
Ibu Sekar mematung usai memastikan membaca isi kartu dengan tulisan tangan yang tak begitu rapih tapi bisa terbaca dengan jelas. Sejenak bingung bersikap menghadapi Ami yang malah heboh sendiri sambil berjingkrak kegirangan. Pak Bagja sudah sekian kali mengatakan mengajak menikah. Jadi bukan hal yang mengejutkan. Namun ini kali pertama mengungkapkan lewat tulisan di kartu. Dan malah yang membacanya si bungsu. Sungguh jadi malu dibuatnya.
Ami mengipasi wajah yang menjadi kegerahan karena aksi hebohnya sendiri. Beralih berdiri di depan Ibu dan dengan sengaja mendekatkan wajah mengamati wajah ibunya sembari senyam-senyum. Yang kemudian berbuah sentilan jari Ibu di keningnya.
"Ciee Ibu dilamar Pak Happy. Gimana Bu, apa mau diterima?" Ami menaik turunkan alisnya.
"Emangnya Ami mau punya ayah sambung?" Ibu memperhatikan raut wajah Ami untuk menilai ekspresinya.
"Hm, aku udah sadar Bu. Aku gak boleh egois sebagai anak. Ayah sampai kapanpun tak akan tergantikan posisinya. Ayah udah punya tempat tersendiri. Terus aku emang dulu takut punya ayah sambung karena ada teman aku yang ngalamin punya ayah sambung galak suka mukul. Tapi ternyata di luar sana banyak juga ayah sambung yang baik. Dan aku lihat Pak Happy orangnya baik. Teh Gina juga welcome sama Ibu. Asal Ibu bahagia. So, why not." Ami mengangkat kedua. Sebagai isyarat keputusan akhir diserahkan pada ibunya.
Ibu Sekar menatap Ami penuh keharuan. "Ibu gak nyangka ternyata Ami udah dewasa. Terlalu cepat ini. Jangan dulu dewasa, Mi. Tetep jadi Ami yang imut yang sampe SMP masih tidur di kamar Ibu. Ibu ingin Ami yang dulu suka memburu snack dari pengajian."
"Lah Ibu. Aku malah kebalikannya. Aku malah pengen cepet lulus SMA. Karna mau nikah muda. Makanya dari sekarang mulai belajar masak biar gak malu-maluin mertua. Terus biar doi makin klepek-klepek sama aku." Sahut Ami tanpa berani diucapkan. Masih monolog hati saja.
"Ish Ibu mah. Kalau aku tetap imut kayak bocah, kapan bisa punya pacar." Ami menjawab dengan memasang wajah imut.
Ibu tertawa kecil. Dimaklumi jika si bungsu sedang masa puber. Kadang terdengar pula obrolan teman-teman Ami yang bergosip membahas si A si B yang sudah punya pacar. Ia biarkan sambil tetap mengawasi. Melihat jam yang sebentar lagi waktunya Isya, kartu yang dalam genggaman segera disimpan ke dalam lemari dengan alibi mengambil mukena baru.
"Jadi gimana, Bu? Apa Ibu mau jawab 'yes I will'?" Ami masih terus mendesak karena belum mendengar jawaban Ibu.
"Sudah adzan. Ayo ke masjid! Ngobrolnya bersambung." Ibu merangkum bahu Ami sambil menenteng goodie bag berisi mukena dan sajadah.
Nyatanya sepulang tarawih, Ibu tidak melanjutkan pembahasan soal Pak Bagja. Dengan mengatakan nanti saja dibahasnya saat semua kumpul.
Ami tak lagi mendesak. Ia kirimkan foto oleh-oleh dari Pak Bagja ke grup keluarga agar diketahui ketiga kakaknya. Namun soal lamaran Pak Bagja di skip karena permintaan Ibu. Jadilah bersantai berdua sambil ngemil di depan televisi tanpa menyentuh ponsel. Sebelum akhirnya bubar menuju kamar masing-masing saat jarum pendek menunjuk ke angka sembilan.
[Kang, kenapa gak bilang di dalam tas ada kartunya?]
[Aku belum buka-buka isi tas. Malah Ami yang nemuin karna dia pengen liat hadiah yang buat aku]
[Aku sampai malu digodain Ami 🙈]
Tiga pesan sudah dikirimkan Ibu Sekar usai mengaplikasikan skin care malam. Lalu berbenah selimut dan bantal bersiap tidur. Ponsel disimpan di bantal yang kosong sebelahnya. Menunggu balasan.
__ADS_1
[Tidak ada yang kebetulan bukan? Jadi niat baik aku diketahui Ami. Itu bagus 😊]
[Terus reaksi dia gimana?]
Ibu Sekar membaca balasan dari Pak Bagja yang terkesan santai tidak kaget.
[Ya gitu deh. Udah ya, Kang. Udah malam takut sahur kesiangan]
[Ah hampir lupa. Jazakallah untuk oleh-olehnya 🙏]
Bu Sekar tak menunggu balasan Pak Bagja. Segera menyimpan ponsel di nakas karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Mengantuk. Biar nanti dicek saat bangun sahur.
Di kamar atas, Ami membaca pesan dari Akbar yang malam ini tidak bisa menelpon karena masih di jalan menuju pulang. Malah menyuruh segera tidur agar sahur tidak kesiangan. Ia menurut meski sedikit kecewa karena tadinya mau curhat tentang ibu yang dilamar Pak Bagja. Harus sabar menunggu nanti setelah subuh katanya akan menelpon.
***
"Apa alasan Cutie setuju Ibu nikah lagi agar nanti restu untuk kita lancar?" Tebak Akbar usai mendengar curhat Ami. Ia menepati janjinya menelpon Ami usai sholat subuh.
"No, Cutie. Menurutku itu kurang tepat. Sama seperti nyogok. Sebaiknya Cutie ngasih restu karna memang beliau itu qualified sebagai calon suami baru Ibu juga ayah sambung. Gak boleh asal-asalan ya, sayang. Soal hubungan kita, tenang aja aku akan perjuangkan sampai dapat tiket dari semua keluarga Cutie."
"Oke deh, Kak. Tapi nomer satunya emang karena Pak Happy dari dulu keliatan baik. Udah kenal lama. Suka diundang ke acara pengajian di rumahnya. Terus anak-anaknya juga welcome sama Ibu. Intinya aku udah ngasih lampu hijau. Keputusannya terserah Ibu aja."
"Bagus. Ini namanya pemikiran dewasa. Makin cinta deh sama Cutie."
"Aih, bisa aja Papa Panda. Nanti jadi pengen buka puasa sama bakwan deh. Bagiku Kak Akbar yang menawan."
Dengan kompak, gelak tawa tercipta di pagi buta.
"Bakwan kayaknya cocok dimakan sama bakmie pedas ya."
"Ini beneran bakmie pedas apa singkatan, Kak?"
"Singkatan dong. Aku gak mau kalah pintar ngegombal sama Cutie."
__ADS_1
"Hihihi. Jadi apa tuh bakmie pedas?"
"Bagiku Ami Perempuan Cerdas. Masuk kan Bu Eko?"
"Hahaha. Masoook lah Pak Eko."
Lagi, gelak tawa kompak tercipta penuh keriaan.
Cukup sudah kangen-kangenan di pagi buta ini. Ami pun meninggalkan kamar untuk bersiap membuat kue lebaran di hari pertama libur sekolah. Sangat bersemangat. Demi apa? Demi Ayang tentunya. Mungkin tak seberapa jika dibanding pemberian uang jajan yang selalu ia terima tiap akhir bulan. Namun ini bukan soal nilai rupiah, melainkan nilai perhatian.
"Ngemixer untuk kue kering beda sama cake. Kalau adonan cake pakai speed 5 sampai memutih, untuk kue kering pakai speed 1 dan waktunya cukup lima menit yang penting kalis. Kelamaan ngocok nantinya kue yang udah di oven hasilnya suka pecah kadang meleber. Rasa juga pengaruh."
"Wuah, baru tahu. Taunya tinggal makan sih. Baiklah aku catat dalam memori. Sebagai anak Ibu Sekar gak boleh malu-maluin dong. Bismillah, aku bisa." Ami mulai menekan tombol 1. Dimana semua bahan dasar sudah menyatu dalam wadah. Karena memakai mixer duduk, ia hanya mengawasi kerja mixer sambil merapihkan bagian sisi dengan spatula.
Selai nanas sudah lebih dulu dibuat kemarin siang oleh Ibu agar hari ini siap pakai. Hingga hari beranjak siang, nastar yang sudah diolesi kuning telur siap di oven bertahap.
"Neng Ami, ada paket. Simpan dimana ini?" Bi Ela mendekati Ami yang sedang memasukkan loyang-loyang ke dalam oven. Ia ditolak Ami saat akan membantu membuat nastar. Nanti saja katanya kalau membuat kastengel, baru boleh membantu.
"Paket apa ya, Bi? Aku gak order kok." Ami mengernyit heran. Usai menutup oven, barulah melihat paket yang masih dipegang Bi Ela.
"Ya Salam!" Ami memekik kaget usai membaca nama pengirim di resi yang menempel di permukaan paket.
"Ada apa, Mi? Bikin kaget aja." Ibu Sekar dengan membawa keju dari tengah rumah. Persiapan membuat adonan kastengel.
"Aku lupa cerita ya sama Ibu. Dua hari yang lalu Mama Mila telepon, katanya mau ngasih baju lebaran buat aku."
"Mama Mila, mamanya Akbar?" Ibu mengerutkan kening menatap Ami.
"Iya. Katanya alasan Mama Mila ngirim baju lebaran karena sayang sama aku seperti anak bungsunya. Aku kan awalnya manggil beliau tante. Tapi malah protes ingin dipanggil Mama." Jelas Ami dengan dada berubah deg degan takut Ibu curiga.
"Unboxing dong, Mi. Ibu pengen liat."
Ami merasa lega karena Ibu tidak memperpanjang introgasi. Ia pun penasaran ingin tahu isinya.
__ADS_1