
"Ami dipercaya. Udah jangan didengar halunya dia mah. Zaky sekarang lagi sibuk apa?" Puput membantah dengan ucapan santai. Mencolek pinggang Ami dengan tatapan tetap mengarah ke layar. Pertanyaannya berhasil meredam rasa penasaran Zaki.
"Seminggu ini lagi banyak tugas, Teh. Aku tiap hari, pagi sampai malam di kampus terus. Soalnya ada aja yang harus di revisi. Kadang kerja kelompok sama teman-teman. Baru sore ini bisa santai rebahan di apartemen. Cape juga jadi anak archie." Zaky terkekeh sambil menyugar rambutnya. Di Singapura, magrib sudah lewat setengah jam yang lalu. Ia awalnya tinggal di mes kampus. Sejak nyambi menjadi freelancer, ia memutuskan menyewa apartemen. Tentunya lebih luas dan nyaman dengan fasilitas 1 kamar tidur dan ruang lainnya. Hingga bisa leluasa menyimpan banyak maket di ruangannya. Hasil kerja ditambah kiriman uang saku dari Panji tiap bulannya, ia tabung hingga bisa menyewa apartemen untuk 2 tahun sesuai sisa waktu kuliahnya.
"Hm, pantesan Aa agak kurusan. Pasti capek ya kuliah sambil freelancer. Ingat, Aa harus jaga kesehatan. Jangan dulu ngoyo cari cuan." Ami serius menunjukkan perhatiannya pada Kakak laki-laki satu-satunya itu.
"Aa kan punya cita-cita mau langsung lanjutin S2 di Swiss. Alhamdulillah kuliah S1 dibiayai Papi Krisna. Nanti S2 pengen pakai uang sendiri. Jadi memang harus nabung dari sekarang, Mi."
Video call bersama Zaky mengalir dengan pembahasan tema berganti-ganti. Video call selama lebih dari setengah jam itu sudah berakhir. Ami menatap Puput, menunggu penjelasan alasan kenapa tadi mencolek pinggangnya dan menyangkal konfirmasi Zaky.
"Mi, bahas itu sama Zaky harus mode serius. Tunggu Ibu yang bicara lebih dulu dengan Zaky atau Ami bicaranya bareng sama Ibu. Harus runut jangan to the point gitu. Nanti feedback nya bakal beda. Sabar."
"Hm, iya deh. Maaf...maaf." Ami mengangkat dua jarinya diiringi seringai. "Teh, balik lagi ke obrolan kita. Jadi keputusan Teteh gimana?"
Puput sejenak tercenung dengan kedua alis bertaut. Lalu menatap Ami. "Tapi benar ya Ami akan kuliah? Teteh aja sekarang udah daftar mau lanjut S2. Perempuan sekolah tinggi itu tidak melulu untuk tujuan berkarir. Tapi agar kita bisa menjadi orang tua berkualitas untuk anak-anaknya."
Ami mengangguk kuat. "Itu pasti, Teteh. Bedanya aku akan nikah dulu baru kuliah. Aku udah siap akan ikut jalur prestasi untuk bisa masuk UI. Kan ranking aku stabil tiap semesternya. Optimis lolos, Teh."
"Baiklah."
"Artinya yes?!"
"Teteh mau bicara dulu dengan Ibu."
Ami mengangguk dengan pipi menggembung. Harus sabar tidak boleh memaksa dapat jawaban pasti sekarang. Namun ia berasumsi, kesimpulan kakaknya itu menunjukkan sinyal kuat.
***
Akbar sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah begitu ada telepon dari Panji. Ia menjawab dengan leluasa karena hari ini berangkat dan pulang dari kantor dengan memakai sopir pribadi.
__ADS_1
"Mas, aku ngundang Mas Akbar dan keluarga ke acara aqiqah anakku. Waktunya Minggu besok jam satu siang, Mas. Apa bisa hadir?"
"InsyaAllah, Nji. Memang aku ada rencana ke Ciamis Sabtu besok. Sudah teleponan dengan Rama, dia mau ikut bareng ke mobilku. Tapi kalau kamu mengundang mama dan papa berarti aku akan ajak juga mereka. Tadinya aku mau berangkat sendiri."
"Iya Mas, aku dan Aul emang niat mau ngundang keluarga Mas Akbar. Dan Mas Akbar sekalian manfaatin momen ini dengan bertanya lagi ke ibu. Mudah-mudahan Mas Akbar kali ini pulang ke Jakarta membawa tiket restu. Mumpung Teh Puput ada disini juga. Oh ya, tadi aku juga lihat Enin bicara empat mata dengan ibu. Serius sekali mereka."
Akbar menghela nafas lega dan mengulas senyum. Bersyukur karena banyak dukungan yang berpihak kepadanya. Begitu sampai di rumah, ia sampaikan undangan itu pada Mama Mila dan Papa Darwis yang sedang duduk berdua di ruang tengah sambil menonton berita politik tanah air.
"Mau-mau. Mau banget. Pa, Papa harus batalin ya acara Sabtu besok main golf di Rancamaya Bogor. Biarin Papa nggak ikut turnamen juga pokoknya mah Papa jangan ngejar juara. Papa udah juara di hati Mama. Telepon Pak Rusdi dari sekarang, Pa!Alasannya gimana? Terserah Papa. Pokoknya Papa harus ikut ke Ciamis. Kita akan ngobrol dengan calon besan. Mama juga kangen ketemu calon mantu. Hm, ada waktu sehari besok mau beli kado buat cucunya Ratih, beli oleh-oleh buat calon besan dan calon mantu." Mama Mila merespon dengan pidato sambutan penuh semangat 45.
"Yaahhh, Papa udah latihan dua minggu ini masa harus batal ikut turnamen. Mama berangkat berdua aja ya sama Akbar, ya?"
"Gak bisa, gak bisa. Kapan lagi ada kesempatan in. Kita ke Ciamis sambil menyelam minum kopi. Papa harus bicara kepada Ibu Sekar dan Pak Bagja bantu Akbar memperkuat niatnya melamar Ami. Akbar udah dua kali datang ke Ciamis tapi buktinya sekarang masih digantung nggak ada kepastian restu. Kita harus turun tangan, Papa."
Papa Darwis menghembuskan nafas panjang. Ia harus mengalah daripada terus-terusan mendapat ceramah "Oke deh, Mama."
"Pak Kumis emang the best. Makin cinta deh mama sama papa." Mama Mila tersenyum lebar dengan mata berbinar. Memeluk lengan suaminya itu sambil menyandarkan kepala di bahu.
Akbar sudah meminta Leo mencoret agenda hari Sabtu dengan memadatkan jadwal kerjanya ke hari Jumat. Karena malamnya harus berangkat ke Ciamis. Urusan pekerjaan dan urusan pribadi sama-sama penting. Maka ia rela kerja lembur di hari Jumat agar urusan di hari Sabtunya bisa terealisasi juga.
Akbar, Leo, dan Gita baru keluar dari restoran hotel bintang lima usai meeting dengan calon investor Jumat sore ini. Ini adalah rangkaian meeting terakhir yang dilakukan dari pagi hingga sore. Mobil yang dilajukan sopir membelah jalan raya menuju kantor kembali.
Tiba di ruangannya Akbar baru bisa mengecek ponsel yang selama tadi dalam mode silent. Banyak pesan bertumpuk. Yang ia cari adalah adakah pesan dari Ami.
[Kak, jadi ke Ciamis kan besok?]
[Hm, ayang lagi sibuk ya]
[Beli klepon dan buah jeruk. Plis telpon kalau gak sibuk 😉]
__ADS_1
Tiga pesan itu dikirim di jarak waktu yang berbeda. Membuat Akbar tersenyum lebar dengan wajah semringah. Si Cutie paling bisa membuat lelahnya menguap. Bersiap akan menghubungi Ami, namun lebih dulu Gita dan Leo masuk karena pintu terbuka lebar.
Gita mengambil setumpuk berkas di meja yang sudah ditandatangani. Sementara Leo duduk di sofa dan mulai memasukkan laptop serta beberapa kertas ke dalam tas kerja.
"Pak, saya udah reschedule meeting dengan Pak Januar menjadi hari senin dan sudah di acc beliau." Ucap Gita yang duduk dulu di kursi yang tersedia.
"Alhamdulillah jadi gak perlu lembur. Aku bisa berangkat Tasik masih sore."
"Ke Tasik lagi, Mas?" Gita menatap dengan wajah sedikit gusar.
"Iya, waktunya urusan pribadi."
"Padahal aku mau mengundang Mas Akbar serta om dan tante. Besok ultah Mama. Mama mengundang dinner malam minggu, Mas."
Akbar berdiri dari duduknya. "Kami gak bisa hadir, Gita. Maaf ya. Karena Mama dan Papa juga ikut ke Tasik. Aku duluan pulang."
Gita hanya bisa menatap punggung Akbar yang keluar dengan langkah cepat. Menggigit bibir dengan wajah masam.
"Kamu masih belum nyerah berharap, Git?"
Gita menatap Leo yang datang mendekati. Berdiri dengan tangan terlipat di dada.
"Akbar udah punya calon istri lho, Gita. Besok mau ngelamar. Makanya Tante Mila dan Om Darwis ikut."
"Masa seorang CEO lamaran cuma bertiga. Yang rasional dong Leo." Gita tersenyum sinis.
"Yang harus rasional tuh kamu. Bertahun-tahun berharap cinta Akbar. Udah jelas dia profesional menganggapmu hanya sebagai sekretaris. Sudahi obsesimu kalau karir dan hatimu gak ingin hancur." Leo berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan menenteng tas kerjanya.
"Aku cinta sama Mas Akbar bukan obsesi, Leo." Seru Gita yang entah terdengar oleh Leo atau tidak. Ia berdiri dan menghentakan kakinya. Kesal dan kecewa melebur memenuhi dada.
__ADS_1
Meski carut maret suasana hati, Gita tetap profesional merapihkan dulu berkas yang berserakan di meja Akbar yang belum diperiksa. Memasukkan ke dalam lemari khusus dan menyimpan kunci di tempat rahasia di ruangan itu. Dengan langkah lunglai menutup pintu dan berjalan menuju mejanya hanya untuk menyambar tas dan pulang.