
Rasanya ada yang berbeda usai menyandang status baru sebagai pacar Akbar. Ya, anggap saja pacaran, mengingat Ami menyebut tanggal 29 Agustus kemarin sebagai tanggal jadian. Rasa hati sudah terikat sehingga membuatnya ingin membentengi diri dari perhatian laki-laki yang ingin mendekat.
Ami sudah rapih dengan seragam putih abu-abunya. Pagi ini bersiap berangkat ke sekolah penuh semangat. Semalam Akbar mengabari sudah sampai di Jakarta jam sembilan malam. Setelah siang yang penuh kesan saat duduk bersama di gazebo dengan penuh canda tawa bersama Leo dan Tasya.
"Panda, aku skul dulu. Baik-baik di kamar ya. Sini salim!" Ami mencium tangan boneka Panda nya yang semakin berharga, yang menjadi wakil merindu pada pemberinya. Kemudian melirik inisial APB yang tersemat di dada kiri bonekanya yang terduduk di kepala ranjang.
"Mulai sekarang APB bukan lagi Akbar Pahlevi Bachtiar. Tapi, Ami Panda Bobogohan. Hihihi, maksa. Biarin lah." Ami mengecup logo berbentuk hati itu sebelum meninggalkan kamar yang selalu dirapihkan sendiri tidak mengandalkan ART. Meskipun anak bungsu, namun didikan mandiri berlaku untuk semua anak-anak Ibu Sekar.
"Bu, kapan Teh Aul pulang?" Ami mulai mengisi piring makan dengan nasi goreng putih yang ada di mangkuk besar. Untuknya, dan untuk Ibu yang sedang menyeduh teh tawar.
"Besok. Kan tiga malam nginep di hotelnya." Ibu duduk di kursi samping Ami. Mulai berdoa sebelum menyendok nasi goreng yang disiapkan si bungsu.
Zaky datang bergabung dengan menarik kursi di hadapan Ami. Tidak ikut sarapan karena kebiasaan baru sejak kuliah di Singapura, sarapan nasinya bergeser ke jam delapan. Ia hanya sarapan roti tawar yang dioles selai kacang.
"Mi, ajuin dispensasi dari sekarang. Sekolah harus tau jauh hari karena ini kan bukan mewakili sekolah." Zaky mengingatkan sang adik. Dimana jadwal pertandingan sekitar sepuluh hari lagi.
"Iya. Hari ini aku mau bilang ke wali kelas. Kartu peserta juga udah ada di tas."
Ibu tersenyum. Bangga dengan prestasi anak-anaknya yang semuanya ahli beladiri silat. Sesuai amanah sang almarhum suami yang sudah mewariskan keahlian pencak silat lebih dulu kepada Puput. Agar anak-anak memiliki ilmu beladiri dengan tujuan utama untuk keselamatan diri serta menolong sesama. Prestasi kejuaraan adalah bonusnya. Meski yang paling banyak berderet piala penghargaan adalah si sulung Putri Kirana. Namun kebanggaan untuk tiga anaknya juga tak kalah sama. Ia apresiasi dan selalu mendukung dengan perhatian dan doa.
.
.
Mobil yang dikemudikan Zaky tiba di depan gerbang sekolah. Ia belum mengizinkan Ami membawa motor ke sekolah meski sang adik sudah mengantongi SIM C. Bukan apa-apa. Usai pertandingan silat nanti di Bandung, ia akan bertolak ke Jakarta, untuk kembali menimba ilmu di Singapura. Sehingga ingin hari-harinya di Ciamis terisi quality time bersama sang adik, teman usilnya.
Ami turun dengan wajah riang usai mencium punggung tangan Zaky. Sudah ada Almond yang tersenyum lebar, menunggu di lobi gedung sekolah.
"Cie, yang abis long holiday cerah amat nih muka. Makin cantik aja, Mi. Abis healing ya?" Almond mensejajari langkah Ami di tengah ramainya lalu lalang murid yang berdatangan.
"Mana ada waktu healing, Mon. Kemarin abis cape acara nikahan Teh Aul. Kalau muka cerah sih refleksi suasana hati." Ami menanggapi dengan santai dan penuh senyum.
"Kan yang nikah kakakmu. Kenapa kamu yang happy kayak pengantin baru?" Ledek Almond yang awalnya protes karena tidak diundang. Setelah dikasih pengertian bahwa tak seorang pun teman sekolah yang diundang karena belajar dari pengalaman saat acara lamaran yang hanya mengundang tiga orang teman. Dan hampir semua teman sekelasnya pada demo.
Ami mendelik. "Ya beda dong. Aku happy karena....." Ia sengaja menggantung ucapan begitu sampai di puncak tangga lantai dua. Barulah saat akan berpisah arah kelas ia bilang, "KE PO." Ia pun berlari usai memeletkan lidah. Meninggalkan Almond yang terkekeh dan merasa gemas.
"Guys, Kia belum datang?" Ami menyapa kerumunan Ifa yang entah sedang melihat apa di ponselnya Sonya. Terlihat serius. Ia merasa heran karena teman sebangkunya tidak ada. Biasanya Kia selalu datang lebih awal darinya.
"Belum liat, Mi." Yuma yang mewakili menjawab tanpa menoleh. Malah kemudian terdengar memekik.
Hal itu memantik rasa penasaran Ami yang kemudian mendekati bangku kedua dari depan itu. "Woy, pada liat apaan sih?" Terbersit curiga jika teman-temannya sedang menonton tontonan dewasa. Seperti halnya seminggu yang lalu, Marga menciduk Ozi dan teman sebangkunya sedang menonton video me sum artis berdurasi 15 detik saat guru tidak masuk dan diganti tugas. Sontak saja dipermalukan dengan diteriaki seisi kelas.
Masa remaja dan masa menuju dewasa adalah masa pencarian jati diri. Tingkat penasarannya tinggi dan ingin mencoba berbagai hal termasuk mencoba yang tabu, yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan halal. Ami, Zaky, gak boleh kebawa arus. Jadikan ilmu agama sebagai pondasi dan filter dimanapun kalian berada. Harus pandai memilih circle pergaulan yang positif. Biarin dikatain kolot juga.
Nasihat Ibu saat tadi di meja makan masih terngiang dan akan selalu diingat. Bermula saat Zaky mengeluhkan bagaimana beratnya godaan di Singapura karena ada teman-teman kampus selalu memaksanya ikut clubbing setiap akhir pekan sambil pacaran bebas. Mereka merayu dengan alasan solidaritas.
"Ini, Mi. Aku dapat kiriman dari teman di SMA Angkasa." Sonya mengulang play video begitu Ami berdiri di sisinya.
__ADS_1
"Astagfirullah. Hapus-hapus! Jangan diforward ke siapapun lagi, Sonya. Sama aja kita dosa jariyah lho karena makin banyak mata yang lihat." Tegas Ami dengan wajah serius.
"Iya aku hapus nih. Aku belum forward ke siapapun kok. Ini dapetnya juga barusan. Makanya aku kasih liat anak-anak dulu." Sonya mendadak takut mendengar kata dosa jariyah. Ia pun menghapusnya.
Video berdurasi 45 detik itu baru saja viral di negeri ini. Menampilkan sepasang pelajar SMA yang saling bantu melepas baju seragam. Hingga terjadi adegan yang seharusnya dilakukan pasangan halal. Nampak sengaja di rekam.
"Jangan dulu dihapus, Nya! Aku belum lihat." Sontak saja teriakan Vino membuat Ami berkacak pinggang diiringi tatapan tajam.
"An jir. Jawara marah. Ampun deh. Just kidding, Mi." Vino mengangkat kedua tangan diiringi seringai jahil. Semua orang satu kelas tahu selain Ami yang kocak dan humble, dia juga tegas dalam merazia video asusila di kelas.
Bel tanda masuk berbunyi bersamaan dengan Kia yang baru saja masuk dengan nafas ngos-ngosan. Langsung saja absen finger print.
"Kia, tumben telat?" Ami menyambut Kia yang baru saja duduk dengan sorot mata butuh penjelasan.
"Riva sakit tipes. Kemarin sore ke dokter dan katanya harus dirawat. Jadi semalam aku jagain di klinik. Soalnya Mama harus nemenin Bapak jualan nasgor. Tadi setengah enam baru gantian sama Mama. Barusan masuk pas gerbang mau di tutup." Kia mengipas-ngipasi wajahnya yang berkeringat dengan buku yang baru dikeluarkan dari dalam tasnya.
"Ya Allah, kasian Riva. Moga cepat sembuh." Amu tulus mendoakan adik bungsu Kia yang masih duduk di bangku SD.
Kia mengangguk sambil mengaminkan.
***
Jam istirahat, Ami tidak ke kantin tapi ke ruang guru. Ia menemui Bu Elin, wali kelasnya yang tadi mengajar di jam pertama. Ia sampaikan maksud dan tujuannya sambil memperlihatkan kartu peserta pertandingan silat tingkat provinsi Jawa Barat.
"Rahmi yang tahun lalu juara se Priangan Timur ya?" Bu Elin memastikan lagi daya ingatnya.
"Wah hebat, Rahmi. Ibu doakan semoga juara lagi di tingkat provinsi. Nanti Ibu urus dispensasi Rahmi. Ibu akan laporan juga ke kepala sekolah."
Ami mengaminkan sekaligus berterima kasih. Ia pun meninggalkan ruang guru dan mampir ke kantin. Tidak ada waktu untuk makan di tempat karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Dua porsi siomay dan teh kemasan dibawa pulang ke kelas usai melambaikan tangan ke teman-temannya. Makanan itu untuknya dan untuk Kia.
Ami duduk di bangku Ifa karena takut membangunkan Kia yang tidur sambil telungkup wajah berbantalkan kedua tangan yang terlipat di meja. Teman sebangkunya itu menolak diajak ikut ke ruang guru karena kurang tidur. Ruang kelas yang hening karena semuanya berada di kantin, membuat Kia bisa tidur dengan lelap.
Tujuh menit kemudian bel berbunyi. Seolah alarm bagi Kia yang lalu mengangkat kepala diiringi menguap panjang.
"Nih minum dulu, Kia. Biar fresh." Ami menyerahkan teh kemasan dingin juga kotak siomay.
"Gak usah, Mi. Itu kan punya Ami." Kia menggeleng. Ia terlalu sungkan dengan kebaikan Ami yang selalu perhatian dan baik padanya.
"Ini punyaku. Siomaynya udah habis. Ayo minum dulu. Kalo guru belum datang bisa makan siomaynya." Ami menggoyangkan teh kemasannya. Lalu membantu menusukkan sedotan ke teh milik Kia.
"Makasih ya, Mi." Kia menyedot tehnya dengan rasa haru. Sensasi dingin dan segar mengaliri tenggorokannya yang kering. Yang hanya dibasahi dengan menelan ludah. Sejujurnya merasa lapar karena tidak sempat sarapan. Disiplin di sekolah ini sangat tinggi. Jam tujuh kurang sepuluh menit, gerbang mulai ditutup. Membuatnya pontang panting menyiapkan diri berangkat ke sekolah serta berlari menuju gerbang yang akan dikunci.
"Santai aja, Kia. Kita kan friend. Guru telat datang kayaknya. Makan dulu aja mumpung hangat."
.
.
__ADS_1
Ami menahan Kia untuk pulang bersama. Dipinta menunggu di depan ATM center di lobi gedung sekolah. Ia sudah menelepon Zaky mengatakan tentang adiknya Kia yang sakit. Hingga sepakat akan menjenguknya.
Uang tiga ratus ribu keluar dari mesin ATM. Sejak SMA, ia diberi uang jajan sebulan sekali oleh Ibu dengan cara ditransfer. Diberi kepercayaan mengelola keuangan sebijak mungkin sesuai kebutuhan bukan keinginan.
"Eh, kenapa saldonya gendut?!" Ami melebarkan mata saat memeriksa struk yang keluar. Ini tanggal 31. Harusnya saldonya menipis tinggal puluhan ribu usai ditarik tiga ratus ribu barusan. Faktanya malah lebih besar dari uang jajan bulanan yang diberikan Ibu tiap tanggal satu.
Bergegas Ami mengecek mutasi di ponselnya. Khawatir ada yang salah transfer. Namun ia terkesiap saat melihat mutasi uang masuk dengan nama pengirim jelas.
Ami mengucap salam saat panggilan keluarnya tersambung.
"Hai, Cutie. Udah pulang sekolah?" Suara Akbar terdengar riang sejak menjawab salam.
"Baru bubar, Kak. Sekarang mau mampir dulu ke klinik nengok adiknya teman aku yang sakit tipes. Ini lagi di atm. Aku kaget saldonya jadi gendut. Kakak transfer ya?" Ami sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan.
"Oh iya lupa ngabarin. Iya, Cutie. Tadi jam sembilan aku transfer. Buat uang jajanmu. Mulai sekarang aku akan kasih uang jajan tiap akhir bulan."
Ami melongo dengan mulut menganga. Sungguh tak bisa berkata-kata.
"Hallo, Cutie."
Sapaan Akbar membuat Ami tersadar dari keterkejutannya. "Kak....gak usah repot-repot. Mana banyak lagi. Aku kan belum jadi istri."
Akbar tergelak mendengar kepolosan ucapan Ami. "Emangnya Ami udah siap jadi Nyonya Akbar, hm?"
"Ish. Aku kan masih skul." Rona merah di wajah putih Ami tak bisa disembunyikan. "Maksudku...itu...hmmm...aku gak enak nerimanya, Kak."
"Kan aku yang ngasih bukan Ami yang minta. Jangan gak enakan. Aku ngasih karena sayang sama Cutie."
Ami memejamkan mata dengan satu tangan spontan meraba dada yang berdesir. Untung posisinya berdiri di sudut ATM Center. Hatinya menghangat, wajahnya memanas.
"Makasih ya, Kak. Tapi boleh gak aku pakainya bukan hanya buat jajan. Misal pakai juga buat nolong teman yang susah gitu." Ami merasa itu uang amanah dan ingin jelas. Karena Akbar menyebutnya sebagai uang jajan.
"Boleh banget, sayang. Terserah Cutie mau dipakai buat apa aja. Aku support kamu berbuat baik dengan sesama. Kalau uangnya kurang, Cutie bilang aja jangan sungkan."
Lagi, desiran mengaliri tubuh karena dipanggil sayang dengan intonasi penuh perasaan. Ami sampai menggigit bibir karena denyut jantungnya berdebar kencang.
"Kak, sekali lagi makasih ya. Aku mau lanjut nengok adiknya Kia ke klinik. Kia teman sebangku aku. Keluarganya kurang mampu. Jadi aku dan A Zaky pengen ngasih buat biaya berobat." Ami berbicara sedikit pelan karena takut terdengar oleh Kia yang menunggu di luar kaca.
"Oke. Aku juga mau mimpin meeting. Udah telat lima menit. Telepon dari Cutie jadi prioritas aku." Suara Akbar sama sekali tidak terkesan sudah diganggu. Malah bernada senang.
"Arghhh kenapa gak bilang kalau Kakak lagi sibuk." Ami sampai menepuk keningnya. Merasa tidak enak hati.
"Be calm, babe. Kamu kan calon mantu BNI." Akbar mengembalikan kata-kata Ami diiringi seringai tampan yang tentu saja tak akan terlihat oleh Ami.
"Ish, Panda. Udah ah. Assalamu'alaikum." Ami tidak tahan dengan kerja jantung yang kelojotan. Wajahnya kembali merona dengan senyum malu yang menerbitkan lesung pipinya. Senyum yang sangat manis. Sayangnya, Akbar tidak melihatnya.
Akbar menjawab salam diiringi tawa renyah. Harinya makin semangat karena mood booster dari Cutie nya. Ia membayangkan ucap malu Ami itu diiringi senyum yang menampakkan lesung pipi. Pasti sangat manis, pikirnya.
__ADS_1