
Ruang tengah dengan gelaran karpet besar menjadi pilihan tempat menyambut keluarga Pak Bagja. Agar tuan rumah berikut tamu bisa duduk bersama dan tertampung semuanya. Usai bersalaman, Rasya dan Rayyan yang bermain dengan dua cucu Pak Bagja menjadi tontonan semua orang. Karena anak kecil mudah sekali akrab.
"Silakan diminum Pak Bagja, Kak Guna, Gina." Ucap Puput mewakili berbicara usai bersama Ami menghidangkan teh dan kopi sesuai pesanan. Yang direspon semua tamu dengan anggukkan dan senyuman.
"Teh Aul kata Ibu lagi hamil ya. Udah berapa bulan, Teh?" Gina lebih supel berbicara karena sudah merasa akrab.
"Alhamdulillah sekarang 4 bulan. Tapi masih ngumpet gak keliatan." Aul terkekeh sambil mengusap perutnya yang terbungkus dress longgar. Orang-orang yang belum tahu tak mengira ia sedang hamil karena tidak kelihatan ada perubahan fisik.
"Bapak dan semuanya, sekalian juga saya mengundang kehadirannya di acara syukuran empat bulanan. Waktunya lusa tanggal empat Syawal jam sepuluh di hotel Seruni Tasik." Ucap Panji. Kemarin ia memang sudah diskusi dengan Aul perihal akan mengundang keluarga Pak Bagja.
"InsyaAllah kami hadir." Pak Bagja menjawab tanpa ragu. Dalam posisi duduk sila dengan punggung tegak, ia menyapukan pandangan kepada semua anak dan menantu Ibu Sekar.
"Kalau aku mohon maaf gak bisa. Besok harus kembali ke Jakarta karena ada tugas. Paling istri dan anak-anak yang hadirnya." Sahut Guna, anak pertama Pak Bagja. Ucapannya itu dimaklumi Panji.
Pak Bagja berdehem. Membuat semua atensi tertuju padanya. "Semalam saya mengajak duduk bersama dengan putra pertama saya bernama Guna Galih Gumelar, dan putri saya bernama Gina Giska Gumelar. Dan mantu saya Vena, ikut menjadi pendengar. Saya bilang pada anak-anak bahwa Papa ingin menikah lagi. Dan wanita yang Papa pilih adalah Ibu Sekar Sari. Jawaban dari anak-anak saya alhamdulillah mengizinkan. Dan...."
Tak ada yang menyela. Semua mata tertuju pada Pak Bagja yang menjeda ucapan dan hendak melanjutkannya. Terkecuali Ibu Sekar yang menundukkan kepala menekuri karpet.
"Dan pada momen silaturahmi ini, saya Bagja Gumelar. Juga mau meminta izin terkhusus kepada Putri Kirana, Aulia Maharani, Zaky Wijaya, dan Rahmi Ramadhania. Izinkan saya untuk menikahi Ibu Sekar. Menjalani hari tua bersama dalam kasih sayang sampai tutup usia. Dan saya pun tentunya akan menyayangi kalian seperti anak saya sendiri." Pungkas Pak Bagja menyampaikan niat dengan ekspresi tenang dan penuh wibawa.
"Kalau dari aku sebagai anak tertua, menyerahkan semua keputusan pada Ibu, Pak." Lugas Puput sambil melirik Ibu yang masih menundukkan kepala.
"Aku juga sama, Pak. Apapun jawaban Ibu, aku akan menurut. Asal Ibu bahagia" Sahut Aul tak kalah lugas.
"Jawabanku juga sama, Pak. Ikut pada keputusan Ibu aja." Zaky menjawab cepat.
Kini semua mata tertuju pada Ami yang duduk di samping Ibu. Baru sekarang Ibu mengangkat wajah dan menoleh pada Ami untuk melihat ekspresi si bungsu yang sedang melipat bibir.
"Ami, gimana?" Tanya Puput usai menunggu cukup lama si bungsu yang masih membisu.
Ami meluruskan pandangan dengan tatapan tajam kepada Pak Bagja yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi tenang. "Aku memang paling sebentar merasakan kebersamaan dengan almarhum Ayah. Sejauh yang aku tahu dan juga mendengar cerita dari ibu, Teh Puput, Teh Aul dan A Zaky, Ayah tidak pernah ringan tangan ataupun berantem dengan ibu. Jadi Bapak kalau mau menikahi ibu harus jadi suami dan ayah yang penyayang. Bapak harus tahu kalau anak-anak Ibu semuanya jawara silat. Kalau bapak nyakitin ibu siap-siap di sleding sama aku."
Puput hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban frontal Ami. Rama dan Panji kompak menunduk menyembunyikan tawa yang ditahan. Bukannya terkesima dengan ancaman Ami justru geli. Itu adalah sebagian ekspresi yang tertangkap oleh pandangan Zaky yang malah menyukai keberanian sikap Ami.
Sementara Pak Bagja mengulum senyum dan tetap tenang yang lalu berkata, "Siap, laksanakan." Ia pun mengangkat tangan memberi hormat pada Ami.
"Ami tenang aja. Aku ini seorang kopaska. Gak akan ngebela jika Papa berbuat salah. Kalau Ami mau sleding, aku akan lebih keras ngasih hukuman kalau sampai Papa nyakitin Ibu." Sahut Guna. Sontak ucapannya itu ditanggapi kekehan semua orang.
"Ibu, keputusan Ibu gimana?" Ami menoleh menatap Ibu. Membuat suasana kembali hening. Pak Bagja pun menatap Ibu Sekar dengan perasaan harap-harap cemas menanti jawaban pasti.
"Ami yakin ngizinin Ibu nikah lagi dengan Pak Bagja?"
Ami memberi jawaban dengan anggukkan.
"Tidak terpaksa?" Sambung Ibu Sekar.
"Memangnya kalau terpaksa gimana?" Pancing Ami.
"Ibu akan nolak keinginan Pak Bagja. Karena Ibu sayang sama Ami melebihi sayang pada diri sendiri. Ibu rela berkorban demi Ami."
__ADS_1
"Ah Ibu, bikin melow deh." Ami memeluk Ibu Sekar dari samping. Sejujurnya sangat terharu. Diakui, sayangnya Ibu gak kaleng-kaleng.
"Bu, aku beneran ikhlas kok. Jadi cepetan kasih jawaban ke Pak Bagja biar segera makan-makan." Ami nyengir kuda karena mendapat hadiah cubitan Ibu di lengannya. Diantara semua orang yang mendengarkan ucapannya, Gina yang paling lepas tertawa.
"Jawabannya Ami aja yang wakilin." Ibu mengangguk pelan saat Ami menatapnya dengan ekspresi kaget.
"Pak, aku mewakili Ibu. Dan jawabannya yes. Bapak dapat lima yes. Selamat ya pak, dapat tiket ke KUA." Ami tersenyum lebar dan bertepuk tangan seorang diri. Heboh sendiri. Padahal yang lain duduk kalem.
Pak Bagja terkekeh. "Alhamdulillah. Terima kasih Ami dan semuanya. Mulai hari ini, kita pererat tali silaturahmi dua keluarga ini. Puput dan Vena yang tinggal di Jakarta, sudah berapa kali kalian bertemu?" Ia beralih menatap menantu lalu Puput.
"Baru dua kali, Pa. Itu pun udah lama." Sahut Vena yang sedari tadi menjadi pendengar.
"Iya betul udah lama sekali dua tahun lebih." Puput pun membenarkan ucapan Vena.
"Sekarang harus makin dekat ya. Kalau ada waktu luang kan bisa playing date bawa anak-anak."
"Iya, Pa." Vena mengangguk. Begitu pula Puput yang setuju.
"Jadi rencana selanjutnya gimana, Pa. Apa Papa mau lamaran dulu atau langsung tentuin tanggal nikah nih." Guna mengembalikan pembahasan yang belum final.
"Gak usah ada lamaran, Aa Guna. Kalau permintaan dari Ibu, nikahnya sederhana aja. Waktunya nanti nunggu Ami selesai ujian. Sekitar enam minggu lagi." Pinta Ibu Sekar.
"Baiklah, aku ikut keinginanmu. Nanti kita atur lagi gimana caranya anak-anak bisa kumpul pas hari H." Pak Bagja mengalah pada keinginan Ibu Sekar. Enam minggu bukanlah waktu yang lama. Meski hati sudah tak sabar ingin segera halal karena menunggu sampai bisa ke tahap ini, bertahun-tahun lamanya.
***
Akbar ngopi pagi bersama Papa Darwis dan Galih. Sudah siap berangkat ke Tasik pagi ini. Ia akan bergantian menyetir dengan Galih sang adik ipar. Mengingat sopir maupun ART masih pulang kampung. Semalam Ami sudah mengabari hasil pertemuan dengan keluarga Pak Bagja. Ia menanggapi dengan positif.
"Bar, ayo ah kita berangkat sekarang. Ugh, Mama udah gak sabar mau ketemu calon mantu kinyis. Mantu masa depan yang harus dijaga, dirawat sepenuh hati. Jangan sampai oleng ke lain hati. Papa juga buruan ngopinya. Jangan seruput- seruput gitu. Lama. Leguk-leguk dong biar langsung abis." Cerocos Mama Mila di pagi hari bagaikan kacau burung yang riang saat diterpa hangat sinar mentari.
"Cara minum kopi ya gitu, Ma. Biar terasa sensasi nikmatnya. Mama di endorse merk kecap, ya?" Papa Darwis sudah biasa dengan tabiat sang istri yang suka tidak sabaran. Termasuk yang akhirnya status Akbar dan Ami bocor terhadap Iko dan Galih. Padahal Akbar awalnya meminta merahasiakan dulu. Semua bermula saat kemarin sore sang istri video call dengan Ami.
"Endorse apaan. Gak ada." Mama Mila ikut menyesap kopi hitam milik Papa Darwis. Yang kemudian meringis karena sangat pahit. Memang seperti itu selera kopi sang suami.
"Kan yang dijaga dan dirawat sepenuh hati kan si Malika. Iklan kecap itu."
Akbar dan Galih terkekeh dengan candaan receh Papa Darwis. Mama Mila merespon dengan mencubit lengan suaminya itu.
"Mama nanti di Tasik jaga euforia di depan Tante Ratna, Tante Ratih, Enin. Jangan dulu bocor, Ma. Jangan berantakin planning Akbar yang udah tersusun." Ucap Akbar. "Iko harus selalu ada di deket Mama biar remnya pakem." Ia beralih menatap Iko dengan serius.
"Tenang aja tenaaang. Gak akan bocor dua kali. Ya kalau sama Iko adikmu sendiri wajar lah dia tau duluan." Mama Mila beralasan.
"Kalau Iko ngawal terus Mama, kasian Mas Galih dong dikacangin. Papa aja yang ngawal Mama."
"Papa juga ogah. Ngumpul sama grup emak-emak bikin boring. Apa udah janjian sama Mas Krisna, Anjar, mau bahas wacana mancing bareng."
"Ih, lagian siapa juga yang mau ditemenin Papa yang gak betahan. Udah ah buruan berangkat! Semua pintu, jendela, gas, kran, udah Mama periksa. Regulator tabung gas udah dicabut biar aman. Tinggal ngunci pintu depan dan gerbang aja. Papa harus tertib nguncinya. Papa jangan lupa nanti di pos security bilang untuk rajin patroli ke rumah kita. Kasih uang duluan biar semangat. Lho si Papa kemana? Akbar juga kemana?"
Keasyikan bicara sambil menunduk mengecek isi tasnya, Mama Mila sampai tidak sadar jika Papa Darwis dan Akbar sudah pergi dengan mengendap-endap. Menyisakan Iko yang sedari tadi membekap mulut menahan tawa, kini tawanya meledak. Dan Galih yang hanya mesem-mesem. Karena sebagai menantu yang baru hitungan bulan, ia takut mertuanya tersinggung. Padahal tidak tahan juga ingin tertawa.
__ADS_1
Perjalanan Jakarta Tasik ditempuh lebih lama dari biasanya. Hal biasa tiap tahunnya karena momen libur lebaran selalu mengalami kemacetan di beberapa ruas jalan. Alhamdulillah, tiba dengan selamat di hotel Seruni menjelang magrib.
Kedatangannya disambut langsung oleh GM Tommy dan dua orang staf manajemen di lobi hotel. Masih momen lebaran, salamannya pun berikut ucapan selamat lebaran. Akbar dan keluarga langsung pula diantar ke kamar yang sudah disiapkan.
"Tamu gimana rame, Tommy?" Akbar duduk di sofa begitu masuk ke kamar. Bersilang kaki dengan punggung dan belakang kepala disandarkan ke belakang. Perjalanan yang lumayan melelahkan.
"Per hari ini 90 persen kamar terisi, Pak." Tommy ikut duduk di single sofa.
"Alhamdulillah." Akbar nampak puas. "Persiapan untuk acara besok gimana gak ada kendala?"
"Aman, Pak. Semua menu tradisional khas sunda sesuai request Pak Akbar sudah siap 100 persen."
"Bagus."
"Kalau begitu saya tinggal dulu, Pak. Selamat beristirahat." Tommy membungkuk sopan sebelum beranjak keluar kamar.
Akbar mengeluarkan tas dari dalam waist bag nya. Selama di perjalanan, Ami sudah dua kali bertanya sudah sampai mana. Maka ia kirimkan map agar si Cutie bisa memantau langsung.
[Yes. Pasti Panda udah sampai di Seruni]
[Aku happy, Ayang tiba dengan selamat 🤸♀️]
Akbar terkekeh membaca pesan yang dikirim Ami sepuluh menit yang lalu itu dengan tambahan emoji salto. Ekspresif sekali si imut itu. Ia jawab dengan menelpon.
"Cutie, kesini dong kita dinner sama keluargaku. Minta izinnya main ke Tasik mau beli apa gitu. Atau mau ke rumah temen gitu." Tiba-tiba terlintas ide spontanitas karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis menggemaskan itu.
"Hm, aku coba deh. Lolos tidaknya izin nanti aku kabarin lagi ya."
"Emang gak kangen sama aku?" Akbar mencoba memancing dengan suara merajuk. Karena Ami selalu menjawab apa adanya.
"Bukan kangen lagi, tapi Kak Akbar seperti guru sejarah."
"Maknanya apa, sayang?"
"Karena Kak Akbar udah mengajarkan aku arti cinta sejati. Ihihihi."
Rasanya lelah menguap entah kemana. berganti senja yang berga irah usai mendengar gombalan Ami. "Cutie, besok kayaknya akan ada acara tambahan. Acara lamaran Akbar dan Ami."
"Eits. Jangan jangan dulu. Janganlah diganggu.....🎶. Lanjutin kak, nyanyinya!"
Akbar tertawa renyah. Andai ada di hadapannya, ingin sekali menguyel-nguyel kedua pipi Ami. Gemas akut.
"Cutie, semoga bisa dapat izin keluar rumah ya." Akbar penuh harap.
"Aku coba deh. Udahan dulu ya, Kak. Udah adzan. Assalamu'alaikum."
Akbar menjawab salam dengan sepenuh hati. Sedalam rasanyang tulus cinta dan menyayangi Ami dengan segala sifat uniknya.
...****************...
__ADS_1
Bestie, tebak dong. Kira-kira Ami diizinin Ibu gak ya🤔?