Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
130. Aku Bagimu


__ADS_3

Ami berdiri berjarak satu meter di depan pintu ballroom yang masih tertutup. Teman-teman hanya mengiringi sejak keluar dari waiting room hingga di depan pintu ballroom tersebut. Untuk selanjutnya gadis cantik yang sudah sah menjadi Nyonya Akbar itu harus berjalan sendiri. Menunggu instruksi dari dua kru WO berseragam hitam yang akan membukakan pintu. Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan. Tidak boleh tegang. Harus melangkah dengan kepala tegak serta menebarkan senyum.


Sepasang pintu ballroom terbuka lebar. Gesekan biola mulai terdengar melantunkan nada lagu Bidadari Surgaku seiring langkah Ami yang mulai berjalan pelan sambil menggenggam buket bunga. Wajah sang pengantin wanita berseri-seri sambil membingkai senyum manis. Tatapan lurus terfokus pada seseorang yang berdiri tegap dan gagah, sedang menunggu di ujung karpet.


Para tamu yang berdiri di kiri dan kanan karpet, tak lupa mengabadikan kedatangan pengantin wanita yang kini mulai melintas dengan penuh senyum. Penampilan Ami berhasil membuat semua orang kagum. Karena sangat cantik dan anggun dalam balutan kebaya pengantin sunda modern dengan kain jarik yang menjuntai ekornya, sedikit menyapu lantai.


Lantas pembawa acara memberikan instruksi kepada Akbar untuk maju melangkah, menjemput pengantinnya hingga bertemu di titik tengah karpet berwarna hijau itu. Pertemuan raja dan ratu sehari itu tak luput dari jepretan kamera dan rekaman tim dokumentasi maupun dari para tamu. Apalagi saat momen Ami mencium punggung tangan Akbar, dan Akbar mencium kening Ami. Semua ikut terbawa suasana bahagia. Senyam senyum spontanitas.


Perbedaan usia yang terpaut jauh hanyalah hitungan angka. Pada saat sepasang pengantin bersanding di pelaminan semakin tidak kentara perbedaan usia itu. Sangat-sangat serasi. Aura cantik dan tampan memancar, refleksi dari hati yang bagaikan taman bunga yang dipenuhi kepak sayap ribuan kupu-kupu berwarna warni.


Susunan acara berlangsung lancar dari akad nikah hingga acara sungkem terhadap orang tua yang dipenuhi keharuan. Dan Kini tiba saatnya acara Sawer Panganten. Momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua tamu yang mulai merangsek ke depan, di bawah panggung pelaminan. Kedua orang tua sepasang pengantin sudah siap menaburkan saweran dari atas pelaminan.


Ami dan Akbar duduk dengan dipayungi oleh seorang pagar bagus. Duduk membelakangi para pemulung sawer yang kian merangsek ke depan. Ami menyempatkan berbisik sebelum juru kawih menyanyikan tembang pengiring saweran. "Kak, bantuin mulung sawer kayak dulu. Harus dapat banyak lho buat nafkah bulan ini."


Akbar terkekeh pelan. Menjadi nostalgia juga dengan kenangan dulu mau-maunya ikut berdesak-desakan memulung sawer demi Ami. Ia pun balas berbisik dengan mendekatkan kepalanya. "Udah mulung sawer duluan, Cutie. Nanti aku kasih di kamar. Kayaknya cukup untuk nafkah lima tahun."


Juru kawih selesai mendendangkan tembang sunda yang berisikan petuah. Lantas sepasang pengantin didaulat untuk melempar saweran pertama kali. Barulah dilanjutkan oleh Mama Mila dan Ibu Sekar, mulai melempar saweran berupa uang lembaran yang digulung dan diikat dengan coklat mini chunky bar. Sungguh sangat meriah dan cukup tertib. Meski penuh teriakan histeris sambil mengacungkan tangan meminta saweran diarahkan mereka.


Jeda waktu menuju acara resepsi diisi dengan sesi foto-foto pengantin. Berikut foto-foto bersama keluarga kedua belah pihak. Yang kemudian disambung dengan para tamu keluarga memberikan ucapan selamat.


***


Ami dan Akbar sudah berganti busana kedua saat resepsi dimulai. Resepsi berlangsung meriah dengan banyaknya tamu yang mengular hingga keluar pintu ballroom. Beruntung para petugas siaga mengatur menertibkan sehingga para tamu harus sabar mengantri untuk bisa bersalaman menuju pelaminan.


Zaky dengan penuh kerelaan mengizinkan Pak Bagja bersanding dengan Ibu Sekar di pelaminan sebagai orang tua. Tugasnya sebagai wali sudah selesai. Dan ia ingin bebas bergerak ke sana kemari menyapa kedatangan teman-teman masa SMK sambil bercanda tawa. Duduk berkelompok memisahkan diri. Reuni kecil-kecilan.


"Kenapa, sayang. Pegal ya?" Akbar menoleh usai menangkap pergerakan Ami yang menghembuskan nafas kasar.


Ami balas menoleh dan tersenyum meringis. "He em. Tamunya nggak habis-habis ya," ujarnya pelan mumpung jeda waktu petugas dokumentasi sedang merapikan barisan orang yang mau berfoto. Merupakan para purnawirawan teman dari Pak Bagja.


"Sabar ya, sayang. Nanti aku pijitin." Bisik Akbar. Yang justru membuat bulu kuduk Ami merinding dengan wajah bersemu merah jambu.


"Kia, mau mana?" Zaky yang baru membubarkan diri dari teman-temannya, berpapasan dengan Kia yang berjalan seorang diri di tengah-tengah keramaian para tamu.


"Abis dari toilet, A."


"Bisa kita ngobrol berdua sebentar di luar?"


"Lama juga nggak apa-apa, A. Kapan lagi dapat kesempatan seperti ini. Meskipun yaaa... aku harus tahu diri."


"Hei, Kia. Kok malah bengong." Zaky menjentikkan jari di depan wajah Kia yang menatap kosong.


Kia meringiskan wajah dan tersipu malu. "Kita mau ngobrol di mana?"


Kia mengikuti langkah Zaky yang berjalan menuju pintu keluar. Kemeriahan di dalam ballroom berubah keheningan begitu berada di luar. Wajar saja karena ballroom tersebut kedap suara.


Zaky menuju sebuah sofa panjang yang berada di tepi kaca jendela. Kia memilih duduk di ujung kiri dengan dada berdebar dan menduga-duga. Ada apa gerangan Zaky mengajak bicara empat mata.


"Kia, besok aku harus kembali ke Singapore. Kamu....selamat ya udah jadi anak kampus. Belajar yang sungguh-sungguh. Nanti kalau pas pulang ke Tasik, main ke rumah Ibu ya. Meskipun tidak ada Ami. Ibu pasti senang."


"InsyaAllah, A. Tapi apakah A Zaky senang juga kalau aku main ke rumah Ibu?"


"Tentu saja. Kamu kan udah seperti adik bagiku. Kia juga jangan sungkan kalau mau chat aku. Aku bisa jadi teman curhat dan teman discus."


Kia mengangguk dengan bibir tersenyum tipis. Untuk ke sekian kalinya diingatkan. Hanya dianggap adik.


"Dari semua teman-temannya Ami. Hanya nama Padma dan Kia yang paling sering Ami spill sebagai bestie terbaik kalau dia lagi curhat. Makanya aku memperlakukan Padma dan kamu seperti adikku juga."


"Kalau aku dianggap adik oleh A Zaky, boleh nggak aku minta sesuatu?" tanya Kia memberanikan diri.


Zaky menaikkan satu alisnya. Mau minta apa?"

__ADS_1


"Cara manggil diri jangan dengan 'Aku' tapi 'Aa'. Seperti itu kan Aa kalau sedang berbicara dengan Ami." Kia mengulum senyum dengan wajah tersipu.


"Oh, kirain mau minta apa." Zaky terkekeh sambil mengangguk tanda setuju. "Oke, Kia. Aa cuma mau bicara itu aja sih. Sekarang mau ke mushola dulu ya udah waktunya duhur. Kia mau shalat sekarang?"


"Mau. Boleh kita berjamaah, A?"


"Yuk." Zaky berdiri lebih dulu.


"Aa, sekali lagi makasih banget udah bantuin aku hingga dapat beasiswa dari Adyatama grup. Kebaikan Aa dan Ami pastinya nggak akan aku lupain." Ucap Kia saat berada di dalam lift hanya berduaan.


Zaky diam sejenak tak memberi tanggapan. "Aa bisa kuliah di Singapura karena biaya utama dari Papi Krisna dan bekal sehari-hari dari semua kakak ipar. Alhamdulillah, selalu ada jalan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dan memiliki niat baik serta khidmat pada orang tua. Feedback-nya, dipertemukan dengan orang baik pula. Jadi Kia, manfaatkan beasiswa itu sebaik mungkin dengan belajar yang sungguh-sungguh ya. Kia dapat beasiswa bukan karena karena Aa atau Ami. Tapi karena khidmat Kia pada orang tua. Aa yakin itu."


Pintu lift terbuka. Zaky menoleh karena Kia tertinggal di belakang dan terkejut. "Lho, kok nangis. Kenapa?"


Kia terkekeh di antara isakan dan sibuknya punggung tangan menyeka sudut mata. "Aku terharu sama kata-kata Aa."


"Kirain kejepit pintu lift." Zaky mengusap-usap bahu Kia. Lalu melanjutkan langkah menuju masalah yang sudah terlihat di depan mata.


Mungkin bagi Zaky mengusap-usap bahu Kia adalah spontanitas yang menghasilkan rasa biasa saja. Tapi bagi Kia, sentuhan tangan kekar itu menimbulkan desiran. Ia sentuh ulang bahu kirinya itu saat berada di tempat wudhu. Hangat sentuhan sekejap itu masih membekas.


***


Akbar menggenggam tangan Ami begitu meninggalkan lokasi resepsi. Pesta sudah usai di jam setengah dua siang. Waktunya menuju kamar pengantin meninggalkan tamu yang tersisa di dalam ballroom yang tengah menikmati makan-makan.


Di depan pintu kamar pengantin sudah ada Leo yang berdiri menunggu. Ia pun menyerahkan key card pada Akbar yang baru saja tiba.


"Kak Leo, nggak masuk dulu?" tanya Ami begitu melihat Leo akan pergi.


"Aku jadi wasit gitu, Mi?" sering jahil terbit di wajah Leo.


"Ish, ini masih siang. Kita nggak akan ngapa-ngapain kok. Cuma mau sholat." Elak Ami dengan wajah tersipu.


"Percaya deh sama Ami. Tapi nggak percaya sama dia." Leo melirik Akbar dengan sudut mata.


Yang membuat Ami tertawa cekikikan karena Leo mengepalkan tinju dengan mata melotot. Yang kemudian melenggang pergi tanpa pamit.


Ami menatap takjub kamar pengantin yang luas dengan dekorasi yang bernuansa romantis. Karpet yang diinjaknya bertabur kelopak mawar merah. Semakin melangkah mendekati ranjang, nampak ada hiasan kelopak mawar merah berbentuk hati. Spontan terjengit saat kedua tangan Akbar membelit perutnya, memeluk dari belakang.


"Suka nggak, sayang?" Akbar mengecup pipi kanan Ami dari belakang.


"So beautiful." Ucap Ami dengan gugup karena tubuhnya spontan menengang. "Kak, aku mau ganti baju dulu, gerah. Ibu nyimpen kopernya dimana ya?"


Akbar mengurai pelukannya. "Pakaian kita udah ditata di lemari. Ya udah kita cepat ganti baju dan sholat dulu keburu akhir. Mana yang perlu aku bantu, sayang?


"Aku coba sendiri dulu. Kalau nggak bisa, nanti dikasih tahu. Kak Akbar duluan deh ke kamar mandi." Ami menuju cermin meja rias.


Akbar dengan santai melucuti setelan jasnya di dekat Ami. Hanya menyisakan celana panjang yang melekat. Sementara tubuh atasnya dibiarkan polos. Semuanya itu dapat dilihat Ami dengan risih dari pantulan cermin.


Pesta pernikahan meriah tak melalaikan sepasang pengantin dari kewajibannya menjalankan ibadah sholat. Meski terpaksa berada di ujung waktu. Di dalam kamar pengantin yang sejuk oleh pendingin udara serta semerbak wewangian dari aneka bunga, Akbar menjadi imam untuk sang istri tercinta.


Untuk pertama kalinya Akbar melihat Ami tanpa memakai jilbab. Rambut hitam dengan panjang sebahu tergerai indah. Dimana sang istri masih nampak malu-malu saat disuruh berbaring di pangkuannya.


"Cutie, apa artinya aku bagimu?" Akbar menatap mesra dengan jemari membelai wajah kekasih halalnya itu. Mengarsir dari kening hingga turun ke bibir. Hal yang ingin dilakukannya sejak lama.


Ami tersenyum mesem sebelum menjawab. Rebahan di ranjang empuk dengan berbantalkan paha Akbar, terasa sangat nyaman selain juga timbul desiran yang tiada henti. Karena ia belum pernah disentuh laki-laki.


"Kamu ibarat ruangan di rumah sakit yang dibutuhkan saat aku terserang penyakit malarindu."


"Ruang apa tuh?" Akbar beralih meraih tangan Ami yang kemudian dikecupnya mesra.


"Ruang I See You. Hihihi."

__ADS_1


Akbar tertawa. Dari awal tidak yakin jika jawaban Ami akan romantis. Tapi karena itulah awal dia jatuh cinta pada si gadis tengil dan narsis ini. Bibir ranum yang sedang merekah itu dikecupnya dengan gemas. Membuat semburat merah terbit di kedua pipi istrinya itu.


"Aku juga pengen tahu. Apa artinya aku bagimu?" Ami membalikkan pertanyaan.


"You're the love of my life." sahut Akbar dengan suara berat dan tatapan penuh cinta dan damba.


"Aihhh, boleh salto dulu nggak, Ayang?" Ami hendak bangun namun bahunya ditahan oleh Akbar. Yang lalu menjawil hidungnya dan menggeram gemas.


Akbar menggeser duduk hingga bantalan kepala Ami diganti dengan bantal. Ia beralih posisi mengungkung di atas tubuh Ami dengan kedua tangan bertumpu di kedua sisi bahu istrinya itu.


Ami spontan memejamkan mata saat bibir yang kenyal dan hangat itu mulai menyapu pipi. Mungkin Akbar dapat mendengar bagaimana bertalunya jantung karena kedua tubuh sangat rapat tanpa sekat. Sebagaimana ia bisa merasakan tonjolan keras menekan di inti tubuhnya.


"Jangan tahan nafas, sayang." Akbar menjeda ciuman bibir yang baru saja dilakukannya. Ada kebanggaan tersendiri karena kekakuan penerimaan Ami menandakan dialah pria pertama yang mereguk dan menyesap bibir ranum itu.


"Enjoy and relax, sayang." Akbar membelai anak rambut Ami yang menjuntai ke kening. Begitu mendapat jawaban anggukan saat ingin memulai lagi, ia tidak membuang waktu untuk mengulang dengan penuh kelembutan.


***


"Kok sendirian, Bar. Ami mana?"


Adalah sambutan dari mama Mila yang terheran-heran melihat Akbar datang ke restoran seorang diri. Saat ini seluruh keluarga akan makan sore sebelum berpisah dengan keluarga Ibu Sekar yang akan kembali ke Ciamis.


"Maafin Ami nggak bisa ikutan. Ami tidur baru setengah jam. Aku nggak tega banguninnya. Keliatan sekali kecapean." Jelas Akbar yang menarik kursi di samping Papa Darwis.


"Iya sih wajar kecapean. Mama bisa ngebayangin. Pulang dari Jerman langsung perjalanan jauh ke Ciamis, terus ditodong acara siraman dan nikah. Pasti sekarang akumulasinya. Sebenarnya nggak baik tidur selepas asar. Tapi ya karena darurat ini sih. Daripada nanti Ami sakit. Oh ya Bar, nanti Ami kalau bangun, makan di kamar aja. Jangan dulu diajak keluar. Biar istirahat di kamar ya." Mama Mila merepet tanpa jeda.


"Iya, Ma." Sahut Akbar singkat.


"Iko juga cape denger Mama merepet. Jadi lapar deh. Yuk ah dimulai makannya." Sahut Iko. Yang direspon mengulum senyum dari Ibu Sekar dan keluarganya. Sudah tidak kaget dengan sifat Mama Mila itu.


Rama baru datang dengan menuntun Rasya saat acara makan baru dimulai. Ia baru pulang dari ajak anak pertamanya itu jalan-jalan karena merengek mencari Ate Ami.


"Om Akbal, lihat Ate Ami nggak?" tanya Rasya yang sengaja melepaskan pegangan tangan Papa Rama dan mendekati kursi Akbar.


"Oh...Ate Ami kemana ya?" Akbar menjadi bingung beralasan. Jangan sampai Rasya meminta ingin tidur dengan Ami. Gawat.


"Ate Ami lagi pergi dulu. Ada apa Aa nyari Ate Ami?" Pancing Padma yang sudah bisa menebak jawaban Rasya.


"Aa mau bobo sama Ate. Kata Papa, nanti Ate bobonya mau di hotel ini."


Sontak Akbar memandang Rama dengan tatapan tajam. Dan sepupunya itu tertawa cengengesan.


Panji dan Leo menjadi dua orang yang berani tertawa paling keras saat Rama meminta pelicin untuk membungkam keinginan Rasya. Tentu saja itu adalah cara canda menggoda Akbar yang akan memulai malam pertama.


***


Akbar masuk ke dalam kamar bersamaan dengan Ami yang baru keluar dari kamar mandi. Baru saja membasuh muka. Ia membuka kedua tangan dan memeluk erat istrinya itu.


"Kak, kenapa nggak dibangunin? Aku ketinggalan acara makan ya?" Ucap Ami sambil mendongak. Barusan di kamar mandi berkaca. Merasakan bibir bawahnya sedikit tebal karena serangan ciuman Akbar yang berkali-kali dilancarkan.


"Emang sengaja nggak dibangunin. Aku nggak tega lihat si cantik kecapean. Mereka mengerti kok. Papa dan Ibu sekeluarga udah pulang barusan." Akbar mengecup kening Ami penuh sayang.


Tak lama terdengar suara pintu diketuk. Akbar memang menyuruh pegawai mengantarkan makanan spesial untuk Ami.


***


.


.


.

__ADS_1


Belum jadi tamatnya. Terlalu panjang ini. Oke next....satu bab lagi. 🙏


Oh ya, yang belum kasih ulasan dan rate bintang lima, sok atuh ulas. Ini penting untuk performa karya dan nilai author. 😊


__ADS_2