
"Ampun, Ma!" Papa Darwis mengusap ujung kumis yang baru saja ditarik Mama Mila. Resiko menjahili istri yang sedang dalam mode serius dan kalut, ya gitu sudah biasa. Tubuhnya akan jadi sasaran kekesalan. Ia beralih merangkum bahu istrinya itu tanda perdamaian.
"Akbar, Mama masih gak percaya. Sejak kapan kalian jadian? Apa Ibu Sekar sudah tahu? Ah sepertinya belum tau ya. Soalnya waktu wedding Iko biasa-biasa aja" Mama Mila mulai bisa tenang, tak seheboh seperti di awal usai mendapat usapan lembut Papa Darwis di bahunya.
"Baru tiga bulan, Ma. Jadiannya waktu resepsi Panji dan Aul. Udah kenal Ami waktu dia masih SMP. Anaknya rame dan kocak. Ketemu dia lagi udah SMA. Selain dia pintar di sekolah dan berprestasi di bidang silat, Akbar suka dengan kepribadiannya. Belum ada keluarga yang tahu hubungan kita. Karena keluarga Ami melarang pacaran saat masih sekolah. Baru Leo dan Tasya aja yang tahu. Jadi, Mama dan Papa bisa dukung Akbar?" Akbar menatap ekspresi orang tuanya yang kini duduk satu kursi.
"Ami nya sendiri gimana, Bar?" Papa Darwis buka suara, lebih dulu menanggapi.
"Akbar dan Ami udah bicara serius soal masa depan. Akbar ngajak Ami nikah setelah lulus SMA. Kuliahnya setelah nikah. Dan Ami siap. Tinggal sekarang Akbar yang berusaha ngeyakinin keluarga Ami agar mau ngerestuin. Tapi sebelumnya, Akbar butuh restu Mama sama Papa dulu."
"Papa sih yes."
"Pa, ini bukan audisi nyanyi. Papa yang serius. SERIUS, PAPA!" Mama Mila mengeplak paha Papa Darwis dengan gemas karena suaminya itu menanggapi dengan santai-santai saja. Sementara ia kembali kaget dengan fakta sang anak sudah melangkah sangat serius dengan si cantik yang masih kinyis itu.
Akbar kini tak lagi menahan tawa melihat Mama Mila yang jengkel.
"Mama tahu kan Rinto, teman Papa yang jadi dosen di Surabaya?"
"Iya tau. Apa hubungannya bawa nama Rinto segala? Kita fokus dulu ngebahas anak kita, Pa."
"Dengar dulu penjelasan Papa, Ma. Rinto itu sampai umur 54 tahun masih bujangan. Dia akhirnya nikah sama mahasiswa bimbingannya yang baru lulus S1 di umur 24 tahun. Padahal selama ini apa kurangnya si Rinto secara kasat mata. Penampilan selalu flamboyan, karier cemerlang sebagai dosen di dua kampus, yang naksir juga banyak. Entah apa alasan dia hingga baru mantap menikah di umur segitu. Poinnya adalah, jodoh akan datang di waktu yang tepat dengan orang yang tepat pula. Sekarang dia baru punya anak umur tiga tahun dan keliatan sangat bahagia. Ngedukung istrinya kuliah lagi S2."
"Nah sekarang kita bahas Akbar. Kamu sama Ami beda umur berapa, nak?" Papa Darwis beralih menatap Akbar.
"Beda enam belas tahun, Pa."
"Papa yakin Akbar gak gegabah dalam memilih calon istri. Karna Papa tahu watakmu yang selalu membuat konsep perencanaan dalam hal apapun. Papa juga tahu selama ini banyak perempuan yang naksir kamu. Tapi kenapa malah jatuh hati sama Ami yang masih belia? Pasti ada something yang jadi daya tarik. Dan jika bicara soal umur, umur dewasa gak menjamin kedewasaan pemikiran. Dan pasti Akbar udah menilai kepribadian Ami, kan. Makanya mantap merencanakan masa depan. Jadi restu dari Papa sih yes." Papa Darwis mengakhiri penjelasan panjangnya dengan satu tiket restu.
"Mama konsisten dengan ucapan di awal. Kalau Akbar merasa cocok, Mama akan support. Mama tuh tadi syok karena gak nyangka aja. Mama sempat godain Ami, kirain udah kuliah mau dijadiin mantu. Ternyata beneran bakal jadi mantu kinyis. Owalah....Mama bakal satu besan sama duo R. Ratna Ratih." Mama Mila tersenyum lebar dengan mata berbinar.
Akbar terkekeh usai menghela nafas lega. "Akbar minta tolong, Mama sama Papa jangan dulu heboh, rahasiakan kepada siapapun. Terutama Mama. Jangan dulu ngerumpi sama Tante Ratna dan Tante Ratih. Cukup tau aja dulu. Karna Ami maunya rahasia dulu. Nunggu nanti kelas dua belas, baru Akbar bicara ke Ibu Sekar."
"Tuh, Ma. Denger gak?" Papa Darwis melirik Mama Mila. "Cuma Mama yang dikhawatirkan Akbar, jangan sampai rem blong."
__ADS_1
"Iya-iya. Demi Akbar, Mama siap jaga rahasia. Tapi Mama boleh kan kalau kapan-kapan ketemu Ami atau teleponan?"
"Boleh, Ma."
***
Kabar restu itu pun diterima Ami esok harinya. Akbar sengaja menelepon di saat jam istirahat sekolah.
"Aduh, aku jadi malu kalau nanti ketemu Tante Mila dan Om Darwis." Ami menggigit bibirnya karena berbagai rasa berkecamuk. Yang menjurus pada satu kata. Bahagia.
"Mana ada Ami yang pemalu. Aku kenalnya Ami Selimut yang narsis." Sahut Akbar di sebrang sana diiringi tawa renyah.
"Ish, ini beda lah. Soalnya berhadapan dengan calon mertua. Hihihi."
"Be calm, Ami kan calon mantu BNI."
"Ish, Pandaaaa jangan ledekin aku. Dah ah, mau jajan dulu." Ami merajuk manja mendengar Akbar malah tertawa lagi.
Hingga waktu pun tak terasa berlalu dan Ami mulai disibukkan belajar menghadapi ujian akhir semester. Ia meminta Akbar jangan lagi order makanan sebagai teman belajar. Mengingat ada Ibu yang setiap hari ada di rumah dan selalu perhatian menyiapkan camilan yang berbeda-beda setiap harinya. Berbeda dengan dulu karena Ibu berada di Jakarta menengok kelahiran Baby Rayyan.
Ujian selama seminggu pun dilalui dengan kalimat motivasi yang selalu dikirim Akbar setiap sore. Akbar menahan diri untuk tidak menelepon apalagi video call. Demi menjaga fokus Ami dalam belajar. Hingga ujian berlalu dan berganti hari waktunya pembagian raport.
"Ami mau ikut atau Ibu sendiri yang ke sekolah?" Tanya Ibu Sekar yang sudah berpakaian rapih siap berangkat. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Ibu aja. Aku mau di rumah aja jadi satpam." Ami beranjak membereskan piring kotor bekasnya dan bekas Ibu.
"Bu...kalau aku gak ranking satu lagi jangan marahin aku ya. Aku udah belajar maksimal. Soal hasil akhir ya gak tau." Ami menggelayut di lengan Ibu sambil mengantar ke depan.
"Memangnya kapan Ibu marahin Ami yang waktu SMP rankingnya ketiga atau kelima? Ibu gak pernah nungtut anak-anak harus ranking satu. Yang wajib itu belajar sungguh-sungguhnya. Ranking mah bonusnya."
Ami terkekeh dengan penjelasan Ibu yang sudah diprediksinya itu. Memang diakui ibunya itu Ibu yang bijak. Gak pernah menuntut tapi mendukung dalam pendidikan maupun lingkungan pertemanan. Selama di jalur baik dan membawa dampak positif.
"Tumben Ami bicara pesimis. Takut batal hadiah umrah nya ya?" Ibu Sekar menatap Ami sambil menunggu Mang Kirman selesai memanaskan mobil.
__ADS_1
"Hm, mungkin iya. Soalnya aku pengen banget umrah bareng Ibu." Ami teringat ucapan Puput dua minggu lalu lewat sambungan video grup bersama seluruh keluarga lengkap lima orang. Kakaknya itu mengumumkan akan memberi hadiah umrah berdua dengan Ibu jika ia meraih ranking pertama lagi.
"Jangan cemas. Kalau Allah takdirkan berangkat, insyaallah akan terwujud. Kalau bukan dari hadiah Teh Puput, bisa jadi dari jalan lain."
Ami menghela nafas panjang. Ucapan Ibu mampu menenangkannya. Ia pun membukakan dan menutupkan pintu penumpang belakang. Melayani ibunya yang berangkat ke sekolah untuk mengambil raport semester satu.
Ami menyalakan televisi sebagai teman sepi. Tak dipungkiri pembagian raport kali ini membuatnya gelisah. Semester ini sebagai awal mula menjalin hubungan dengan Akbar. Akankah pacaran backstreet ini berefek pada prestasi belajarnya menjadi menurun. Tapi jika dievaluasi, justru perhatian Panda nya itu memecut semangat dalam belajar. Apalagi saat rasa malas dan jenuh melanda. Dengan curhat, moodnya kembali membaik karena Akbar selalu menjadi pendengar dan penasehat yang baik. Renungannya berakhir begitu mendengar notif pesan.
[Lagi apa, Cutie?]
Ami tersenyum lebar. Akbar selalu hadir di waktu yang tepat dibutuhkan.
[Lagi galau nunggu Ibu yang lagi ngambil raport]
Akbar: [Takut gak rank satu ya?]
Ami: [Iyaaa ๐]
Akbar: [Cup, jangan sedih. Sukses bukan berarti harus rank satu kok. Kan udah belajar maksimal. Skul Ami kan persaingannya ketat karena hanya pelajar yang pintar yang bisa masuk kesana]
Akbar: [Berapapun rankingnya aku akan tetap ngasih hadiah. Cause Cutie selalu juara di hati aku ๐]
Wajah Ami merona seketika usai membaca dua chat berturut-turut. Perasaan berbunga-bunga.
Ami: [Ahhh PBB deh jadinya ๐]
Akbar: [๐]
Akbar: [Sayang, udah dulu ya. Waktunya meeting]
Ami: [Mangat bekerja, Panda. Always ATK ๐]
Akbar: [Always KTP & MU, Cutie ๐]
__ADS_1