
Ami melenggang masuk ke dalam rumah dengan santai. Buket bunga mawar dipeluknya dengan sangat hati-hati takut rusak. Tak ada Papa dan Ibu yang sudah berangkat lebih dulu ke rumah biru, begitu Ami menyebut istilah rumah Pak Bagja. Sehingga bebas dari interogasi akan apa yang dibawanya. Padma mengekori di belakang dengan membawa buket coklat. Keduanya langsung naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.
"Mi, Padma merhatiin Almond waktu kita di kantin skul terus dia nyamperin kita ikut gabung. Sampe bayarin jajanan kita segala. Terus tadi pas Padma buka kartu pacar Ami, wajah Almond berubah datar. Pulang aja tadi paling akhir. Ami nyadar gak sih kalau Almond suka sama Ami?" Padma langsung mengungkapkan rasa penasarannya berdasarkan analisisnya.
"Aku tau, Padma. Almond sampai pindah kelas juga aku rasa karna ada maksud. Tapi aku juga udah terang-terangan bersikap B sama dia. Di satu sisi kasian sih. Dia tuh orangnya susah gaul, kaku, jadi terkesan sombong. Padahal sebenarnya baik kok. Makanya paling deket sama aku. Sekarang aja baru bisa lumer setelah aku ancam harus banyak senyum."
"Kasian ya. Tapi emang sih kita gak bisa ngatur hati harus jatuh cinta sama siapa. Buktinya hati Ami sukanya sama Kak Akbar. Padahal Almond juga ganteng, wajah Arab, seumuran juga."
"Sepertinya seleraku emang cowok dewasa, Munaroh. Hanya Kak Akbar yang mampu bikin dada ser seran. Hihihi." Ami tak sungkan mengekspresikan perasaannya di hadapan Padma. Ia mencabut satu batang coklat dan mulai mencicipi bersama Padma sambil duduk sila di sofa.
"Padma cabut aja coklatnya mau berapa. Aku juga mau ngasih satu buat Bi Ela."
"Kirain kalau dari ayang gak akan dibagi-bagi, Marimar. Mau dikekepin sambil tidur. Dimakan tiap hari." Padma menyeringai jahil.
"Mau bikin aku diabetes gitu?!" Ami memutar bola mata yang direspon Padma dengan cekikikan.
"Mi, nanti senin apa gak sebaiknya bicara sama Almond. Maksud Padma biar Almond gak jadi kaku ke Ami. Biar dia bisa lurusin niat berteman dengan tulus. Intinya biar nyaman lah. Mana kalian sekelas lagi." Padma mengunyah coklat potongan pertama yang belum habis.
"Good idea, Padma." Ami mengacungkan jempolnya. Tak lama ponselnya berdering. Telepon dari Ibu yang menyuruh segera menyusul ke rumah biru karena malam minggu jadwal menginap disana. Harusnya malam sabtu tadi juga menginap disana. Mungkin karena momen kejutan ulang tahun jadinya tak berangkat.
Ami bergegas mandi sekalian menunaikan sholat ashar. Begitu juga Padma. Karena akan ikut Ami menginap di rumah Papa Bagja. Dua gadis remaja itu semakin sering bersama sejak satu sekolah.
***
Ami dan Padma berada di rumah biru sampe minggu siang. Keduanya pamit pulang lebih dulu karena akan nonton di bioskop mall Tasik. Ibu Sekar mengizinkan dan mengantar hingga ke teras. Dengan mewanti-wanti Ami agar tidak ngebut dan pulang ke rumah sebelum magrib.
"Jangan terlalu khawatir, Bu. Seusia Ami lagi masa seneng-seneng main. Beri Ami kepercayaan karena dia anak baik. Circle nya juga baik. Jago silat juga buat jaga diri." Pak Bagja merangkum bahu Ibu Sekar yang masih berdiri menatap keluarnya mobil yang dikemudikan Ami. Ia bisa membaca raut kecemasan di wajah istrinya itu.
"Entah kenapa aku merasa Ami masih anak-anak aja. Padahal udah mau lulus SMA ya." Ibu Sekar meringiskan wajah. Zaky dan Ami, dua orang anaknya yang belum menikah. Namun kekhawatiran terhadap Zaky lebih tipis meski putranya itu berada di negeri orang. Percaya bisa menjaga pergaulan.
"Sepertinya ini kode agar Ami punya adik nih." Pak Bagja menaikkan turunkan alisnya.
"Idih...apaan sih." Bu Sekar mendelik dan mencubit perut Pak Bagja yang menurutnya berubah genit.
__ADS_1
"Tersipu malu itu tandanya mau." Pak Bagja semakin sengaja menggoda sang istri. Ia berubah tergelak karena mendapat cubitan kedua di pinggangnya.
"Waktunya ngurus cucu bukan ngurus anak bayi, Opa." Bu Sekar bersiap berlalu masuk ke dalam diikuti sang suami.
"Mau kemana, sayang?" Pak Bagja menahan tangan Ibu Sekar yang akan melangkah berbeda arah.
"Mau santai di belakang. Mau teleponan sama Bu Mayang."
"Nanti aja. Mending ke kamar. Kita rebahan sampai ketiduran." Pak Bagja beralih merangkum bahu Ibu Sekar dan melanjutkan langkah menuju pintu kamar utama.
"Gak percaya kalau cuma rebahan." Ibu Sekar menoleh sambil menyipitkan mata.
Pak Bagja tertawa renyah. "Daripada dicurigai, ya udah deh aku wujudkan prasangka Ibu ratu mawar ini."
"Tuh kannn. Modus yang bisa kebaca." Ibu Sekar pasrah saat masuk kamar dan pintu ditutup serta dikunci. Menatap sang suami yang membuka baju yang memperlihatkan badan yang berotot di usia senja. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rajinnya sang purnawirawan berolahraga dan membentuk tubuh dengan peralatan gym yang ada di rumah itu. Pak jenderal kini memulai mengatur strategi perang.
Ami menikmati sisa akhir pekan bersama Padma dengan menonton dan mengunjungi toko buku yang masih berada di mall yang sama. Berakhir dengan makan sore di foodcourt sebelum pulang.
"Mi, Padma langsung anterin pulang aja. Gak mampir ke rumah Ami. Keburu magrib entar." Padma baru saja membalas pesan dari Bunda yang menanyakan kapan pulang.
Ami tidak berlama-lama di rumah Enin. Usai berbincang santai bersama Enin dan Bunda, ia pun pamit pulang dan tiba di depan rumah pas adzan magrib. Bersamaan dengan Papa Bagja membuka pintu gerbang karena akan ke masjid. Jadilah dibukakan pintu lebar-lebar.
"Makasih, Pa." Ami urung turun dari mobilnya. "Papa dan Ibu kapan datang?"
"Tadi jam lima. Ibu udah cemas tuh kenapa Ami belum pulang juga." Pak Bagja berdiri di samping pintu kanan mobil.
"Nganterin dulu Padma pulang, Pa. Terus ngobrol sebentar sama Enin dan Bunda." Jelas Ami.
"Ya udah. Papa ke masjid dulu ya."
"Iya, Pa." Ami melajukan pelan mobilnya ke dalam pekarangan rumah. Segera masuk usai menutup pintu gerbang. Menemui dulu Ibu yang tengah mengatur menu di meja makan.
"Bu, aku nganter dulu Padma pulang. Terus Enin sama Bunda ngajak dulu ngobrol." Tanpa diminta, Ami menceritakan alasan keterlambatannya pulang. Mengambil satu jeruk dan mengupasnya.
__ADS_1
Ibu Sekar mengangguk. "Kabar Enin gimana sehat?"
"Keliatan sehat. Tadi pas kesana, biasa duduknya di singgasana kursi goyang yang di teras itu lho. Aku ke atas dulu ya, Bu. Mau mandi, sholat." Ami segera melesat tanpa menunggu jawaban ibunya.
***
Senin datang menyapa. Memulai lagi rutinitas sekolah. Ami sudah menyiapkan mental andaikata di sekolah nanti menjadi bahan godaan teman-temannya karena berpacaran dengan Coach Akbar. Siap menghadapi berbagai respon. Yang suka dan yang iri mungkin ada. Yang patah hati juga pasti ada.
"Mon, tunggu!" Ami menghampiri Almond yang baru saja menekan remot tombol lock mobil. Motornya melaju di belakang mobil Almond saat memasuki gerbang sekolah. "Bareng dong jalannya." Ia seperti biasanya selalu tersenyum lebar dan memasang wajah ceria.
Berbanding terbalik dengan wajah Almond yang biasanya semringah dan bersemangat saat bertemu Ami. Pagi ini datar dan senyum dipaksakan.
"Kok 3 L, Mon. Kamu sakit?" Ami menghadang jalan agar Almond jangan dulu melangkah.
"Maksudnya apa 3 L?" Almond mengerutkan kening.
"Lemah, letih, lesu, Mon. Kamu kayak mengalami gejala anemia. Atau semalam begadang main game?" Selidik Ami.
"Emang semalam mabar sampe jam satu. Awas, Mi. Jangan ngalangin jalan!"
"Jangan begadang, Mon. Kita di fase akhir sekolah. Harus giat belajar." Ami bergeming di tempatnya berdiri di antara sela mobil dan motor. Masih cukup waktu sebelum bel berbunyi dan memulai upacara senin.
"Aku mabar kalau lagi bad mood aja."
"Kamu bad mood gara-gara aku ya?" Ami mulai memasang wajah serius.
"Bukan. Gak ada hubungannya sama kamu." Almond memalingkan wajah dari tatapan lurus Ami yang seolah menelisik matanya.
"Mon, dari awal aku mau berteman sama kamu yang kata orang-orang kamu tuh angkuh. Tapi aku tau kamu tuh baik. Baik banget malah. Aku gak bisa larang kamu suka sama aku, punya rasa sama aku. Tapi maaf aku gak bisa balas. Karena aku pun gak bisa melarang hati aku untuk suka sama seseorang. Apa kamu gak merasa kalau aku selalu bersikap biasa dan wajar sama kamu? Apa kamu gak peka kalau setiap kamu traktir, aku gak mau ditraktir sendiri? Mesti ada Kia atau Sonya atau siapa lah. Karena aku gak mau terkesan spesial. Plis jangan marah atau kecewa setelah tau aku udah punya pacar. Selamanya, aku akan tetap menganggap kamu sebagai teman baik meskipun kamu memilih membenciku." Sesudah berucap panjang lebar begitu, Ami meninggalkan Almond yang mematung di tempatnya berdiri.
Almond menatap kepergian Ami yang meninggalkannya begitu saja. Semua ucapan perempuan yang disukainya itu menyentuh hingga ke relung hati. Menyadarkan pikirannya. Sekali tunjuk dan pinta, orang tuanya akan mengabulkan apapun keinginannya. Tapi saat meminta hati pada seorang Ami, ia harus merasakan patah hati. Meski berbagai cara dilakukan dari memberi hadiah mahal sampai berpindah kelas. Hasil telah mengkhianati usahanya.
Berjalan sendiri menyusuri koridor kelas, Ami merasakan ada tatapan tak biasa dari orang-orang yang sedang nongkrong di bangku depan kelas yang dilewatinya. Merasakan menjadi pusat perhatian. Bahkan terdengar ada yang berdehem-dehem. Entah ditujukan padanya atau memang sedang mencandai orang lain. Ami tak meliriknya. Tetap berjalan lurus.
__ADS_1
"Secepat itukah infotainment menyebar. Aihhh, aku merasa jadi artis. Hihihi," ucap batin Ami yang memilih acuh dan santai menuju kelasnya. Ia tetap percaya diri setelah mendapat motivasi dari Akbar subuh tadi. Agar tetap menjadi diri sendiri dan tak terpengaruh komentar pro dan kontra orang-orang.