Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
122. Jiwa Yang Bersedih


__ADS_3

Resepsi pernikahan yang sangat meriah dengan dekorasi mewah. Banyak pejabat negara yang datang. Juga nampak ada beberapa artis. Wajar saja yang menikah adalah anak dari anggota DPR RI. Tapi yang dicari Akbar begitu selesai menyalami kedua mempelai yang keduanya adalah sesama teman pengusaha, adalah keberadaan Leo. Tidak memegang ponsel rasanya merepotkan. Merasa ada sesuatu yang kurang.


"Mas Akbar, lagi nyari siapa?" Tahu-tahu Gita datang mendekati Akbar dengan menggandeng seorang pria.


"Ah, kebetulan. Git, tolong telepon Leo. Dia udah datang belum."


"Oh, oke. Mas Akbar nggak bawa hp ya?"


"Hp aku ketinggalan di kantor."


Gita mengangguk. Segera merogoh ponsel dari tas pestanya. Tak lama kemudian tersambung. Ia memberikan ponselnya pada Akbar.


Akbar berbincang serius dengan Leo yang ternyata baru saja datang. Percakapan yang singkat. Ia kemudian memberikan ponsel pada pemiliknya lagi. "Makasih, Git. Aku mau nunggu Leo di sana." Iya menunjuk dengan dagu ke arah backdrop standing mirror berhias lampu.


"Oke, Mas. Sekalian kenalin dulu nih pacar aku. Namanya Mike." Ucap Gita dengan lenggok anggun dan senyum semanis mungkin.


"Akbar."


"Mike."


Usai berkenalan dengan saling menjabat tangan, Akbar berpamitan kepada Gita dan pacarnya itu. Ia melihat Leo sudah berada di tempat janjian.


"Leo, kabar hp gue gimana?"


"Kirain udah keterima. Dani bilang, tadi OB nemuin HP lo di kolong meja. Aku udah suruh anterin segera ke alamat rumah lo. Harusnya sebelum jam tujuh udah nyampe." Leo merasa kaget. Ia segera menghubungi Dani, petugas keamanan yang bertugas piket malam ini.


"Dani bilang OB udah berangkat dari kantor jam setengah enam pakai motor. Nanti katanya mau dikonfirmasi. Sambil nunggu kabar gue nemuin pengantin dulu ya."


"Oke. Tasya gak ikut?"


"Tasya nggak mau. Embun lagi anget. Gak tenang katanya kalau ditinggalin." Leo meninggalkan dulu Akbar mumpung antrian menuju pelaminan tidak panjang.


Urusan ponsel sejenak teralihkan karena ada relasi yang menyapa Akbar. Bukan seorang, melainkan berganti-ganti orang yang saling sapa, saling bertanya kabar. Derai tawa tercipta saat berbagi canda. Hingga kemudian Leo datang bergabung.


Ponsel Leo berdering saat sedang mencicipi hidangan bersama Akbar di meja bundar. Orang yang bernama Dani menelepon.


"Gimana, Dan?"


"Apa?"


Akbar menautkan kedua alisnya melihat Leo yang terkejut. Apalagi kemudian memberi perintah pada Dani agar ke rumah sakit. Ia harus sabar menunggu sampai Leo selesai memberi instruksi yang nampak serius itu.


"Ada masalah?" todong Akbar begitu Leo selesai mengakhiri panggilan. Meski kemudian terlihat melakukan panggilan lagi.


"OB yang nganter hp kecelakaan. Jatuh dari motor. Katanya jadi korban penjambretan. Tasnya diambil. Hp dan dompet ada dalam tas itu. Termasuk hp lo. Sekarang dia dirawat di rumah sakit karena luka-luka. Gue suruh Dani jenguk ke rumah sakit." Jelas Leo dengan ponsel yang masih melekat di telinga kanannya.


Akbar menghembuskan nafas panjang. "Kenapa jadi begini. Kasihan itu OB. Nanti kasih santunan, Leo."


Leo hanya mengangguk karena masih fokus dengan ponselnya. "Bro, hp lo udah gak aktif. Ini udah gue coba hubungin berkali-kali."


Akbar menghembuskan napas kasar. "Leo, perasaan gue nggak pernah ceroboh. Kenapa HP bisa sampai terjatuh di kolong meja sih. Padahal gue yakin HP ada di dalam tas. Dan gara-gara hp, OB jadi celaka. Apa dia jadi korban jambret hanya kebetulan dalam arti random, apa karena tahu bawa HP mahal?"


"Namanya juga manusia. Meskipun udah apik, adakalanya ceroboh. Mungkin HP lo terjatuh pas resletingnya terbuka. Soal jambret, dugaan gue sih random. Sekarang mau gimana? Sepertinya lo harus ikhlasin hp yang hilang. Paling sekarang lo harus telepon provider. Minta diblokir nomor dulu."

__ADS_1


"Hp bisa beli baru lagi. Masalahnya banyak data penting di hp itu. Mana Besok hari Minggu. Nggak bisa ngurus nomor baru. Terus mau ke Tasik juga. Tapi gue mau coba lacak lagi di rumah. Kali aja masih bisa terlacak."


"Mau lapor polisi gak? Kalau lo save no IMEI, masih bisa dilacak dan minta bantuan polisi menelusuri."


"Ribet lah. Nggak ada waktu juga. Soalnya besok gue kan mau ke Tasik. Senin mau prewed di Pangandaran. Gue mau balik sekarang aja. Mau coba lacak lagi."


"Gue juga sama mau balik sekarang."


Akbar dan Leo berpisah di luar pintu ballroom. Leo lebih dulu meninggalkan hotel. Sementara Akbar tertahan langkah karena bertemu teman komunitas slalom mobil yang baru akan memasuki ballroom. Berbincang dulu.


"Gue cabut duluan ya." Akbar mengajak adu tos dengan dua temannya itu usai menolak ajakan ngopi di Coffee Shop setengah jam lagi. Ia beralasan ada urusan lain.


Akbar melangkah lebar dan tergesa menuju mobil yang berada di parkiran depan. Parkiran yang penuh dan nampak sepi karena semua pemilik masih berada di dalam hotel.


"Pak Akbar!"


Akbar menoleh ke belakang saat pintu mobil sedang bergerak terbuka ke atas.


***


Mama Mila dan Papa Darwis baru pulang jogging keliling komplek. Rutinitas yang selalu dilakukan setiap Minggu pagi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran. Hari tua ingin selalu tetap sehat.


"Akbar tidur lagi atau ke mana, Ma? Papa belum ketemu lagi dari semalam. Di tempat fitnes juga nggak ada." Papa Darwis menyeruput teh hijau yang sudah tersaji di meja yang berada di teras belakang. Waktu menunjukkan pukul tujuh lebih. Sinar mentari mulai menyorot hangat.


"Mama juga belum lihat. Semalam kayaknya duluan kita pulang ya. Soalnya di garasi belum ada si kuning. Masa iya Akbar tidur lagi. Dia kan gak pernah tidur setelah subuh. Jadi penasaran. Mama cek dulu ke kamarnya." Mama Mila beranjak meninggalkan sang suami yang sedang menikmati teh hijau.


Mama Mila menaiki tangga menuju kamar Akbar. Pintu kamar sang anak sulung diketuk-ketuk diiringi memanggil nama. Namun sudah 4 kali diulang sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kamar. Penasaran, ia mendorong pintu kamar yang ternyata tidak terkunci.


"Akbar gak pulang. Tidur di mana ya. Katanya jam sepuluh mau berangkat ke Tasik." Mama Mila bergumam. Ia kembali menutupkan pintu usai melihat tempat tidur Akbar masih rapi. Dan masuk ke dalam walk in closet pun nihil.


"Akbar semalam udah pulang, Tante. Bareng aku keluar dari ballroomnya juga. Cuma Akbar ketemu teman-temannya. Ngobrol dulu. Jadi aku pulang duluan. Kalau soal hp, OB yang nganterin hp kecelakaan. Jatuh dari motor karena tasnya ditarik oleh jambret, Tante. Hp Akbar ada dalam tas yang dijambret itu. OB-nya sempat dibawa ke IGD tapi alhamdulillah tidak menjalani rawat inap. Semalam bisa pulang."


"Ya Allah....." Mama Mila terkejut. "Kira-kira Akbar ke mana semalam sampai tak pulang. Leo tolong cari tahu. Aduh, Tante jadi cemas nih. Pokoknya Leo hubungin teman-temannya Akbar. Itu yang semalam ngobrol sama Akbar siapa? Kamu kenal nggak? Apa mungkin Akbar nginep di rumah temannya itu?"


"Aku cuma kenal sama satu orang aja, Tante. Tante tenang jangan panik. Aku akan cari tahu di mana Akbar. Nanti aku kabarin lagi ya, Tan."


Mama Mila menghembuskan nafas panjang. Harusnya sekarang Akbar bersiap berangkat ke Seruni Tasik. Tapi malah belum pulang ke rumah. Heran.


"Kata Leo gimana, Ma?" Papa Darwis baru keluar dari kamar usai mandi. Menghampiri Mama Mila yang berjalan gelisah ke sana kemari di ruang tengah.


***


Ami sejak Sabtu sore menunggu Akbar menghubungi, tetapi tidak ada. Ia berinisiatif menghubungi sambil menunggu adzan maghrib. Namun diulang samapt empat kali pun tidak dijawab. Mengiringi chat selepas isya pun tidak dibalas. Padahal Ia ingin menceritakan kejadian tadi siang. Jadinya malam minggu kelabu tanpa ada komunikasi dengan ayang Panda.


Notifikasi terdengar waktu Ami sedang rakaat terakhir shalat subuh. Tak dipungkiri konsentrasi shalatnya sedikit buyar oleh rasa penasaran berharap itu pesan dari Akbar.


Usai berdoa, Ami lompat ke kasur masih berbalut mukena. Bergegas membuka aplikasi chat. Dugaannya benar. Ada banyak pesan dari Akbar. Ia abaikan chat yang lain. Fokus membuka chat dari calon suami dengan iringan senyum lebar dan sorot mata penuh binar.


Perlahan bibir yang melengkung lebar itu mengerut dan bergetar. Bukan hanya bibir yang bergetar, namun kedua mata berubah memanas. Tangan yang memegang ponsel pun mulai tremor. Ulu hati mendadak perih dan ngilu.


"Nggak mungkin." Ami menggeleng-gelengkan kepala. Buliran bening luruh membasahi kedua pipinya tanpa bisa dibendung.


Ingin menganggap ini bukan realita. Ingin menganggap ini hanyalah fitnah belaka. Namun fakta foto dan video yang ia lihat serta kalimat yang ia baca tidak bisa disangkal.

__ADS_1


Di lantai bawah, Ibu Sekar dan Pak Bagja keluar dari kamar dengan memakai setelan jogging. Hanya tinggal menunggu Ami yang masih belum turun.


"Bi Ela, tolong panggilin Ami. Ayo berangkat sekarang gitu." ucap Ibu Sekar yang sedang mengisi air minum ke dalam botol.


Bi Ela segera menuju tangga. Namun tak lama kemudian turun dengan laporan yang mengejutkan Ibu Sekar.


"Neng Ami gak menyahut, Bu. Tapi saya dengar lagi nangis."


Bukan hanya Ibu Sekar yang menaiki tangga. Namun Pak Bagja juga mengekori di belakang. Waspada jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.


Pintu kamar terkunci. Ibu Sekar dengan suara lembut meminta Ami untuk membuka pintu. Ia menatap suaminya dengan raut cemas karena pintu belum juga dibuka.


"Coba panggil lagi aja, Bu." Pak Bagja tetap memasang wajah tenang.


"Ami, buka pintunya. Ibu pengen masuk, Neng." Setelah dipanggil sekali lagi, akhirnya terdengar suara ceklek kunci pintu yang dibuka dari dalam.


"Ya Allah, Ami. Kenapa, ada apa, Neng?" Ibu Sekar terkejut melihat penampilan Ami yang berantakan. Rambut kusut dengan mata bengkak dan wajah sembab. Semakin terkejut saat anak bungsunya itu menghambur memeluknya sambil menangis pilu.


Ibu Sekar memberi waktu kepada Ami yang tergugu di pelukannya. Ia mengusap-usap rambut Ami dengan lembut.


"Ajak duduk, Bu." Ucap pak Bagja yang sesaat tadi pergi dan datang lagi dengan membawa segelas air putih.


Ami sudah lebih tenang setelah diberi minum. Duduk di tepi ranjang dengan isakan kecil.


"Cerita sama Ibu. Ada apa?" Ibu Sekar menyimpan helaian rambut Ami ke belakang telinga. Si bungsu masih menunduk, menangkup wajah dengan Kedua telapak tangan.


Ami mengulurkan ponselnya. "Ibu buka aja chat dari Kak Akbar." Ujarnya dengan suara serak dan masih terisak kecil.


Dengan penuh rasa penasaran, Ibu Sekar membuka aplikasi chat. "Gak ada nama Akbar, Mi."


"Namanya My Panda." Sahut Ami dengan kedua tangan memeluk lutut yang ditekuk.


Ibu Sekar membekap mulut dengan satu tangan begitu membuka room chat dengan nama My Panda. Matanya melebar lalu dikerjap-kerjapkan. Berharap salah baca dan salah lihat. Tapi setelah dikejar-kejar pun sama saja hasilnya. Ia mendongak dan mengulurkan ponsel Ami ke Pak Bagja yang menatapnya dari sofa.


"Papa punya utang sama aku." Ami menatap ke arah ayah sambungnya yang sedang mencermati layar ponsel.


Pak Bagja mendongak dengan kedua alis bertaut. "Utang apa, Neng?"


"Papa janji mau ngajak aku dan ibu ke Jerman. Mana janjimu, Papa? Ini udah 2 tahun dari janji Papa dulu."


"Papa gak lupa dengan janji Papa. Hanya sikon belum juga pas, Neng. Kita pasti akan liburan ke Jerman bertiga kok."


"Kalau Papa beneran sayang sama aku, bukan sayang sama ibu aja, ayo ke Jerman sekarang!"


"Ami....jangan begitu."Ibu menggelengkan kepala.


"Sekarang maksudnya hari ini?" Pak Bagja menautkan satu alisnya. Sama sekali tidak ada raut marah. Tetap tenang.


"Iya. Hari ini." Amin menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. Rasa sakit yang mendalam di lubuk hati, membuat air mata masih saja tidak bisa ditahan.


"Setidaknya tunggu dulu dua atau tiga hari. Karena kan harus mengurus dulu visa. Paspor kita masih berlaku tapi visa belum ada, Neng." Jelas Pak Bagja dengan lembut.


Amik terdiam lagi membantah karena memang yang diucapkan Ayah sambungnya itu benar adanya. Ia tenggelamkan wajah di antara kedua lututnya yang ditekuk.

__ADS_1


"Ibu, Papa, tolong tinggalkan aku sendiri."


__ADS_2