Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
71. Pertemuan Yang Kuimpikan


__ADS_3

Mobil berhenti di bahu jalan yang cukup lebar. Berjarak sekitar 4 meter sebelum lapak nasi goreng "Kabita" yang mangkal di depan halaman toko yang sudah tutup. Merupakan lokasi dagang yang sama setiap harinya yang mulai buka dari jam lima sore sampai jam sebelas malam.


"Aa, cari ide lagi biar kita bisa makan nasgor bayar. Soalnya bapaknya Kia udah kenal sama Aa. Aku gak mau free ya. Mana hari ini baru mulai buka lagi." Ami mengamati dari kaca mobil pada situasi lapak nasi goreng yang sudah ramai pembeli. Beberapa orang nampak berdiri di luar tenda sambil main ponsel. Mungkin pembeli yang memesan untuk dibawa pulang.


Kening Zaky berkerut tipis. Sejenak berpikir masih dalam posisi duduk di jok kemudi. Benar apa kata Ami. Sudah dua kali bertemu bapaknya Kia waktu makan nasi goreng pertama kalinya dan waktu di klinik saat mengantar Ami menengok adiknya Kia yang sakit. Ia pun mengamati keadaan sekitar.


"Aa mau nyuruh tukang parkir aja yang pesenin. Kita duduknya di tikar yang paling sisi, Mi." Zaky mengajak turun. Ada dua tikar yang kelihatan masih kosong.


"Kang!" Zaky menghampiri tukang parkir yang sedang merapihkan jajaran motor yang terparkir. "Mau minta tolong pesenin nasi goreng spesial dua porsi tidak pedas. Dibungkus tiga. Dan buat akang 1 porsi, jadi totalnya enam. Tolong banget ya, Kang. Sekalian bayar duluan." Dua lembar uang seratus dan lima puluh ribu diserahkan pada tukang parkir yang semangat menyanggupi karena ada jatah. Ia menunjuk tempat duduknya yang sudah lebih dulu diisi Ami dan Rasya.


Berjalan ke arah Ami, Zaky sempatkan mengintip dari sela kain spanduk sisi kanan. Penasaran. Ada Kia yang dengan cekatan membungkus nasi goreng yang baru dituangkan bapaknya. Ibunya Kia juga gesit sedang memotong-motong ati ampela.


"Kia udah datang belum ya?" Ami menoleh pada Zaky yang baru duduk di samping kirinya.


"Ada. Lagi sibuk bungkus-bungkus. Sampai gak merhatiin ada pembeli nge shoot."


"Kia mah B aja karena udah gak aneh. Penjual nasi gorengnya cantik sih. Jadi viral yang menguntungkan. Gak perlu pasang iklan deh." Ami melakukan foto selfie yang ter capture tiga orang. Dikirimkan ke grup keluarga dan juga ke ayang.


Selang lima belas menit kemudian. Zaky melihat Kia membawa nampan yang ternyata menuju ke arahnya. Sigap berdiri dan menyongsongnya. "Sini aku bantuin, Kia!"


Kia mendongak saat langkahnya terhalang pemuda bersarung. Kaget begitu melihat wajah di hadapannya adalah Zaky. Sehingga nampan yang dipegangnya diambil alih pun tak disadari. Terkesima dan tak menyangka sehingga melongo. Barulah tersadar saat mendengar suara Ami memanggilnya.


"Kia....kita belum lebaran." Ami berdiri dan melangkah sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ih Ami...kenapa gak bilang dulu kalau mau kesini? Maaf lahir batin ya." Kia melakukan cipika cipiki diiringi omelan. Antara senang campur grogi karena ada Zaky.


"Kita lagi jalan-jalan di Tasik. Gak ada niat tapi ada kesempatan. Jadinya spontan kesini deh. Tuh inisiatif A Zaky pengen makan nasgor Kia katanya." Ami menunjuk dengan dagu pada Zaky yang baru berjongkok menurunkan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh dari nampan.


"Malah jadi A Zaky yang direpotin." Kia bergegas membantu mengangkat mangkuk kerupuk dari nampan. Ia pun mengulurkan tangan mengajak bersalaman momen lebaran. Rasanya selalu sungkan jika berdekatan dengan Zaky yang selalu terlihat cool. Apalagi sekarang datang mengenakan sarung dan baju koko. Auranya itu....entahlah, Kia merasa bingung mendeskripsikan.


"Aku bantuin Kia karena udah laper. Pengen buru-buru makan. Kalau gak sibuk, disini aja temenin kita." Zaky pun mulai mencicipi nasi gorengnya.


Kia menurut. Duduk di dekat Rasya yang mulai disuapi oleh Ami. Terlibat obrolan santai dengan Ami yang membahas rencana kerja kelompok yang waktunya bersamaan dengan ujian kelas 12 karena akan libur seminggu. Sesekali melirik Zaky yang anteng menekuri piring tanpa bicara, tanpa main ponsel. Sehingga selesai makan dengan cepat.


"Aa, ini nasgor yang dibungkusnya. Jatah saya mah mentah aja buat beli rokok." Ucap tukang parkir yang menyerahkan kantong kresek ke depan Zaky yang mengucapkan terima kasih.


"Oh yang tadi itu pesanan A Zaky? Yang dibungkus mah gak usah dibayar. Tunggu aku ambil dulu kembalian." Kia hendak beranjak, namun tangannya dicekal Ami.


"Aku gak ikhlas lho Kia, kalau uangnya dibalikin. Bakal kapok kesini lagi. Ya kan, A?" Ami menoleh menatap Zaky.


"Bener. Ini jadi yang terakhir kita kesini." Zaky menatap Kia dengan sorot tegas.


"Iya deh iya. Ami dan A Zaky jangan pundungan. Tapi nanti kalau mau kesini tuh kabarin dulu."


"InsyaAllah." Zaky menyahut dengan santai dan tenang. "Kia, kalau santai main juga ke rumah. Kali-kali nginep mumpung belum masuk sekolah. Kayak aku dulu waktu SMK, kalau libur lebaran, dua sohibku suka nginep."

__ADS_1


"Ah iya bener. A Fathur dan A Ibeng si tukang ngorok tuh. Ayo Kia nginep yuk. Biarin jadi tidur bertiga juga. Soalnya ini si Ucul nempel terus gak mau tidur sama emak bapaknya."


"AA LAS SYA bukan Ucul." Ralat Rasya dengan mulut menggembung karena penuh makanan. Telunjuknya terangkat sebagai bentuk protes.


"Euh, iya atuh iya Aa Rasya. Harus ya diralat." Ami mengusap remah di sudut bibir keponakannya itu.


Kia tertawa kecil melihat kelucuan Rasya. Menjawil pipi bocah tampan itu dengan gemas. "Maaf, aku gak bisa nginep. Libur lebaran itu lagi ramai-ramainya yang jajan. Aku harus bantuin bapak."


***


Tiba lagi di rumah jam delapan lebih. Oleh-oleh nasi goreng diserahkan Ami kepada Puput yang sedang bersantai di ruang tengah bersama Ibu dan Rama. Yang kemudian langsung dibuka karena wanginya menggoda.


"Hallo, Teh." Ami menerima sambungan telepon dari Aul.


"Mi, yang jadi MC buat besok kan Reno. Barusan dia ngabarin abis jatuh dari motor. Kaki kanannya terkilir, gak bisa jalan. Besok batal jadi MC deh." Jelas Aul di ujung telepon.


"Iya, terus siapa gantinya?" Ami merespon dengan serius. Ia kenal Reno sebagai salah satu sahabatnya Aul. Teman kampus.


"Gantinya sama Ami aja."


"Eh, mana bisa. Gak mau ah." Suara Ami yang meninggi membuat semua orang memperhatikan dengan kening mengkerut.


"Bisa lah. Ami kan biasa ngemsi di acara sekolah."


"Ya tapi ini kan beda. Mana yang ngumpul keluarga besar, bikin grogi. Masih mending audience nya yang gak dikenal. Masih bisa santuy, bisa pede."


"Eh eh, Teteh....tunggu dulu!" Ami berdecak karena sambungan sudah putus.


"Ada apa sih, Mi?" Puput penasaran dengan pembicaraan Ami dan Aul di telepon.


"Teh Aul minta aku jadi MC besok. Gantiin A Reno yang batal jadi MC karena barusan abis jatuh dari motor. Kakinya terkilir. Aku kan ngemsi cuma di acara sekolah pas kegiatan rohis sama Pensi. Acara formal gini mah belum pernah. Bakalan nervous."


"Ami pasti bisa. Gak ada bedanya kok cuma beda judul aja. Rileks aja toh yang hadir keluarga semua. Hitung-hitung nambah jam terbang." Puput memotivasi.


"Masalahnya yang hadir ada ayang dan camer. Mereka itu yang bisa bikin nervous. Diliatin mereka takutnya jadi blank." Ami ingin sekali menyampaikan suara hatinya itu. Yang ada malah garuk-garuk kepala dengan wajah meringis karena galau.


"Ate, tenang ada Aa." Rasya berdiri di hadapan Ami sambil menepuk-nepuk dada.


"Ya Salam! Meleyot hati eneng jadinya." Ami menarik tubuh Rasya hingga duduk di pangkuannya. Memeluknya dengan gemas. Sementara Ibu dan yang lainnya mentertawakan ucapan Rasya yang sok dewasa itu.


Ami naik ke kamarnya usai mendapat draft susunan acara dari Aul. Memang tak banyak urutannya. Hanya pembukaan, tawasul dan tausyiah, doa, dan tutup. Hiburan musik gambus menjadi pengiring acara santai makan-makan. Ia berpikir, ada satu yang terlewat. Bergegas membuka ponsel dan menghubungi nama Padma.


"Hallo, Marimar."


"Munaroh lagi apa?"

__ADS_1


"Lagi nerima telpon dari Marimar lah."


"Oh iya bener juga. Padma, aku mendadak jadi MC di acara besok nih. Acara syukuran lebih afdhol kalau ada pembacaan ayat suci Al Qur'an. Dan aku mau nunjuk kamu jadi qoriah. Siap ya, Munaroh?"


"Waduh. Jangan Padma ah, nervous."


"Aku juga sama nervous, Padma. Tapi kalau dua orang nervous bersatu, sama dengan menjadi satu keberanian. Padma kan pernah juara hafiz, pasti bisalah tampil di depan banyak orang. Ayo kita buat keluarga bangga dengan talent kita." Ami bukan hanya memotivasi Padma, akan tetapi juga memotivasi diri.


"Oke deh. Padma siap."


Ami menghela nafas lega usai berakhir sambungan telepon. Mumpung Rasya masih di bawah, ia membuka pintu lemari gantung. Menengok boneka Panda yang terpaksa dikarantina dulu daripada tidur dipeluk si Ucul dan terkena gugusan pulau.


"Panda, besok aku akan bikin surprise. Aku bakal jadi MC. Kamu bakal terpesona gak? Awas jangan sampe salto ya lihat si Cutie ternyata multi talent. Hihihi" Ami menutup sesi curhat dengan mengusap-usap kepala Panda dan memberi ciuman di kedua pipi dan bibir.


Pintu didorong dari luar. Ada Rasya yang masuk diantar oleh Zaky. Sudah berganti memakai baju tidur dengan membawa bola basket mini.


"Ate, Aa udah gosok gigi sama Umma." Rasya melapor dengan memamerkan deretan giginya yang bersih dan rapih. Lalu loncat ke tempat tidur.


"Bagus. Sekarang waktunya kita bobo udah malam." Ami menyimpan ponselnya usai membaca pesan dari Akbar yang berpesan agar besok jangan telat datang.


***


Ibu Sekar menatap pantulan penampilannya di depan cermin. Sudah siap berangkat ke hotel Seruni. Menunggu dulu Pak Bagja yang akan datang ke rumah karena ingin berangkat sama-sama.


"Sekar, kalau besok Ami ngasih restu, aku sanggup datangin penghulu sorenya. Biar kita langsung nikah aja. Mumpung anak-anak kita kumpul lengkap."


"Sabar, Kang. Tidak baik tergesa-gesa. Aku masih punya kakak laki-laki yang akan jadi wali. Kita harus silaturahmi dulu ke rumahnya. Tunggulah minimal Ami selesai ujian."


"Iya memang aku udah gak sabar. Soalnya bukan setahun dua tahun aku menunggumu. Jadi momen ini sangat ditunggu sekali. Ah, aku berasa jadi anak muda lagi. Kasmaran sama kamu."


Wajah Bu Sekar merona tanpa dipinta, mengingat percakapan malam sebelum kedatangan Pak Bagja di hari lebaran kedua kemarin. Kini sang purnawirawan itu sudah naik status menjadi calon suami. Ia buru-buru menetralkan ekspresi begitu mendengar suara ketukan di pintu.


"Bu, Pak Bagja udah datang." Ami hanya melongokkan kepala di pintu yang dibuka sedikit.


"Yang lain sudah siap belum, Mi. Kita berangkat sekarang aja." Ibu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh menit. Keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Udah siap semuanya tuh di ruang tamu." Sahut Ami yang kembali menilik-nilik riasan wajahnya menggunakan kaca bedak yang ada di dalam tas selempang. Ini kali pertama ia memakai tas hadiah dari Pak Bagja juga baju hadiah dari Mama Mila.


Sementara di hotel Seruni, hotel bintang tiga yang berada di kota Tasik, Akbar memasuki area restoran yang sudah disterilkan dari tamu luar karena akan dipakai acara keluarga. Sarapan pagi tamu hotel dialihkan ke area rooftop dan Coffee Shop. Ia sidak kesiapan segala sesuatunya. Dan semuanya sudah oke 100%. Memuaskan.


"Assalamu'alaikum."


Akbar menjawab salam Panji yang tiba lebih dulu bersama Aul. Bersalaman dalam kehangatan keluarga dan masih suasana lebaran.


"Yang lain mana, udah sampe belum?" Akbar menatap pintu kaca restoran, namun belum terlihat ada yang menyusul masuk. Terutama tidak sabar ingin melihat sosok si Cutie.

__ADS_1


"Udah di lobi katanya. Ini Ami ngasih kabar." Sahut Aul yang baru saja membaca chat masuk.


Akbar mengangguk dan tersenyum samar. Biar senyum lebarnya hanya dalam hatinya saja. Tak berselang lama, ia melihat rombongan yang berjalan memasuki pintu restoran full kaca yang sudah dibuka lebar. Papi Krisna dan Ayah Anjar yang paling depan memimpin masuk. Ia langsung mengunci pandangan pada gadis bergaun pink floral dipadu hijab pashmina warna baby pink polos. Pertemuan yang semalam sampai diimpikan, kini jadi kenyataan.


__ADS_2