Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
98. Mulai Menyebar


__ADS_3

Ami berjalan di depan Papa Bagja saat memasuki pekarangan rumah. Musik horor sudah berdentum dalam imaninasi sejak ia membuka selot pintu pagar besi khusus pejalan kaki. Memacu jantung berdegup kencang dan tegang saat pandangan menyapu deretan mobil yang terparkir di garasi yang pintunya masih terbuka lebar. Adakah satu warna yang mencolok diantara warna hitam dan putih kendaraan milik keluarga Enin? Yaitu si kuning.


"Enin, sehat?" Sapa Pak Bagja begitu bersalaman dengan Enin Herawati di ruang tengah. Sejenak ia berbincang santai dengan sepuh yang selalu ramah pada siapapun. Ada Ayah Anjar dan Padma yang juga sedang berkumpul di ruangan santai itu.


"Pak jenderal, jangan dulu pulang ya. Makan dulu disini ya. Abis magrib kita makan sama-sama." Enin selalu senang memanggil Pak Bagja dengan panggilan Pak Jenderal. Nyamannya seperti itu.


"Hatur nuhun, Enin. Baru aja makan sebelum berangkat ke sini. InsyaAllah lain waktu. Ini saya jajap Ami katanya mau nginep di sini. Saya mau langsung pamit aja keburu magrib." Pak Bagja melirik jam tangannya. Perkiraan enam menit lagi adzan magrib.


Jadilah Pak Bagja pulang diantar Ayah Anjar sampai ke teras. Tak ada supercar kuning di pekarangan rumah. Ia menyimpulkan tak ada Akbar di dalam rumah. Entah kalau nanti malam. Namun ia memberi kepercayaan pada Ami bisa menjaga sikap dalam pergaulan. Ia pun percaya pada Enin Herawati bisa jadi orang tua yang bijak.


"Pulang dulu ya, Mas Anjar. Next kita agendakan ngopi bareng di Cafe Dapoer Ibu." Pak Bagja bersalaman dengan menantunya Enin itu.


"Siap, Kang Bagja. Mas Krisna akan aku ajak deh. Dia pasti mau meluncur ke Ciamis. Sambil karokean tembang kenangan ya kita. Hahaha." Dua pria paruh baya yang berpenampilan flamboyan itu pun tertawa renyah bersama.


Sementara Ami dan Padma berpindah masuk ke kamar. Ami sudah tidak sabar ingin mendengarkan cerita bestinya itu selama menguping pembicaraan Akbar dan Enin.


"Padma, beneran tadi horor banget pas masuk gerbang. Gimana kalau ada mobil Kak Akbar di dalam? Nanti dikira Papa, aku ini minta bantu Enin buat ketemu Kak Akbar. Dikira modus nginep. Alhamdulillah, gak ada itu si kuning. Salahnya aku gak nanya apa Kak Akbar masih di Enin atau sudah pulang ke hotel." Ami duduk di tepi ranjang diiringi hembusan nafas panjang.


"Udah pulang tadi sekitar jam setengah tiga. Pokoknya dari waktu Kak Akbar datang, ngobrol lama bertiga sama Bunda. Break sholat dan makan, disambung lagi ngobrol berduaan sama Enin. Anteng pokoknya."


"Ayo ceritain apa aja yang Padma dengar!" Ami menaikkan kedua kaki dan bersilang sambil membawa guling ke pangkuan.


"Sudah adzan, Marimar. Kita sholat dulu, ngaji dulu, baru Padma cerita." Padma tersenyum menyeringai melihat Ami menepuk jidat.


"Spil dulu dikit atuh lah, Munaroh. Aku udah kepo dari siang mula." Ami memasang wajah penuh permohonan.


"Gimana-gimana rasanya digantung, Marimar?" Padma terkikik. "Seperti itulah rasanya waktu Padma menunggu penjelasan siapa itu APB. Satu sama ye, Marimar." Ia berubah tertawa lepas melihat Ami menjatuhkan punggung hingga terjengkang ke tengah ranjang.


Usai mengaji, Padma menepati janji. Menceritakan apa yang didengarnya selama tadi. Dengan garis besar berupa dukungan Enin untuk Akbar. Sementara Bunda Ratih memilih netral terserah keputusan Ibu Sekar saja.


"Katanya Bunda menganalogikan jika Padma ada yang melamar, Bunda juga gak akan gegabah membuat keputusan. Harus dipikirkan matang. Jadi wajar kalau Ibu meminta waktu dulu. Itu harus dimaklumi sama Kak Akbar." Pungkas Padma.


Ami manggut-manggut. Rasa penasaran sudah terjawab. Dan ia terbuka pikiran untuk memaklumi keputusan Ibu tadi siang. Usai pembahasan itu, ia menemani Padma di meja makan karena makan paling akhir.


"Akbar mau kesini lagi gak, Mi?" Tanya Enin yang mengajak Ami dan Padma duduk bersama di sofa usai makan.


"Iya, Enin. Jam setengah delapan katanya." Ami menyampaikan chat dari Akbar sepuluh menit yang lalu.


"Tadi siang Enin udah denger cerita dari Akbar. Sekarang Enin mau tanya Ami. Dijawab jujur ya, Mi. Beneran Ami siap nikah muda?" Enin mulai mengamati wajah Ami. Ia punya cara sendiri menilai seseorang.


"InsyaAllah siap, Enin. Nikah dulu, terus kuliah." Ami menjawab lugas.


"Akbar ngejanjiin apa kalau Ami mau nikah sama dia? Misal mau dikasih hadiah apa gitu."


Ami menggelengkan kepala. "Kak Akbar bilang sama aku, juga bilang di hadapan Ibu dan Papa, kalau udah nikah, urusan biaya kuliah aku jadi tanggung jawab dia. Kalau ngejanjiin hadiah gak ada, Enin."


Enin manggut-manggut. Menepuk-nepuk paha Ami yang duduk di sampingnya. "Enin cuma mau nanya segitu aja sama Ami. Sekarang Ami jangan banyak pikiran. Masih punya tugas belajar sampai lulus. Pertahankan prestasi, perlihatkan sikap baik karena itu sebagai bukti kesungguhan niat. Enin gak akan tinggal diam. Bakalan bantu ngeyakinin ibumu."


"Siap, Enin. Alhamdulillah makasih banget, Enin." Ami memeluk sepuh yang sudah dianggap seperti neneknya sendiri.


Padma tersenyum lebar ikut merasakan kebahagiaan Ami yang mendapat tambahan suporter. Tak berselang lama terdengar bel berbunyi. "Ami yang buka pintu gih. Kayaknya Panda dari negeri tirai bambu yang datang," ujarnya diiringi seringai jahil.


Ami beranjak dari duduknya dan tak lupa mencubit dulu bahu Padma yang dilewatinya. Membuat bestie nya itu meringis lalu terkikik. Dugaan Padma benar saja. Saat membuka pintu, ada Akbar yang berdiri sambil tersenyum manis seperti gulali. "Maaf, Kak. Apotek tutup. Kembali lagi besok ya." Ami pun bersiap menutup lagi pintu. Namun Akbar menahannya.


"Hei, Neng. Aku bukan mau beli obat. Aku akang kurir nganter paket. Nih..." Akbar mengangkat pizza yang ditentengnya.


"Oh, ini akang kurir yang kemarin itu ya."

__ADS_1


"Yang kemarin apa?"


"Yang kemarin hadir di mimpiku dan ngajak aku ke penghulu." Ami memeletkan lidahnya.


Akbar terkekeh. Kalah start satu kosong dengan gombalan Ami.


"Sini atuh paketnya. Masa dipegang terus." Ami membuka telapak tangannya. Masih tetap berdiri menghalangi jalan masuk.


"Nanti dulu. Biar free, harus jawab dulu tebakan kang kurir ini."


"Asiap, Akang. Coba lawan Suhu Ami." Ami menaik turunkan alisnya. Melipat kedua tangan di dada. Membuat Akbar tertawa lagi.


"Bahasa inggrisnya selesai apa?"


"End."


"Pinter."


"Kalau Akang digabungin sama bahasa inggrisnya selesai, jadi gimana?"


"Akangend?!"


"Sama. Aku juga kangen sama kamu. Kangen banget malah." Kali ini Akbar yang memeletkan lidah.


"Ish ish ish. Eneng meleyot, Kang." Ami memegang pegangan pintu seolah menahan tubuh agar tidak jatuh. Skor satu sama.


Akbar tertawa renyah. "Udah ah. Nih pizza nya."


"Belum boleh masuk. Pengen digombalin sekali lagi." Ami merajuk sambil menerima pizza berukuran big box itu.


Akbar terkekeh karena Ami menjegal langkahnya. "Gombalan apa ya. Yang aku ucapin ke kamu serius semua, Cutie. Malah sekarang lagi punya project menulis buku. Dan sumber inspirasinya adalah kamu."


"Iya, serius. Ah, tadinya mau surprise. Nanti dikasih taunya pas launching."


Ami tersenyum lebar. "Buku apa itu? Spill dong!"


"Buku nikah kita."


"Ishhhh. Pegang lagi nih pizza! Aku mau salto dulu."


Gelak tawa Akbar dan kehebohan Ami terdengar sampai ke ruang tengah. Bahkan sampai ke teras belakang dimana Ayah Anjar dan Bunda Ratih sedang santai berduaan. Malam mingguan sambil memetik gitar dan bernyanyi tembang kenangan.


"Enin jangan aneh. Marimar sepertinya lagi ngegombalin Kak Akbar." Padma terkikik usai menjawab tatapan Enin yang nampak keheranan.


Orang yang dibicarakan kini datang menghampiri dan duduk bergabung mengisi sofa yang kosong. Tak ada lagi pembahasan soal restu. Semuanya sudah jelas hanya tinggal menunggu waktu. Malam mingguan ini diisi obrolan santai bersama. Bahkan Ayah Anjar dan Bunda Ratih pun kemudian bergabung. Satu kotak pizza menjadi cemilan. Dan jam setengah sepuluh, Akbar kembali pulang ke hotel.


***


Minggu siang menjelang sore, di rumah Ibu Sekar kedatangan lagi Akbar yang akan pulang ke Jakarta. Kali ini, Ami yang sengaja menyambut karena rencana ini sudah dibicarakan waktu semalam ngobrol di rumah Enin.


"Bapak kemana, Bu?" Bukan sekadar pertanyaan basa basi. Akbar memang berharap Pak Bagja juga hadir. Agar bisa menilai dirinya yang berniat serius terhadap Ami.


"Bapak lagi ke Cipatujah nengok tambak udang. Pulangnya nanti malam." Ibu Sekar mempersilakan Akbar meminum es jeruk yang baru saja disajikan. Ia tetap bersikap ramah seperti biasanya. Meski kini sudah tahu jika selama ini sepupunya Rama itu datang ke rumah karena ada maksud.


"Bu, Akbar mau pamit pulang ke Jakarta. Akbar akan sabar menunggu jawaban dari Ibu. InsyaAllah pertengahan bulan depan akan datang lagi."


"Tunggu aja kabar dari Ibu, Mas Akbar. Jangan dulu kesini."

__ADS_1


"Belum ada jawaban atau sudah, Akbar akan tetap bersilaturahmi lagi kesini, Bu. Sekalian ada pekerjaan juga di Tasik."


Ibu Sekar mengalah dengan mengangguk. Sementara Ami menjadi pendengar saja. Hingga Akbar pun mengatakan pamit pulang usai menyeruput setengah gelas es jeruk.


"Salam sama Bapak ya, Bu." Ucap Akbar usai mencium tangan Ibu Sekar.


"Iya. Nanti Ibu sampaikan."


"Bu, boleh antar Kak Akbar ke depan?" Ami menatap Ibu Sekar dengan sorot penuh permohonan. Dan dijawab ibunya itu dengan anggukkan.


Di depan pintu gerbang yang terbuka lebar, Ami memperhatikan Akbar yang membuka pintu mobil. Menyuruhnya menunggu.


"Kado ultah yang delay. Sengaja aku kasihnya sekarang pas pulang." Akbar mengukir senyum sambil memberikan paper bag kecil yang diambilnya dari dalam mobil.


Ami nampak terkejut. Ragu-ragu menerima paper bag yang sudah diulurkan. "Kan udah waktu via Pak Tommy. Bunga dan coklat itu kan."


"Itu mah bukan kado. Hanya surprise ultah."


"Surprise ultah atau surprise publish?" Ami memicingkan mata. Membuat Akbar terkekeh dan menjawab, "Dua-duanya."


"Aku pulang ya. Ingat, Cutie. Semuanya akan baik-baik aja selama kita menyikapi dengan tenang. Jangan terganggu konsentrasi belajar ya, sayang." Akbar menatap hangat sang gadis pujaan di menit akhir perpisahan.


Ami tersenyum dan mengangguk. Tak bisa berkata karena sudah lebih dulu meleleh oleh ucap sayang dan hangat tatapan sang pria pujaan. Ia menjawab salam Akbar yang lalu masuk ke dalam mobil. Terakhir, melambaikan tangan diiringi doa keselamatan di dalam hati untuk orang yang tersayang itu.


Malam jam setengah sembilan, Ami mendapat chat dari Akbar yang mengatakan sudah sampai di rumah. Sebuah kabar yang menentramkan hati dan menenangkan pikiran. Ia pun bisa tenang melanjutkan belajar.


Di jam yang sama di kediaman rumah Rama, Puput menyerahkan ponsel sang suami yang terus berdering di nakas. Sementara pemiliknya sedang asyik bermain lego dengan Rasya yang belum mau tidur.


"Papa, nih Mami telpon."


Rama memperbaiki posisi duduknya. Menerima panggilan masuk tanpa beranjak.


"Rama, belum tidur kan?"


"Belum. Ini lagi main lego sama Rasya. Ada apa, Mami?" Rama mendengar nada tak santai dari Ibu kandungnya itu.


"Sudah ada kabar dari Ciamis belum?"


"Kabar soal apa?"


Puput yang sedang mengamati kegiatan Rasya, sontak mendongak mendengar ucapan Rama. Ia memperhatikan ekspresi suaminya itu.


"Hm, berarti belum tau ya. Barusan Bibi Ratih telpon Mami. Katanya Akbar kemarin datang melamar Ami."


"Oohhh."


"Kok santai gitu jawabnya. Mami aja yangbaru denger kaget. Berarti Rama udah tau ya?"


"Iya."


"Puput udah tau juga berarti?"


"Belum."


"Aduh, Rama. Kenapa jawabannya pendek gitu. Kasih penjelasan dong." Suara Mami Ratna terdengar gemas.


Rama mengulum senyum. "Puputnya ada di dekat aku, Mami. Kan dia belum tau apa-apa."

__ADS_1


Puput menautkan kedua alisnya karna namanya disebut. Saling tatap dengan Rama dengan bahasa isyarat minta penjelasan.


__ADS_2