
Ami baru membaca buku panduan rangkaian ibadah umroh yang dijadwalkan agen travel saat di dalam pesawat. Ternyata tujuan penerbangannya langsung menuju Madinah bukan mendarat di Jeddah. Entah dengan agen travel yang diikuti Akbar besok. Sama atau berbeda. Rangkaian kegiatan mulai hari pertama sampai hari keduabelas sudah tersusun. Perbedaan sehari keberangkatan dengan Akbar, mungkinkah bisa bertemu di Masjid Nabawi. Ataukah bisanya nanti di Mekkah saja?
Tiba di Madinah, rombongan jamaah umroh langsung menuju hotel untuk check in dan beristirahat. Rangkaian ibadah akan dimulai besok pagi. Ini pengalaman pertama untuk Ami pergi umroh. Tetapi pengalaman kedua untuk Ibu Sekar karena dulu pernah berumroh bersama Puput dan Rama.
Dari jendela kamar, Ami menatap gemerlap lampu Masjid Nabawi yang nampak indah di kegelapan malam. Haru dan bersyukur, pastinya. Karena diberi kemudahan bisa pergi ke tanah suci di saat sebagian orang mendamba ingin datang namun belum memiliki kemampuan.
Ibu menghampiri Ami yang masih betah berdiri di depan kaca jendela yang leba. "Mi, besok di Raudhah Masjid Nabawi jangan lewatkan untuk berdoa ya. Manfaatkan tempat-tempat mustajab untuk berdoa dengan khusyu. Sampaikan hajat diri sendiri, doakan ayah, doakan juga saudara seiman kita di luar sana yang masih berperang melawan kedzaliman."
"Siap, Bu. Kalau hajat Ibu apa?" Ami menoleh menatap wajah ibunya.
"Banyak. Diantaranya berharap anak-anak selalu dalam lindungan Allah dimanapun berada."
"Ada doa khusus gak, Bu?"
Ibu menatap Ami dengan satu alis terangkat. "Semua doa yang ibu panjatkan itu penting."
"Kirain ada doa, Ya Allah jika Pak Happy adalah jodohku maka dekatkanlah. Kalau bukan jodohku maka biarlah silaturahmi terjalin sebagai teman. Hihihi."
"AMI! Kamu ya..." Ibu memencet hidung Ami yang cekikikan dengan gemas. Becandanya si bungsu membuatnya berusaha menormalkan rasa gugup yang mendadak melanda. Menjadi teringat isi pesan Pak Bagja tadi malam.
Pak Bagja: [Titip doa saat di Raudhah dan saat di depan Ka'bah ya, Sekar. "Ya Allah, izinkanlah aku dan dia meniti senja dalam ikatan halal hingga ajal tiba"]
Ibu Sekar: [Gak mau ah. Akang aja yang merayu Allah, jangan aku]
Pak Bagja: [Always, Sekar. Jangan ragukan usahaku. Tunggu aku kembali lebaran nanti]
"Bu, tidur yuk udah malam."
Ibu Sekar mengerjapkan mata. Tatapan lurusnya menembus kaca, bukanlah sedang menikmati panorama malam. Melainkan melamunkan isi pesan yang sarat makna.
Akhirnya, mulai menginjakkan kaki di Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat subuh. Dimana melaksanakan sholat di Masjid Nabawi pahalanya 1000 kali lipat dibandingkan masjid lain. Kecuali di Masjidil Haram.
Ami dan Padma mengabadikan momen Nabawi Mosque’s Umbrella Attraction dengan kamera ponselnya diiringi tatapan takjub. Deretan payung besar yang digunakan untuk menaungi jamaah Masjid Nabawi itu biasa dibuka ba'da sholat subuh dan menutup kembali sore hari menjelang adzan magrib.
"Padma, Ami, kalau mau menu yang lain pesan aja." Bunda Ratih menatap dua anak gadis yang duduk berdekatan sambil mengobrol dengan suara pelan. Usai sholat subuh, semua rombongan kembali dulu ke hotel untuk makan pagi yang sudah disiapkan pihak agen travel.
"Kalau aku sih udah cukup, Bunda. Udah kenyang." Jawaban Ami juga sama dengan Padma.
Usai makan pagi, kembali lagi ke Masjid Nabawi. Melaksanakan sholat sunnah dan mengaji. Seharian ini mengeksplorasi sekitaran Masjid Nabawi termasuk mengunjungi Raudhah serta makan Nabi Muhammad SAW beserta kedua sahabatnya yang berdampingan. Yaitu Abu Bakar Ash shiddiq r.a. serta Umar bin Khatab r.a. di dalam area Masjid Nabawi.
Malam hari saat akan makan malam di hotel, menjadi sebuah kegelisahan untuk Ami. Deg degan akan ketemu Akbar dan orang tuanya yang baru tiba sore tadi, menginap di hotel yang sama dan sebentar lagi akan menyusul ke restoran.
"Itu Mbak Mila dan Mas Darwis." Bunda Ratih berdiri dan melambaikan tangan kepada tiga orang yang sedang mengedarkan pandangan.
Tenang, Mi, tenaaang....camer orang baik dan udah ngerestuin.
Ami mensugesti diri di dalam hati. Antara deg degan dan juga senang bertemu Akbar di Madinah setelah beberapa bulan tidak bertemu muka. Hanya bertatap secara virtual dengan komunikasi lewat ponsel.
"Assalamu'alaikum semuanya...." Mama Mila mendekat dengan wajah semringah. Lantas berpelukan dan cipika cipiki dengan Bunda Ratih dan Bu Sekar. Ami menjadi orang terakhir yang disapanya setelah Padma.
"Amiiiii, kangen deh. Terakhir ketemu waktu nikahan Iko ya. Sekarang alhamdulillah ketemu lagi di Madinah."
Ami tersenyum malu karena Mama Mila memegang kedua bahunya sambil menatap lekat wajahnya.
"Tante apa kabar?"
"Alhamdulillah, Mama sangat baik dan sangat bahagia. Malahan lebih bahagia sejak tau anu." Ucapan Mama Mila memelan di kalimat terakhir agar hanya Ami yang mendengar. Ia pun mengkode dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Ami tersenyum dengan rasa serba salah. Apalagi saat pandangan beralih ke Akbar yang kentara sedang menatapnya diiringi senyum simpul. "Hais, Kak Akbar bisa setenang itu. Aku malah grogi gini," keluhnya dalam hati.
Akbar mencium tangan Ibu Sekar dengan takzim. Berbincang sebentar menceritakan perjalanan rombongannya yang mendarat di Jeddah. Jadilah tiga keluarga makan malam dalam satu meja panjang. Belum ada kesempatan Akbar dan Ami berbincang berdua. Masing-masing ikut terlibat obrolan umum hingga waktunya kembali ke kamar masing-masing.
Ami mengecek ponsel saat hendak tidur. Berbinar begitu dapat pesan dari Akbar.
[Sudah ke Raudhah, Cutie?"]
Ami: [Sudah tadi. Seharian tadi eksplorasi komplek Masjid Nabawi. Besok lanju city tour Madinah]
Akbar: [Kalo aku baru besok ke Masjid Nabawi. Btw, doanya apa tadi?]
Ami: [Ada deh 🙃]
Akbar: [Ih, awas ya aku culik ke KUA pulang umroh]
Ami: [Mauuuuu eh ralat, atuuutttt 🏃🏃]
Akbar: [😂😂]
Akbar: [Btw, kita bakal satu jadwal saat miqat. Jadi kita bakal lebih banyak waktu ketemu di Mekkah]
Ami: [Alhamdulillah 🤲]
Akbar: [🫶]
***
Waktunya melaksanakan umroh tiba usai tiga hari berada di Madinah dengan mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan pasar oleh-oleh. Hari keempat ini mulai check out hotel dengan berpakaian ihram menuju Masjid Bir Ali. Yaitu masjid tempat mengambil miqat, untuk menjatuhkan niat umroh dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Barulah menuju Mekkah dan check in di hotel Mekkah.
Betapa nikmatnya bisa melaksanakan sholat lima waktu di Masjidil Haram. Masjid terluas di dunia yang di dalamnya terdapat Ka’bah dimana sholat di dalamnya pahalanya 100.000 kali lipat di bandingkan masjid lainnya.
"Tadinya aku pengen bisa nyentuh Hajar Aswad tapi gak beruntung." Ucap Ami di saat perjalanan menuju hotel usai sholat isya di Masjidil Haram.
"Sabar. Masih ada kesempatan kedua. Moga aja lusa umroh kedua beruntung ya, Cutie." Akbar memberi semangat.
"Aamiin ya Allah." Sahut Ami penuh harap.
Rangkaian kegiatan di Mekkah tak kalah padat seperti saat di Madinah. Disamping beribadah, hari keenam dan hari ketujuh pun mengeksplorasi kawasan sekitar Masjidil Haram serta city tour kota Mekkah. Setelah hanya melewati Padang Arafah tempat wukufnya jamaah haji, rombongan pun singgah di Jabal Rahmah. Salah satu bukit di area Padang Arafah yang merupakan tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah berpisah ratusan tahun ketika diturunkan Allah dari surga ke bumi.
"Cutie, kita berdoa disini yuk. Minta sama Allah untuk kelancaran hubungan kita." Bisik Akbar memanfaatkan momen lengahnya para orang tua yang sedang berbincang.
Ami menjawab dengan anggukkan dan senyuman.
Tiba waktunya umroh kedua dengan mengambil miqat di Masjid Ji'ronah. Rukun umroh ditunaikan mulai Tawaf, Sa'i, Tahallul, dan tertib sesuai sunnah.
"Aduh, belum kesampaian juga nyentuh Hajar Aswad apalagi menciumnya." Keluh Ami saat menikmati sore di lingkungan Masjidil Haram. Semua orang duduk santai ditemani camilan dan minuman. Ada pula yang tiduran.
"Padma juga sama. Tapi sempat nyentuh kiswahnya aja."
"Sabar. Masih ada kesempatan ketiga. Harus optimis." Akbar membesarkan hati.
"Kapan, Kak?" Ami berubah berbinar.
"Saat Tawaf Wada. Tawaf perpisahan dengan Ka'bah sebelum pulang ke Jakarta."
"Bismillah nanti bisa!"
__ADS_1
"Aamiin." Padma mengaminkan dengan kencang.
Tak terasa waktu berlalu melaksanakan ibadah di Masjidil Haram diselingi tour city hingga belanja oleh-oleh. Tiba hari ini hari kesebelas. Saatnya berpisah dengan Tanah Suci. Usai makan pagi di hotel, rombongan jemaah umroh melakukan Tawaf Wada sebagai akhir rangkaian acara.
Ami berdoa dalam hati semoga di Tawaf kali ini harapannya terwujud. Ia bergandengan tangan dengan Ibu memulai berjalan mengelilingi Ka'bah sambil membaca doa yang dianjurkan saat Tawaf.
Entah siapa mereka dan datang dari mana. Tiba-tiba ada tiga orang wanita berperawakan tinggi besar dengan pakaian ihram, melambaikan tangan ke arah Ami dan Ibu Sekar saat Tawaf putaran ketujuh. Mereka memberi jalan menuju Hajar Aswad. Dibalik rasa terkejut, kesempatan emas ini tidak disia-siakan. Akhirnya dengan tangan yang mendadak gemetar karena keharuan, Hajar Aswad mampu tersentuh bahkan bisa menciumnya sembari melangitkan doa dalam hati.
"Ya Allah. Jika Kak Akbar jodoh terbaik yang kau kirimkan untukku, permudahkanlah segala urusannya. Hingga kami mencapai halal yang Kau ridhoi. Jauhkanlah kami dari segala rintangan yang menghalangi hubungan ini. Bagiku restu Ibu dan saudara-saudaraku sangat berarti. Lunakkan hati mereka untuk menerima Kak Akbar sebagai pendamping hidupku selamanya. Aamiin."
***
Akbar tersenyum lebar menyambut yang baru selesai Tawaf Wada. Ia bersama kedua orang tuanya berada di Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat Duha. Karena jadwalnya Tawaf Wada besok.
"Alhamdulillah aku sama Ibu berhasil, Kak." Lapor Ami masih terlihat mata yang berkaca-kaca. Untuk Ibu, ia tidak tahu doa apa yang sudah dipanjatkan tadi.
"Alhamdulillah." Akbar mengusap wajahnya penuh rasa syukur. Andainya Ami tahu, ia terus berdzikir selama sang pujaan hati itu melakukan Tawaf Wada. Cukup dipendam sendiri saja bagaimana ia mengiba merayu Allah agar keinginan si Cutie terlaksana.
"Padma sama Bunda jadi bisa masuk juga karena ditarik Ami." Padma pun nampak semringah.
"Alhamdulillah. Semoga kita pun besok bisa." Sahut Mama Mila ikut senang.
"Mas Akbar, Bu Mila, Pak Darwis, kami akan pulang duluan. Kita harus berpisah disini ya." Ucap Ibu Sekar saat pembimbing terdengar memberi tahu waktunya pulang ke hotel untuk check out.
"Iya, Bu Sekar. Padahal aku masih betah bersama-sama. Lancar dan selamat sampai pulang ke Ciamis ya." Mama Mila melepas dengan pelukan. Dan kepada Ami memeluk sangat erat diakhiri mengecup kening gadis cantik itu. Calon mantu, semoga.
Ami menatap Akbar. Bingung mau bilang apa karena dalam posisi berkumpul. Hanya saling tatap dengan bahasa isyarat mata sebagai ucap pamitnya. Dan Panda nya itu menganggukkan kepala.
"Fii Amanilah, Ibu, Ami, Tante, dan semuanya. Kapan-kapan kita adain acara kumpul keluarga di Seruni Tasik. Setuju kan, Mam?" Akbar menoleh menatap Mama Mila.
"Aaah ide bagus, Bar. Mama setuju pake banget. Ratih gimana? Teh Ratna nanti aku telpon deh."
"Setuju, Mbak Mila. Silaturahmi kita harus makin dekat dan kuat. Dan waktu yang tepat biar semua kumpul lengkap ya lebaran sampai H+4 masa akhir cuti lebaran. Sebelum semuanya sibuk lagi dengan dunia masing-masing." Bunda Ratih terkekeh.
"Kalau pria mah ngikut aja sama kehebohan emak-emak lah. Tinggal makan." Ucapan Papa Darwis yang santai mengundang tawa semua orang.
Selamat tinggal Mekkah. Meninggalkan kenangan cerita cinta yang terjaga. Waktunya perjalanan menuju Jeddah untuk kemudian terbang ke Jakarta.
[Kak, makasih untuk penjagaan selama umroh. Aku udah di pesawat. ATK, Panda 🥰]
Ami menonaktifkan ponselnya saat ditunggu lima menit belum ada balasan. Saatnya memejamkan mata menikmati santai penerbangan pulang usai tuntas ibadah umroh.
...*****...
Dari Author:
Terima kasih Kak Ryanty Jo untuk inspirasi doa Ami.
Story BAJC libur sementara. InsyaAllah kembali update 25 April 2023.
Selamat menyambut Idul fitri. Yang akan mudik semoga lancar dan selamat menuju kampung halaman. Yang lebaran di rumah seperti saya, selamat berkumpul keluarga. Mari suka cita menyambut hari kemenangan. Semoga ibadah shaum kita diterimaNya. Mohon dimaafkan segala khilaf dan salah saya selama ini dalam hal tulisan yang keliru, balasan komentar yang tidak memuaskan, atau pun jarangnya membalas komentar karya juga DM. Itu dikarenakan keterbatasan waktu yang harus saya bagi utk keluarga, pekerjaan, dan dunia halu.
Selamat Idul Fitri, Bestie tersayang. Minal aidin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin. 🙏🙏🙏
With Love,
Me Nia
__ADS_1