Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
117. Kisah Malam Minggu


__ADS_3

Akbar mengikuti Pak Bagja dan Zaky, melaksanakan sholat magrib di masjid usai terlibat obrolan santai cukup lama. Ia merasa sudah menjadi bagian keluarga karena penerimaan keluarga Ami yang lebih hangat dari sebelumnya.


Menjadi kabar bahagia saat Akbar meminta izin kepada Ibu Sekar dan Pak Bagja untuk mengajak Ami malam mingguan di cafe Dapoer Ibu dan diperbolehkan dengan syarat,


"Jam sembilan harus sudah ada di rumah lagi. Kalau melanggar berarti next time tidak ada kesempatan kedua malam mingguan ke luar. Cukup di rumah saja." Ucap Pak Bagja lugas dan tegas.


"Baik, Pak." Aturan tak tertulis itu akan diingat betul oleh Akbar. Ada jam tangan yang bisa diliriknya setiap saat.


Sopir dibiarkan istirahat di hotel. Malam minggu ini milik Akbar yang dengan manis membukakan pintu mobil untuk Ami yang cantik dan segar dalam balutan outfit rok putih motif floral dipadu cardigan biru muda.


Sepanjang jalan, wajah Ami terus bersemu dalam keremangan lampu jalanan yang dilintasi. Serta senyum samar tersungging di bibirnya. Ini adalah pengalaman pertama malam mingguan dengan seseorang yang spesial.


"Jangan diem dong Cutie. Bukan Ami banget deh." Akbar menoleh sekilas bersama seulas senyum manis. Tanpa meminta izin, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Ami. Jadinya menyetir mobil hitam jenis SUV pabrikan Jerman dengan satu tangan. Santai dan tenang.


"Ini pengalaman pertama aku kencan, Kak. Jadinya salting deh. Apalagi sekarang tangan aku dipegang gini. Aduh jantung jadi kelojotan nih." Ami memasang wajah mengeluh sambil menepuk-nepuk dada.


Akbar terkekeh dengan ucapan Ami yang jujur itu. Dia memang Ami yang selalu apa adanya tanpa jaga image. "Baru dipegang tangan aja udah gitu ya reaksi tubuhmu. Apalagi kalau anuu..."


"Ish, Kak. Jaga bahasa jangan dulu menjurus anuuu." Ami menarik tangan yang digenggam Akbar. Lalu menggerakkan telunjuk di samping wajah sang driver.


Akbar terkekeh. "Oke-oke, sayang. Lagian anuu versi aku dan versi kamu pasti beda. Tapi ya udah skip deh."


"Emangnya maksud anumu itu apa, Kak?" Pada akhirnya Ami penasaran juga. Ia memiringkan badan menghadap sang driver.


Akbar menggelengkan kepala dan tersenyum dikulum. "Kan udah skip. Pembahasan anuu sudah lewat."


"Ahh, Ayang Panda nggak asik. Kan aku kepo." Nada bicara Ami terdengar merajuk. Tak terasa mobil sudah memasuki parkiran cafe yang sudah banyak mobil dan motor terparkir.


"Oke, akan aku kasih tahu tapi nanti ya." Akbar mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman.


"Kapan?" tuntut Ami sebelum turun dari mobil.


"Setelah akad nikah." Akbar mengedipkan sebelah mata diiring senyum mesem.


Mendapat kedipan maut seperti itu, membuat Ami speechless. Tak lagi menuntut jawaban karena wajahnya kini sudah merona merah jambu. Segera keluar dari mobil lebih dulu.


Live music sedang tersaji mengiringi para pengunjung yang datang di malam Minggu. Ada yang datang sendiri, bersama pasangan atau rombongan teman, juga keluarga. Karena cafe Dapoer Ibu ini family friendly.


Kedatangan Ami dan Akbar disambut anggukkan dan senyum ramah oleh para karyawan cafe yang tentu saja mengenal Ami sebagai keluarga dari pemilik cafe. Duduk di rooftop menjadi pilihannya. Hawa sejuk dari semilir angin malam serta langit cerah berhias ribuan bintang dan pekatnya gugusan Gunung Sawal, menjadi pemandangan malam yang bisa disaksikan dari tempat duduk yang ada di rooftop.


"Cutie, mau bimbel nggak? Biar aku yang biayain." Obrolan tak melulu tentang romantisme. Tapi random membahas studi.

__ADS_1


"Nggak deh, Kak. Karena di sekolah juga ada tambahan pelajaran. Jadi semester akhir ini, mulai Februari, hari Sabtu itu nggak libur. Tetap masuk sekolah khusus tambahan pelajaran."


"Hm, oke. Pasti bakal lebih sibuk belajar ya. Dan rata-rata banyak siswa yang mengeluh stress."


"Relate, Kak. Baru pengumuman aja teman-teman udah pada mengeluh stress. Padahal belum action itu."


"Nah, itu yang harusnya dihindari. Jangan mengeluh. Kalau dibawa enjoy, dijamin nggak akan jadi beban apalagi sampai stres. Bisa di selingi refreshing ke alam pas hari libur kalau sudah merasa suntuk dan jenuh."


"Kalau aku refreshingnya nggak mau ke alam tapi pengen ke Bangkalan." Ami mengaduk-aduk minuman dingin yang baru datang dengan menggunakan sedotan.


"Emang ada apa di Bangkalan?" Akbar menambahkan gula pada minuman cappucino miliknya. Dua porsi steak pun sudah tersaji di meja.


"Bangkalan, bangga karena kamu selalu perhatian. Itu udah menjadi penghilang suntuk. Bisa menghasilkan hormon endorfin yang make me happy." Ami mengerjap-ngerjapkan matanya diiringi seringai jahil.


Akbar menggaruk pelipisnya yang tentu saja tidak gatal. Tersenyum meringis bercampur gemas. Ia lupa jika berbincang dengan Ami tak selamanya serius. Selalu ada canda dan keisengan. Justru membuat hatinya baper dan menghangat karena kehadirannya berharga untuk Ami.


Live music berada di lantai bawah. Namun soundnya terdengar sampai ke atas. Pengunjung yang berada di rooftop masih bisa menikmati suara sang vokalis meski tak melihat langsung penyanyinya. Akbar dan Ami pun menikmati makan malam bersama iringan musik pop yang easy listening.


Jam setengah sembilan waktunya meninggalkan cafe. Akbar sudah menghitung waktu perjalanan yang harus ditempuh selama 17 menit. Meski masih betah menikmati malam mingguan berduaan, namun ia sadar akan adanya peraturan dari orang tuanya Ami. Sabar, tunggu kurang dari 6 bulan lagi. Kalau sudah halal, tak akan ada seorang pun yang akan melarang jika pergi berduaan sampai jam berapa pun juga.


"Hanya pegang tangan, sayang. Aku tak akan melebihi batas." Ucap Akbar saat meminta tangan Ami yang ingin digenggamnya di sepanjang perjalanan pulang.


Memang Ami sengaja tidak menyimpan tangannya di atas paha. Menyibukkan diri memperbaiki baju, jilbab, untuk menghindari tangan Akbar. Tapi tindakannya itu tak berguna. Justru tangannya itu ditunggunya Ia pun mengalah memberikan tangan untuk digenggam. Dan efeknya pada jantung, tentu saja berdebar kencang dan merinding disko.


Malam minggu Zaky. Ia pergi bersama komunitas motor Ninja. Usai konvoy dengan tertib keliling kota Tasik, lalu nongkrong di salah satu jalan protokol dengan menjajarkan motor Ninja di bahu jalan. Di tempat berjarak beberapa meter, komunitas motor jenis lain pun banyak yang menjajarkan motornya. Begitulah anak muda kawasan Ciamis dan Tasik mengisi malam Minggunya.


"Guys, aku pulang duluan ya. Nggak bisa nongkrong sampai malam. Soalnya besok berangkat ke Jakarta. Siap take of ke Singapore." Zaky berpamitan pada kawan-kawannya.


Sebelum mengarah ke perbatasan Ciamis, Zaky melajukan motor kesayangannya ke ruas jalan di mana nasi goreng 'Kabita' biasa mangkal. Hanya dengan durasi 7 menit dari lokasi tempatnya nongkrong hingga sampai ke parkiran nasi goreng. Nampak banyak pengunjung memenuhi area lesehan. Ia langsung menuju tenda dan terlihat Kia sedang melayani pembeli yang membayar.


"Kia, pesan nasi goreng pedasnya sedang 10 bungkus ya." Ucap Zaky begitu Kia sudah selesai memberikan kembalian pada pembeli.


"Eh, A Zaky. Ami nya mana?" Kia tak bisa menyembunyikan raut terkejut karena tak menyangka berhadapan dengan Zaky. Mencoba menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba hadir.


"Aku sendirian. Habis nongkrong sama teman-teman di Jalan Otista. Nasi gorengnya 10 ya Kia. Dibungkus." Zaky mengulang pesanan karena Kia belum merespon.


"Oh, siap A. Yang biasa atau spesial?"


"Yang biasa aja pedasnya sedang."


"Siap. Ditunggu ya A Zaky." Kia menghampiri bapaknya yang sedang mengaduk nasi goreng dalam wajan. Ia menyampaikan pesanan Zaky. Seorang karyawan yang membantu, sigap menyiapkan bahan-bahan.

__ADS_1


"A Zaky, nggak makan di sini?" Kia menyimpan segelas teh hangat di meja tempat duduk Zaky. Keberaniannya bertanya diiringi buliran keringat yang mengucur di kening dan pelipisnya. Sungguh ia tegang tapi rasa penasaran mengalahkan kegugupan. Menghadirkan keberanian.


"Mau makan di rumah aja, Kia. Soalnya nggak ada Ami yang nemenin. Dia lagi malam mingguan sama Mas Akbar."


Kia manggut-manggut dan tersenyum mesem.


"Oh ya, Kia. Mau sekalian pamitan nih. Besok aku berangkat Jakarta karena mau kembali lagi ke Singapura."


"Oh, udahan yah liburannya. Perasaan baru kemarin aku suka ikut pulang bareng. Waktu nggak terasa ya." Ada kesedihan di sudut hati karena tak bisa lagi mengagumi dari jarak dekat.


"Ya kan liburnya hanya sebulan. Sekarang udah mau akhir Januari. Tugas magang sudah menanti di Singapura. Siap-siap sibuk lagi." Zaky menyeruput teh yang disuguhkan Kia. Ada kebanggaan tersendiri melihat layar tenda masih memakai desainnya.


"Wah, berarti A Zaky sudah semakin dekat dengan gelar sarjana archi." Senyum manis Kia adalah senyum kebahagiaan dan kebanggaan pada pemuda yang mengenakan jaket kulit warna hitam. Kakaknya Ami.


Zaky mengangguk dan tersenyum. "InsyaAllah kurang dari 3 semester lagi."


Tak terasa obrolan harus berakhir karena nasi goreng sudah selesai. Zaky mengeluarkan uang dari dompetnya sejumlah total yang disebutkan Kia.


"Ini lebihnya buat Kia. Buat jajan. Jangan ditolak ya. Kamu seperti adik bagiku."


Kia termangu menatap Zaky yang bergegas pergi. Sempat menyapa Bapak dulu sebelum berlalu.


"A Zaky, tunggu!" Kia mengejar Zaky yang bersiap mengenakan helm full face di samping motor.


"Ya, Kia."


"Kalau aku dianggap adik, boleh dong aku salim dulu. Kan A Zaky mau pergi lama." Lagi, Kia mendapat keberanian yang entah dari mana.


Zaky tersenyum. Ia mengulurkan tangan.


Kia mencium tangan kekar itu dengan menyentuhkan ke kening. Masih berdiri mematung begitu motor Ninja sudah melaju. Ia memegang kepalanya yang baru saja diusap oleh Zaky.


"Adik? Padahal aku berharap kamu jodohku di masa depan." Kia menundukkan kepala. Lesu.


Sebelum kembali ke tenda, Kia merogoh saku untuk melihat lipatan uang pemberian Zaky. Terkaget dengan lembaran merah total lima lembar.


Zaky membeli nasi goreng semata untuk dibagi-bagikan. Mau makan di rumah hanya alasan karena sebenarnya sudah makan sekalian mentraktir teman-teman komunitas Ninja yang hadir berjumlah 18 orang. Butuh waktu satu jam berkeliling hingga 10 bungkus nasi goreng itu habis dibagikan pada yang hak. Waktunya pulang ke rumah.


...🌻🌻🌻...


Bestie, ini bulan terakhir BAJC. Yuk vote dan gift lagi menjelang perpisahan. 10 iklannya jangan lupa karna siap² dihitung.

__ADS_1


Makasih yang slalu sabar menanti munculnya update story AmBar. 🫠


__ADS_2