Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
112. Welcome Desember


__ADS_3

Akbar baru selesai memimpin rapat saat ponsel di saku blazernya bergetar. Sebuah nama yang tampil di layar mampu membuatnya tersenyum. Tidak mempedulikan masih ada Leo dan Gita yang masih berada di ruang rapat sedang diskusi serius. Getaran itu hanya sekejap kemudian mati. Membuat kedua alis Akbar bertaut. "Kenapa hanya miss call?"


Akbar segera melakukan telepon balik sambil beranjak dari duduknya, melangkah menuju pintu keluar dengan ponsel melekat di telinga kanannya.


"Maaf Kak, barusan kepijit." Ucap Ami di ujung telepon diiringi cekikikan.


"Yakin kepijit. Bukan karena kangen, hm?" Akbar tersenyum mesem. Ia masuk ke ruang kerjanya dan duduk santai di sofa dengan kaki menyilang.


"Ish, bukan. Kan malam minggu kemarin udah ketemuan. Sekarang aku lagi ditemani durian."


"Durian....apa tuh? Beneran durian apa singkatan?" Akbar mengulum senyum. Tidak terlalu yakin kalau Ami bicara serius.


"Durian beneran dong, Kak. Duduk sendiri dalam kerinduan. Hihihi."


"Hahaha. Ayangku emang paling bisa deh. Cutie, Desember langsung akad aja yuk. Aku udah gregetan pengen gigit." Akbar beranjak bangun dan berpindah duduk di kursi kerjanya. Senyumnya merekah, wajahnya semringah.


"Jangan-jangan dulu. Jangan lah diganggu. Biarkan saja biar duduk dengan tenang 🎶." Ami menjawab dengan bernyanyi.


Akbar tertawa renyah. Lebih bebas berekspresi saat ini daripada saat berada di rumah Ami dimana ketawanya banyak ditahan. Apalagi pas mendengar deheman Pak Bagja. Serasa warning. Padahal belum tentu juga ditujukan padanya. Mungkin berdehem karena gatal tenggorokan.


"By the way, kelas lagi kosong kah? Tumben jam segini bisa teleponan."


"Aku baru dari ruang guru. Bantuin Bu Elin bawain buku-buku tugas. Ini lagi jalan mau masuk kelas lagi. Udah dulu ya, Kak. Duriannya udah terobati."


"Oke, sayang. Ke Surabaya beli barang antik."


"Cakep. Terus?"


"Aku bahagia dengar suara si cantik."


"Arghh, aku pengen salto tapi lagi pakai rok."


Akbar lagi lagi tertawa renyah. Benar-benar out of the box tingkah Cutie-nya itu. Terpaksa komunikasi harus berakhir karena Ami sudah sampai di depan kelasnya.


Sementara di ruang rapat, Leo menahan Gita yang akan beranjak keluar usai diskusi menyusun agenda kerja Akbar karena banyak meeting bentrok waktu dalam sepekan ke depan.


"Ada apa?" Gita duduk kembali dan menatap Leo dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Gita, aku ngasih peringatan terakhir ya. Habis ini aku nggak bisa nolong kamu kalau Akbar ngambil sikap tegas." Leo menatap tajam dengan ekspresi serius.


"Bahas apa sih ini? Ambigu deh." kening Gita berkerut. Ia belum tahu arah maksud pembahasan Leo.


"Bulan kemarin waktu kamu cuti, kamu ke Tasik mendatangi Ami, kan?"


"Oh, ternyata kamu udah akrab sama dia. Bocah itu ngadu?"


"Kalau Ami yang ngadu, udah dari dulu ngomong sama aku. Atau langsung ngadu sama Akbar. Cewek yang lo anggap bocah itu, ternyata lebih berpikiran dewasa dibanding kamu yang umurnya sudah dewasa."


"Terus lo tau dari mana kalau bukan dari bocah itu? Lo harusnya bantu nyadarin Akbar cewek seusia dia itu palingan juga matre."


"Nggak penting tahu dari siapa. Yang penting gue peringatin. Sudahi obsesimu. Lo bisa hancur karena perbuatan lo sendiri. Dan lo jangan suka negatif menilai orang lain ya. Kalau penasaran dengan profil Ami, cari tahu sendiri. Terus bandingkan dengan attitude-mu yang ngakunya perempuan kota dan berpendidikan tinggi." Leo bangun dari duduknya. Meninggalkan Gita yang berubah wajah gusar.


Di koridor menuju ruang kerjanya, Leo berpapasan dengan Pongky, wakil sekretaris Gita yang baru keluar dari lift. "Sepertinya sudah waktunya mempersiapkan sekretaris pengganti. Jaga-jaga kalau saja si Gita nekat," ucap batinnya saat membalas senyum Pongky.


***


Tanggal di bulan November berubah angka seiring malam berganti siang, hari berganti pekan. Semakin dekat waktu persiapan PAS siswa SMA yang akan dilaksanakan di awal bulan Desember. Ami dengan senang hati menerima kedatangan teman-temannya yang ingin kerja kelompok. Ia tidak pelit berbagi ilmu apalagi selesai semester ini waktunya bersiap mengikuti seleksi pendaftaran perguruan tinggi negeri bagi siswa yang memiliki interval nilai sesuai persyaratan.


Ami menyampaikan kabar itu kepada Akbar yang kembali datang berkunjung ke rumah di akhir bulan November. Sekaligus waktunya diskusi menentukan tanggal lamaran bersama Ibu dan Papa.


"Kalau Ami kan udah di masanya libur sekolah sampai tanggal 1 Januari. Nah tinggal Mas Akbar memiliki waktu luangnya tanggal berapa. Jadi tanggal acara lamaran, Ibu serahkan sama Mas Akbar." Ucap Ibu Sekar usai makan siang bersama. Dan masih sama-sama duduk di ruang makan.


"Gimana kalau tanggal 28, Bu? Sahut Akbar usai melihat kalender di ponselnya sekaligus melihat agenda kerjanya. Akhir tahun menjadi pekerjaan yang sibuk namun di tanggal 28 itu bertepatan dengan hari libur hari Sabtu. Di mana kemungkinan semua keluarga yang ada di Jakarta bisa hadir ke Ciamis.


Akhirnya waktu sudah disepakati bersama. Termasuk pula memenuhi keinginan Ami yang ingin mengadakan acaranya di rumah saja . Dan yang membahagiakan Akbar kali ini ia diizinkan mengajak Ami keluar rumah. Dengan maksud mau menengok Enin yang katanya sedang sakit. Diizinkan karena siang hari atau karena alasan menengok, entahlah. Yang pasti sangat senang bisa jalan-jalan berduaan.


"Cutie, pinjam tangannya!" Akbar menoleh sekilas saat mobil si kuning yang dikemudikanya sudah melaju di jalan raya menuju kediaman rumah Enin.


Ami dengan ragu meletakkan tangan kanannya di telapak tangan kiri Akbar yang sudah terbuka.


"Sebentar aja, sayang. Aku ingin memegang tanganmu. Kangen...." Akbar meremas jemari Ami yang digenggamnya. Ia mengemudi dengan satu tangan sembari tatapan tetap fokus melihat lalu lintas jalanan.


Apa kabar dengan hati? Jelas Ami merasakan dadanya berdesir serta dadanya penuh dengan keriaan. Dan pastinya wajahnya berubah memerah dan panas saat Akbar mengecup punggung tangannya. Tak ada kata yang terucap selama di perjalanan. Justru masing-masing menikmati efek pertautan tangan yang mengaliri ke hati dan pikiran. Nyaman.


"Enin, sakit apa?" Ami bertanya lebih dulu saat berada di kamar Enin. Sepuh yang nampak lemas itu sedang duduk selonjoran dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Enin baru saja selesai makan disuapi oleh Padma.

__ADS_1


"Biasalah nenek-nenek mah udah lemah fisiknya. Kemarin tuh masuk angin abis jalan-jalan di sawah lihat panen. Ini aja Padma yang ngemanjain Enin sampai disuapin segala."


"Soalnya kalau nggak disuapin Padma, Enin makannya asal-asalan cuma dikit. Kan biar Enin cepat sembuh lagi." Sahut Padma dari tempat duduknya di sofa. Memberi kesempatan Ami dan Akbar duduk di tepi ranjang.


Ami memberi pijatan lembut di kaki Enin sambil mendengarkan obrolan Enin yang bertanya kepastian acara lamaran kepada Akbar.


"InsyaAllah tanggal 28 Desember acara lamarannya. Amin minta acaranya di rumah. Aku sih nurut aja . Enin harus sehat-sehat ya karena Enin nanti harus hadir."


Enin manggut-manggut. "Mudah-mudahan saja Enin panjang umur bisa menyaksikan cucu-cucu Enin berbahagia."


"InsyaAllah Enin bakal panjang umur dan sehat selalu dong. Aamiin." ucapan Ami diaminkan pula oleh Akbar dan Padma.


***


Bismillah menyambut hari pertama PAS yang akan berlangsung selama lima hari lamanya. Ayangnya yang menjadi coach tidak lupa selalu memotivasi dengan perhatian dan bimbingan. Tidak ada belajar khusus menghadapi hari-hari ujian. Karena Ami sudah belajar dicicil jauh-jauh hari. Tidak ada istilah sistem kebut semalam di kamus Ami. Enjoy berangkat ke sekolah diantar oleh mang Kirman. Ini sudah menjadi keputusan Papa Bagja. Selama ujian tidak boleh membawa motor. Akan diantar jemput oleh sopir.


"Kia, mari kita bersaing lagi. Selamat menempuh hidup baru. Eh salah. Selamat menempuh PAS." Ami menjabat tangan Kia sambil menaik turunkan alisnya.


Kia tertawa. Sebangku dengan Ami hampir tiga tahun ini, hari-hari selalu berwarna karena banyak tawa berikut sisipan haru. Karena sikap Ami yang santai dan lawak serta selalu membantunya tanpa sedikitpun menghinakan .


"Aduduh berat euy bersaing dengan calon nyonya coach. Harusnya aku pindah kelas dulu, pasti bisa rangking satu. Tapi Bismillah. Akan kucoba menggeser posisimu. Yes bersaing sehat. Semangat!"


"Gitu dong harus semangat dan optimis. Aku nggak masalah kalau sampai tergeser ranking sama kamu. Karena kamu memang berkualitas. Bismillah juga daftar PTN jalur prestasi. Sayangnya, kita beda pilihan PTN yah, Kia. Kamu Unpad, aku UI. Kamu UI juga dong biar kita barengan terus sampai jadi sarjana."


"Hehehe, nggak apa-apa biar nanti ada waktunya kita ketemu kangen-kangenan. Aku pengen Unpad biar nggak terlalu jauh kalau mudik. Itupun kalau ada yang ngasih beasiswa. Nanti kalau dapat pengumuman diterima, aku harus kerja keras ajuin proposal beasiswa ke pemerintah atau perusahaan swasta. Seperti halnya sekolah di sini. Tanpa beasiswa, aku nggak bakalan bisa ada di sini."


Ami merangkum bahu Kia dan menepuk-nepuknya. "InsyaAllah, akan selalu ada jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh dan tekun. Aku yakin kamu bisa kuliah. Harus optimis dan jangan lupa berdoa ya, Bestie."


"Yes. Thank you, Bu Coach. Makasih selalu ditransfer free coaching." Kia tersenyum lebar bersamaan dengan bel tanda masuk berbunyi. Ia dan Ami berdiri, bersiap berpisah meja.


Ami memutar bola mata dan menoyor bahu Kia. "Oh ya, A Zaky bakal pulang tanggal 23 Desember. Pasti nanti ngajakin pengen makan nasgor Kia. Tapi awas ya. Jangan digratisin karena A Zaky bakalan kapok buat makan nasgor di tempatmu lagi."


Pulpen yang dipegang Kia tiba-tiba saja jatuh ke kolong meja. Karena kaget sekaligus senang. Namun juga mendadak gugup hanya dengan mendengar namanya saja. "Hai, jantung. Normal aja bisa gak? Gak harus berdebar kencang," ucap batinnya protes sambil melangkah menuju meja depan. Selama ujian, setiap siswa berganti meja sesuai nomor urut peserta.


...🌻🌻🌻...


Bestie, yang cantik dan ganteng. Bunga dan kopinya plis tambahin ya. Kan aku bakal cape nyiapin lamaran. 🫠

__ADS_1


__ADS_2