Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
40. Step by Step


__ADS_3

"Mila, Rama sama Panji tuh sama-sama butuh perjuangan buat bisa dapetin anak-anak Bu Sekar itu. Gak mudah. Baik Puput maupun Aul, gak silau sama kemapanan Rama dan Panji. Mereka tuh jinak-jinak merpati. Aku tuh seneng banget anak-anak dapat jodoh dari kampung halamanku. Yang utama karena dapat jodohnya berkualitas." Mami Ratna menjelaskan dengan wajah semringah. Mobil yang dikemudikan Akbar baru menuruni jalan desa untuk menuju rumah Ibu Sekar.


"Keliatan banget dari mukamu itu, Teh Ratna. Keliatan puasnya. Jadi penasaran sama sosok single parent besanmu itu. Karena dibalik anak-anak berkualitas, pasti ada peran orang tua yang terbaik dalam mengajari adab." Sahut Mama Mila penuh antusias.


"Tenang...pasti aku kenalin. Dan silakan nanti nilai sendiri." Mami Ratna berkata penuh bangga.


"Yang paling lama berjuang mah Panji, Bulik. Ditungguin sampe lulus kuliah karena Aul nya fokus studi. Udah lulus, tidak langsung dapat lampu hijau. Untung ada Enin yang jadi penasehat buat sabar. Kata Panji, tiga tahun nunggu baru diterima. Makanya langsung saja diajak lamaran dan nentuin tanggal nikah." Cia terkekeh menceritakan ulang curhatan Panji. Ia ikut serta menemani Mami Ratna sebagai perwakilan keluarga Rama. Karena yang diundang ke acara siraman adalah kaum ibu-ibu.


"Owalah, padahal Panji kurang pesona apa coba. Pasti banyak cewek yang naksir. Sampe gak mau ke lain hati ya, rela sabar nunggu gitu. Bulik jadi penasaran liat sosok Aul si penakluk bujangnya Ratih." Mama Mila semakin tidak sabar ingin cepat sampai.


"Sama lah, Mila. Anak bujangmu kurang pesona apa coba. Pasti cewek pada antri ingin memikat hati si kasep ini. Aku sih yakin ada bidadari yang lagi ditungguin makanya gak ngasih peluang buat cewek di luar sana. Ya nggak, Bar?" Mami Ratna yang berbincang dengan Mama Mila, mengalihkan atensi menatap sang sopir.


Akbar berdehem. Meski fokus menyetir, namun kedua telinganya tegak mendengarkan obrolan di dalam mobil itu. "Doain aja, Tante." Ia tersenyum mesem.


"Tuh, kan. Meskipun jawaban Akbar seuprit, namun tersirat membenarkan ucapanku, Mila." Mami Ratna tersenyum lebar. Merasa menang.


"Akbar masih rahasia-rahasiaan sama aku. Cuma ngasih clue aja nih anak belum mau terbuka." Keluh Mama Mila. Menghela nafas kasar.


"Tenang, Mam. Kalau udah waktunya bakal dikenalin." Akbar melihat mamanya dari rear vision mirror.


"Sepertinya Mas Akbar mau ngasih surprise. Sabar, Bulik." Cia terkekeh. Ia duduk di jok penumpang depan menemani Akbar. Sementara sang sopir hanya mesem-mesem.


Mobil tiba di lokasi. Harus parkir agak jauh karena area bahu jalan sudah berjajar mobil tamu yang akan menghadiri acara siraman. Sementara motor bisa masuk ke area parkir rumah makan.


Rumah makan Dapoer Ibu buka seperti biasanya. Hanya menutup area gazebo yang digunakan untuk acara pengajian dan siraman. Para tamu ibu-ibu pengajian sudah duduk manis mengisi saung gazebo. Sebentar lagi acara akan dimulai.


"Bu Sekar, kenalin ini Mila. Adiknya Mas Krisna sekaligus mamanya Akbar. Yang lebih betah di Singapore daripada di Jakarta." Jelas Mami Ratna usai cipika cipiki dengan besannya itu.


"Eits, tar...bentar. Ralat ya, Teh Ratna. Sekarang aku bakal betah di Jakarta. Mau nemenin anak bujang. Biar Iko yang tinggal di Singapore setelah nikah." Sahut Mama Mila. Membuat Mami Ratna dan Bu Sekar terkekeh.


"Alhamdulillah, ketemu mamanya Akbar. Saya Sekar ibunya Puput, Aul, Zaky, dan Ami." Bu Sekar pun cipika cipiki dengan menyambut ramah dimana mamanya Akbar pun memperkenalkan diri.


"MasyaAllah keluarga besar dong. Senang sekali deh akhirnya bisa ketemu besannya Mas Krisna. Namaku Mila. Mamanya Akbar dan Aiko. Dulu waktu nikahan Rama, aku gak datang karena Aiko adiknya Akbar dirawat di rumah sakit. Terus waktu nikahan Cia udah sampe Jakarta, eh suami tiba-tiba sakit. Bukannya hadir malah ke rumah sakit. Makanya Akbar aja yang hadir jadi wakil keluarga. Jadinya kita belum pernah ketemu ya, Bu Sekar." Cerocos Mama Mila masih menggenggam tangan Bu Sekar dengan wajah berbinar.


"Ya ampun, Mila. Kamu yang ngomong aku yang cape." Mami Ratna menghela nafas panjang. Ciri khas adik iparnya memang seperti itu. Bu Sekar tersenyum mesem. Sementara orang yang ditegur biasa saja.


"Alhamdulillah ya, Bu Mila. Sekarang ditakdirkan ketemu." Bu Sekar lalu memanggil Aul dan Zaky yang tak jauh darinya. Memperkenalkan pada mamanya Akbar itu.


"Owalah ini toh calonnya Panji. Pantas aja Panji rela nungguin." Mama Mila lebih dulu mengajak cipika cipiki usai Aul mencium tangannya. Membuat Aul tersipu malu. Lalu ia beralih menerima salaman Zaky dan sedikit berbincang tentang alamat kampus di Singapura.


"Ami kemana, Bu?" Tanya Cia yang tak melihat keberadaan bungsunya Bu Sekar.

__ADS_1


"Lagi ke rumah dulu ngambil kamera, Kak." Zaky mewakili menjawab.


"Anak-anak gak ikut, Bu Mila?" Bu Sekar menatap mamanya Akbar.


"Yang ikut kesini cuma Akbar. Masih di atas nerima telepon dulu. Kalau Iko nemenin papanya ketemuan sama teman lama di Tasik." Sahut Mama Mila.


***


Akbar menerima telepon dari temannya sambil berdiri di teras, dekat pintu masuk rumah makan Dapoer Ibu. Obrolan masih berlangsung dimana sang teman mengkonfirmasi akan ada event touring skuter Vespa bulan depan. Tentu menjadi kabar baik baginya karena itu salah satu hobi yang sudah lama skuternya tidak mengaspal.


"Malam ini gak bisa ngumpul, gue lagi di luar kota." Sahut Akbar saat pembahasan beralih tema saturday night. Matanya tak sengaja menangkap sosok Ami yang berjalan ke arahnya sambil menunduk memainkan kamera DSLR.


"Sorry, Bro. Nanti gue telpon lagi ya. Acara mau dimulai." Akbar menyudahi panggilan dengan tergesa saat melihat Ami semakin dekat. Ia bergeser posisi berdiri segaris langkah si Cutie sambil membelakangi, dengan ponsel yang masih melekat di telinga.


Dug.


"Ya Allah!" Ami terkaget saat keningnya menubruk punggung seseorang karena terlalu fokus menunduk mengutak-atik kamera yang dipegangnnya. "Aduh punten ya, Aa. Gak sengaja." Ia menatap belakang kepala pria yang ditabraknya dan masih dalam posisi membelakangi itu. Hingga kemudian si pria perlahan memutar badan.


"Kalau jalan liatnya lurus ke depan. Jangan nunduk terus, Neng." Akbar tersenyum simpul.


"Arghh, Kak Akbar! Iiihhh....bisa-bisanya muncul kayak hantu." Ami spontan memekik girang dengan mata melebar. Lalu kemudian membekap mulutnya karena beberapa orang sampai menoleh. "Kok gak ngabarin mau datang ke siraman. Kirain ketemunya besok." Protesnya dengan senang bercampur malu. Jantungnya pun mendadak berdebar-debar kencang.


Akbar terkekeh-kekeh melihat kepolosan Ami. "Sengaja surprise, Cutie. Aku datang sama Mama, Tante Ratna, dan Cia. Mereka udah di bawah." Ia menatap intens wajah cantik dan anggun dalam balutan gamis warna hijau mint sebagai dresscode keluarga.


"Mi, di bawah ibu-ibu semua. Aku duduknya dimana?" Akbar menghentikan langkah saat melihat dari kaca jendela, pemandangan di area gazebo.


"Tenang...Kak Akbar gabungnya sama Kak Rama, A Zaky." Ami mengajak Akbar menuruni tangga.


Benar saja, ada satu gazebo yang diisi para pria. Diantaranya ada Rama dan Zaky. Akbar menghampiri saat Rama melambaikan tangan padanya. Dan Ami berlalu bergabung dengan Ibu usai memberikan kamera kepada Zaky.


"Teh Ratna, itu yang namanya Ami, bukan?" Bisik Mama Mila saat melihat Akbar berjalan dengan perempuan yang membawa kamera. Ingin memastikan wajah yang pernah dilihat dari link yang dishare oleh Leo.


"He em, betul. Itu si bungsu yang paling beda. Anaknya rame dan lawak." Mami Ratna terkekeh pelan. Membuat Mama Mila tersenyum simpul.


Sepanjang pengajian berlangsung, Ami yang duduk bersama Ibu dan dua kakak perempuannya, berkali-kali curi-curi pandang ke arah gazebo di sebrang kiri. Dimana ada Akbar sedang duduk sila dan mendengarkan tausiyah dengan khusyu. Sayangnya, Akbar tak pernah membalas tatapannya. Sesekali terlihat berbisik-bisik dengan Rama. Hingga pengajian berakhir dan berlanjut acara siraman.


Selalu ada momen mengharukan saat dimana almarhum Ayah Ramdan disebut dalam prosesi siraman oleh pemangku acara adat Sunda. Ibu Sekar menyeka sudut mata sambil menunduk. Termasuk pula Aul sang calon pengantin yang tidak bisa membendung air mata hingga berderai membasahi pipi. Puput terlihat berusaha tegar dengan mendongakkan kepala ke atas. Sementara Ami memejamkan mata dengan kuat.


Semua prosesi dilalui dengan lancar sampai di ujung acara. Para tamu pun pulang dengan membawa buah tangan. Hanya menyisakan keluarga terdekat yang masih bersantai dan berbincang-bincang.


Ami menghampiri gazebo di sebrang kolam ikan. Saat keluarga sudah mengantri prasmanan, Rama, Zaky, dan Akbar, masih anteng berbincang. Entah apa yang sedang dibahas. "Kakak-kakak, makan dulu tuh kata Ibu."

__ADS_1


"Pak wali nih yang harus banyak makan biar besok gak nervous." Akbar menepuk-nepuk bahu Zaky sambil terkekeh.


Zaky tertawa lepas. "InsyaAllah udah pengalaman, Mas. Gak akan terlalu nervous." Jawabannya membuat Rama mengepalkan tangan ke atas. Memberi semangat.


"Yuk, Bar. Makan dulu!" Rama beringsut turun dari gazebo diikuti oleh Zaky.


"Duluan aja. Nanti nyusul." Akbar melihat Rama dan Zaky menuju meja prasmanan. Tinggallah berdua dengan Ami.


"Mi, besok mau dibantuin mulung nyawer gak?" Akbar beringsut mengikuti cara duduk Ami yang duduk di tepi gazebo dengan kaki terjuntai ke lantai paving.


"Mau banget kalau Kak Akbar gak keberatan." Ami tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Aku kasih duitnya aja deh biar gak desak-desakan mulung sawer." Bujuk Akbar.


"Nggak mau." Ami menggelengkan kepala. "Justru punya duit dari hasil mulung sawer tuh rasanya excited, Kak."


"Oke deh." Akbar mengangguk dan tersenyum. "Oh ya, udah ketemu sama Mama aku, belum?" Ia menatap Ami dengan wajah serius.


"Yang mana, Kak?" Tadi waktu siraman, hanya salaman ke Mami dan Kak Cia." Ami menatap Akbar dengan ekspresi serius.


"Tuh baru duduk sama Ibu." Akbar menunjuk dengan dagu ke arah Mama Mila yang memegang piring dan diajak duduk bersama dengan Ibu Sekar. "Kesana yuk sekalian aku juga belum ketemu ibumu." Ia berdiri lebih dulu sambil menepuk-nepuk baju koko putihnya yang sedikit kusut.


"Ayo!" Ami dengan sigap berjalan lebih dulu menuju gazebo yang ditempati dua orang wanita paruh baya. Sementara Puput menemani Aul di rumah yang akan dihias henna di tangan oleh tim perias pengantin.


"Bu, maaf baru salaman." Akbar terkekeh lalu menyalami Ibu Sekar dengan takzim. Dan Ibu Sekar hanya tersenyum.


Ibu Sekar beralih menatap Mama Mila. "Bu Mila, nah ini yang bungsu namanya Rahmi biasa dipanggil Ami." Ujarnya. Lengkap sudah memperkenalkan semua anak-anaknya.


"MasyaAllah, anak-anak Ibu Sekar cantik-cantik dan ganteng. Ini si bungsu bakal dipinang siapa nanti ya. Sekolah kelas berapa, Neng?" Mama Mila menatap Ami yang baru saja mencium tangannya.


"Kelas 11, Tante." Ami mengulas senyum ramah. "Aku mau kok dipinang sama anak Tante." Sambungnya yang hanya terucap dalam hati.


"Wah masih kinyis. Kalau udah kuliah tak jadiin mantu aku deh Bu Sekar. Hihihi." Ucap Mama Mila tanpa beban. Ia melanjutkan makan usai menawari Ami dan Akbar makan bareng.


"Mi, temenin Kak Akbar ngambil prasmanan gih! Yang lain udah pada makan." Ibu menyuruh Ami yang mencomot kerupuk di piringnya.


"Ayo, Kak. Aku temenin." Ami turun dari gazebo dengan semangat.


Akbar berjalan di belakang Ami sambil tersenyum samar. Sabar...Step by step.


...****************...

__ADS_1


Bestie, Bab mendebarkan ada di bab selanjutnya. (double up) midnight


__ADS_2