Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
85. Usai Liburan


__ADS_3

Puput berjongkok di hadapan Rasya yang baru selesai dipakaikan baju. Ia menyisir rambut hitam lebat anak sulungnya itu yang semangat bangun subuh karena takut ketinggalan liburan ke Bali bersama Ate Ami. Awal ditawari diajak liburan oleh neneknya, Rasya mau ikut asal bersama Umma. Tapi setelah diberitahu jika Umma tidak bisa ikut, tapi Ate Ami yang ikut, cucu pertama Ibu Sekar itu dengan semangat ingin ikut.


"Aa gak akan nangis kan karena Umma gak bisa ikut? Papa kan sibuk bekerja. Kalau Umma dan adek ikut, kasian Papa di rumah sendirian." Puput merapihkan hoodie yang dipakai Rasya.


"Aa gak akan nangis kan ada Ate. Yang nangis nanti Papa kalo Umma gak ada. Hiks hiks hiks. Mana Umma hiks." Rasya mencontohkan dirinya kalau menangis mencari Umma Puput.


Puput tergelak. Ia lalu menciumi seluruh wajah Rasya yang pasti akan dirindukannya. Karena suasana rumah selalu hangat oleh celotehan anak pertamanya itu.


"Nanti kita ketemu di rumah Jakarta ya, Aa." Puput melakukan tos high five sebelum membawa Rasya keluar kamar.


Di tengah rumah ada Pak Bagja, Rama, Guna, dan Zaky yang baru pulang dari masjid. Rasya lalu menghampiri Gemintang dan Gemilang, dua cucu Pak Bagja yang bermain di karpet. Ia menjadi punya teman main dan bisa akur.


Yang akan berangkat ke bandara, semuanya sudah sarapan dan bersiap pergi. Mobil travel yang disewa khusus membawa keluarga saja, sudah menanti di luar rumah.


"Puput, Rama, kami pergi dulu ya." Pak Bagja lebih dulu berpamitan.


"Selamat liburan, Papa. Lancar dan selamat perjalanannya. Have fun buat semuanya." Puput mencium tangan ayah sambungnya itu.


Lalu giliran Rama berpelukan dengan mertua barunya itu. "Jangan lupa nanti pulangnya kabarin ya, Pa. Biar sopir standby di bandara."


"Siap, nak."


Puput dan Rama mengantar sampai depan pintu gerbang usai bersalaman dengan Ibu dan yang lainnya. Tak lupa menggendong dulu Rasya yang nampak riang dan semangat ikut liburan.


"Masuk yuk, Neng." Rama merangkum bahu Puput yang masih berdiri dan menatap ke arah laju mobil yang sudah hilang dari pandangan.


"Aa, Mas Akbar udah punya pacar belum?" Tangan Puput merengkuh pinggang Rama yang mengajaknya berjalan menuju teras.


"Hm, aku belum denger Akbar punya pacar. Dulu pernah dengar Tante Mila lagi ngobrol sama Mami. Tante Mila ngeluh katanya ngasih banyak proposal calon istri ke Akbar tapi Akbarnya biasa aja. Setelah itu sih senyap lagi. Emangnya kenapa, sayang?" Rama leluasa mencium pipi Puput karena di dalam rumah sepi. Bi Ela sedang di dapur membereskan bekas sarapan.


"Kemarin aku memperhatikan interaksi Mas Akbar dan Ami di gazebo. Cara natap Mas Akbar ke Ami sama seperti cara Aa natap aku. Masa iya Mas Akbar menyukai Ami. Waduh. Ami kan masih polos. Badannya aja SMA. Kelakuannya masih kayak Ami SD. Jahilnya gak ilang-ilang dan nular ke Rasya." Jelas Puput yang hanya terucap dalam hati. Ia masih ragu untuk melaporkannya. Mengingat Akbar sepupunya sang suami. Sebaiknya Ami saja yang dikasih nasihat agar jangan menyukai pria yang udah dewasa. Hal yang wajar jika Ami mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Hanya saja sesuaikan dengan umur. Akhirnya ia membuat keputusan sendiri.

__ADS_1


"Umma, malah bengong. Sepertinya ada yang mampet ya. Harus diajak olahraga pagi ini sih." Rama mengetatkan pelukan karena gemas terhadap sang istri yang diam sambil menggembungkan pipi.


"Ish, nanti Rayyan bangun. Lagian bentar lagi orang vendor bakal datang beres-beres. Terus Aul sama Panji juga mau kesini." Baru selesai berucap, rengekan Rayyan terdengar memanggil nama Umma. Puput menyahut dan bergegas menuju kamar.


***


Ami menikmati liburan di Bali dengan keluarga barunya. Menyewa vila di kawasan Nusa Dua yang memiliki empat kamar, kebersamaan berlangsung hangat dan seru. Usai sah menjadi ayah sambung, ia dan Zaky pun memanggil Pak Bagja dengan panggilan Papa sesuai permintaan ayah barunya itu.


Sekamar dengan Gina membuatnya bertambah wawasan. Karena saudara tirinya itu menceritakan dengan antusias pengalaman kuliah di Munich, Jerman. Hanya saja ia menjadi tak punya kesempatan untuk video call dengan Akbar. Harus puas komunikasi lewat aplikasi chat saja. Dimana senin ini sang kekasih sudah berada di Jakarta lagi. Begitu pula Rama dan Puput.


"Mi, kuliah di Jerman aja, mau?" Gina ikut duduk rebahan di samping Ami usai berenang di hari kedua ini. Membantu Rasya yang sedang mengubur kedua kaki Ami dengan pasir pantai. Sinar mentari pagi begitu hangat menerpa tubuh yang basah.


"Kalau lolos sih, aku mau kuliah di UI aja, Teh. Biar gampang pulang kalau kangen Ibu." Ami tertawa cengengesan. Itu memang salah satu alasan jujur. Selain tentu saja ada alasan lainnya.


"Gemi, sini. Kita bikin lumah-lumahan." Rasya berteriak kencang pada saudara barunya yang sedang bermain air diawasi orang tuanya.


Di pantai yang sama, Pak Bagja dan Ibu Sekar pun berjalan-jalan santai sepanjang bibir pantai. Terkadang hempasan ombak menerpa kaki telanjang mereka yang berakhir derai tawa bersama. Pak Bagja merangkum bahu istrinya itu. Tak terlukiskan dengan kata-kata bagaimana bahagianya menemukan cinta baru di usia senja. Tak perlu dijabarkan bagaimana keromantisan saat berbagi peluh yang dominan dipimpin oleh sang purnawirawan. Karena sang istri masih nampak malu-malu. Sehingga lebih cenderung menerima daripada memberi.


Keseruan liburan yang menjadi ajang mendekatkan anak-anak Ibu Sekar dan Pak Bagja berlangsung selama dua hari dua malam. Ami sendiri memperhatikan gestur ibunya kentara selalu semringah. Membuat hatinya pun bahagia melihat ibu bahagia. Ia menikmati liburan singkat itu dengan memposting foto kebersamaan penuh senyum ke akun media sosialnya dengan caption satu kata "Family ❤️"


"Jaga kesehatan ya, Zaky. Jangan lalaikan sholat." Secuil nasihat singkat saat Ibu Sekar memeluk penuh sayang anak laki-laki satu-satunya itu. Matanya berembun kesedihan karena harus berpisah lagi.


Zaky menjawab dengan anggukkan dan kembali menciumi punggung tangan surganya itu dengan takzim. Ia pun sedih. Tapi tak perlu diperlihatkan. Menggapai cita-cita dengan target meraih gelar sarjana arsitektur lebih cepat juga sebagai salah satu wujud cintanya kepada ibu. Ingin memberi kebanggaan pada ibu yang ia tahu pasti dulu ibunya itu selalu bangun jam tiga dini hari untuk memulai masak aneka dagangan yang setiap paginya dijajakan oleh pedagang keliling. Keprihatinan dan kesederhanaan keluarganya dulu, tak akan dilupakan meski sekarang sudah sejahtera. Justru itu menjadi cambuk agar tetap menjadi pribadi yang rendah hati.


"Pa, nitip Ibu ya!" Ucap Zaky usai berpelukan dengan Pak Bagja.


"Itu pasti, Zaky. InsyaAllah kalau waktunya pas, Papa dan Ibu akan ke Singapura nengok Zaky."


"Wah, good news. Aku akan tunggu kedatangannya." Zaky tersenyum lebar. Meski baru wacana, tapi sudah menggembirakan.


"Aa, kabarin kalau udah sampe ya." Ami pun berpelukan dengan Zaky. Meski selalu ribut seperti Tom and Jerry, pada dasarnya hubungan adik kakak selalu akur.

__ADS_1


Zaky mencium Rasya yang tak pernah jauh dari Ami. Ia pun berpamitan pada Gina dan yang lainnya. Bergegas menarik koper dan berucap salam karena sudah waktunya boarding pass.


Satu jam usai keberangkatan Zaky, rombongan Ami pun naik pesawat tujuan Jakarta. Lagi-lagi perpisahan harus terjadi di bandara Soekarno Hatta. Gina akan melanjutkan take off dengan pesawat internasional menuju Jerman. Sesuai tiket, jadwal penerbangannya pukul tujuh malam. Masih ada waktu tiga jam lagi.


"Papa, Ibu, aku gak usah ditungguin. Pulang duluan aja soalnya masih lama tiga jam lagi. Aku mau pindah terminal ya." Gina juga menatap Guna dan kakak iparnya yang masing-masing menggendong anak-anak yang ketiduran. Lain dengan Ami yang sedang bermain mendorong-dorong Rasya di atas kereta barang.


Jadilah perpisahan kedua dengan Gina. Anak perempuan Pak Bagja yang sudah mandiri itu melambaikan tangan dengan menarik koper besar untuk berpindah ruang keberangkatan. Dan perpisahan ketiga adalah dengan Guna dan anak istrinya di parkiran mobil karena naik mobil jemputan berbeda. Mereka akan pulang ke rumah dinas. Sementara Ami, Ibu Sekar dan Pak Bagja akan pulang ke rumah Rama. Bukan tidak ingin singgah dulu, mengingat terbatas waktu karena Ami sudah harus masuk sekolah.


***


Ami merebahkan tubuh di ranjang kamarnya Rasya. Mandi air hangat membuat tubuhnya terasa rileks. Malam ini aman tidur sendiri karena Rasya sudah ketiduran di kamar Puput. Ia meninggalkan Ibu dan Papa yang sedang berbincang santai dengan Rama dan Puput di ruang tengah. Waktunya komunikasi dengan ayang.


"Gimana liburannya, Cutie?" Suara Akbar terdengar riang di ujung telepon.


"Menyenangkan, Kak. A Zaky langsung pulang ke Singapura. Teh Gina juga langsung terbang ke Jerman. Kita berpisahnya di bandara." Jelas Ami.


"Terus Cutie kapan pulang ke Ciamis?"


"Besok siang, Kak."


"Bisa dong main dulu ke rumahku. Dijemput Mama ya, mau?"


"Duh gak bisa, Kak. Besok pagi bakalan ada Mami mau ketemu dulu Ibu dan Papa sebelum kita pulang."


"Yaaah, padahal aku kangen."


"Hehe. Kan sekarang lagi kangen-kangenan. Kak."


"Ate.....buka!" Suara gedoran pintu dan teriakan Rasya terdengar nyaring.


"Yaahhh si Ucul bangun. Harus udahan dulu nih, Kak. Nanti aja di Ciamis bakal leluasa. Bisa vc an lagi."

__ADS_1


"Hm, oke deh. See you next month, Cutie. Aku bakalan bertemu ibumu."


"Eh, Kak. Gimana-gimana?" Ami loncat dari kasur empuknya Rasya karena kaget. Bahkan suara gedoran pintu yang kasar, ia abaikan dulu.


__ADS_2