Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
37. Dikira Calon, Ternyata?


__ADS_3

Ami mengerutkan kening. Di dalam kelas kosong. Penasaran melihat ke kolong setiap meja secara random. Tidak ada satupun tas yang tersimpan. Jam pertama adalah kimia. Apakah semua orang berada di lab? Ia berpikir keras barangkali ada info yang lupa. "Rasanya tidak ada jadwal praktek lab hari ini." Ucap Ami dalam hati dengan yakin.


Brukk. Pintu kelas tiba-tiba tertutup dengan keras. Mengagetkan Ami yang masih termenung. Feeling mulai terasa tidak enak. Bisa jadi teman-temannya sedang merencanakan kejutan di hari ulang tahunnya itu. Ia membuka pintu dengan hati-hati.


"TARAAA!" Teriakan kompak teman-temannya membuat Ami menutup kedua telinganya. Karena sangatlah berisik, jauh dari kata paduan suara merdu.


"Happy birthday Ami 🎶...." Dengan dipimpin Marga, semuanya kompak bernyanyi dengan riang diiringi tepuk tangan. Ifa memegang kue black forest cantik dengan lilin angka 17 yang sudah dinyalakan.


Ami tersenyum lebar. Tidak diduga dapat kejutan pagi-pagi. Ia meniup lilin setelah nyanyian berakhir. "Thank you, guys. Tapi firasat aku bilang, ini kue harus aku yang bayar ya?" Ia memicingkan mata menatap Ifa.


Bukan hanya Ifa yang cekikikan. Kia, Sonya dan yang lainnya pun sama. Hingga Yuma sang bendahara kelas merogoh kertas dari saku bajunya.


"Mi, nih bill nya. Aku pakai uang kas dulu." Ucap Yuma sambil memeletkan lidah. Ia dan Ifa kemarin sore ke toko kue usai berdiskusi dengan Marga dan yang lainnya.


Ami memutar bola mata. Tak urung menerima struk pembelian kue seharga 190 ribu itu. "Yuma, nanti istirahat bagi-bagi ya! Semua harus kebagian."


Jam masuk pun berbunyi. Semua murid yang tadi kompak bersembunyi di kelas MIPA 2, kini memasuki kelas dengan riang. Itu karena Ami mengumumkan akan mentraksir bakso sepulang sekolah.


"Mi, happy bestday ya." Ozi menghampiri meja Ami sambil menyerahkan paper bag berisi sebuah kado berukuran sedang.


"Aduduh, Ozi. Hatur tengkyu ya, Zi." Ami tersenyum lebar menerima pemberian Ozi. Dibalas Ozi dengan acungan jempol.


Suara gaduh berubah hening saat guru kimia masuk. Karena keasyikan ngobrol dengan Kia, Ami lupa belum menyimpan tasnya di kolong meja.


"Eh, kok susah?" Ami merunduk saat tasnya tidak bisa dimasukkan, terantuk benda padat. "Astaga!" Ia memekik pelan saat melihat pemandangan di kolong meja. Ada beberapa kado berbagai ukuran. Saat satu kado ditarik, tertulis nama Kia di atasnya.


"Jangan diliat harganya ya, Mi." Bisik Kia diiringi senyum simpul.


Ami merasa speechless. Ia penasaran melihat lagi kado yang lainnya. Ada nama Marga, Ifa, Vino. Tiga kado lagi belum ia cek namanya karena pelajaran sudah dimulai.


Rupanya kejutan sweet seventeen masih berlanjut. Saat mata pelajaran berganti Bahasa Indonesia dan akan berakhir, pintu kelas ada yang mengetuk. Fokus semua murid tertuju ke arah guru yang berjalan membukakan pintu.


"Rahmi Ramadhania! Ada tamu." Sang guru memanggil nama sesuai yang disebutkan orang yang datang ditemani petugas piket.


Ami bergegas menghampiri dengan raut penuh tanya. Siapa gerangan yang bertamu. Semakin bingung begitu melihat sang guru senyum-senyum. Ia pun melihat ke arah tamu. Sontak matanya membelalak dengan mulut menganga.


"Terima kasih ya!" Ucap Ami usai berfoto di samping kado yang diterimanya. Ia berfoto sesuai permintaan kurir di samping boneka Panda jumbo setinggi satu meter. Ingin sekali jingkrak-jingkrak saat itu juga sambil memeluk Panda. Namun sadar situasi. Meskipun tidak disertai kartu ucapan, jelas di dada boneka Panda ada inisial nama APB.



"Selamat ulang tahun ya Rahmi. Berkah selalu sepanjang usia." Ucap Ibu Guru bahasa Indonesia sebelum meninggalkan kelas karena bel istirahat berbunyi. Ia baru tahu Ami berulang tahun karena kado Panda itu.

__ADS_1


"Aamiin. Terima kasih, Bu." Ami tersenyum dan mengangguk sopan.


"Amiiiii! Ini kado dari siapa? Aihhh, gemoy.... jadi pengen peluk." Sonya menjegal langkah Ami sambil memainkan tangan boneka Panda itu dengan gemas. Yuma dan Ifa pun mendekat karena tertarik ingin memegang juga.


"Husss, gak boleh peluk! Ini dari someone special." Ami mengelak dan segera duduk di kursinya dengan memangku boneka. Mengabaikan Sonya Cs yang mendecak kecewa. Ia bergegas membuka ponsel. Berharap ada chat dari London.


[Hi, Cutie. Happy level up]


[I hope you always to be happy and awesome]


[Kalau ATK, peluk dong boneka pandanya 🐼]


[MU every day, Adekku sayang 🙂]


Ami membekap mulut dengan senyum yang berusaha ditutupi karena Kia memperhatikannya sambil mesem-mesem. Berbagai rasa yang menggambar suka cita memenuhi dada. Ia pun memeluk boneka pandanya dengan erat. Kemudian bergegas membalas pesan.


[Ish, Kak Akbar. Katanya mau nanti ngasih pandanya]


[So surprise. Argh, pengen selebrasi deh 🤸]


[Makasih ya Kak. ATK 🙃]


***


"Tadi pagi sih belum jawab mau ikut nggaknya. Masih ragu. Nanti aku tanyakan lagi. Kenapa emang, Kia?" Ami menoleh menatap Kia.


"Gak papa sih. Cuma kebayang gimana hebohnya Sonya dan Ifa minta foto lagi. Tiap liat cogan kan suka heboh." Kia pun terkikik. Ia menjadi akrab dengan Zaky karena setiap hari selalu menumpang pulang. Seperti biasanya, turun di lampu merah. Ami menanggapi dengan terkekeh.


"Mi, sini aku bawain! Biar aku gendong bonekanya. Kado dari siapa sih ini?" Almond mencegat langkah Ami. Ia sedari tadi sudah menunggu di bawah tangga karena bubar lebih dulu.


"Dari fans aku dong." Ami menolak bantuan Almond. Ia begitu posesif pada bonekanya. Tidak diizinkan siapapun memeluk kado spesial itu.


"Kamu dan Kia ikut di mobilku aja ya." Almond berharap.


"Aku dijemput kakak, Mon. Teman yang lain pada bawa kendaraan juga. Jadi kita konvoi aja deh." Ami melihat grup cowok sudah naik motor masing-masing. Ifa numpang di mobil Marga. Sonya bawa mobil sendiri dan dua orang menumpang padanya. Sisanya membawa motor masing-masing.


"Mi, siapa yang ngasih boneka?" Zaky terkejut melihat boneka besar dimasukkan ke dalam mobil.


"Dari fans aku dong. Aa lupa ya kalau adikmu ini selebritis." Sahut Ami sambil membenahi posisi boneka agar duduk manis di jok. Sengaja memakai safety belt agar tidak oleng.


"Nyesel nanya." Zaky mendecak sebal karena jawaban Ami yang narsis. Sementara Kia cekikikan. Ia jadi terbiasa mendengar keisengan kakak beradik itu sejak menumpang dengan Zaky sebagai sopirnya.

__ADS_1


"Kia gantian duduk di depan ya! Aku mau sama Panda dulu duduknya. Ami menutupkan pintu tanpa menunggu jawaban Kia.


"Ih, Ami." Kia ingin protes tapi Zaky menyuruhnya masuk dan sudah mendahului membuka pintu kemudi. Jadilah ia duduk di depan dengan rasa sungkan.


Tiba di lokasi, Zaky hanya menurunkan Ami dan Kia. Tidak ikut bergabung agar teman-teman adiknya itu tidak canggung. Ia akan mengunjungi teman SMK nya yang tidak melanjutkan kuliah tapi membuka jasa percetakan tak begitu jauh dari tempat bakso.


Almond menghampiri Ami yang sedang melakukan pemesanan bakso. "Mi, aku mau satu meja sama kamu ya!"


"Iya. Tapi harus..."


"Smile. Iya aku inget. Ini dari tadi juga udah nyengir sampe gigi kering." Almond memotong ucapan Ami. Kia yang mendengarkan, menahan tawa.


Siang menjelang sore itu, hampir semua meja terisi pembeli berseragam putih abu-abu. Riuh oleh canda tawa. Karena ultimatum Ami, Almond pun bisa mencair dan berbaur. Tidak lagi bersitegang dengan Ozi.


Berkah didapat oleh trio Sonya, Ifa, dan Yuma. Kehadiran Almond bak tertimpa durian runtuh. Mereka bisa berfoto dengan cowok ganteng blasteran Arab yang selama ini susah didekati itu. Plus mendapatkan nomor kontaknya karena bantuan Ami.


***


Akbar menuruni tangga dengan muka bantal. Tengah malam tadi baru tiba di rumah usai perjalanan bisnis ke London. Ia bergabung dengan orang tua dan adiknya yang sedang sarapan pagi.


"Bar, Tante Ratih ngundang kita sekeluarga. Mama baru tau venue nya di Seruni. Mama, Papa, dan Iko mau hadir. Udah berapa tahun juga kita gak ke Tasik. Jadi sekalian nostalgia dengan tempat pertemuan Mama sama Papa dulu. Kamu mau hadir juga gak?" Dengan wajah berbinar, Mama Mila menatap Akbar yang sedang mengoles roti tawar dengan selai nanas.


"Love at the first sight Mama and Papa di Tasik. Kalau Iko di Singapore. Kalau Mas Akbar?" Iko mendahului mengomentari ucapan Mama Mila sambil mengerling ke arah Akbar.


"Di skul." Sahut Akbar singkat. Ia mulai menggigit rotinya dengan wajah santai.


"Skul saat reuni maksudnya? Cie, berarti Mas Akbar udah punya calon. Kota apa, Mas? Kapan mau diajak ke rumah? Biar teman-teman Iko gak ngira Mas masih jomblo. Mereka pada titip salam mulu." Iko dengan sangat antusias menunggu jawaban Akbar.


"Eh, tapi Mama dapat chat link dari Leo. Itu siapa Bar? Nama akunnya amiselimut. Foto kalian bagus, serasi. Captionnya prewed. Mama udah seneng ngira itu calonmu. Pas scroll ke bawah, ternyata masih SMA. Atlet silat ya. Cantik sih tapi masih kinyis." Mama Mila heboh menyahut.


"Ah Iko penasaran. Mau liat." Iko mengunyah sarapan nasi gorengnya lebih cepat. Aturan keluarga tidak boleh membawa gadget ke meja makan. Sehingga ingin segera selesai sarapan.


Akbar keselek roti sehingga susah menelan gara-gara cerocosan Mama Mila membahas Ami. Ia minum dari gelas Iko sampai habis.


"Ah, si Leo gak confirm dulu. Awas ya!" Akbar membatin dengan nada geram. Padahal sudah punya tahapan rencana tentang cara memperkenalkan Ami.


"Mam, itu adik iparnya Rama yang bungsu. Puput punya tiga adik. Aulia yang jadi calon istrinya Panji, terus Zaky yang kuliah di Singapore, terakhir Ami yang masih SMA itu. Akbar berfoto sama Ami waktu hadir di lamaran Panji." Jelas Akbar. Saat acara lamaran Panji, orang tuanya sedang berada di Singapura.


"Oh gitu. Walah, Ratna dan Ratih punya besan yang sama. Seru juga." Mama Mila terkekeh dengan sorot mata takjub. "Jadi Akbar nanti mau ikut gak?" Ia mengulang pertanyaan yang belum dijawab anak sulungnya itu.


"InsyaAllah." Akbar beranjak dari duduknya. Membawa kopi hitam yang baru saja dibuatkan oleh ART. Membawa ke lantai atas.

__ADS_1


Minggu pagi biasanya Akbar suka berolahraga lari keliling komplek. Namun tidak untuk pagi ini karena badan masih lelah. Lebih baik duduk di balkon kamar. Berjemur di pagi yang cerah, ditemani secangkir kopi. Headset bluetooth dipasang di telinga. Mulai menghubungi Ami.


__ADS_2