Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
79. Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Ami merasa gampang-gampang susah mencari ide untuk memberi kejutan ulang tahun Akbar. Inginnya mengajak Padma untuk dimintai bantuan. Dengan cara liburan bersama ke Jakarta. Namun Padma sedang liburan ke Yogyakarta bersama ayah dan bundanya. "Oh ide....datanglah....datanglah!Kenapa lebih susah dari menghafal rumus kimia," keluhnya sambil menjatuhkan tubuh di sofa.


Dalam posisi rebahan, Ami melepas ponsel dari tiang penyangga bekas tadi ber video call dengan Akbar. Ada beberapa pesan di grup kelas IPA 3 yang masih membahas raport dan memberi ucapan selamat padanya. Di grup keluarga pun semua kakak dan kakak iparnya sudah mengucapkan selamat. Namun ada satu pesan suara yang belum dibukanya dari Teh Puput.


"Ate...sini ke Jakalta. Aa mau ngasih hadiah."


Senyum Ami merekah lebar mendengar suara Rasya. Inspirasi pun mendadak muncul di benaknya. Ia pun membalas dengan voice note lagi, "Aa....tunggu Ate datang ya." Pesan yang akan dibuka oleh semua anggota grup termasuk Ibu.


"Boleh ya Bu, aku liburan dulu ke Jakarta. Gak lama ko sampai tanggal 2 aja. Tanggal 3 pulang. Aku udah teleponan sama Teh Aul. Kalau aku Ke Jakarta, Teh Aul sama Kak Panji akan nginep disini." Ami merayu Ibu di sore hari sambil ngemil keripik jagung.


"Kapan mau ke Jakarta nya?" Ibu terlihat masih menimang-nimang.


"Tanggal 30 aja Bu, sabtu. Pulangnya tanggal 3 Juli sama Rasya. Si Ucul mau aku bawa duluan. Kalau Teh Puput kan tanggal 5 bareng Kak Rama."


"Iya, boleh. Jangan pake travel. Diantar Mang Kirman aja."


"Yes. Makasih Ibu." Ami mendekap Ibu dari samping dan memberi kecupan di pipi. Luar biasa bahagia. Ia tidak memikirkan soal hadiah yang akan diberikan Puput. Tujuan utamanya ke Jakarta demi bisa memberi kejutan pada orang spesial yang akan berulang tahun pada tanggal 2 Juli.


Jum'at menjadi waktu santai di rumah sekaligus persiapan packing baju ke dalam koper kecil. Memang tak bisa berlama-lama di Jakarta karena harus membantu persiapan pernikahan ibunya. Urusan outfit keluarga sudah ada Aul dan Panji yang menangani. Tentunya produk butik Sundari. Ia mendapat tugas menemani Ibu ke klinik perawatan kecantikan tiga hari menjelang pernikahan.


"Wa'alaikum salam, Ami sayang. Aih, senengnya ditelpon sama calon mantu." Mama Mila terdengar riang menerima telepon dari Ami.


Ami terkekeh sekaligus tersipu malu. "Mama lagi sibuk gak?" Ia duduk di tepi ranjang usai menutup kopernya yang siap ditenteng besok pagi.


"Mama lagi spa. Tapi masih bisa sambil kita ngobrol. Ada apa, sayang?"


"Gini Ma......" Ami menyampaikan rencana yang sudah dipersiapkannya sekaligus juga meminta pendapat. Percakapan yang direspon sangat antusias oleh Mama Mila itu berlangsung hingga lima belas menit lamanya. Sehingga ia pun mengakhiri dengan senyum semringah.


Malam ini tidak ada video call dari Akbar karena sedang menghadiri ulang tahun relasinya. Hanya saling berkabar lewat aplikasi chat.


Malam berganti pagi. Olahraga ringan setiap pagi harus selalu dilakukan Ami selain untuk kebugaran juga untuk menjaga kelenturan badannya sebagai atlet silat. Barulah ia mandi dan mengenakan pakaian casual. Bersiap pergi.


"Panda, salim dulu. Aku mau ke Jakarta nemuin ayang Panda. Moga surprise nya lancar. Kamu baik-baik di kamar ya." Ami mencium tangan boneka Panda yang terduduk dan bersandar di kepala ranjang. Lalu merapihkan dulu bulu rasfur di bagian kepala boneka kesayangannya itu. Barulah keluar kamar dengan menenteng koper dan tas selempangnya.


"Bu, Teh Aul katanya ke sininya nanti sore." Ami bersiap memulai sarapan dengan menuangkan nasi ke piring ibunya dulu.


"Iya tadi juga udah telpon Ibu. Nanti Ami tegur Mang Kirman kalau dia ngebu-ngebut. Kalau capek suruh istirahat dulu."


Ami mendengarkan nasihat Ibu yang tentunya demi keselamatan. Mengingat perjalanan jauh lebih dari enam jam lamanya. Usai makan, ia pun bersiap ke luar rumah diantar Ibu dan Bi Ela. Mang Kirman sedang memanaskan mobil sambil mengelap body mobil dan seluruh kaca. Dengan berucap doa dan iringan doa serta pelukan Ibu, perjalanan menuju Jakarta dimulai.


"Ate udah sampe mana?" Rasya muncul memenuhi layar ponsel Ami saat perjalanan baru dua jam lamanya.


"Ini baru sampe Lingkar Nagreg. Bentar lagi mau masuk tol. Aa lagi apa?"


"Aa abis belenang sama Umma. Ate boneka Panda sama Kunti diajak gak?"


"Kunti - kunti. Cutie gitu." Ami pura-pura memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Ahahahaha." Rasya tertawa lepas. Kecil-kecil sudah mewarisi sifat jahil yang turun dari Ate nya itu. Kejahilannya juga berlaku sehari-hari kepada seluruh penghuni rumah.


Sampai dengan memasuki tol, video call masih tersambung. Kadang Puput yang muncul di layar dan juga si kecil Rayyan. Ami pun menanggapi santai sambil ngemil sesajen yang dibawa dari rumah.


***


"Jakarta, I'm coming." Teriak Ami dalam hati begitu menginjakkan kaki di pekarangan rumah kakak pertamanya. Ia refleksikan suasana hati dengan wajah semringah dan mata yang berbinar. Perjalanan terhitung lancar sehingga tiba pukul setengah tiga. Pegal dan lelah bisa diobati dengan tidur malam yang nyenyak. Yang pasti saat ini ia bahagia. Selangkah lebih dekat dengan calon imamnya.


Rasya berjingkrak-jingkrak girang menyambut kedatangan Ami di teras. Sampai keukeuh membantu menarik koper dan juga harus tidur di kamarnya. Ami pun menuruti. Namun lebih dulu menyerahkan kotak plastik berisi pelas udang dan pepes gabus buatan ibunya untuk Puput.


Puput berbinar menerima oleh-oleh itu. "Asyik...makanan langka ini. Teteh bawa ke dapur dulu. Ami mau makan sekarang gak?"


"Nanti ah masih kenyang tadi makan di rest area. Mau rebahan aja."


Puput membiarkan Ami dan Rasya menaiki tangga. Sudah tahu kedekatan anak dan adiknya itu.


[Cutie, santai gak?]


[Vc yuk]


Ami membaca pesan dari Akbar begitu merebahkan badan di kasurnya Rasya. "Waduh!" pekiknya spontan sambil terduduk.


"Waduh apa, Ate?" Rasya loncat ke springbed empuk tanpa ranjang itu dengan membawa mainan rubrik. Ia mengintip layar ponsel yang dipegang Ate nya itu.


"Gak papa. Aa bisa main rubik?" Ami mengalihkan perhatian. Namun ia sempatkan dulu membalas chat Akbar.


"Bisya dong. Aa juga mau pintel seperti Ate."


Jam bergerak merambat mengganti siang menjadi malam. Kursi makan bertambah pengisi dengan kehadiran Ami. Acara makan berempat selepas magrib itu berlangsung santai.


"Ami berapa hari di Jakarta?" Rama menatap adik iparnya yang direcoki Rasya selama makan.


"Selasa pulang, Kak. Di rumah kan repot persiapan acara Ibu." Ami menyuapi puding ke mulut Rasya yang usai makan kembali bermain rubik.


"Kalau gitu besok jalan-jalan sepuasnya sama Teh Puput dan Rasya. Sekalian Ami pilih sendiri pengen hadiah apa. Kak Rama gak bisa ikutan. Mau nemenin Papi main golf."


"Adek juga halus diajak, Papa." Protes Rasya.


"Iya. Rayyan sama mbak juga ikut." Ralat Rama yang lupa jika harus diabsen detail di hadapan putra sulungnya.


Di lain tempat ada yang galau karena malam minggunya merasa kelabu. Sudah dua kali mengajak Ami untuk vc siang tadi dan malam ini. Namun Ami tidak bisa diajak video call atau pun telepon dengan alasan sedang kedatangan sepupu yang menginap di rumahnya. Akbar menghela nafas panjang. Membuka jendela balkon kamar serta menatap langit hitam pekat yang berhias bintang. Bukan tidak ada ajakan teman untuk hangout. Ekspektasinya malam mingguan diisi canda tawa dengan Ami.


Malam kelabu yang pada akhirnya diisi dengan bekerja, telah berganti pagi. Akbar bersemangat melakukan peregangan karena minggu pagi ini diisi kegiatan gowes bareng dengan rute sejauh 30 km. Leo pun ikut serta dan akan bertemu di lokasi start. Ia pamit kepada Mama Mila dan Papa Darwis yang bersiap joging di lokasi car free day.


"Pa, Mama gak sabar nunggu besok jemput Ami ke rumah Rama. Si bujang kita akan dapat kejutan di kantor nanti. Mama udah minta bantuan Leo juga, buat kasih tugas Gita di luar kantor dulu. Takutnya dia gak terima pas liat calonnya Akbar. Bisa-bisa ambyar deh." Ucap Mama Mila yang lalu selesai mengikat tali sepatunya.


"Mama jangan bersikap heboh deh. Justru kehebohan Mama bisa bikin Akbar curiga. Itu baru ambyar." Papa Darwis menyisir kumisnya dengan jari sambil berkaca ke layar ponsel.

__ADS_1


"Kan Mama heboh gininya gak dilihat Akbar. Dah ah, ayo jalan keburu panas." Mama Mila menggandeng lengan suaminya yang masih anteng merapihkan kumis.


***


[Chat aja ya Kak. Kalau telepon or vc belum bisa sampai tanggal 3 Juli. Maklum sepupuku nempel terus]


Akbar membaca balasan dari Ami di malam senin ini. Lagi-lagi mendapat penolakan yang harus ia maklumi karena satu alasan. Karena backstreet. Terhitung sejak malam sabtu hingga malam senin ini, ia tidak mendengar suara Ami apalagi memandang wajah cantik dan riangnya. Sungguh merindu.


Akbar merasa ada yang berbeda dan berubah dengan kebiasaan Ami. Tumben sejak kemarin minggu sampai sekarang, chat pun sering dibalas delay dan tak ada kalimat gombalan. Membalas singkat saja. "Apa Ami lagi ada masalah? Tapi biasanya kan selalu curhat?" batinnya terus menerka-nerka.


Oke, dia minta waktu sampai tanggal 3 Juli kan. Disabarin deh.


Akbar menyimpulkan sendiri demi menjaga positif thinking nya terhadap Ami. Lebih baik sekarang tidur. Karena besok adalah tanggal istimewanya. Di kantor biasanya akan disambut kejutan dari para karyawan. Dan ia tersenyum simpul. Sampai sejauh ini, Ami belum tahu hari ulang tahunnya. Tak apa, pikirnya. Baginya, hanya Cutie nya yang menjadi prioritas. Yang akan berulang tahun di tanggal 3 Agustus.


Selamat datang senin. Semangat memulai aktifitas dan rutinitas. Akbar sudah rapih dengan kemeja lengan panjang warna abu tua yang membungkus perut rampingnya. Bergegas menuruni tangga sambil menenteng tas kerja. Hari ini ada dua meeting penting yang harus dijalankan. Stamina dan semangatnya nampak pada aura wajah yang segar. Bukti siap menghadapi tantangan.


"Selamat ulang tahun, sayang." Mama Mila membuka kedua tangannya di samping kursi makan. Menyambut kedatangan Akbar yang akan sarapan bersama. Ia pun mendekap erat punggung Akbar yang memeluknya. "Pokoknya doa terbaik selalu Mama panjatkan buat Akbar. Berkah usiamu ya nak." Ia mengusap-usap punggung sang anak penuh sayang dan haru.


"Aamiin. Mama juga semoga selalu sehat, selalu happy, panjang usia." Akbar mengurai pelukan dan mencium punggung tangan ibu yang sudah melahirkannya itu dengan takzim.


"Barakallah fii umrik anak bujang Papa. Tetap selalu low profile. Sukses dunia akhirat." Papa Darwis berpelukan dengan Akbar. Sedikit kata namun penuh makna.


"Aamiin. Makasih Pa. Doa yang sama buat Papa." Akbar pun mencium punggung tangan papanya itu dengan takzim.


"Spesial sarapan pagi ini, Mama bikin nasi tumpeng. Enak gak enak, Akbar sama Papa harus makan. Ini Mama bikin sendiri dari subuh. Tidak dibantu bibik lho ya. Emang sengaja pengen pure buatan sendiri. Demi anak ganteng Mama yang ultah. Mau beli kue ultah pakai lilin tapi kan Akbar gak suka. Dibilangnya kayak anak kecil aja. Ya udah cuma adanya nasi tumpeng dihiasi sayuran dan lauk pauk. Tapi hasil karya....."


"Ma, kapan makannya? Papa mau meeting pagi nih." Papa Darwis memotong presentasi sang istri yang berapi-api itu. Sementara Akbar memilih menyembunyikan senyum di balik gelas yang diteguknya. Tidak berani frontal.


"Yaelah Papa. Tunggu selesai Mama bicara napa." Mama Mila mendelik ke arah suaminya. "Tadi sampai mana ya. Tuh kan jadi lupa. Ya udah ayo makan!"


Sementara di rumah Puput, Ami bersantai di teras belakang sendirian. Baru saja mendapat kabar dari Mama Mila jika Akbar sudah berangkat ke kantor. Ia yang akan memberikan kejutan malah deg deg-degan sendiri menunggu waktu. Satu jam lagi, Mama Mila akan menjemputnya. Untungnya saat memberi tahu Puput, kakaknya itu tidak banyak bertanya begitu memberi izin. Mungkin karena sudah tahu jika Mama Mila menganggapnya anak bungsu.


"Dadah, Papa!" Rasya selalu mengekori Umma Puput ke teras yang mengantar Papa Rama berangkat kerja. Juga menyuruh adiknya yang digendong Umma untuk sama-sama melambaikan tangan. Hingga mobil yang dikemudikan sopir keluar gerbang. Ia menekan remote, lalu pintu gerbang pun menutup otomatis.


"Umma, Ate mana?" Rasya yang sudah berlari masuk lebih dulu, kembali keluar menemui Umma yang sedang menyaksikan Rayyan disuapi oleh mbak.


"Udah pulang ke Ciamis mungkin." Puput sengaja menjahili Rasya. Wajah anaknya itu berubah memberengut. Ia pun terkekeh. "Tuh Ate...." Ia menunjuk Ami yang baru saja masuk dari pintu belakang.


"Ih, Ate dicali-cali...." Rasya berubah riang dan berlari menubruk badan Ami.


"Teh, Mama Mila bentar lagi jemput. Keep the boy!" Ami bermain kode dengan Puput. Karena Rasya pasti akan nempel ingin ikut.


"Kalau gitu Teteh aja duluan yang pergi. Biar aman. Aa, ayo kita ke rumah Oma. Kita mau liat cucunya teman Oma yang disunat kan."


"Ate diajak gak, Umma?"


"Ate di rumah dulu jagain adek. Yuk ah siap-siap! Umma ambil tas dulu." Puput menaiki tangga menuju kamarnya. Tak lama, kembali dengan menenteng tas dan topi Rasya. Penampilannya sudah rapih sedari tadi karena memang berencana pergi dengan Mami Ratna.

__ADS_1


"Ate jangan nangis ya. Aa pelginya gak lama."


Ucapan Rasya itu membuat Ami tertawa. Ia mencium pipi sang keponakan dengan gemas.


__ADS_2