Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
70. Ambyar


__ADS_3

Panji dan Aul sudah pulang tadi jam empat sore. Suasana rumah masih tetap ramai karena keluarga kecil Puput menginap lagi usai semalam menginap di rumah Panji karena waktu dulu pengantin baru itu pindahan, tidak sempat ikut keburu pulang ke Jakarta.


"Papa mau kemana?" Rasya yang baru masuk ke kamar, mendongak menatap Papa Rama yang sedang mengancingkan baju di depan cermin meja rias.


"Mau ke masjid sama Om Zaky. Aa mau ikut?" Rama menyisir rambutnya yang setengah basah dengan gaya belah pinggir yang menjadi ciri khasnya.


"Yes, ikut-ikut." Rasya jingkrak-jingkrak dengan riang. Lalu mengganggu Rayyan yang sedang belajar berjalan, dengan mencium pipi tiba-tiba. Hampir saja jatuh terjengkang. Untung saja Puput sigap menahan. Tidak jadi terjengkang. Tidak jadi menangis.


"Aa wudhu dulu. Tapi celananya dibuka biar gak basah." Puput memilih setelan baju koko dari tumpukan yang baru kering cuci dan belum dilipat. Ia mendandani Rasya yang wudhunya masih asal-asalan dan sampai basah mengenai kaos. Berganti mengenakan setelan baju koko dengan peci krem senada celana. Penampilan yang membuatnya tersenyum dengan hati menghangat karena putra pertamanya itu terlihat tampan dan lucu. Sembari mengecup kening si sulung, ia langitkan doa semoga sang anak tidak hanya bagus rupa, akan tetapi juga bagus akhlak.


"Bye, adek. Aa mau ke masjid dulu." Penuh sayang, Rasya memeluk dan mencium pipi sang adik. Bergegas berlari menyusul papanya yang sudah keluar kamar lebih dulu.


Ami membuka mukena dan membiarkan teronggok di atas sajadah tanpa melipatnya. Menuruni tangga dengan langkah cepat menuju kamar Ibu. Apalagi kalau bukan bermaksud meminta izin pergi ke Tasik. Sebuah alasan sudah dipikirkan dengan matang. Sama sekali tidak berbohong, menurutnya.


Ami harus menunggu Ibu yang masih di atas sajadah sedang berdoa. Ia sengaja duduk di samping Ibu agar gesturnya kentara dan ibunya peka.


"Ada apa?" Ibu menoleh usai membaca surat Al Fatihah di penutup doanya.


"Aku mau pergi dulu ya. Pengen jajan roti yang di simpang lima Tasik. Boleh ya, Bu?"


"Sama siapa?"


"Sendirian aja. Boleh ya!"


"Ya udah. Pake mobil jangan motor. Sekalian beli roti tawar sama selai kacang udah habis. Uangnya ambil di laci."


Ami tersenyum lebar dengan wajah semringah. "Uangnya dari aku aja, Bu. Tenaaang, THR masih gendut gak kempes-kempes." Bagaimana dompet tidak gendut. Menjadi anak SMA ternyata amplop THR pun isinya berbeda alias makin besar. Saat silaturahmi ke rumah Enin, dapat THR dari Bunda Ratih, Mami Ratna, juga dari Enin. Belum lagi dari ketiga kakaknya. Bahkan Zaky yang kuliah dan mulai freelancer, memberinya dolar Singapura. Dan terbesar tentunya THR dari ayang.


"Jangan kemana-mana lagi. Langsung pulang, Mi!"


"Dari toko roti melipir dulu ke Seruni kan gak begitu jauh dari sana. Baru deh pulang." Sahut Ami yang terucap dalam hati saja. Ia cuma merespon warning Ibu dengan membulatkan telunjuk dan jempol sebagai tanda 'Oke'. Segera keluar dari kamar ibunya dan melangkah cepat lagi menaiki tangga.


Dengan penuh semangat, Ami berganti baju. Dandan kilat agar cepat berangkat biar tidak kemalaman. Belum sempat mengabari Akbar. Nanti aja kalau sudah di jalan.


Keluar dari pintu utama dengan lancar tanpa ada introgasi kedua. Karena Puput masih berada di kamar. Ami mendorong pintu gerbang besi dengan gerak sat set.

__ADS_1


"Ate, mau kemana?"


Ami sampai terjengit karena tahu-tahu si Ucul sudah berdiri di depan pintu gerbang. Barulah terlihat Rama dan Zaky berjalan cepat menyusul Rasya.


"Mau kemana, Mi?"


Belum menjawab pertanyaan Rasya, sudah disusul pertanyaan Zaky. Perasaan dandan sudah super cepat dan berniat nanti saja touch up lagi di parkiran hotel. Yang penting berangkat tidak terciduk dua orang itu. Faktanya...


"Mi, mau kemana?" Tanya Zaky lagi.


"Hah. Ini mau beli roti ke Simpang Lima. Ibu mau roti tawar. Pergi dulu ya. Awas jangan ngalangin jalan." Ami menekan remote untuk membuka kunci pintu mobil. Sengaja bergegas agar tidak terjadi drama.


"Aa mau ikut...ikut...ikut." Rasya mengejar Ami yang membuka pintu mobil. Ia sigap berputar arah ke pintu kiri. Lalu naik ke dalam mobil. Duduk manis di jok penumpang depan. Sampai-sampai Rama mengikuti takut anaknya itu tidak bisa diam saking senangnya.


Ami melongo tanpa berkedip. Keponakannya begitu sat set masuk ke dalam mobil. Sementara ia masih berdiri di samping pintu mobil yang sudah dibukanya.


"Sini kuncinya biar Aa yang nganter. Ami tolong ambilin dompet Aa di kamar di celana jeans yang menggantung di kapstok." Zaky mengambil kunci dari tangan Ami.


Ambyar ini ambyar. Gak jadi deh dinner sama Ayang.


"Aa aja yang ambil dompetnya. Kan sekalian sarungnya diganti celana."


"Nggak perlu. Mau pakai sarung aja."


"Emang pede? Kayak bapak-bapak aja pakai sarung."


"Jangan salah. Anak muda pakai sarung itu bisa bikin cewek klepek-klepek. Udah ganteng, penampilan santri. Bisa-bisa di Tasik ada yang ngajak taarufan nih." Zaky tersenyum miring sambil menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Rama tertawa dan mengacungkan satu jempolnya.


"Wekkk." Ami merespon dengan memeletkan lidah karena percaya diri kakak laki-laki satu-satunya itu. Beranjak pergi ke dalam untuk mengambil dompet Zaky.


"Aa minta dulu uangnya sama Umma gih." Rama menerima peci yang diulurkan Rasya karena tidak mau memakainya. Ia menyisir rambut sang anak dengan jarinya.


"Gak mau. Sama Papa aja. Aa takut ditinggalin." Rasya bergeming di tempatnya duduk.


"Biar dari aku aja, Kak." Sahut Zaky yang lalu menghidupkan mesin mobil setelah Ami masuk ke jok belakang.

__ADS_1


Mobil sudah melaju di jalan raya ketika ponsel Ami berbunyi notif pesan.


[Cutie, gimana bisa ke Tasik?]


Ami bergegas mengetik balasan.


[Ini otewe Tasik. Tapi aku dikawal A Zaky n Rasya. Jadi gak bisa ke Seruni deh. Cuma mau jajan aja. Maaf ya, Kak 🙁]


[Ok, gak apa-apa, Cutie. Aku malah salut sama Zaky yang posesif jagain adiknya. Jangan sedih, sayang. Besok kita ketemu. MU 😘]


Ami yang awalnya bete karena kecewa gagal ketemu, berubah bisa tersenyum mesem dengan hati yang menjadi adem usai membaca chat Akbar. Hingga tak terasa mobil sudah berhenti di parkiran toko roti.


"Ate ayo tulun!" Rasya paling bersemangat ingin membuka pintu mobil yang masih terkunci mode child lock.


"Iya, sabar atuh." Ami turun lebih dulu. Langkahnya yang kembali riang membawa sang keponakan memasuki pintu kaca toko roti yang besar itu. Disusul Zaky yang kemudian memilih dua macam roti dan minuman teh dingin kemasan botol.


"Ate....Aa juga mau beli roti buat adek, buat Umma, buat Papa, buat nenek."


"Iya, boleh. Aa pilihin ya." Ami merasa senang karena Rasya sudah punya sikap peduli terhadap keluarga. Acara jajan pun selesai dengan Zaky yang membayar semua belanjaan satu kantong kresek ukuran sedang.


"Mi, nasgor Kia udah buka belum?" Zaky duduk di kursi yang tersedia di depan toko. Membuka segel minumannya. Bersantai dulu sejenak. Rasya pun ikut-ikutan duduk sambil membuka satu rotinya.


"Hais, kirain Aa udah nanya langsung ke Kia. Baru buka lagi malam ini."


"Kata siapa?" Zaky menatap tak percaya. Soalnya kadang Ami suka mengada-ada.


"Tadi sore kita teleponan." Ami tak kalah dengan Rasya yang lahap memakan roti isi kacang ijo.


"Jajan nasgor dulu yuk, Mi. Lapar nih tadi sore gak ikutan makan." Zaky mengusap-usap perutnya yang mulai keroncongan.


Aku juga sama belum makan. Kan tadinya mau ikutan dinner sama keluarga Kak Akbar.


Ami cukup menyuarakan kejujuran itu di dalam hati. Dari bibirnya hanya berucap, "Hayulah, aku juga lapar.


"Aa juga lapal." Rasya tak mau ketinggalan berkomentar. Membuat Zaky terkekeh dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2