Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
124. Ungkap


__ADS_3

"Pak Akbar!"


Akbar menoleh ke belakang saat pintu mobil sedang bergerak terbuka ke atas. Seorang pria bertopi maju dua langkah mendekatinya. Keremangan cahaya lampu belum memperlihatkan jelas wajah orang yang sepertinya memang tidak dikenalnya.


Namun tak mengira jika kemudian ada yang memiting lehernya dari belakang dan membekap hidungnya dengan sebuah sapu tangan. Bau menyengat mulai memusingkan kepalanya. Sekuat tenaga berontak tapi kalah tenaga. Karena pria bertopi itu ikut membantu mencekalnya. Lambat laun semuanya pun berubah gelap.


Rasa sakit seperti digigit semut di bagian lengan kiri, membuat Akbar perlahan membuka mata dengan wajah meringis. Apa yang dilihat pandangan matanya yang memicing masih tidak jelas. Gambarnya kabur dan berputar-putar. Seolah sedang terjadi gempa. Lagi-lagi rasa digigit semut terasa lagi. Kali ini di lengan kanannya. Meski pandangannya masih kabur, ia bisa melihat jika jarum suntik sedang menancap di lengan atas.


Dalam ketidakberdayaan, Akbar mencoba mengingat apa yang terjadi. Apalagi kini sedang terbaring di atas ranjang tanpa mengenakan pakaian atas. Tak bertenaga untuk bangun. Ia melihat dua orang berdiri jauh dari ranjang. Tengah memperhatikannya.


Pusing yang masih mendera. Ditambah kini muncul sensasi aneh yang dirasakan tubuhnya. Akbar mencoba bangun saat merasakan badannya seakan ringan dan mau terbang. Apalagi kini suara musik terdengar. Mendadak nalurinya mendorong untuk bergoyang. "Ya Allah, apa yang terjadi sama tubuhku?" Ia berusaha melawan perintah otaknya sendiri. Namun uluran tangan seorang perempuan yang menariknya bangun, membuat hasrat ingin bergoyang semakin menjadi.


Kepala bergoyang-goyang mengikuti irama, tersenyum penuh nafsu pada perempuan di hadapannya yang meliuk-liukkan pinggul, justru bertentangan dengan nalurinya. Namun pula tidak dapat dicegah. Susah payah Akbar mencoba mengingat wajah perempuan seksi itu dan seorang laki-laki yang sedang merekam.


Akbar semakin mabuk. Perempuan seksi itu semakin merangsek menempelkan tubuh ke dada Akbar dan hendak mencium.


"Hai, lo jangan nyosor. Dia punya gue!"


"Itu suara....." Dalam upaya menghimpun kesadaran di tengah sensasi nge-fly, Akbar terkejut mendengar suara yang familiar.


Tubuh Akbar ambruk di lantai dalam posisi telungkup. Terdengar jerit tertahan dua perempuan karena kepanikan.


"Kenapa begini? Harusnya dia sakaw bukan pingsan." Ucap perempuan kedua yang sedari tadi mengawasi dari sudut tersembunyi. Segera berjongkok di samping tubuh Akbar yang masih telungkup dan berusaha membalikkan tubuh tak berbaju itu.


"Cutie....sayang. I miss you." Mulut Akbar meracau dengan mata terpejam saat posisi berubah telentang. Tangan meraba-raba hingga menggapai wajah perempuan yang duduk di atas perutnya.


"Sentuh aku semaumu, sayang. Aku menginginkanmu sejak lama." Ucap perempuan itu yang mulai menunduk hendak mencium bibir Akbar. Namun sebelum bibirnya berhasil mendarat....


"Arghh." Jerit sang perempuan sambil terjungkal ke samping. Karena kedua pipinya mendapat cakaran tangan Akbar yang kemudian pingsan lagi.


"S h i t. Buang dia!"


***


Kamar perawatan kelas VIP diisi oleh tiga orang penunggu. Ada Mama Mila, Papa Darwis, dan Leo. Ketiganya mengelilingi ranjang pasien dengan wajah berseri-seri. Memperhatikan dokter yang memeriksa Akbar yang baru sadarkan diri.


"Kesehatannya membaik. Tapi jangan dulu berpikir keras karena akan membuat Mas Akbar pusing." Ucap dokter usai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.


"Makasih, dok." Mama Mila tersenyum dan mengangguk saat dokter dan seorang perawat berpamitan.


Akbar menatap sekeliling kemudian berganti menatap orang-orang dengan raut bingung. Ia merasakan kepalanya terasa berputar saat mencoba bangun.


"Pelan-pelan, bro." Leo membantu Akbar dengan memegang bahunya.


"Haus."


"Ini, nak?" Mama Mila mengulurkan botol minuman.


"Ma, kenapa Akbar di rumah sakit?" Kesadaran Akbar semakin penuh setelah air hampir setengah botol.


"Akbar tidur selama 2 hari. Apa yang udah terjadi, nak? Ingat nggak?" Kali ini papa Darwis yang bertanya. Karena mama Mila malah terisak.


"Tidur 2 hari?! Emang ini hari apa?" Akbar malah balik bertanya dengan raut kaget sekaligus bingung. Ya kemudian memegang kepalanya karena mendadak pusing yang berputar-putar.


"Om, biar Akbar istirahat dulu. Barusan kata dokter nggak boleh berpikir berat." Leo mengingatkan.


"Ini hari apa?" Akbar mengulang tanya dengan menatap Leo.


"Malam rabu." Sahut Leo dengan singkat. Ia memberi ķesempatan pada Akbar untuk mengingat-ingat.


"Malam Rabu?! Astagfirullah. Senin harusnya jadwal prewed. Jadinya kelewat. Apa Ami tahu aku di rumah sakit? Apa ada yang ngasih tahu kalau aku sempat ada yang nyulik?Jadinya gak bisa ke Tasik." Akbar mulai ingat kejadian yang menimpanya dimulai saat keluar dari hotel tempat wedding party.

__ADS_1


Tak ada yang menjawab pertanyaan Akbar. Malah saling tatap.


"Kenapa pada diam? Ada apa ini? Leo pinjam HP lo. Gue harus telepon Ami!" Akbar mengabaikan pusing di kepalanya. Ia harus bicara dengan Ami.


"Lupain Ami, Bro. Lo fokus pemulihan dulu karena hasil tes lo positif menggunakan kokain. Kita harus usut siapa yang melakukan ini. Dan kita harus lapor polisi."


"Iya, nak. Urusan dengan Ami nanti aja. Kamu harus sehat dulu. Akbar harus tes lanjutan lagi. Dokter nunggu kamu sadar."


Akbar terkaget untuk dua hal. Tentang narkoba di tubuhnya dan juga tentang Ami.


"Ada rahasia apa ini sebenarnya? Tolong cerita, Ma, Pa, Leo. Kalau dirahasiakan justru Akbar akan kepikiran. Akbar juga pengen menangkap orang yang udah membius Akbar waktu di parkiran hotel " Akbar menatap semuanya dengan seksama. Dengan wajah sungguh-sungguh.


"Ya Allah, jadi Akbar dibius terus diculik terus dikasih narkoba gitu?" Ucap Mama Mila dengan kaget."


"Nanti Akbar ceritain. Sekarang pengen tahu dulu kabar tentang Ami."


"Bar, Ami mutusin kamu." ucap Mama Mila dengan wajah dan tatapan sendu.


"Ma, jangan bercanda. Akbar lagi kurang fit, Ma."


"Mama serius, Akbar. Kamu yakin mau baca chat-nya Ami ke Mama?"


"Mana?" Akbar mengeluarkan tangan kanan. Keyakinannya masih kuat tidak percaya dengan apa yang diucapkan ibunya itu.


"Ami juga chat sama gue. Itu karena HP lo nggak aktif. Jadi dia nitip pesan."


Akbar mendongak saat menerima ponsel Mama Mila. Kedua alisnya bertaut diiringi gelengan kepala. Masih tidak percaya. Segera membuka room chat Ami.


[Assalamu'alaikum, Mama]


[Maaf aku hubungi Mama. Karena hp Kak Akbar gak aktif]


[Langsung aja, Ma. Maafin aku gak bisa lanjutin hubungan ini. Aku mau putus. Setelah kini selangkah lagi, hatiku jadi ragu karena beda umur yang jauh. Aku gak jadi nikah muda. Mau fokus kuliah dulu. Ke vendor prewed udah aku cancel]


Akbar langsung menekan icon telepon menghubungi nomor Ami. Tapi dua kali dicoba, nomor yang dihubungi tidak aktif.


"Mama juga udah berkali-kali telepon Ami tapi nggak aktif nomornya. Sementara ini pikiran Mama nggak mau bercabang . Mama juga nanti pengen ngobrol dengan orang tuanya Ami. Tapi sekarang fokusnya kesembuhan kamu dulu, Bar." sahut Mama Mila.


Akbar diam tidak menanggapi. Bibirnya terkatup rapat dengan kening yang mengkerut. Iya beralih meminta ponsel milik Leo. Ingin melihat chat dari Ami. Cukup lama ia terdiam sambil menatap dan membaca ulang pesan-pesan dari Ami itu.


"Leo, apa Gita masuk kerja?" Akbar beralih pembahasan.


"Iya, kerja. Kenapa nanyain Gita?" Leo menatap heran.


"Gimana keadaannya?"


"Kayaknya baik-baik saja. Cuma wajahnya pakai masker. Katanya wajahnya ada ruam karena alergi kosmetik. Harus ditutup dulu nggak boleh kena udara langsung."


Akbar diam dengan wajah datar tanpa ekspresi mendengar penjelasan Leo itu.


"Bar, kenapa jadi perhatian sama Gita? Masalah dengan Ami belum selesai. Kita harus minta klarifikasi dengan orang tuanya Ami." ucap Papa Darwis yang saya dari tadi lebih banyak menjadi pendengar.


"Iya, Pa. Kita selesaikan satu-satu. Akbar mau ke kamar mandi dulu. Dan Leo....suruh Gita jenguk aku sekarang juga."


***


Rama dan Puput fokus mendengarkan penjelasan dari Ibu Sekar dan Papa Bagja. Awalnya terkaget mengetahui Ibu, Papa dan Ami sudah dua hari berada di Jerman. Sudah setengah jam lamanya mereka video call membahas tentang hubungan Ami dan Akbar dengan permasalahan yang sedang mencuat.


"Papa sengaja menyetujui keinginan Ami pergi ke Jerman. Karena di Ciamis pun posisi Ami tidak aman. Info dari preman yang Papa interogasi, Boss Jakarta akan melakukan aksi ulang menculik Ami. Papa rahasiakan ini dari Ami. Biar ini jadi urusan Papa yang sedang mencari orang yang bernama Konyal." Jelas Pak Bagja mengungkapkan alasan sebenarnya.


"Sekarang Ibu mau minta tolong Aa Rama sama Teteh. Tolong datangin ke rumah Akbar sebagai sebagai perwakilan Ibu dan Papa. Bagaimanapun juga kita harus tabayyun. Jangan dulu membuat kesimpulan akhir. Bisa jadi ada orang yang yang tidak suka dengan hubungan Akbar dan Ami."

__ADS_1


"Iya, Bu. Aku dan Puput akan ke rumah tante Mila setelah ini. Biar aku dengar langsung penjelasan dari orangnya. Meskipun Akbar sepupu aku, kalau dia salah ya aku nggak akan membelanya." Sahut Rama. Kemudian menjadi akhir perbincangan beda negara dan beda waktu itu.


Puput menghembuskan nafas panjang. Ia adalah seorang jawara yang memiliki insting tajam. Yang tidak gegabah dalam membuat tindakan.


"Papa, kita kan baru dengar dalam bentuk cerita. Aku pengen baca langsung seperti apa chatnya Akbar ke Ami. Aku mau telepon Aul barangkali dia dia forward."


"Oke, Neng." Rama tidak beranjak dari duduknya. Ia ikut mendengarkan obrolan Puput dengan Aul yang di loudspeaker. Dan ternyata awal pun menyimpannya. Katanya coba tanya Padma. Puput pun beralih menghubungi Padma.


"Padma...."


"Ya, Teh Puput."


"Padma save chatingan Kak Akbar yang kemarin itu, nggak?"


"Ada, Teh. Sebenarnya Ami tuh nyuruh hapus semuanya. Tapi aku screenshot dulu dan save foto dan videonya."


"Alhamdulillah. Kirimin ya ke Teteh. Ditunggu sekali ya, Padma."


"Siap, Teh."


Tak Butuh waktu lama menunggu, Puput menerima kiriman chat dari Padma.


"Pa, kita ke rumah tante Mila sekarang yuk? Tapi Papa coba telepon dulu ada nggak di rumah." Ucap Puput setelah membaca kiriman dari Padma dan menyerahkan hp-nya ke Rama yang juga ingin melihatnya.


Rama mengangguk. Segera menghubungi nomor Akbar lebih dulu. Namun nomor tidak aktif. Kemudian beralih menghubungi nomor Mama Mila. Obrolan pun berlangsung cukup lama. Hingga disepakati janjian waktu temu.


"Gimana, Pa?" Puput penasaran ingin mendengar laporan dari Rama. Yang sekilas tadi sempat terkejut.


"Akbar dirawat di rumah sakit dan akan pulang sekarang. Kita bisa datang ke rumah tante Mila jam empat sore."


"Mas Akbar sakit apa?"


"Aku juga nggak dikasih tau. Kata tante Mila nanti dijelasin pas ketemu."


Waktu jam empat pun tiba. Rama dan Puput sampai di rumah Mama Mila jam empat lebih sepuluh menit. Sambutan Mama Mila tidak sehangat biasanya. Bukan karena ada kebencian. Akan tetapi karena lelah usai 2 malam 3 hari berada di rumah sakit menemani Akbar.


"Bar, kamu kenapa pucat gitu?" Rama berpelukan dengan Akbar yang baru bergabung duduk di ruang tengah.


"Aku habis diculik dan disuntik kokain."


"APA?!" Serentak Rama dan Puput berucap kaget.


"Entah apa motif mereka melakukan itu. Aku merasa nggak punya musuh. Aku pingsan dua hari di rumah sakit. Baru bisa pulang siang tadi, itupun maksa. Aku milih pulang rawat jalan saja. Karena ingin segera mengungkap siapa pelakunya itu."


"Kapan kejadiannya?" Tanya Rama penuh rasa ingin tahu.


"Kronologisnya Sabtu sore hp-ku hilang. Malam minggu aku ke wedding Naomi. Pas pulang di parkiran dibius. Di sisa kesadaran, aku tau dibawa pergi pakai mobil aku. Sopirnya cowok pakai topi, ada tato di belakang telinga kiri. Aku sadar-sadar Minggu jam 4 subuh. Ada di dalam kamar tanpa pakai baju atasan. Tahu jam 4 karena ada jam meja di dekat ranjang. Aku dapat suntikan di tangan kiri dan kanan. Sampai aku terdorong merasakan happy fly yang aneh. Terus denger musik jadi pengen joget. Sampai duet joget sama cewek yang nggak aku kenal siapa. Setelah itu aku pingsan dan sadar-sadar udah di rumah sakit. Kata Leo, anak buah Leo menemukan aku di dalam mobil yang terparkir di Pantai Ancol."


"Kamu udah lapor polisi? Ada orang yang kamu curiga, nggak?" Cecar Rama.


"Lapor polisi belum masih ngumpulin bukti kejahatan. Orang yang dicuriga ada. Tapi aku belum bisa kasih tahu sekarang. Takutnya jadi fitnah."


Rama dan Puput saling pandang. Kemudian Puput menganggukan kepala pelan sebagai isyarat mengizinkan Rama memulai menyampaikan maksud dan tujuan.


"Om, Tante, Akbar. Aku minta maaf jika sikon tidak tepat. Aku dan Puput ke sini ingin minta klarifikasi tentang chat yang dikirim Akbar Minggu subuh pada Ami."


"Chat apa? Hp aku hilang, Ram. Aku juga gak sempat ngasih tahu Ami." Kening Akbar berkerut sangat dalam.


"Isinya kamu mutusin Ami dan ngaku selama ini cuma mainin perasaan Ami sebagai eksperimen dan taruhan. Kamu juga ngirim foto dan video lagi tidur dan joget sama cewek seksi."


Mama Mila, Papa Darwis, juga Leo yang mendengarkan, semuanya terkejut.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu. Apa gara-gara itu Ami ngirim chat ke Mama sama Leo. Ami mutusin hubungan sepihak dan pergi ke Jerman. Apa itu benar?" Kepingan puzzle di benak Akbar yang masih berantakan mulai mendapatkan susunan.


"Hp Ami sejak berangkat malam Senin dari Ciamis sampai sekarang udah tiga hari, nggak pernah aktif Mas Akbar. Mama Mila sama Kak Leo dapat chat dari Ami kapan?" Sahut Puput dengan kening mengernyit.


__ADS_2