
Menghitung hari. Itulah yang kini dihadapi Ibu Sekar yang akan melepas status janda yang disandangnya selama belasan tahun. Sejak ditinggal wafat oleh ayahnya anak-anak, beberapa pria dengan status duda datang bertamu dengan maksud melamar. Tiga orang pria beristri datang berkunjung dengan maksud mengajak poligami. Namun ia tolak semuanya secara baik-baik. Memang niatnya kuat tak ingin menikah lagi.
Sebuah insiden kecelakaan terjadi di perbatasan kota Ciamis - Tasik. Waktu itu Ibu Sekar sedang menumpang ojeg online dan sebuah mobil menubruk ban motor bagian belakang sehingga ia terjatuh ke aspal. Luka-luka di kaki karena benturan dengan aspal serta pergelangan tangan mengalami fraktur, menyebabkan ia harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Pak Bagja selaku penabrak, bertanggung jawab sepenuhnya untuk biaya rumah sakit hingga berobat jalan selama pemulihan. Seiring waktu, pria yang merupakan purnawirawan TNI angkatan laut itu semakin mengakrabkan diri menjalin silaturahmi. Hingga datang masa dimana ia menyatakan perasaannya. Jatuh cinta kepada ibu dari empat orang anak yang masih terlihat cantik dan awet muda di usia kepala lima.
Ibu Sekar masih sama dengan pendiriannya. Menutup hati dari kehadiran laki-laki. Ia merasa hidupnya sudah bahagia dengan memiliki anak-anak yang soleh soleha dan rukun. Hingga ia pun menolak dengan halus keinginan Pak Bagja yang mengajaknya menikah. Meski diakui, pria paruh baya yang nampak gagah dan berwibawa dimasa pensiun itu berhasil mengusik hati dan pikiran. Getaran halus ada merambat layaknya rasa orang yang jatuh cinta. Tak menafikan jika hati kadang merasa kesepian di setiap menjelang tidur. Butuh teman bicara dan sandaran hati yang tidak bisa didapat dari anak-anak. Namun rasa cinta pada anak-anak lebih besar dan bisa meredam benih cinta baru yang mulai bersemi. Apalagi sikap Ami yang waktu itu masih SMP terang-terangan menolak punya ayah sambung. Sehingga dua tahun lebih dirinya dan sang jenderal berpisah jarak antara Munich dan Ciamis usai cinta tak bersambut.
Rupanya sang purnawirawan tetap gigih berjuang apalagi setelah kembali ke Ciamis dan bertemu muka dengan Ibu Sekar yang sedang berada di taman mawar. Atur strategis dengan melibatkan anak perempuannya untuk pendekatan lagi. Dan intens berkomunikasi lewat chat dan telepon saat harus kembali lagi ke Jerman. Hingga akhirnya Ibu Sekar luluh saat Ami memberi restu. Dan lebaran menjadi momen Pak Bagja melamar Ibu Sekar di hadapan semua anak-anak.
"Ibu waktunya tidur, Bu. Biar besok fresh. Ibu harus kelihatan cantik glowing biar si Akang pangling." Ucap Ami yang menjadi si paling sibuk mengecek semua persiapan dimana besok waktunya pernikahan sang ibu. Meski ibunya ingin akad sederhana pada kenyataannya ia dan ketiga kakaknya sepakat membuat konsep yang elegan dengan melibatkan wedding organizer. Karena ingin memberikan yang terbaik untuk Ibu yang sudah hebat selama ini menjalani peran ibu dan ayah sekaligus. Mengandalkan menerima pesanan lauk pauk dan kue, juga yang dijajakan berkeliling oleh Ceu Nining untuk membiayai sekolah empat orang anak. Hingga kemudian derajatnya terangkat oleh Puput yang membangunkan rumah makan dengan nama Dapoer Ibu. Juga kebaikan Rama sang menantu yang membantu biaya sekolah ketiga adik iparnya.
Puput dan Aul cekikikan karena Ibu terus saja digoda oleh Ami. Ruang tengah dan ruang tamu nampak lapang karena semua kursi dikeluarkan berganti gelaran karpet serta dekorasi serba putih berhias bunga-bunga estetik. Meja akad sudah terpasang di ruang tengah berikut enam kursi terbungkus sarung putih berhias pita.
Ibu memencet hidung Ami yang keukeuh menyuruhnya masuk ke kamar hanya karena sudah jam sembilan malam. Padahal masih betah melihat kedua cucunya yang bermain berlarian kesana kemari diawasi Rama. Ia mengalah beranjak menuju kamarnya.
"Mi, jajan nasgor Kia yuk. Lapar euy." Ucap Zaky yang baru datang bersama Panji usai mengambil baju buat dresscode besok dari rumah Panji. Ia tiba di Ciamis kemarin tengah malam bersama Puput dan Rama.
"Nggak ah. Aku gak biasa makan lewat jam sembilan. Bisa-bisa tidur kemalaman. Besok kan harus fresh harus dandan canciiik." Sahut Ami dengan memasang wajah imut.
"Besok abis magrib gimana?" Zaky menanggapi Rayyan yang semangat berjalan cepat meski selalu oleng dan mendebarkan setiap yang melihatnya. Takut jatuh. Si kecil yang mewarisi wajah Rama itu sama sekali belum ada tanda-tanda mengantuk.
"Nggak bisa. Kan harus packing baju. Kita berangkat ke Bandung kan jam 5 subuh." Ami mengingatkan Zaky karena besok langsung liburan ke Bali dengan jadwal penerbangan jam setengah sepuluh pagi dari bandara Husein Sastranegara. "Kalau kangen sama Kia, besok dia datang kok. Kan aku undang."
"Apa sih. Aa emang pengen nasgor dan sekalian pengen liat spanduknya secara langsung. Beneran sebagus difoto gak."
"Eciee ada yang jaim. Suka mah bilang aja. Aku dukung lho A. Nanti bikin judul ftv nya tuh Bestieku Jadi Iparku. Ahahahaha." Ami tergelak hanya sebentar karena mulutnya yang terbuka langsung disumpal donat madu oleh Zaky.
"Aa punya judul sendiri, Jodohku Gadis Bule. Harus beda dong cucu Ibu nanti ada yang wajahnya bule."
__ADS_1
"Sekarang udah ada belum calon bulenya, Ky?" Celetuk Rama yang cosplay jadi kuda karena Rasya nemplok di punggungnya.
"Udah ada, Kak. Bule Australia. KANGGURU. Hihihi." Ami buru-buru menghindar saat Zaky akan menimpuk dengan bantal sofa. Ia berlari ke arah tangga.
"Ate mau kemana?" Rasya berteriak begitu melihat Ami menaik tangga.
"Mau tidur."
"Ikuuut." Rasya bergegas turun dari punggung Papa Rama. Berlari menyusul Ate Ami yang menunggu di titian tangga ketiga. Selalu, tiap malam tidur di kamarnya Ate Ami.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Sari binti Harun Jaelani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Pak Bagja yang nampak berwibawa dalam balutan jas hitam. Kalimat dalam satu tarikan nafas itu tegas dan tenang terucap sambil menggenggam erat tangan wali yang merupakan kakaknya Ibu Sekar.
"SAH." Sahut saksi dari kedua belah pihak terdengar kompak.
"Alhamdulillah." Doa setelah akad nikah pun dipanjatkan. Semua hadirin yang menyaksikan prosesi akad nikah pagi ini, menengadahkan tangan mengaminkan doa.
"Akad udah sah, Bu. Mari waktunya Ibu keluar." Ucap seorang kru perempuan dengan ramah.
Puput, Aul, dan Ami, yang menemani Ibu di kamar, sama-sama tersenyum lega. Mereka siap mengawal ibunya yang terlihat sangat cantik menawan dalam balutan busana pengantin warna putih dengan model lurus dan jatuh menyentuh lantai. Bahan kain yang lembut dan ringan seperti sutra, serta hiasan manik-manik di bagian perut menambah nilai anggun. Sederhana tapi elegan, seperti itu konsepnya. Rancangan desainer butik Sundari yang sesuai ekspektasinya.
Ami menyempatkan diri berkaca lagi karena pastinya akan bertemu Akbar yang sudah datang dengan kedua orang tuanya. Jika ibunya mungkin deg degan karena akan dilihat oleh banyak orang dengan status baru sebagai istri Bagja Gumelar, ia pun mulai berdebar-debar karena penampilannya akan dilihat oleh orang spesial, ayang APB.
"Ibu santai aja. Mukanya jangan tegang gini, Bu. Tarik nafas dulu yuk. Tegakkan kepala dan terus tersenyum biar gak tegang." Puput memberi contoh senyuman manis sebelum menggandeng lengan Ibu di sebelah kiri, dan Ami menggandeng di sebelah kanan.
Setelah dirasa Ibu sudah rileks, Puput dan Ami mulai menggandeng Ibu. Sementara Aul dengan perutnya yang membuncit, mengikuti di belakang bersama Zaky yang barusan menyusul ke kamar. Empat orang anak mengantarkan sang ibu ke hadapan ayah sambung yang sudah berdiri tegak menyambut.
__ADS_1
Pak Bagja tersenyum dan menatap hangat pengantinnya yang berjalan mendekat. Kentara tersenyum malu saat saling tatap hingga kemudian berdiri saling berhadapan.
"Ibu Sekar sudah halal untuk mencium tangan Pak Bagja karena sudah sah sebagai suami istri. Dan Pak Bagja, silakan cium kening istrinya." Sang pembawa acara melanjutkan memandu prosesi usai akad nikah. Termasuk fotografer yang siap mengabadikan.
Tentu saja, adegan romantis itu mendapat suit-suitan sebagian tamu. Sengaja menggoda pengantin baru. Ditambah lagi saat prosesi penyerahan mahar dan berlanjut penandatanganan buku nikah yang kemudian dipamerkan, juga diabadikan sang fotografer.
"Cantik sekali istriku." Pak Bagja menyempatkan berbisik disaat acara akad nikah berakhir. Dan beralih suasana santai karena para tamu mulai menyalami memberi ucapan selamat.
Ibu Sekar tak menanggapi. Karena sudah berkali-kali malu oleh godaan para tamu yang semuanya adalah keluarga kedua belah pihak. Tamu umum diundang untuk acara resepsi yang dimulai jam sebelas nanti. Ada jeda setengah jam.
Ami menghampiri Mama Mila dan Papa Darwis yang baru saja menyalami pengantin. Baru bisa menyalami keduanya di saat acara akad nikah ibunya sudah selesai. Tidak ada Akbar diantara keduanya. Sedari tadi hanya bisa saling tatap karena Panda nya itu duduk bersama Rama.
"Calon mantu Mama cantik sekali. Sekalian lanjut aja akad Ami deh. Mau ya ya...." Mama Mila berbisik saat saling berpelukan.
Ami terkikik. Sudah tidak perlu dijawab karena itu cuma candaan. "Mama maaf ya aku tinggal dulu. Mama dan Papa bisa ke langsung cicipi hidangan. Aku mau keluar dulu."
"Iya gampang nanti Mama cicipi semuanya."
Ami pun beranjak ke luar rumah. Sejenak mencari kelapangan di saat di dalam rumah sedang riuh oleh keriaan dan tawa. Ia melipir ke samping rumah. Duduk di bangku taman dimana tidak ada orang lain disana. Ia mulai membuka ponselnya.
"I'm here for you." Akbar mendaratkan bo kongnya di samping Ami yang nampak terkaget.
"Kok tau aku ada disini sih, Kak? Aku baru mau kirim chat." Ami tersenyum lebar. Tanpa sungkan memperlihatkan keriaannya.
"Liat kamu keluar, itu udah kode alam. Jadi aku ikutin deh." Akbar tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
Tbc
__ADS_1
...****************...
Coba absen....mana yg kemarin lalu jawab story foto ig dengan benar. Jawabannya akad nikah Ibu Sekar dan Pak Bagja 😀