Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
68. Lebaran Kedua


__ADS_3

Ami terjaga dengan kaget karena perutnya terkena tendangan kaki Rasya. Dengan mata menyipit karena nyawa masih berserak, perlahan ia menurunkan sebelah kaki anaknya Puput itu dari perutnya. Padahal malam ini orang tuanya menginap di rumah baru Panji, namun bocah aktif itu tidak mau ikut. Memilih tidur dengannya. Alhasil tadi malam absen teleponan apalagi vc an dengan Akbar.


Ada untungnya juga kena tendangan. Ternyata sudah jam setengah lima waktunya subuh. Sebelum turun dari tempat tidur, Ami mendecak diiringi helaan nafas kasar. Tidur Rasya yang berputar, menciptakan gugusan pulau di berbagai tempat. Di bantal dan beberapa titik seprai.


Ini sih beneran anak Teh Puput. Sama-sama tukang ileran.


Ami bergegas menuju kamar mandi untuk wudhu dan menunaikan salat subuh. Usai mengaji sebanyak dua lembar, ia meninggalkan kamar. Membiarkan Rasya yang masih lelap.


"Mi, lari yuk!" Zaky yang baru pulang dari masjid, bergabung duduk di kursi makan. Menuangkan air ke dalam gelas.


"Libur dulu lah. Masih suasana lebaran tuh malas olahraga, ganti jadi semangat makan and ngemil." Ami mengoles selembar roti tawar dengan selai strawbery.


"Kalau nasi goreng Kia sudah buka belum, Mi?"


"Lah,kenapa nanyanya sama aku. Tanya Kia dong. Lagian Aa mah udah punya nomer Kia cuma buat nanya resep nasgor aja. Akrabin dong dia itu anak baik. Siapa tahu jodoh." Ami tahu itu semua saat bertanya pada Kia. Katanya setelah mendapatkan resep nasgor dan mengucapkan terima kasih, tidak ada lagi komunikasi.


"Ya kan emang perlunya minta resep nasgor aja. Aa mah mau beda. Mau nyari jodoh bule atau kalau nggak, yang blasteran juga oke." Zaky dengan cepat mengambil roti dari tangan Ami yang baru selesai ditangkup menjadi dua.


Ami memutar bola mata karena rotinya dilahap Zaky. Ia mengambil lagi roti tawar baru dan mulai mengoles ulang. Ada Ibu yang kemudian bergabung duduk dengan membawa segelas minuman oatmeal.


"Bu, gak apa-apa ya kalau nanti aku nyari pasangan nya cewek bule atau blasteran?" Zaky meminta pendapat Ibu. Meja makan menjadi tempat untuk berbincang santai sambil menikmati sarapan roti.


"Kalau emang Zaky suka, terus perempuannya baik dan seiman, Ibu akan restuin." Ibu menerima roti tawar oles yang dibuatkan Ami.


"Aku juga support lah kalau Aa keukeuh pengen jodoh bule. Menurut aku sih Aa cocoknya sama bule Australia. Aku punya kenalan."


"Masa sih? Siapa, Mi? Kenalin dong!" Mata Zaky nampak berbinar.


"Kangguru." Ami memeletkan lidahnya.


Ibu Sekar tak bisa menahan untuk tertawa lepas sampai bahunya terguncang-guncang. Si bungsu memang tak tiada hari tanpa menjahili kakak-kakaknya. Apalagi melihat Zaky yang kemudian mengacung-acungkan telunjuk seolah isyarat ancaman pembalasan.


"Ate....!"


"Ate....!"


Suara Rasya yang keras dan serak memanggil-manggil terdengar oleh semua orang. Ami buru-buru beranjak jangan sampai Rasya turun tangga sendirian. Benar saja si Ucul sudah berdiri di puncak tangga sambil mengucek-ngucek mata.


"Aa tunggu jangan dulu turun." Ami berjalan cepat menaiki tangga untuk menuntun Rasya yang terlihat masih menguap.


"Aa mau pipis." Rasya menangkup celananya sambil badan merinding.

__ADS_1


"Eits, tahan dulu. Ayo-ayo ke kamar mandi." Ami menuntun Rasya kembali ke kamar. Membantu membukakan celana sambil bergumam, "Gini ya rasanya jadi emak. Pagi-pagi repot ngurus anak dulu. Biarlah itung-itung latihan."


***


[Kang, jadi datang ke rumah? Mau jam berapa?]


Ibu Sekar baru saja mengirimkan pesan kepada Pak Bagja. Lebaran hari kedua masih santai. Rumah makan Dapoer Ibu baru mulai buka lagi besok. Pintu utama rumah dibiarkan terbuka lebar usai kerabat tetangga datang bersilaturahmi.


[Jam 10 dari rumah. Anak-anak lagi kumpul kan, Sekar?]


Ibu Sekar menghembuskan nafas panjang usai membaca balasan. Teringat pembicaraan serius lewat telepon di malam takbir kemarin dengan Pak Bagja. Dimana ia lebih banyak menjadi pendengar.


"Biar aku tebak. Kamu masih ragu-ragu menerimaku karena anak-anak kan? Terutama Ami ya."


"Percayalah, Sekar. Aku ingin menikahimu sudah tentu menyayangimu, dan menyayangi anak-anakmu juga. Aku akan menjadi suami dan Papa yang bertanggung jawab. Jangan ragukan itu.


"Nanti lebaran kedua, aku akan datang bawa keluarga. Aku akan meminta restu pada keempat anakmu."


Ibu Sekar mengerjapkan mata karena mendengar jeritan suara Ami di teras depan. Kemudian disusul suara tawa Zaky tak kalah keras. Bergegas bangkit dari duduknya dan menyusul ke depan.


"Ada apa sih, Mi? Bikin kaget aja."


"Tuh lihat cucu Ibu. Kan baru aja aku mandiin, suapin, eh malah ikut-ikutan nyuci motor. A Zaky juga malah didiemin aja. Giliran Ibu ah gantiin bajunya si Ucul. Hayati lelah." Gerutu Ami yang awalnya mau duduk santai di teras untuk chatingan dengan Panda, urung dilakukan.


"Jadi inget berita viral pelajar SMP dan SMA di kota apa gitu, yang datang ke Pengadilan Agama minta dispensasi nikah karena harus MBA. Mereka ngelakuin dosa itu gak mikir panjang. Abis nikah mental belum siap kudu ngurus anak, tanggung jawab ini itu, jadinya ribut dan stres. Terus cerai deh. Masa depan suram karena awalnya udah salah sih. Gimana nantinya bisa didik anak berkualitas kalau psikologis ortunya aja begitu." Sahut Zaky sambil tangan sibuk menyabuni ban motor Ninja nya.


Waduh, mana aku mau nikah lulus SMA. Aku salah komentar tadi. Gawat. Bisa-bisa surat izin keluarga dipersulit.


"Tapi kan A, ada juga yang mutusin nikah muda karena mental udah siap, finansial kuat, open minded untuk terus belajar. Yang begitu pasti bakal awet pernikahannya." Secara tidak langsung, Ami menyampaikan niatnya sendiri.


"Iya kalau yang seperti itu sih no problem. Yang jadi miris tuh akhlak pelajar zaman now pergaulannya ngeri-ngeri sedap. Anak SMP sampe MBA. Makanya pentingnya fokus sekolah jangan pacaran. Biar gak celaka."


Ami merasa pagi ini mendapat pelajaran. Benar, menikah tidak cukup dengan mengagungkan cinta. Mentalitas juga penting. Soal pacaran? Dalam hati membela diri jika pacaran yang dilakukannya sangat sehat. Tak dipungkiri ia pun suka melihat gaya pacaran pelajar yang ia temui di mall atau di taman, di konser musik, tanpa malu saling berpelukan.


Ibu mencolek lengan Ami yang sedang termenung. "Ami, telepon Teh Puput sama Teh Aul suruh datang kesini sekarang. Keluarga Pak Bagja mau datang jam sepuluh."


"Asiap." Ami berbinar. Karena pembahasan tema pacaran jadi berakhir. Ia menghubungi nomer Puput.


Setengah jam kemudian mobil Panji dan Rama datang beriringan dan masuk ke parkiran rumah makan. Suasana rumah pun kembali ramai.


[Lagi apa, Cutie?]

__ADS_1


Ami tersenyum lebar karena niatnya mau kirim pesan malah pesan dari Akbar yang masuk lebih dulu. Ia bebas dari Rasya yang selalu menempel setelah ada Rayyan yang bisa diajak main. Saatnya mojok dulu di kamar tanpa ada gangguan.


[Lagi Mengkudu, Kak]


[Masih ingat gak artinya? 🙃]


[Akan selalu ingat dong dengan semua gombalanmu]


[Mengkudu, Mengingatmu Aku Rindu. Betul kan, sayang? 😊]


Ami berguling-guling di tempat tidur. Lalu bangun sekaligus dan menuju lemari. Kata "Sayang" dari Akbar membuatnya oleng. Boneka Panda yang dievakuasi di lemari segera dikeluarkan dan dipeluk dengan erat. "Ah Ayang, jangan bikin aku meleyot terus dong. Kan aku jadi pengen cium. Mmuach...mmuach." Ia mencium kedua pipi boneka Panda lalu mendudukkannya di sofa. Jadi lupa belum membalas chat.


[Betul syekali 👏 Ayang Panda emang ehemm pokoknya]


[Bikin aku makin ehemm]


[Ehemm itu apa, Cutie]


[Kan otakku jadi traveling]


[Ish, jangan traveling keliling dunia, Kak. Ehemm itu makin ATK. Makin Aku Tayang Kamu 🥰]


[Cutie, tau gak sih kamu tuh gemesinnn]


[Ayang Panda juga sama, emessss. Wahai mesin waktu, ingin kuputar lebih cepat biar besok jadi tanggal 4]


[😄😄 memangnya kalau ketemu mau pelukan & cipika cipiki? Aku sih gak akan nolak]


[Ish, bukan gitu. Aku kan mau ngasih nastar ]


Ami membalas dengan dada berdesir dan wajah merona. Rindu memang mendorong hasrat ingin beradu fisik. Namun iman menjadi filter yang bisa menahan gejolak asmara yang sedang membara. Jatuh cinta untuk pertama kalinya pada laki-laki dewasa begitu merubah dunianya yang biasa cuek, polos, dan tomboy, menjadi seorang Ami yang belajar dewasa, peduli dengan penampilan, dan mulai senang bereksperimen di dapur.


Tok tok tok.


Ami beranjak membukakan pintu usai mendengar suara ketukan.


"Mi, keluarga Pak Bagja udah datang. Ayo turun!" Zaky berlalu lebih dulu menuruni tangga.


Ami mengetik cepat memberi tahu Akbar jika harus bersambung karena tamu sudah datang. Lalu beralih berkaca sambil memakai jilbabnya.


...****************...

__ADS_1


Bestie, yang ikutan program undian ngasih 10x iklan, nick name nya jangan berubah ya. Biar poin terus bertambah. Ganti NN berarti ngulang poin dari awal lagi dan tercatat sebagai reader baru. Sayang banget yg poinnya udah puluhan tiba² stop. Mungkin karena ganti NN. Sekian infonya dan terima gaji 🫠


__ADS_2