanti aja subuh." Akbar mengulum senyum. Sengaja ngeprank Ami.


"Waduhh. Kenapa diundur? Emangnya bakal sempat? Apa gak capek? Acaranya jam 10 lho, Kak."


"Maaf, Cutie. Mendadak ada perubahan karena...."


"Karena apa, Kak. Ih jangan bikin aku khawatir. Bisa vc, Kak?"


Tanpa menjawab, Akbar segera berganti mode panggilan video. Memasang wajah full senyum begitu melihat wajah Ami yang serius memenuhi layar ponsel.


"Ah, ini sih udah di Seruni. Ya, kan?"


"Kenapa nebak di Seruni? Aku masih di Jakarta kok."


"Itu ornamen di belakang kakak itu kan khasnya Hotel Seruni. Ngaku deh kak Akbar udah di Seruni. Itu kan kamar khusus CEO pulangpergi." Ami semakin yakin saat Akbar bergeser posisi memperlihatkan sekeliling ruangan.


Akbar terkekeh. "Pinter deh calon istriku. Nanti kita nikahnya di ballroom Seruni. Dan kamar ini akan jadi kamar pengantin kita."


"Ish, jadi pengen. Ups, salah. Jadi malu aku."


Akbar tertawa renyah melihat Ami menutup wajah dengan telapak tangan yang direnggangkan.


"Jadi Kak Akbar kapan nyampe di Seruni?"


"Tadi jam lima, Cutie."


"Jadinya sama siapa aja Kak, keluarga yang ikut."

__ADS_1


"Gak banyak sih. Hanya keluarga yang ada di Jakarta. Semuanya 4 mobil. Keluarga intiku, keluarga Pakde Yusuf, sama keluarga kecil Leo. Nanti aja ngundang keluarga besarnya pas acara nikahan."


Ami manggut-manggut. " Aku udah lega karena yang terpenting Kak Akbar udah ada di Tasik. Itu yang utama. Di sini juga keluarga inti udah kumpul semua."


"Alhamdulillah ya. Tadi juga aku berangkatnya bareng Om Krisna. Cuma Om Krisna mampir ke Bandung dulu."


Saling bertukar kabar pun sudah selesai. Sambungan video diakhiri. Sampai ketemu besok pagi.


***


Mentari tak menampakkan sinarnya. Karena Sabtu pagi ini langit masih berselimut awan kelabu. Mendung tapi tidak hujan. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum berangkat. Semoga langit menjadi cerah.


Di rumah Ami kesibukan mulai terlihat. Terutama para perempuan yang mulai dirias oleh tim MUA. Lain halnya kaum laki-laki yang nampak santai. Malah asyik berkerumun mengasuh anak-anak.


Zaky menggendong bayinya Aul. Bahkan minta tolong Panji untuk memotretnya dan foto itu dijadikan status di media sosialnya. Dengan caption "Hi, Mama".


Padma senyum-senyum melihat Ami yang baru selesai dirias. Hal itu tertangkap pandangan Ami yang melihatnya dari pantulan cermin. Di dalam kamar kini hanya berdua setelah perias meninggalkan kamar karena tugasnya sudah selesai.


Padma berjalan mengitari tubuh Ami yang sedang berdiri memperhatikan penampilan. "Beneran Marimar ini teh. Atau inikah penampakan Mojang Ciamis? MasyaAllah...cakepnya kebangetan."


"Bisa ae ah, Munaroh. Jangan bikin aku kayak tanaman putri malu." Ami mengerjap-ngerjapkan mata. Membuat Padma cekikikan.


"Ateeeee. Aa datang. Kata Umma, ayo belangkat." Ucap Rasya yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kamar. Sudah berpakaian rapi memakai kemeja putih dan celana serta rompi warna abu senada warna dasi kupu-kupu.


"Aa ganteng banget sih. Aa jadi pasangan Ate Padma ya. Ate Padma belum punya gandengan nih." Padma mencium pipi Rasya dengan gemas.


"Aa mau sama Ate Kunti. Hihihi."


"Hahaha." Padma memegang perutnya yang tertawa lepas.


"Maaf, Ate. Jangan cembelut. Ate Ami cantik deh. Bajunya juga bagus." Rasya memasang wajah imut di hadapan Ami.


"Cantik seperti bidadari ya, Aa." Sahut Padma.


"Bukan. Yang cantik sepelti bidadali itu Umma. Kata Papa gitu. Kalau Ate sepelti.....sepelti apa ya?" Rasya bingung sendiri.


"Cantik seperti putri." Sahut Padma lagi.


"Bukan-bukan. Itu Umma Aa. Namanya Putli Kilana."


Padma cekikikan. Maksud Rasya berarti tidak boleh istilah sama dengan umma-nya.


"Dah lah. Ate mah cantik seperti anaknya Nenek Sekar. Betul tidak?" Sahut Ami yang sudah menenteng tas pesta. Bersiap meninggalkan kamar.


"Yes. Betul betul betul." Rasya mengacungkan dua jempolnya. Sementara Padma kembali cekikikan.


Di lantai bawah, kaum laki-laki yang tadi masih santai, kini sudah berubah berpakaian rapi seragam keluarga. Ibu dan Puput serta semua yang berkumpul menatap kedatangan Ami dan Padma serta Rasya. Tatapan yang menggambarkan berbagai rasa. Kagum karena Ami nampak makin cantik dan dewasa dalam balutan gaun kebaya modern rancangan desainer butik Sundari. Sekaligus lucu dan geli, juga bahagia. Karena si bungsu yang belum lulus SMA, hari ini akan dilamar pengusaha muda, Akbar Pahlevi Bachtiar.


"Bismillah. Ayo kita berangkat!" Ucap Pak Bagja usai melihat jam menunjukkan pukul sembilan.


Semuanya meninggalkan rumah. Memasuki mobil masing-masing yang sudah berjajar di depan rumah. Akan berangkat ke tempat acara yaitu di cafe Dapoer Ibu. Cuaca yang mulai cerah mengiringi konvoy mobil yang mulai melaju di jalan raya. Tidak jauh. Hanya perjalanan sepuluh menit.

__ADS_1


__ADS_2