
"Bu, Papa pergi dulu ya." Pak Bagja nampak tergesa-gesa saat berpamitan kepada Ibu Sekar yang baru turun dari lantai 2.
"Papa mau kemana?" Ibu Sekar mengernyit heran. Karena suaminya itu sebelumnya tidak ada rencana bepergian. Apalagi setelah acara jogging batal karena masalah yang menimpa Ami.
"Papa mau olahraga dulu. Nggak lama kok. Ibu siap-siap aja packing barang-barang kita ya. Assalamualaikum." Pak Bagja memberi kecupan kilat di kening Ibu Sekar. Bergegas pergi dengan langkah lebar.
Kening masih berkerut karena jawaban diberikan Pak Bagja belum memuaskan. Tak urung menjawab salam sang suami yang sudah hilang di balik pintu.
Olahraga bukan sembarang olahraga. Pak Bagja menyetir sendiri melajukan mobilnya ke sebuah bangunan tua yang mirip sebagai gudang bekas. Dalam 1 x 24 jam, anak buahnya berhasil menangkap tiga orang yang berada di dalam mobil yang berniat menculik Ami. Di mana mobil yang digunakan Itu ternyata mobil rental.
Orang pertama yang berhasil ditangkap adalah sopir. Barulah dari pengakuan sang sopir, bisa menciduk 2 orang lagi yang merupakan pelaku utama penculikan.
"Siapa yang nyuruh?" Tanpa basa-basi Pak Bagja langsung mengintrogasi tiga orang yang kini tangannya diikat menggantung ke atas. Tidak adanya barang bukti rekaman kamera pengawas, hanya mengandalkan Ami sebagai saksi dan tanpa adanya cedera, menjadi tidak ada kekuatan untuk menjerat mereka dengan pidana. Maka memberi pelajaran menjadi jalan ninja.
Masing-masing dari tiga orang itu menggelengkan kepala. "Tidak tahu, Pak."
"Oke. Kebetulan sekali hari ini saya belum olahraga." Seolah dianggap samsak, Pak Bagja melayangkan tinjunya ke perut tiga orang yang tangannya digantung ke atas itu.
Bugh...bugh....bugh.
Erangan kesakitan pun terdengar dari bibir tiga orang tersangka pelaku penculikan itu.
"Beri mereka pelajaran sampai mau bicara!" Tegas Pak Bagja usai berolahraga 'peregangan tangan'. Ia memberikan perintah kepada tiga anak buahnya yang berdiri mengawasi.
"Siap, komandan." Tiga orang anak buah Pak Bagja itu menjawab kompak.
"Hai, asal kalian tahu. Anak yang kalian culik itu adalah anak jenderal. Elo pada udah cari masalah. Bugh!" Usai prakata dari salah satu anak buah Pak Bagja, bogem mentah pun mengarah ke wajah para pelaku secara bersamaan.
Pak Bagja melipat kedua tangan di dada. Menyaksikan dengan aura dingin terhadap tiga orang anak buahnya yang memberi pelajaran satu lawan satu. Hingga babak belur, barulah ada yang buka suara.
"Kita dapat order dari Jakarta."
"Dari siapa?"
"Bang Konyal."
Pak Bagja menyuruh anak buahnya membebaskan tiga orang pelaku upaya penculikan Ami itu. Cukup memberi pelajaran saja dan dengan peringatan agar berhenti menjadi preman. Usai mengantongi informasi tentang orang bernama Konyal itu, Pak Bagja pun meninggalkan gudang. Investigasi dan perburuan lanjutan menjadi urusan anak buahnya. Sistem order ini ia yakini ada dalang utamanya
***
[Hai, Cutie alias Ami Selimut 😉]
[Sepertinya sekarang udah waktunya aku jujur. Aku udah muak akting berlama-lama]
[To the point. Hubungan kita selama ini...Just for fun. Pake logika aja...mana mungkin aku nikah sama bocah 🤣]
__ADS_1
[Besok prewed kita? hehe hanya dalam mimpi. Sejauh ini experiment dan taruhanku dengan teman² udah berhasil. Yes. Aku menang]
[Maaf ya Mi...belajar yg bener. Cari pacar yang selevel. Oh ya, makasih untuk 2 tahun ini. Apa yang udah aku kasih selama ini anggap aja sedekah. Now, waktunya rayakan kemenangan 🥂]
Adalah rentetan chat dari Akbar yang sedang dibaca Padma di kamarnya Ami. Ditambah sebuah video di mana Akbar sedang mabuk sambil berjoget dengan seorang wanita seksi di sebuah kamar. Lalu satu foto adegan tidur bersama perempuan itu, saling berpelukan, dengan badan tertutup selimut. Menyisakan pemandangan bahu dan punggung yang polos.
"Ami...Padma benar-benar nggak percaya kalau ini chat dari Kak Akbar." Air mata Padma pun luruh. Ikut merasakan sakit hati seperti yang dirasakan Ami yang sedang menata pakaian ke dalam koper dengan wajah yang sembab dan mata yang bengkak.
"Aku juga sama awalnya gak percaya. Akan lebih nggak percaya kalau yang ngirimnya dari nomor yang tak dikenal. Terus aku udah coba minta klarifikasi dengan menelepon Kak Akbar. Tapi yang menerima suara cewek yang serak dan membentak aku. Katanya, gangguin orang tidur aja. Telepon dimatiin sepihak saat aku bilang minta bicara sama Kak Akbar. Terus diulang lagi telepon malah gak aktif. " Jelas Ami dengan suara yang masih parau. Ingin tegar, apa daya air mata mendesak lagi. Tumpah membasahi kedua pipi. Terlalu sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Padma, hapusin semua yang ada di room chat dia. Aku gak mau lihat lagi foto sama video menjijikan itu."
Padma tidak menyahut. Ia terdiam dengan kening mengkerut. Kedua jempolnya bergerak cepat. Setelah puluhan detik barulah ia berkata, "Sudah, Mi."
Sebuah kejutan di kala kepedihan itu memberi secercah tenaga. Ayah sambungnya ternyata memang sudah mempersiapkan rencana akan liburan ke Jerman pekan depan. Berangkat bertiga dengan Ibu Sekar. Semua dokumen sudah disiapkan. Dengan kejadian ini, dengan pertanyaan ulang dari Papa Bagja tentang kepastian ingin pergi ke Jerman, Ami mengangguk pasti. Ia ingin meninggalkan Ciamis untuk menenangkan diri sejauh mungkin. Kepalanya sangat berat. langkah ke depan serasa menjadi gelap.
Padma datang ke rumah Ami selepas magrib karena ditelepon Ibu Sekar. Ibu Sekar sangat tahu jika Padma dan Ami begitu dekat. Bestie-nya Ami itu harus tahu perihal keberangkatan ke Jakarta malam ini.
"Ami Jangan lama-lama ya di sananya. Padma pasti akan kangen berat. Padma yakin Ami cewek kuat. Bisa cepat move on menata hati dengan cepat. Munaroh bakal kangen sama Marimar."
Ami dan Padma saling berpelukan. Menangis bersama tanpa dikomando. Sedih. Kenapa tiba-tiba berpisah dengan cara seperti ini.
Sebelum keluar dari kamar, Ami menatap boneka panda yang selama ini menemani siang dan malam. Boneka dengan segala kenangan itu, ditatapnya nanar. Ia menutup pintu dengan hati yang perih. Menyusul Padma yang lebih dulu turun membawakan kopernya.
"Ibu yakin tidak akan ngasih tau Teteh?" Aul menatap Ibu Sekar dengan perasaan terluka dan kecewa terhadap Akbar yang sudah membuat adiknya patah hati. Rasanya ingin marah dan melabrak. Namun ia harus sabar menunggu Panji yang sedang berada di Bandung, baru berangkat pagi tadi untuk urusan pekerjaan. Baru akan pulang lusa.
Aul mengangguk dengan wajah layu dan tatapan sendu. Ia terkaget saat ibu meneleponnya jam empat sore tadi meminta datang ke rumah ini. Hingga kemudian mendengar penjelasan detail tentang masalah yang menimpa Ami. Ia pun sudah menemui Ami di kamarnya dan penasaran membaca isi chat itu. Hanya bisa memberi pelukan sebagai penghiburan.
"Kami berangkat ya, Aul. Tenang aja, Papa sama Ibu nggak akan tinggal diam. Hanya sekarang ini fokus menenangkan Ami dulu Ami butuh suasana baru." ucap Pak Bagja terhadap Aul yang mengantar sampai ke pekarangan rumah.
"Iya, Pa. Semoga perjalanannya lancar dan selamat." Aul mencium punggung tangan Pak Bagja. Ia dan Padma menatap laju mobil yang perlahan meninggalkan pekarangan rumah.
"Teteh akan anterin Padma pulang. Tapi nanti Padma bersikap biasa ya. Kan Enin lagi sakit. Jangan dulu tahu masalah ini. Nanti jadi beban pikiran." Aul merangkum bahu Padma yang nampak sedih.
"Iya, Teh." Padma menjawab lesu. Bestie-nya telah pergi.
***
Summer in München, Jerman
Sudah delapan hari lamanya Ami berada di München. Tinggal di Einzelapartment yang disewa Gina yang kuliah di Technical University of München (TUM). Einzelapartment jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya apartemen tunggal atau apartemen satu kamar.
Hari ini minggu pertama bulan Juli. München sedang memasuki puncak musim panas. Meski disebut musim panas, kota ketiga terbesar di Jerman ini cuacanya sering kali hangat, tidak panas. Dengan suhu udara berkisar 19 derajat celcius, terasa hangat.
"Ami gak apa-apa Papa dan Ibu pulang sekarang?" Pak Bagja memastikan lagi keadaan psikologi anak sambungnya itu yang selama tiga hari pertama masih enggan ke mana-mana. Barulah di hari keempat mau diajak jalan-jalan ke taman dan tempat wisata lainnya di wilayah München yang lingkungannya hijau dengan bangunan berarsitektur klasik Eropa.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pa. Karena aku udah tanya Teh Gina katanya gak masalah direpotkan sama aku." Ami tersenyum mesem. Dikatakan suasana hatinya lebih baik dari seminggu sebelumnya? Iya. Suasana dan lingkungan baru membantu menebalkan ketegaran. Selama ini, ponselnya dinon aktifkan. Hati yang rapuh membuatnya benar-benar tak ingin diganggu oleh siapapun. Komunikasi dengan keluarga dan Padma, bisa melalui ibu.
Gina tertawa. "Aku malah seneng, Pah, Bu. Jadi aku ada teman ngobrol di apartemen. Sekalian aja kuliah di sini ya, Mi."
"Nanti aku pertimbangkan. Nunggu dulu kapan Teh Gina mau ngajak aku ke kampus TUM."
"Besok kita ke TUM . Hari ini kita antar papa dan ibu ke bandara. Terus kita jalan-jalan deh ke sungai Isar. Kita nikmati liburan musim panas dengan bahagiakan diri sendiri." Gina memeluk bahu Ami dengan wajah semringah. Memberi semangat pada sang adik sambung agar kembali ceria.
Ami ikut mengantar Ibu dan Papa ke Munich Airport. Ia memastikan kepada ibunya jika dirinya baik-baik saja.
"Ibu jangan cemas. Aku mau menikmati dulu liburan di sini. Pengen puas keliling Munich sama Teh Gina. Aku akan pulang sebelum jadwal ospek kampus."
"Jadi mau tetap kuliah di UI atau di Jerman nih?" Ibu Sekar menaikkan satu alisnya.
"Ah gimana nanti deh. Belum bisa mikir sekarang." Ami tersenyum kecut. Membicarakan UI mengingatkannya pada mind map yang sudah disusun. Otomatis teringat kepada Akbar. Pria itu sampai sekarang tidak ada kabarnya. Sama sekali tidak ada menghubungi Ibu ataupun Papa. Membuat Ami semakin yakin hubungannya sudah kandas. Merasa jadi korban cinta palsu.
***
Hujan sudah reda bersamaan dengan terbitnya sinar mentari. Meninggalkan sisa basah di jalanan dan dedaunan yang pelan tapi pasti mulai mengering karena sapaan sinar mentari yang hangat. Meskipun musim panas, sesekali hujan akan menyapa bumi München.
"Teh Gina, let's go gowes. Ujan udah berhenti." Seru Ami yang terdengar semangat. Menyongsong Gina yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah usai keramas. Ini hari ke lima belas ia berada di München yang juga ibukota Bavaria, bagian negara Jerman ini.
"Okay, siapa takut. Aku udah telepon teman, pinjam sepeda buat Ami pakai. Bentar ya keringin rambut dulu." Gina tak kalah semangat. Hari Minggu memang cocok untuk berjalan-jalan dengan mengayuh sepeda yang jalanannya sangat ramah bagi para pesepeda.
Sambil menunggu, Ami sengaja membuka jendela apartemen lebar-lebar. Menghirup udaranya yang segar usai subuh tadi diterpa hujan. Secara mental, rasanya hari ini lebih baik dari hari-hari kemarin. Meski jujur saja rindu menyiksa. Ia tak bisa serta melupakan sosok Akbar begitu saja. Sejak subuh tadi benar-benar puncaknya merindu. Dengan berkegiatan di luar ruangan, berharap bisa melupakan atau mengalihkan pikiran terhadap cinta pertamanya itu.
Ami dan Gina mengayuh sepeda dengan santai menuju Englischer Garten. Adalah taman kota terbesar di Jerman, bahkan di Eropa yang didirikan pada tahun 1789. Taman ini telah diperbesar selama berabad-abad dan saat ini luasnya 370 hektar. Taman ini memiliki gugusan pohon dan tanaman yang rimbun alami serta Sungai Isar yang mengalir sepanjang 9 km. Sungguh suasana alam yang sangat cocok untuk merefresh pikiran.
Tawa renyah terdengar lepas saat Ami dan Gina menjatuhkan badan di rumput hijau. Sama-sama beristirahat sambil mengatur nafas usai bersepeda selama lebih dari setengah jam. Kawasan taman kota itu juga ramai orang-orang yang melakukan jogging juga bermain sepak bola.
"Mi, boleh tanya gak?" Gina membuka percakapan sambil mengeluarkan bekal makanan dari dalam tas ranselnya.
"Tanya aja, Teh. Gak usah sungkan gitu." Ami Masih betah tiduran telentang dengan mata terpejam. Membiarkan sinar mentari menghangatkan kulitnya.
"Hm, gimana perasaan Ami sekarang? Udah bisa lupain Kak Akbar?" Gina bertanya dengan hati-hati.
"Jujur aja kalau ngelupain belum bisa. Kak Akbar cinta pertama aku. Dan aku benar-benar udah percaya kalau dia tulus sayang sama aku. Tapi ternyata aku terlalu lugu nggak bisa membedakan mana cinta yang tulus dan mana cinta palsu. Dan jujur aja hari ini aku lagi merindukannya." Ami tertawa sumbang dengan wajah meringis. Ia masih tetap enggan membuka mata. Lebih suka menikmati semilir angin yang bisa berharap menembus hati dan mengipasi luka yang berusaha sedang dijahitnya itu. Tak ingin terus menerus meratapi kemalangan nasib cintanya.
"Mi, gimana kalau yang kemarin itu cuma fitnah aja?"
"Kalau fitnah, harusnya dia klarifikasi. Okelah nomorku emang nggak aktif. Cowok yang baik, dia harusnya datang pada ibu. Tapi mana? Ibu pun sampai sekarang nggak pernah ngasih kabar kalau dia minta maaf. Apalagi lebih bagus kalau menyusul ke sini. Buktinya nggak kan?"
"Sekarang baru kusadari. Harusnya aku fokus belajar. Jangan dulu jatuh cinta.dulu aku sering memelas pada keluarga, Biarkan Aku Jatuh Cinta. Tapi ternyata realita tak seindah mimpi dan cinta. Aku mau akhiri sakit hati ini. Aku mau daftar kuliah di TUM. München udah memberi aku semangat memulai hidup baru." Ami meyakini jika Gina masih mendengarkan curhatannya Iya sambil memejamkan mata. Namun mendadak hidungnya mengendus-endus aroma parfum yang familiar di indera pembauny.a Mendadak darahnya berdesir. Ini pasti halusinasi, pikirnya.
"Cutie, dimanapun kamu kuliah, aku akan temani."
__ADS_1
...*********...
Fyi. München dan Munich adalah nama kota yang sama. München adalah kata dalam bahasa Jerman. Sedangkan Munich adalah kata dalam bahasa Inggris.