
Sudah satu setengah jam berlalu dari kepergian Ibu ke sekolah. Karena ditunggu, rasanya waktu berlalu sangat lambat. Ami sudah melakukan scroll media sosial, baca chatingan grup kelas ternyata semuanya gak ada yang ikut ke sekolah. Chat dengan Akbar pun tidak mungkin dilanjut karena sang CEO sedang sibuk. "Bollywood-an aja dulu gitu? Ah gak mood." Ujarnya bicara sendiri. Tak pernah segelisah ini menunggu Ibu pulang mengambil raport.
Suara pintu gerbang didorong terdengar dengan jelas. Wajah Ami berubah berbinar. Segera menyambar jilbab instan yang tersampir di sofa dan meluncur keluar.
"Mang Kir, Ibu mana?" Ami menatap heran karena hanya sopir yang ada di dalam mobil.
"Ibu dijemput Aa Panji sama Neng Aul. Mamang disuruh pulang aja, Neng."
Ami hanya membulatkan bibir membentuk huruf O. Bergegas masuk lagi ke dalam dan meraih ponsel untuk menghubungi ibunya.
"Bu, Ibu dimana? Mang Kir cuma pulang sendiri."
"Ibu dijemput teh Aul. Tunggu di rumah ya nanti Ibu datang sama Teh Aul, sama Kak Panji. Sebentar lagi pulang."
"Yaah Ibu, padahal aku udah galau pengen liat raport. Aku ranking berapa, Bu? Bertahan apa turun?"
"Nanti aja liat sendiri. Ibu udah bilang, ranking itu bonus. Yang penting Ami udah belajar maksimal. Ibu gak kecewa nilai Ami berubah. Sudah dulu ya, Ibu udah sampai butik nih."
Sambungan sudah berakhir. Namun Ami masih termenung mendengar ucapan Ibu.
Nilai berubah. Berarti aku gak ranking satu lagi. Apa ini dampak punya pacar. Mana backstreet lagi.
Ami menghela nafas kasar dengan praduganya sendiri. Ada perasaan bersalah jika sampai ranking merosot sejak punya pacar. Daripada terus gelisah menunggu, ia menaiki tangga menuju kamarnya. Ada Panda yang bisa dijadikan sandaran sambil bermain ponsel.
"Yaaah, low bat." Baru saja nyaman bersandar harus bangun lagi untuk mengisi daya. Jadilah tiduran memeluk pandanya yang bulunya lembut dan hangat.
Baby, take my hand
I want you to be my husband
'Cause you're my Iron Man
And I love you 3000 🎶
Ami bersenandung sambil memainkan tangan boneka Panda jumbonya itu diusap-usapkan ke pipinya.
Baby, take a chance
'Cause I want this to be something
Straight out of a Hollywood movie 🎶
__ADS_1
"Panda, kamu selalu MU kan. Tenaaang, aku akan liburan di Jakarta. Dan kita akan curi-curi waktu buat ketemu. Hihihi." Ami menjawil kedua pipi bonekanya dengan gemas.
"Amiiiii."
Ami hampir saja hendak tertidur saat suara Aul terdengar memanggilnya dari bawah tangga. Ia segera menyahut saat Aul kembali memanggilnya.
Ami turun dari ranjang dan berkaca sambil memakai jilbab instannya karena Ibu tadi bilang Kak Panji juga akan kesini.
"Mana raport, Bu?" Ami duduk di samping Ibu sambil membuka tangan dan nampak tidak sabar. Tidak memperhatikan Aul dan Panji yang duduk di sofa sebrangnya sedang senyum-senyum.
"Jangan berkecil hati. Masih ada semester dua untuk hasil yang lebih baik lagi." Ibu Sekar mengeluarkan raport dari dalam tasnya.
Kalimat Ibu mampu membuat hati Ami melengos sedih. Dengan menarik nafas dan mengeluarkan perlahan, ia siapkan mental sebelum membuka raport yang sudah digenggamnya. "Bismillah..."
"Alhamdulillah..." Ami berseru girang sampai berjingkrak-jingkrak. "Ibu ih udah ngeprank." Ia beralih menatap Ibu dengan bibir mengerucut. Ibu dan kakaknya malah tertawa-tawa.
"Sini sayang." Ibu berdiri dan membuka kedua tangannya dengan lebar. Yang kemudian Ami pun menghambur ke pelukan. "Selamat ya, nak. Nilainya emang berubah tapi berubah naik bukan menurun." Ia memberi usapan penuh kasih di punggung anak bungsunya itu. Terakhir mengecup kening.
"Selamat ya, Ate Ami." Aul pun memberi pelukan hangat. Dua minggu yang lalu baru pulang liburan dari Lombok. Memanfaatkan voucher liburan sebagai kado dari Akbar. Dan kemarin mendapat kejutan membahagiakan. Hasil tespek dua garis merah.
"Yeah, aku bakal nambah keponakan." Ami sudah tahu kabar bahagia itu karena kakak iparnya mengumumkan di grup keluarga hasil pemeriksaan serta foto usg dari dokter spesialis kandungan.
"InsyaAllah. Besok kita berangkat ke rumah Teh Puput karena agen travelnya di Jakarta. Manasik dulu sehari, lalu selasa berangkat umroh."
"Kok cepet? Kan harus daftar dulu dan cek kesehatan." Ami masih tidak percaya jika empat hari lagi akan terbang ke tanah suci.
"Ami ingat gak waktu teteh motoin Ami sambil berdiri di tembok itu." Aul menatap Ami yang mengangguk. "Nah fotonya teteh cetak buat persyaratan umroh. Paspor Ami juga ada di Ibu. Terus waktu kita nganter Ibu check up kesehatan, Ami juga divaksin kan. Itu teh vaksin meningitis sebagai syarat umroh. Pokoknya semua urusan administrasi Ami dan Ibu udah beres. Karena teh Puput yakin Ami bakal ranking satu lagi."
Mulut Ami menganga karena speechless. Tak mengira kedua kakaknya merencanakan dengan sangat rapih menjadi sebuah kejutan.
"Dan next surprise, Padma juga sama akan umroh bareng Ayah dan dan Bunda. Sebagai hadiah juara satu hafiz bulan kemarin itu. Jadi besok berangkat ke Jakartanya barengan ya." Ucap Panji yang sedari tadi menjadi penonton kehebohan Ami.
"Asyik bareng Munaroh juga. Ke kamar dulu ah mau telpon Padma." Ami semakin girang. Ia meninggalkan ruang tengah dengan langkah cepat. Masuk ke kamarnya dan mencabut ponsel yang baru terisi 80%.
"Padma, udah tau belum kita akan umroh bareng?" Ami to the point bertanya.
"Tau dong. Kalau Ami baru taunya sekarang ya? Ihihihi kacian. Kalau Padma udah tau dari dua minggu yang lalu. Kan duluan Padma yang juara." Padma kembali cekikikan.
"Ish, Munaroh. Kamu tega gak ngasih tau. Kita kan bestie."
"Kan kata Kak Panji harus jaga rahasia, Marimar. Hihihi."
__ADS_1
Obrolan pun tak lama berakhir karena Padma mau pergi bersama Bunda Ratih. Ami beralih mengirimkan foto raport ke Akbar yang ternyata langsung dibaca.
"Aku udah yakin Cutie bakal ranking satu lagi. Selamat ya, sayang."
Ami memejamkan mata. Kata 'sayang' membuat dada berdesir, hati nyes. "Ini berkat motivasi Coach Ayang juga. Hehehe. Makasih ya, Panda."
Di Jakarta, di sebuah ruang kerja yang luas dan estetik, Akbar berdiri di tepi kaca jendela. Tersenyum simpul mendengar ucapan Ami.
"Aku akan selalu support karena sayang Cutie."
"Hehe, iya aku tau. Oh ya Kak, aku jadi dapat hadiah umroh. Besok ke Jakarta ke rumah Teh Puput, terus manasik dulu, terus selasa berangkat. Jadi maaf ya kita gak ada waktu bertemu."
"Kata siapa gak akan ketemu? Jika gak bersama di Jakarta, kita akan bersama di tanah suci."
"Kak, maksudnya gimana?"
Akbar terkekeh mendengar nada suara Ami yang kaget.
"Aku juga akan berangkat umroh hari rabunya bersama Mama dan Papa. Nanti kita akan ketemu di Mekah ya, Cutie."
"Hah, serius Kak? Apa ini mendadak atau direncanakan?"
"Direncanakan dong. Kan Mama sempat meet up sama Tante Ratih dan Tante Ratna. Terus ngobrol-ngobrol rencana umroh ngajak anak-anak yang berprestasi yaitu Ami dan Padma pas libur sekolah. Tante Ratna gak bisa karna udah ada agenda. Mama lalu konfirmasi ke aku ngajak umroh. Karena ada schedule yang gak bisa digeser, jadinya kita berangkatnya pakai travel berbeda karena gak bisa berangkat selasa. Gitu sayang ceritanya."
"Oh begitu. Duh bahagiaku bertubi-tubi deh. Ya udah, sampai jumpa di depan Ka"bah. Hihihi."
***
Hari berangkat ke Jakarta tiba. Sejak kemarin Ami disibukkan packing barang yang akan dibawa. Ternyata Ibu mampir ke butik Sundari dulu untuk membeli beberapa gamis baru untuk baju ganti selama umroh. Kini mobil Ayah Anjar sudah datang menjemput. Ia pun duduk di jok paling belakang bersama Padma. Diiringi lambaian tangan Aul dan Panji, mobil yang dikemudikan Mang Yaya itu pun melaju.
Ami dan Ibu menginap di rumah Puput. Sementara Padma dan Ayah Bunda menginap di rumah Mami Ratna. Saat esok harinya pelaksanaan manasik, kembali berangkat sama-sama ke lokasi latihan.
Rombongan jamaah umroh satu travel, sudah berada di terminal keberangkatan bandara internasional Soekarno Hatta. Ami meminta tolong pada Padma agar memfotonya. Tentu saja buat laporan ke Akbar jika sebentar lagi waktunya memasuki pesawat.
[Fii Amanilah, Cutie. Insyaa Allah besok kita bertemu]
Ami tersenyum mendapat balasan cepat dari Akbar. Cukup membaca saja karena Panda nya itu akan memimpin rapat internal.
Bismillah, Mekah Al Mukaromah....aku datang.
Ami menatap gumpalan asap putih saat pesawat sudah mengangkasa. Hati melafalkan doa dan zikir agar perjalanan rombongan jemaah ibadah umroh ini diberi kelancaran dan kekuatan. Ada doa khusus yang akan dipanjatkan kelak saat berada di depan kabah.
__ADS_1