
"Bunganya cantik. Makasih, Kak." Akhirnya Ami bisa bersuara di tengah salah tingkah yang dirasakannya. Berdiri saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat seperti itu, membuat dada bergemuruh dan badan meriang.
"Bunganya biasa aja. Yang cantik itu yang lagi meluk buket. Ah, aku pengen berubah jadi buket deh." Akbar tersenyum mesem menatap wajah si Cutie yang tersenyum merona. "Kamu suka, Cutie?"
"Suka banget." Ami mengarsir setiap kelopak mawar merah dengan ujung jari. Senyumnya terus mengembang.
"Cium dong!" Akbar memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Baju koko slimfit warna putih yang membungkus badan ramping dan berotot, semakin memberi kesan macho dan cool.
"Eh eh, gak boleh. DOSA!" Ami berucap tegas diiringi gelengan kepala.
"Cium bunganya, Cutie. Bukan cium orangnya. Kan barusan lagi bahas bunga."
"Kirain...." Ami menipiskan bibir melihat Akbar yang tertawa. Jangan ditanya wajahnya yang merona karena sudah salah kira.
"Duduk dulu yuk!" Akbar menunjuk ke arah satu set sofa.
"Kalau duduk nanti jadi betah, Kak. Kita harus balik ke restoran. Ingat tadi janjinya cuma ikut sebentar." Ami menyipitkan mata diiringi senyum miring.
Akbar menghela nafas panjang. "Berasa baru semenit berduaannya. Ya udah, Cutie dulu deh yang keluar. Nanti aku nyusul."
"Iya. Tapi ini buket gimana ya. Aku gak mungkin bawa ke resto. Tapi aku pengen bawa pulang. Gak mau ditinggal disini. Tapi nanti kalau ditanya dari siapa gimana? ah pusing deh." Ami mende sah kasar.
"Tenang aja. Buket ini bisa dibawa pulang tanpa harus beralasan bohong. Biar sementara ditinggal dulu disini."
"Caranya?"
"Serahin aja sama Panda mu yang smart ini." Akbar memeletkan lidah diiringi senyum miring.
"Aihhh, Kanda Panda ayang aku kok jadi cute sih. Tambahin ah, Panda smart and handphone. Eh....handsome." Ami mengedipkan sebelah mata.
Akbar tertawa renyah. "Sana ah cepet pergi. Aku takut khilaf."
"Dih, jadi ngusir ya. Anterin atuh sampai pintu." Ami merajuk.
Akbar menarik sudut bibirnya. Jarak ke pintu paling enam langkah. Tapi ia suka saat-saat manjanya Ami muncul ke permukaan. Dimaklumi namanya juga anak bungsu. Terkadang ia merasa menjadi kakak di saat menjadi pendengar curhatan si Cutie yang masih galau memilih jurusan kuliah nanti.
"Ish, Kak Akbar jalannya jangan mendahului. Mundur lah, aku duluan yang jalan!"
"Kan mau bukain pintu buat ayang." Tak urung Akbar menuruti permintaan Ami. Berhenti melangkah dan mundur ke belakang Ami.
"Biar aku aja yang buka pintunya. Kak Akbar kalau jalan di depan, cakepnya kelewatan. Hihihi, bye...." Ami memeletkan lidah usai membuka pintu. Menutup pintu dengan cepat saat tangan Akbar akan mengarah ke wajahnya.
Akbar meremas rambutnya diiringi tawa. Tak berhasil menjawil pipi si Cutie membuatnya gemas sendiri. Apa kata orang kalau ada yang melihat tingkahnya yang kini senyum-senyum sendiri dalam ekspresi riang. Sejenak menikmati dulu keriaan yang masih membekas sebelum kembali ke restoran dengan ekspresi normal.
Ami berjalan ke arah restoran sambil membekap mulut yang masih cekikikan tanpa suara. Berhasil menjahili Akbar. Semakin dekat dengan pintu kaca, ia berdehem untuk menormalkan ekspresi riangnya. Ternyata bumil Aulia sedang tampil bernyanyi Rahmatun Lil A'alameen duet dengan Panji, diiringi orkes gambus modern. Memang, mengundang grup orkes gambus modern itu karena keinginan Aul. Mengingat suasana lebaran yang lebih cocok hiburannya bertemakan religi.
"Ate....ate...ate." Rasya berteriak girang. Setengah berlari menghampiri Ami yang baru masuk. "Ate dali mana? Aa cali-cali gak ada." Ia mengayun-ayunkan tangan kiri Ami sambil berjingkrak-jingkrak.
__ADS_1
"Dari toilet dulu pengen pipis." Ami mengajak Rasya menghampiri meja prasmanan.
"Mi, Rasya belum makan. Pengen bareng ate katanya." Puput mendekat usai mengambil es doger.
"Asiap." Ami mengajak Rasya memilih sendiri lauknya. Ia sendiri memilih nasi tutug oncom dan udang tusuk serta tahu kriuk. Dan pilihan keponakannya itu hanya ayam goreng dan nasi putih. Mengambil tempat duduk satu meja dengan ibu, acara makan pun berlangsung santai. Sempat beradu tatap sebentar dengan Akbar yang baru masuk dengan wajah cool.
"Mi, kita dipanggil Mama Mila ke mejanya." Padma berdiri di samping kursi yang diduduki Ami.
"Bentar cuci tangan dulu ya." Ami meneguk air mineral yang disediakan dalam kemasan botol medium.
"Aa ikut!" Rasya menggigit ayam goreng untuk yang terakhir kali karena takut ditinggalkan.
Usai cuci tangan, jadilah melangkah bertiga ke meja Mama Mila yang hanya duduk bertiga dengan Mami Ratna dan Bunda Ratih. Dan mamanya Akbar itu menyambut dengan wajah semringah.
"Ami dan Padma....Wowwww... Anak gadis cantik dan bertalenta. MasyaAllah luar biasa tadi perform nya. Mama dibikin terhibur sama MC nya. Mama dibikin terharu berkaca-kaca sama qoriah nya. Pasti orangtuanya sangat bangga dong. Mama aja bangga. Terus dikembangkan ya bakatnya biar dikenal masyarakat luas. Ngomong-ngomong, Ami sekarang kelas berapa, Padma kelas berapa?" Mama Mila menyuruh waiter yang lewat mengambil kan dua kursi agar Ami, Padma, dan Rasya duduk.
"Aku mau naik kelas 12, Ma. Tinggal nunggu ujian aja." Ami lebih dulu menjawab.
"Padma minggu depan ujian. Terus bebas deh nunggu kelulusan SMP. Mau lanjutin ke SMA nya Ami. Mudah-mudahan nanti lulus tes." Padma tersenyum mesem.
"Yakin lulus deh. Tes tulisnya soal dan essay gampang kok. Tes prakteknya bacaan sholat dan hafalan 15 surat juz amma. Buat Padma mah langsung libas." Ami menjentikkan jari di depan wajah Padma. Mendukung bestienya satu sekolah dengannya meski hanya bisa bersama selama satu tahun.
"Keren memang kalian berdua. Mama salut." Mama Mila mengacungkan satu jempolnya.
"Aa gak ditanya." Rasya mengerucutkan bibir. Sontak saja semua orang dalam satu meja itu tertawa lepas.
Mami Ratna menyusut sudut matanya yang berair karena puas tertawa. Mentertawakan protes sang cucu yang malah lucu. "Oma Mila gak tau sih, nih bocah kalau lagi ngumpul harus diajak bicara. Tanya apa aja deh yang penting merasa dianggap." Ia mencium puncak kepala sang cucu yang duduk di kursi sampingnya.
"Aa Las sya, Oma Mila." Ralat Rasya yang malah kembali menciptakan tawa.
Mama Mila menepuk jidat. "Aduh, kliru meneh. Aa Rasya, udah sekolah belum?"
"Udah. Aa sekolahnya play glup. Sekolahnya diantelin Papa Lama. Dijemputnya sama Umma Puput."
"Papa Rama, Aa. Bukan Papa Lama." Padma cekikikan karena ucapan cadel Rasya. Sejenak semuanya terhibur oleh tingkah anaknya Puput itu.
"Nih, Mama sengaja manggil Ami sama Padma. Mau ngasih THR. Udah disiapin dari Jakarta. Tapi karena ada surprise perform, jadi Mama tambahin isinya." Mama Mila membuka tasnya. "Buat Aa Rasya sama adeknya juga ada. Tenaaang." Ia buru-buru mengabsen sebelum didemo lagi oleh Rasya.
"Alhamdulillah makasih, Mama." Ucap kompak Ami dan Padma saat menerima amplop panjang.
"Makasih, Oma Mila." Ucap Rasya yang juga dititipi satu amplop untuk adek Rayyan.
"Kalau Iko mau ngasih apresiasi buat MC nya." Tiba-tiba Iko datang bergabung dengan membawa buket bunga mawar merah. "Ini karena Ami berani mengambil keputusan buat jadi MC dadakan. Gantiin MC profesional. Dan ternyata penampilan Ami memukau. Sama sekali bukan amatir ini sih. Semangat ya...next ngemsi lagi." Ia menyerahkan buket bunga diiringi tatapan dan senyum penuh arti. Ditambah juga memberi THR dari saku pribadi.
"Hihihi, jadi malu. Makasih Kak Iko." Ami menerima buket bunga yang tadi sudah diberikan oleh Akbar. Sang owner hati yang ingin jadi orang pertama memberi pujian dan ucapan selamat.
"Serahin aja sama Panda mu yang smart ini."
__ADS_1
Mendadak teringat ucapan Akbar di ruang kantor tadi. Diakui, Panda nya smart. Ia tersenyum simpul sambil mendekap buket bunga mawar merah.
"Padma juga keren. Tapi maaf Kak Iko gak ngasih buket ya. Cuma THR aja." Iko pun memberi amplop untuk Padma dan Rasya. Hal yang sama ia lakukan pada keluarga besar di Jakarta waktu acara silaturahmi.
"Gak apa-apa, Kak Iko. Makasih THR nya." Sahut Padma.
***
Saat sebagian orang mulai menunaikan sholat Duhur bergantian pergi ke mushola, Ami mendekati Iko yang berada di stan es cendol. Lalu berbisik, "Kak Iko, boleh minta tolong gak? Aku mau ngasih nastar buat Kak Akbar. Nastar nya ada di mobil. Keluarga aku gak ada yang tau. Aku umpetin di bagasi. Aku titip sama Kak Iko ya. Nanti kasihin ke kak Akbar, ya?""
"Dududu, tau aja Mas Akbar suka nastar. Oke deh Iko siap jadi kurir cinta. Mau diambil sekarang?" Iko senyum-senyum mengggoda Ami.
"Ish, Kak Iko jangan gitu. Aku jadi malu." Ami menutup muka dengan jari tangan direnggangkan. "Ke mobilnya setelah Kak Iko minum es cendol aja."
Akhirnya satu toples berbahan kaca berisi nastar buatan Ami, sudah berpindah tangan ke Iko. Dikemas dalam kotak kemasan toples dan ditenteng dengan kemasan luar paper bag.
[Kak, nastarnya udah aku titipin ke Kak Iko]
[Maaf, gak ngasih langsung karena sikon]
Ami mengirimkan dua pesan usai berpisah dengan Iko yang memakai lift menuju lantai paling atas. Ia sendiri berjalan menuju mushola karena sudah janjian dengan Padma.
[Makasih sayang 😘]
Ami mengulum senyum saat membuka chat balasan dari Akbar sebelum melangkah ke tempat wudhu.
"Hei, senyum-senyum sendiri. Hmm, Padma tebak nih. Pasti dapat chat dari Panda ya?" Padma menyenggol pinggul Ami diiringi senyum jahil.
"Munaroh tau aja." Ami memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya. Jawaban singkatnya cukup untuk membenarkan tebakan Padma.
"Kapan dong Marimar, Padma dikasih tau siapa itu Panda. Udah lama bilangnya nanti-nanti mulu." Padma menggulung lengan panjangnya hingga sikut. Bersiap wudhu.
"Sabar sebentar lagi. Nunggu Padma pakai seragam putih abu-abu." Ami memutar kran usai mengangkat ujung dressnya setinggi betis.
"Lah, apa hubungannya sama seragam putih abu-abu?" Padma mematikan kran yang akan dipakai Ami berwudhu. Ingin pertanyaannya dijawab dulu.
"Karena itu artinya Padma udah cukup dewasa untuk kita sharing ngobrol soal cowok. Dah ya, kita wudhu!"
Masuk ke dalam mushola dengan desain minimalis dan estetik, hanya ada satu orang di dalamnya. Dan itu sukses membuat Ami terkejut. Beralih tersenyum mesem saat saling tatap.
"Mau sholat sendiri atau berjamaah?" Sapa Akbar yang mengenakan kopiah hitam bersiap sholat.
"Berjamaah, Kak Akbar." Padma mewakili menjawab. Sementara Ami masih terhipnotis oleh sang imam yang mengangguk dan maju ke tempat imam.
MasyaAllah, calon imamku ternyata blasteran Indonesia Surga.
"Ami, ayo! Padma urung takbiratul ihram saat melihat Ami yang berdiri di sampingnya malah bengong dan belum memakai atasan mukena.
__ADS_1
...****************...
Bestie, InsyaAllah up kedua malam. Moga gak nyangkut. Aku harus ngopi dulu nih biar strong 🥱🚶♀️🚶♀️🚶♀️