Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
77. I Love You 3000


__ADS_3

Akbar tersenyum melihat postingan terbaru Ami di media sosial. Keriaan anak-anak SMA yang merayakan selesainya ujian naik kelas. Kreatif dan kompak, begitu ia menilai. Dulu pada jamannya gak ada perayaan. Paling nanti pas kelulusan kelas 3 SMA konvoi motor sambil corat coret baju. Lalu malamnya pesta. Kenakalan remaja pernah dialaminya karena terbawa arus pergaulan. Tapi yang ia lihat pada regulasi sekolahnya Ami, tidak diperbolehkan aksi corat coret baju. Bahkan harus disumbangkan. Sebuah trend positif yang harus diapresiasi.


Sudah ada ratusan like serta puluhan komentar pada postingan yang dibuat 15 menit yang lalu itu. Jempol Akbar pun tak ketinggalan tap dua kali pada layar sehingga simbol love menjadi merah.


Kalimat komentar dikirimkan Akbar. Sekaligus ini komentar pertamanya di media sosial milik Cutie nya itu. Setelah sekian lama hanya mengintip dan menyimak saja. Sekarang pelan tapi pasti menuju keterbukaan relationship.


"Pak, waktunya berangkat meeting." Gita masuk ke ruangan Akbar yang pintunya terbuka lebar dengan membawa jas untuk dipakai sang CEO.


Akbar menutup ponselnya. Beranjak bangun dari kursi kebesarannya. Menerima uluran jas yang tergantung di hanger dan masih terbungkus kemasan silver dengan merk tailor ternama langganan artis.


"Leo mana?" Akbar bersiap ke kamar pribadinya yang tersamarkan pintunya seolah sama dengan dinding. Meski meeting di kantor Adyatama Group dengan presiden direkturnya Krisna Adyatama om nya sendiri, ia tetap profesional dalam penampilan. Pertemuan ini akan membahas kerjasama bisnis baru. Berharap om nya itu tertarik untuk investasi.


"I'm coming, Boss." Leo muncul dengan menenteng sebuah kerja. Memilih duduk di sofa begitu Akbar masuk ke dalam kamar.


Sementara itu di kota kecil dengan julukan Kota Santri, Ami dan kawan-kawan memenuhi meja di kedai bakso. Bubar selebrasi, melanjutkan acara makan-makan. Dan semua satu suara memilih bakso. Tak ketinggalan Almond dan dua rekannya yang sudah membantu dokumentasi, ikut diajak. Ada empat orang donatur yang akan membayar pesta makan bakso porsi 25 ribu itu. Yaitu Ami, Ozi, Almond, dan Sonya. Hampir semua meja sudah dikuasai para pelajar putih abu-abu total 40 orang itu. Penuh keriuhan canda tawa.


"Guys, liat igeh kalian masing-masing, plis. Postingan Ami di like and coment Coach Akbar. Huhuhu....mimpi apa kamu, Mi." Sonya memekik heboh dan rusuh. Ia mengarahkan hembusan angin mini fan ke muka yang merah dan berkeringat karena dua hal. Pertama karena histeria, kedua karena sensasi pedas kuah bakso.


Ami termasuk yang dibuat penasaran ikut membuka ponsel yang tergeletak di dekat mangkok baksonya, seperti yang teman-temannya lakukan. "Level up. Congrats @amiselimut." Sebuah komentar yang mengandung makna. Hanya ia dan Akbar yang tahu. Di saat semua temannya mengira sebagai ucapan naik kelas.


Ya Allah, ingin kubalas dengan emot love love deh.


Ami membatin dengan gemas. Ia balas saja dengan like dan komentar formal, "Makasih, Coach 🙃"


"Mi, disematkan dong Mi. Komen terspesial itu." Celetuk Yuma yang berada di meja jajaran ketiga.


"Udah lama disematkan di hati." Sahut Ami yang diteriakkan dalam hati. Sementara yang terucap hanya, "Udah cukup balas makasih ajalah, malu."


***


Hari-hari selanjutnya adalah hari bebas sembari menunggu pembagian raport. Tugas Ami pun sebagai MC acara perpisahan kelas 12 sudah selesai diemban. Tak terasa bergulirnya siang berganti malam dan merubah tanggal. Sehingga tiba waktunya esok pembagian raport.


Hari spesial untuk Ibu Sekar dan Pak Bagja yang akan menikah pun semakin dekat. Segala syarat administrasi sudah diselesaikan. Pak Bagja menawarkan venue hotel. Namun Ibu Sekar ingin kesederhanaan. Memilih rumah sebagai tempat akad nikah. Dan rumah makan Dapoer Ibu sebagai tempat resepsi sederhana dengan jumlah undangan 100 orang di luar keluarga besar.


"Jadi keputusan maharnya mau apa? Apa perlu aku tanya Ami aja?" Pak Bagja datang lagi ke rumah calon istrinya selain karena kangen, juga untuk meminta keputusan setelah dua kali Ibu Sekar hanya menjawab 'Terserah Akang'.


"Hm, gini aja deh. Akang ikhlasnya ngasih apa? Jujur aku mah bingung takutnya memberatkan."


"Kalau 63 gram perhiasan emas gimana?"


"Apa itu ada maknanya?"


"Ada. 63 adalah usiaku mempersunting dirimu, Ibu ratu mawar." Pak Bagja menatap hangat diiringi tersenyum simpul.


"Jangan ngegombal, Kang. Kita bukan anak remaja. Malu sama umur ih." Namun tak urung Ibu Sekar pun mengulum senyum dengan kedua pipi berubah merona.


"Tapi itu kamu suka, kan. Buktinya pipimu...." Pak Bagja mengetuk pipi kanan dengan telunjuknya diiringi kekehan.


"Akang, ih...." Ibu Sekar memalingkan wajah sembarang arah. Ingin sekali memanggil Ami yang ada di lantai atas agar menemaninya. Namun si bungsu tadi berpesan jangan dulu diganggu karena sedang meeting virtual.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju dengan mahar yang Akang kasih."


"Alhamdulillah. Kapan kita belinya? Biar kamu pilih sendiri model dan ukurannya. Kalau bisa secepatnya. Biar tinggal menunggu masa tenang aja."


"Besok aku ke sekolah Ami mau ngambil raport. Sepulang dari sekolah gimana?"


Pak Bagja mengangguk. "Kalau gitu sekalian aku yang akan mengantarmu ke sekolah. Jangan ditolak ya, Sekar!"


"Kalau Akang pengen nganter, berarti Ami harus ikut!" Tegas Ibu Sekar yang selalu menolak jika pergi keluar rumah berduaan dengan Pak Bagja.


"Siap, Ibu ratu." Pak Bagja menyahut dengan memasang hormat bak prajurit yang mengemban tugas. Membuat Ibu Sekar mencebik dan menahan senyum.


Sementara di lantai dua. Ami selesai meeting virtual dengan panitia acara festival kuliner dimana di dalamnya ada panggung hiburan musik. Ia mendapat pinangan menjadi MC berduet dengan Fathur. Keikutsertaannya tak lepas dari peran Aul yang mengirimkan video Ami saat menjadi MC waktu acara di hotel Seruni kepada Fathur. Sehingga sahabat kampus Aul itu tertarik untuk menjadikan Ami sebagai fartner.


"Kesempatan jarang datang dua kali, Cutie. Kalau kamu menyukainya, terima. Jangan pikirkan besar kecilnya fee. Nantinya, skill dan jam terbang akan menentukan value."


Akbar adalah orang pertama yang dimintai pendapat. Sehingga Ami mantap mengambil kesempatan menjadi MC di acara festival itu.


"Waktunya hubungi Kak Tasya, " Lirih Ami sambil berpindah tempat ke kamar dan memasang headset. Tak perlu menunggu lama panggilan pun tersambung. Ia yang lebih dulu berucap salam.


"Kak Tasya lagi sibuk gak?" Tanya Ami usai mendengar istrinya Leo itu menjawab salamnya.


"Santai, Mi. Baru beres ngelonin Baby Embun. Ada apa, ada apa? Roman-romannya ada yang mau curhat nih." Suara Tasya di seberang sana terdengar riang.


"Ih Kak Tasya kalau nebak suka bener." Ami terkikik. Meskipun belum bertemu lagi sejak nikahan Aiko, akan tetapi komunikasi tetap terjalin baik. Bahkan ia pun mengirim kado saat Baby Embun lahir seminggu setelah pernikahan Aiko.


"Soalnya Mas Akbar juga suka curhat sama Mas Leo. Jadi cucok lah kalau Ami mau curhat sama aku."


"Hmm, aku mau curhat. Tapi jaga rahasia ya, Mama Embun!"


"Rahasia dijamin aman, say. Ayo cerita, jangan sungkan."


Ami menghela nafas panjang sebelum memulai sesi curhat. "Gini, Kak. Selama ini Kak Akbar selalu perhatian sama aku. Begitu detail. Ngasih uang jajan. Nanya kapan UAS, UTS, PAT, sampai tanggal dibagi raport. Terlalu terlena mendapat limpahan perhatian sampe aku gak tau kapan ultah nya Kak Akbar. Aku kayak egois ya, Kak." Keluhnya. Namun menjadi plong begitu semua ganjalan dalam dada diungkapkan.


"Ami bisa dibilang egois kalau selamanya gak perhatian dengan pribadi Mas Akbar. Sekarang kan Ami udah menyadari kelalaian Ami. Ami beruntung punya pacar Mas Akbar yang sabar, gak nuntut timbal balik. Nah, mulai sekarang Ami harus cari tahu kapan ultahnya, kesukaannya apa, dan hal penting lainnya. Dan sebaiknya nyari tahunya dari orang lain biar jadi surprise."


"Iya, Kak. Sekalian curhat sekalian aku minta info dari Kak Tasya kapan ultah Kak Akbar. Kalo Kak Tasya gak tau, minta tolong tanyain ke Kak Leo pasti tau, kan. Untuk nanya masakan kesukaan nanti mau tanyanya ke Mama Mila. Gak mau nanya tanggal ultah ke Mama Mila karena aku malu." Ami meringiskan wajah yang tentunya gak akan kelihatan oleh Tasya.


"Hehehe. I see. Kalau aku dulu waktu pacaran nyari tau tanggal ultah Mas Leo karena diserahin dompet. Disuruh ambil sendiri duit buat bayar belanjaan. Kesempatan deh ngintip SIM nya, hihihi. Tunggu ya, Mi. Aku sambil buka Ipad nih. Papanya Embun kayaknya nyimpen folder birthday date disini deh."


"Iya, Kak." Ami sabar menunggu sambil membuka pintu yang terdengar diketuk. Ada Bi Ela yang mengabari jika disuruh Ibu Sekar menyampaikan bahwa ada tamu Pak Bagja di bawah.


"Mas Akbar tanggal 2 Juli, Ami."


"APA?!" Mata Ami sampai melebar sempurna.


"Kenapa kaget gitu, say?"


"Waduh betapa gak pekanya aku. Ultahnya beda sebulan sama aku, Kak. Aku 3 Agustus. Kita jadian 30 Agustus pas nikahan teh Aul. Padahal waktu itu kita udah akrab. Harusnya aku duluan yang ngucapin happy birthday. Ini malah Kak Akbar yang ngasih surprise ngirim kado ke sekolah. Terus transfer buat traktir teman sekelas. Aduh Ami....Ami. Kamu tuh belum dewasa ternyata." Ami merutuki kelalaiannya sendiri.

__ADS_1


Di seberang sana, Tasya tertawa lepas. "Belum terlambat kok, Mi. Masih ada waktu setahun lagi kan sebelum diculik ke KUA sama Mas Akbar. Ada waktu buat mendewasakan sikap dan pikiran. Tapi aku sih yakin nanti sambil jalan Mas Akbar akan bimbing Ami."


"Iya, Kak. Aku bakalan belajar. Emang diakui hubungan hampir mau setahun ini, Kak Akbar selalu ngemong. Paling dia minta perhatian baliknya cuma minta diingetin makan sama sholat aja. Ah, jadi kangen doi lagi di KL." Ami menggigit bibirnya saat wajah tampan berhias jambang itu melintas di benaknya.


"Hei, Papanya Embun juga lagi di KL. Aku udah kangen overdosis. Nanti Ami kalau udah jadi Nyonya boss, tolong asistennya tambah satu lagi ya. Biar suamiku gak dibawa-bawa terus."


"Yeee, kata Enin juga namanya gantungan kunci pasti kemana-mana nempel." Ami dan Tasya tergelak bersama.


"Kak Tasya, makasih banyak ya buat info dan nasihatnya. Aku harus sudahi dulu karna ada tamu."


"Oke, Mi. Pokoknya jangan sungkan kalau mau curhat."


"Siap, Kak. Titip cium pipi Baby Embun ya. Assalamu'alaikum."


Ami bergegas memakai jilbab instan dan sejenak berkaca merapihkan penampilan. Akan menemui calon bapak sambung yang ada di ruang tamu.


"Sudah selesai, Mi?" Ibu menatap Ami yang bergabung duduk satu sofa dengannya.


"Udah, Bu. Tinggal nanti ji ar pas sabtu paginya."


"Ami, maafin Bapak ya. Liburan ke Jerman harus diundur lain waktu. Kita ganti liburan keluarga ke Bali. Galih, Gina, dan Zaky udah konfirmasi bisa ikut."


"Bapak gak harus minta maaf. Emang aku juga gak bisa karena keburu masuk sekolah. Ke Bali juga seru. Bisalah bolos dulu sehari dua hari biar di Bali nya lama." Ami tersenyum miring. Liburan ke Jerman harus batal karena Gina dan Zaky baru bisa pulang tanggal 5 Juli. Jadilah tanggal pernikahan ditetapkan tanggal 7 Juli. Sementara Ami akan memulai ajaran baru tanggal 10 Juli.


***


Kacau burung Murai Batu milik tetangga terdengar merdu ceria bersahutan. Ami sudah rapih mengenakan seragam saat terdengar ponselnya berdering. Video call dari Akbar. Senyumnya pun merekah lebar. Tak lupa mengecek ulang kerapihan kerudung putih juga wajah yang sudah disapukan bedak tipis-tipis. Sayangnya, satu jerawat yang muncul tiba-tiba di dekat hidung tidak bisa disamarkan.


Ami mengusap ikon video dan berucap salam. Jantung berdebar tak menentu begitu menatap lagi wajah Akbar yang cool dan sedang tersenyum manis.


"Semangat pagi, Cutie. Udah siap ngambil raport ya." Sapa Akbar usai menjawab salam Ami. Semalam hanya saling berkabar lewat chat karena baru sampai rumah jam 10 malam. Sehingga ia tahu jika hari ini Ami akan ke sekolah dengan Ibu Sekar dan Pak Bagja.


"Pagi, Panda. Abis minum kopi, lalu minum jamu. Hari-hariku kemarin sepi, karena gak liat wajahmu. "


Akbar tertawa renyah. "Tadinya aku mau minum kopi. Gak jadi ah udah kembung sama gombalanmu."


Giliran Ami yang terkikik. "Kak, hari ini ke kantor gak?"


"Libur dulu sehari ini. Mau santai di rumah sambil nunggu kabar ranking dari ayangku."


"Ish...jadi aku yang deg degan. Kalau gak ranking satu gimana?"


"Gak masalah, Cutie. Yang penting udah belajar maksimal sesuai kemampuan. Kamu udah juara pertama di hatiku." Akbar tersenyum manis. Sejujurnya ia tak menuntut Ami harus selalu yang nomor satu di kelas.


"Aduduh eneng jadi meleyot Bang." Ami menjatuhkan badan miring ke kiri menimpa bantal sofa.


Akbar tertawa lagi. "Ya udah kalau mau berangkat. Jangan sampai Ibu nungguin lama. Nanti kita sambung vc lagi terserah Ami maunya jam berapa. Seharian ini seluruh waktuku buat Cutie."


Ami menatap layar yang dipenuhi wajah segar Akbar yang memakai kaos putih. Hatinya menghangat oleh perhatian calon imamnya. "Iya deh Kak nanti aku usahakan secepatnya bisa vc lagi. Masih kangeeeen."

__ADS_1


Akbar tersenyum mesem melihat gestur manja Ami. "Aku akan nunggu, sayang. Bye..."


"Eh tunggu dulu, Kak!" Ami mencegah Akbar yang akan menyudahi sambungan. "Ikan hiu terkena debu. I love you 3000." Ia mengangkat kedua tangan membentuk simbol love. Barulah ia yang mematikan lebih dulu sambungan video usai melihat wajah Akbar melongo terkesima. Ia keluar kamar sambil cekikikan.


__ADS_2