
"Good morning pacarnya Coach Akbar. Cerah sekali wajahmu, Mi. Dapat motivasi apa pagi ini? Share dong!" Sonya mencegat langkah Ami di depan pintu diiringi senyum usil. Murid-murid lain yang menyaksikan, ikut menggoda dengan ciye-ciye lalu tertawa lepas.
Ami menjitak kening Sonya yang sudah menjadi kompor. Dan segera melanjutkan langkah menuju bangku jajaran kedua paling belakang. Eh, malah dicegat lagi.
"Morning, bukan jodohku. Turunin kadar cantiknya napa. Aku kan lagi belajar move on. Kalau kayak gini beraaaat. Hiks hiks hiks." Ucap Ozi penuh drama. Dan aksinya itu membuat seisi kelas gaduh karena mentertawakan. Bahkan Marga mendekat dan mengusap wajahnya Ozi dengan kamoceng bulu. Saling kejar tak bisa dihindari.
Ami hanya geleng-geleng kepala dengan semua tingkah serta keusilan teman-temannya itu. Ia duduk di bangkunya sambil menyimpan tas. Lalu menatap Kia yang kentara senyum-senyum tanpa bicara.
"Kia, kebiasaan deh. Kalau mau senyum atau ketawa tuh jangan ditahan. Nanti bisul lho!"
"Bhuahaha." Gara-gara ucapan Ami, tawa Kia pecah. "Coba jelasin, Mi! Jelasin secara ilmiah hubungan antara nahan senyum atau tawa hingga jadi bisul." Kia mengeplak lengan Ami yang berhasil membuatnya melepas tawa.
"Nah gitu. Ekspresikan perasaanmu itu. Jangan suka dipendam dan ditahan. Kamu harus bangun self confidence. Jangan apa-apa minder, apa-apa malu. Tegakkan kepala. Tunjukkan pada dunia. It's me, Zaskia Zettira."
Kia terkekeh dengan wajah tersipu malu. Ia membenarkan apa yang diucapkan Ami. Apalagi teman-teman sekelasnya itu adalah anak-anak kalangan menengah ke atas. Mulai dari anak anggota DPRD, anak pengusaha, anak dokter, dan profesi lainnya. Sementara ia, anak seorang penjual nasi goreng. Ia bisa masuk dalam circle pertemanan karena jasa Ami. Karena dekat dengan Ami.
"Aku sama seperti yang lainnya, Mi. Gak nyangka Ami jadian sama Coach Akbar. Makanya senyum-senyum. Curiga lulus SMA langsung KUA nih," ucap Kia dengan berbisik.
"Hm, kepo." Ami menyahut santai. Obrolan tak berlanjut karena bel berbunyi.
Sejak hari itu, hingga hari berganti dan kini jumat menyapa, Ami melihat Almond yang duduk di bangku di depannya lebih pendiam padanya. Namun bersikap normal dengan teman-teman lainnya. Bahkan Kia sempat bertanya keheranan. Barulah setelah dijelaskan, teman sebangkunya itu paham. Tidak nampak kaget. Karena Kia pun bisa membaca gestur Almond terhadap Ami selama ini. Setiap kali kecipratan mendapat traktiran, ia melihat perhatian anak juragan tekstil itu terhadap Ami memang beda.
Ami memilih tak ambil pusing dengan perubahan sikap Almond padanya. Mungkin dia butuh waktu untuk move on. Ia lebih fokus terhadap rencana kedatangan Akbar esok hari. Rasanya pelajaran terakhir hari ini ingin segera selesai agar bisa segera pulang.
***
Pulang sekolah, Ami harus bersabar menunggu Ibu dan Papa yang sedang menerima tamu. Sampai ia urung masuk lewat pintu depan. Namun melipir lewat pintu belakang. Ia perlu bicara dengan orang tuanya itu. Sambil menunggu, bergegas mengganti dulu baju sekolahnya dengan pakaian rumahan.
"Tamu dari mana itu, Bu?" Ami bertanya dengan pelan saat melihat Ibu melintas di ruang tengah tempatnya menunggu tamu pulang. Tapi, tamu berjumlah tiga orang itu tak terdengar akan pamit. Sepertinya masih lama.
"Teman Papa dari Jakarta. Katanya abis pulang liburan dari Pangandaran, terus janjian ketemuan. Ibu ke kamar mandi dulu ya, pengen pipis." Ibu Sekar mengusap kepala Ami yang sedang duduk menghadapi televisi yang menyala. Barulah menuju kamar mandi.
Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah Ami bisa berhadapan dengan Ibu Sekar dan Papa Bagja karena tamu sudah pulang. Ada kantong kresek besar di dekat kaki meja yang merupakan buah tangan dari sang tamu.
__ADS_1
"Bu, malam ini gak nginap dulu di rumah Papa ya!"
"Alasannya apa, Mi?" Pak Bagja yang lebih cepat merespon ucapan Ami.
"Besok pagi mau ada tamu, Pa."
"Siapa?" Giliran Ibu Sekar yang mengerutkan kening.
"Besok aja Ibu liat sendiri. Aku gak bisa kasih tau sekarang. Jadi Ibu sama Papa jangan kemana-mana. Tamunya bakal datang jam 9."
Ibu Sekar dan Pak Bagja saling tatap. Lalu meluruskan lagi tatapan ke arah Ami yang duduk berhadapan terhalang meja.
"Oke, Ami. Papa ikuti keinginan Ami. Malam sabtu ini tidur lagi disini. Apa tamu besok itu tamunya Ami?" Pak Bagja mengamati reaksi Ami dengan tenang.
"Bukan, Pa. Besok itu mau bertamu ke Ibu."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Clue nya udah cukup ah. Liat besok aja ya. Aku ke kamar dulu ah." Ami enggan menjawab pertanyaan susulan Papa sambungnya itu. Ia ngacir meninggalkan ruang tamu sambil cengengesan.
"Si bungsu sepertinya sudah punya pacar, Bu. Besok cowok itu mau silaturahmi sepertinya."
"Iyakah?" Ibu Sekar merespon ragu. Namun gestur Ami memang menunjukkan ke arah sana.
"Kita lihat saja besok. Udah jangan terlalu dipikirkan ya. Ami aja keliatannya santai." Pak Bagja mengusap-usap punggung istrinya itu yang sepertinya sedang menduga-duga siapa laki-laki yang besok akan datang.
"Asal Papa tau, akak-kakaknya Ami gak ada yang pacaran waktu SMA. Karena aku udah warning boleh pacaran itu kalau memang siap nikah." Jelas Ibu Sekar.
"Jangan dulu berpikir berat dari sekarang, Bu. Kita lihat besok real nya ya." Pak Bagja meremas tangan Ibu Sekar yang nampak sedang menjalin jemari.
***
Akbar tiba di hotel Seruni Tasik jam sembilan malam. Ia menyetir seorang diri menempuh perjalanan darat kurang lebih enam jam lamanya. Awalnya Mama Mila ingin ikut. Ingin membantu melobi Ibu Sekar agar restu bisa turun. Namun Akbar melarangnya. Belum waktunya mamanya itu turun tangan. Ia ingin seorang diri secara gentle menghadap orang tua kekasihnya itu.
__ADS_1
Akbar didampingi Tommy tiba di depan kamar khusus yang tidak disewakan untuk tamu hotel. "Tommy, kamu udah bisa pulang. Aku mau istirahat dulu. Gak usah siapin makan. Aku udah makan tadi maghrib."
"Baik, Pak. Selamat istirahat." Tommy mengangguk dan tersenyum sebelum berlalu dari hadapan Akbar.
Akbar menjatuhkan bo kong di sofa kamar pribadinya itu. Mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan pada Ami. Mengkonfirmasi jika sudah sampai di Seruni Tasik.
[Kak, boleh vc gak]
Chat balasan dari Ami itu hanya dibaca. Beralih ia melakukan panggilan video.
"Kenapa pengen vc. Kangen ya?" Tanya Akbar usai menjawab salam Ami. Dan wajah cantik yang memenuhi layar itu tersenyum malu diiringi memeletkan lidah.
"Kak Akbar datang sendiri atau sama Kak Leo?"
"Nyetir sendiri, Cutie."
"Masya Allah, ayang Panda emang power full." Ami membentuk simbol finger love sebagai apresiasi.
"Sumber power full nya kan ada di Ciamis. Yang sekarang muncul di layar." Akbar mengedipkan sebelah mata diiringi senyum manis.
"Izin pingsan dulu yaaa...."
Akbar tertawa renyah melihat di layar berganti boneka kucing yang ia kasih nama Cutie.
"Sayang, udah bilang sama Ibu kalau besok pagi mau ada tamu?" Pertanyaan Akbar itu mampu menghadirkan lagi sosok Ami di layar. Ia memang sudah memberi briefing saat kemarin malam.
"Sudah, Kak. Ibu dan Papa sampai kepo siapa tamu yang akan datang. Aku bilang liat saja besok. Kak, jadi aku yang tegang lho ini. Waktu kok berasa lambat bergerak. Masih aja gelap. Matahari belum nongol. Huft."
Akbar terkekeh. Sudah tidak aneh dengan tingkah Ami yang full ekspresif itu. Hingga ia pun harus mengakhiri video call itu karena akan mandi.
"Aku mandi dulu ya, Cutie. See you tomorrow!"
"Oke, Kak. Met istirahat ya. ATK forever. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Ami menyimpan ponsel yang sudah menghitam lagi layarnya. Membuka pasminanya lalu loncat ke kasur dan memeluk boneka pandanya. Meski awalnya tidak bisa tidur karena membayangkan reaksi ibunya besok, pada akhirnya mampu terpejam usai berdoa dan berdzikir untuk meredam ketegangan. Serta berdoa untuk kelancaran maksud hari esok.