Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
47. Kegelisahan Ami


__ADS_3

"Kia, mau turun di lampu merah atau langsung ke klinik?" Ami menggandeng tangan Kia usai keluar dari ATM center.


"Turun di lampu merah aja, Mi. Aku ganti baju dulu terus ke klinik gantiin Mama."


"Aku anterin deh. Kita bareng ke kliniknya soalnya mau nengok Riva juga."


Sontak Kia menghentikan langkah dan menoleh. "Kalau gitu langsung ke klinik aja. Gak enak lah masa Ami dan A Zaky harus nungguin aku ganti baju."


"Santai aja, Kia. A Zaky gak akan keberatan nunggu kok. Biar kamu gak bolak-balik juga, kan? Ayo!" Ami mengajak Kia berjalan lagi menuju mobil yang sudah terparkir di bahu jalan.


Mobil berhenti didekat jalan gang menuju rumah Kia. Jalan selebar satu meter itu hanya bisa dilalui motor.


"A Zaky, gak apa-apa harus nungguin?" Kia menatap sang pengemudi sebelum turun. Rasa tidak enak hati nampak jelas di wajahnya.


Zaky menoleh ke belakang. "Santai aja, Kia. Jangan terburu-buru biar gak ada yang ketinggalan."


Kia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Begitu turun, bergegas setengah berlari memasuki gang. Lalu menghilang. Hal itu tak luput dari perhatian Zaky.


"Mi, jauh gak rumahnya?" Zaky menatap Ami dari spion tengah. Adiknya itu sedang bermain ponsel.


"Deket kok. Dari belakang toko ini, rumah Kia yang urutan keempat, cat rumahnya warna biru muda. Gampang nyarinya." Ami menunjuk ke arah toko percetakan.


"Gimana Kia bisa masuk Al Barkah?" Zaky semakin penasaran. Secara sekolah swasta Islam Terpadu itu biayanya mahal tapi sebanding dengan kualitas pendidikan serta sarana dan prasarana.


"Kia dapat beasiswa. Untuk uang bangunan dan SPP sepenuhnya ditanggung yayasan, dengan syarat harus bertahan ranking di sepuluh besar. Alhamdulillah kemarin ranking dua, asalnya ranking tiga. Kia tuh rival aku dalam prestasi." Ami terkekeh.


Zaky manggut-manggut. Rasa penasarannya sudah terpuaskan.


"Mi, ini buat amplop." Zaky mengeluarkan dua lembar uang dari dalam dompetnya.


"Biar dari aku aja. Aku udah siapin 300. Tadi ngegesek ada sisa uang jajan." Ami tidak menerima uluran uang itu.


"Gabungin aja. Aa juga pengen beramal."


Ami pun menurut. Segera menyatukan uang dari Zaky ke dalam amplop. Dari kaca jendela nampak Kia berjalan cepat menuju mobil dengan sudah berganti pakaian dan menggendong tas.


.


.


Jarak klinik dokter umum tidak begitu jauh. Hanya ditempuh sepuluh menit berkendara. Pertimbangan Kia memilih merawat sang adik di klinik, karena pelayanan serta kamar lebih baik daripada di rumah sakit umum kelas tiga.

__ADS_1


"Mama, ini ada Ami dan Aa Zaky kakaknya Ami." Kia memperkenalkan tamunya yang hendak menjenguk.


Ami dan Zaky menyalami Bu Dewi, mamanya Kia. Wanita berusia kepala empat itu menyambut ramah dan mengucapkan terima kasih karena menjadi tamu pertama yang datang menjenguk Riva.


***


Seorang pria paruh baya baru saja duduk di sofa ruang tamu. Tubuh tegap dan gagah serta ramping meski sudah menjadi purnawirawan. Karena selalu rutin menjaga kesehatan dengan berolahraga.


"Pak Bagja mau minum apa?" Bu Sekar masih berdiri usai mempersilakan tamunya duduk. Sebelumnya, sang tamu sudah mengabari akan datang. Dan kini datang dengan membawa buah tangan berupa sekotak udang segar yang katanya baru panen.


"Apapun yang kamu buatkan akan aku minum." Pak Bagja tersenyum mesem.


"Kalau aku kasihnya racun gimana?" Bu Sekar mengulum senyum.


"Kamu udah lebih dulu meracuni hati dan pikiranku lewat wajah dan kelembutan sikap. Sampai tak mampu berpaling menatap yang lain."


"Hm, bisa aja." Bu Sekar memalingkan wajah yang merona. Ia pun pamit ke belakang dengan membawa serta oleh-oleh. Tak dipungkiri ada desiran yang merambat ke sanubari.


Pak Bagja tersenyum tipis sambil menatap punggung yang menjauh. Hingga delapan menit kemudian, wanita yang mengenakan gamis coklat flora itu datang lagi dengan membawa nampan.


"Kenapa gak sama bibik aja? Aku jadi merepotkanmu." Pak Bagja memperhatikan Bu Sekar yang menyimpan secangkir teh dan sepiring camilan di meja.


"Tamunya cuma satu orang. Aku gak repot kok"


Bu Sekar tersenyum simpul. "Pak Bagja memang tamu spesial. Karena biasanya aku selalu nolak kedatangan tamu pria yang bertamu seorang diri."


"Sekar, ucapanmu udah membuncahkan dadaku. Tapi kenapa harus menekan rasa yang ada jika kita sama-sama saling menginginkan." Pak Bagja menatap Bu Sekar penuh kelembutan. "Terus terang, dua tahun aku mencoba melupakanmu tapi hati ini mati rasa. Tidak tertarik lagi untuk mencari pendamping hidup. Karena apa? Karena aku sudah jatuh hati pada pesonamu."


Bu Sekar menundukkan wajah sambil menjalin jemari. Tidak kuat membalas lama tatapan Pak Bagja. Ini kali kedua pria yang masih gagah itu menyebut namanya langsung. Sejak kedatangan yang mengejutkan di taman mawar waktu itu, komunikasi terus terjalin. Apalagi sudah dua kali ia dan anak-anak mengikuti pengajian di rumah sang purnawirawan itu.


"Pikir ulang lagi, Pak. Aku ini wanita tua menjelang menopause. Wanita muda masih bisa kamu dapatkan. Paham kan arah pembicaraan aku?" Bu Sekar menegakkan kepala menatap sang tamu.


"Aku juga pria tua, Sekar. Yang terutama dibutuhkan di usia tua adalah kehidupan berkasih sayang. Kebutuhan biologis cukup sekedarnya. Tak lagi berapi-api seperti usia muda. Paham kan keinginan aku?" Pak Bagja menaikkan satu alisnya.


"Aku selalu kalah jika berbicara dengan ahli strategi." Bu Sekar menghela nafas panjang.


Pak Bagja terkekeh. "Oh ya, sampai lupa tujuan kesini. Aku mau pamit. Besok akan ke Jakarta dengan Gina. Di Jakarta menginap semalam. Lalu terbang lagi ke Jerman. Masa liburan Gina udah hampir habis."


Bu Sekar mengatupkan bibirnya. Terkejut, iya. Tak terasa ternyata waktunya akan berpisah lagi. "Perasaan belum lama ya liburan di Ciamis. Berapa lama akan tinggal di Jerman?"


"Tergantung." Pak Bagja tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Bu Sekar menautkan kedua alisnya sehingga menciptakan kerutan halus di kening. Diam, menunggu penjelasan.


"Tergantung dirimu kapan membuka hati. Maka aku akan secepatnya kembali ke tanah air dan melamar pada anak-anakmu. Puput, Aul, Zaky, dan Ami."


Mulut Bu Sekar sudah terbuka siap berucap. Namun suara ucap salam mengurungkan niatnya. Bersamaan dengan Pak Bagja menoleh ke arah pintu masuk yang terbuka lebar sambil menjawab salam.


"Eh ada Bapak. Sudah lama, Pak?" Zaky yang berinisiatif bertanya basa basi karena melihat Ami berdiri mematung sambil menatap Ibu dan Pak Bagja silih berganti.


"Ada kurang lebih setengah jam." Pak Bagja memberikan tangannya karena Zaky akan menyalami. Ami yang sejenak berwajah datar, tak luput menyalaminya


"Ami baru pulang sekolah?" Pak Bagja tersenyum menatap Ami yang beralih menyalami Ibu Sekar.


"Pulang sekolah tadi jam tiga, Pak. Aku mampir dulu ke klinik nengok adiknya teman." Ami duduk di samping Ibu karena Ibu memintanya.


Obrolan ringan berlanjut. Terutama Pak Bagja dan Zaky yang lebih interaktif karena membahas libur kuliah yang akan selesai dua minggu lagi. Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore dan sang tamu berpamitan.


.


.


Selepas Isya, Ami menunggu kakak pertamanya menelpon. Usai mandi sore ia menghubungi Puput untuk curhat tentang kegelisahannya. Namun sang kakak sedang sibuk dan berjanji akan menelepon balik sebelum jam delapan malam.


"Tergantung dirimu kapan membuka hati. Maka aku akan secepatnya kembali ke tanah air dan melamar pada anak-anakmu. Puput, Aul, Zaky, dan Ami."


Ami mengingat kembali ucapan Pak Bagja yang tidak sengaja didengarnya saat akan menuju pintu. Sampai saling tatap dengan Zaky yang juga sama-sama mendengarnya. Ia mengayun-ayunkan tangan boneka pandanya sambil rebahan santai di kasur empuknya. Tak lama, ponselnya berdering.


"Teh, aku mau curhat!" Sambar Ami dengan cepat sambil memposisikan diri duduk dengan nyaman.


"Oke. Soal apa, Mi? Soal pertandingan bukan?"


"Bukan. Ini soal Ibu. Tadi sore ada Bapak Happy bertamu. Pas aku sama A Zaky baru pulang dan mau masuk, aku denger Pak Happy nembak ibu." Ami pun menyampaikan kalimat Pak Bagja yang didengarnya.


"Oh, gitu ya. Terus Ibu jawab apa?" Suara Puput terdengar tenang. Berbanding terbalik dengan suara Ami yang bernada kerisauan.


"Ibu belum jawab keburu aku masuk. Salah aku sih harusnya sabar dulu nguping jawaban Ibu." Ami mendecak kecewa oleh ketidak sabaran dirinya tadi.


"Terus Ami keberatan kalau Ibu mau nikah sama Pak Bagja, gitu?" Intonasi suara Puput terdengar bijak dan tetap tenang.


"Iya." Singkat Ami.


"Alasannnya kenapa, Mi?"

__ADS_1


"Karena gak perlu orang luar untuk menjaga Ibu. Masih ada aku yang nemenin Ibu setelah Teh Aul pindah rumah, A Zaky ke Singapura lagi."


Sejenak suasana hening. Puput belum berbicara. Ami diam menunggu.


__ADS_2