Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
127. Maybe


__ADS_3

"Jadi-jadi....kita pulang besok dong?" tanya Ami yang kini bisa menikmati makan siang dengan suasana riang. Menatap silih berganti terhadap Akbar dan Zaky.


"Enak aja. Aku baru sehari di sini masa langsung pulang. Mau jalan-jalan dulu dong. Udah mahal di ongkos, cuma buat jemput kamu doang? Oh, no." Zaky menggerakkan telunjuk di depan wajahnya.


Ami mendelik dengan bibir mencebik sebal menatap Zaky. Sementara Akbar dan Gina menanggapi dengan terkekeh.


"Tunggu dua hari lagi ya, Mi. Aku masih ada kelas sampai Selasa. Aku mau ikut mudik juga. Kita pulang sama-sama Selasa sore apa Rabu pagi. Nanti aku cek jadwal penerbangannya dulu." Sahut Gina yang duduk di samping Zaky.


"Wah, Teh Gina mau pulang juga? Aku sih seneng banget. Baiklah sabar pulang dua hari lagi. Aku juga mau jalan-jalan dulu. Belum menikmati dengan benar selama jalan-jalan kemarin. Karena suasana hatinya kan so sad." Ami tersenyum meringis sambil melirik ke arah Akbar.


"Oke, kita eksplorasi München seharian besok. Sekalian prewed ya, Cutie. Gantiin prewed yang gagal. Ada Zaky nih yang jadi fotografernya. Dia kan udah bawa kamera lengkap." Akbar melirik Zaki yang masih anteng makan.


"Wani piro?" Zaky mengangkat tangannya sambil menggesekkan jempol dan telunjuknya.


Gina menjadi yang paling keras tertawa karena ucapan santai saudara tirinya itu.


Usai makan siang di restoran, mereka berempat menuju apartemen Gina. Akbar dan Zaky tinggal di sana hingga waktu magrib. Bersantai sambil mendengarkan cerita Gina tentang pengalamannya berbaur dengan banyak orang dari berbagai negara dan beda budaya di kota Munchen. Karena banyak pendatang yang berkuliah di TUM. Usai shalat magrib, barulah Akbar dan Zaky pamit pulang menuju hotel tempat menginap.


Senin pagi, Akbar dan Zaki datang lagi ke apartemen untuk menjemput Ami. Gina yang akan ke kampus, lebih dulu memberi penjelasan tentang tempat-tempat yang layak dikunjungi dalam waktu seharian ini. Ia minta maaf tidak bisa mengantar karena akan kuliah sampai sore.


Alianz Arena. Adalah stadion sepak bola yang terletak di distrik frőttmaning di sebelah utara Kota Munchen. Menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Adalah pilihan Zaky sangat antusias ingin menapakkan kaki di kandang bagi FC Bayern Munchen. Meski datang di waktu yang tidak pas karena tidak adanya pertandingan. Karena liga Jerman sekarang ini lagi libur musim panas.


"Minimal bisa berfoto. Real nih Zaky Wijaya ada di depan stadion Alianz Arena." Ucap Zaky penuh bangga sambil menyerahkan kamera DSLR nya ke tangan Ami. Meminta sang adik memotretnya.


"Sorry ya kalau hasilnya jelek. Yang bagus motret tuh Padma." Ami mulai berancang-ancang mengarahkan kamera.


"Yakin bakalan bagus. Kan akunya ganteng." Zaki memainkan kedua alisnya sambil mulai bergaya.


"Dih, pede sekali Anda. Iya ganteng kalau lihatnya pakai sedotan." Ami memeletkan lidahnya.


"Malah debat. Kapan motretnya ini?" Akbar menjadi penengah sambil geleng-geleng kepala. Karena Ami dan Zaky malah saling pelototan.


"Ini Ate Kunti yang mulai."


"Bukan aku. Aa Suneo tuh."


"Sini biar gak jadi Tom and Jerry." Jadilah Akbar yang mengambil alih kamera dari tangan Ami. Ia yang memotret Zaky dalam beberapa pose. Kemudian beralih memotret Zaky dan Ami. Kakak beradik itu bergaya dengan pose gokil.


"Karena hasil fotonya Mas Akbar bagus-bagus, jadi foto prewednya free deh." Zaky tersenyum puas melihat semua foto yang menurutnya sempurna dengan berbagai latar belakang semua sudut luar stadion.

__ADS_1


"Yang benar aja. Masa prewed gak dandan dulu. Outfit seadanya gini." Ami terkekeh. Tak urung bersiap karena kapan lagi punya foto kenangan berdua dengan Ayang di Jerman.


"Mending gini apa adanya, Cutie. Enggak perlu dempulan. Kamu udah cantik natural." Bisik Akbar yang berdiri saling berhadapan dengan Ami.


"Kak, coba tengok ke bawah. Kaki aku menapak di tanah nggak. Aku berasa sedang terbang nih." Ami menangkup hidungnya. Menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan.


Akbar terkekeh. Lalu menjitak pelan kening Ami. Gemas.


"Yaelah, malah bercanda. Jadi difoto nggak? Aku mau jalan-jalan lagi nih." Protes Zaky.


"Yaelah, Kang foto gak sabaran gitu. Oke-oke, kita mulai!" Ami mulai mengarahkan gaya Akbar agar berpose natural. Sepanjang berfoto di berbagai spot, ia yang punya andil mengarahkan gaya.


***


Burung besi mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Diantara penumpang yang menuruni tangga, ada empat orang penumpang yang baru meninggalkan Munchen. Kini menapakkan kaki di tanah air.


Bagaimanapun maju dan indahnya negeri orang, tetap tanah air sendiri sangat dirindukan. Di balik lelah, Ami menghirup nafas lega karena akan pulang lagi ke Ciamis. Rindu rumah, rindu kamar, rindu boneka Pandanya. Eh tapi, Panda hidup ada di sampingnya. Membantu menarik koper miliknya. Melangkah bersama menuju tempat penjemputan.


"Aa, kita pulang kemana ini? Ke rumah Kak Rama atau ke rumah Papa yang di Mampang?" Tanya Ami mendekati Zaky yang sedang menata koper di bagasi dibantu sopir.


"Ke rumah Papa."


"Cutie, kalau ngantuk tidur aja. Nanti dibangunin kalau udah sampai." Akbar membantu memasang bantal leher untuk Ami.


Ami mengangguk. Memang benar rasanya ngantuk sekali karena penerbangan durasi 16 jam lamanya. Pastinya semuanya mengalami jet lag. Bahkan Gina langsung tepar di jok belakang yang kosong. Ia bebas rebahan. Sementara Zaky duduk di depan di samping sopir.


Entah sudah berapa lama Ami tertidur. Tiba-tiba merasakan tepukan di bahunya. Perlahan membuka mata.


"Subuh dulu, Cutie. Nanti bisa lanjut tidur lagi." ucap Akbar yang membangunkan Ami. Ia pun sama baru terjaga dari tidur lima belas menit yang lalu. Menyuruh sopir singgah ke masjid.


"Hah, ini dimana?" Ami baru sadar setelah nyawanya terkumpul. Kaget kenapa masih ada di dalam mobil padahal dari bandara tadi jam sembilan malam. Kini hampir jam lima subuh. Seharusnya sudah ada di rumah Papa Bagja di Mampang.


"Ini udah sampai Ciawi, Cutie. Satu jam lagi sampai Ciamis."


"Apa?!" Ami menatap Akbar tak percaya. Lalu melihat pemandangan sekeliling dari jendela mobil yang tertutup tirai. Barulah percaya setelah melihat masjid yang berdampingan dengan rumah makan khas Sunda yang buka 24 jam.


"Aa, katanya kita akan nginep di rumah Papa." Ami melakukan peregangan tangan dan badan begitu di luar mobil. Berdiri di samping Zaky.


"Emang iya ke rumah Papa. Tapi yang di Ciamis bukan rumah yang di Jakarta."

__ADS_1


"Ya kalau ke Ciamis langsung saja pulang ke rumah ibu. Nggak usah ke rumah Papa. Aku kangen Ibu. Lupa belum ngabarin ibu."


"Aa udah ngabarin. Udah jangan buka hp. Ayo shalat dulu."


Ami tidak membantah. Mengikuti langkah Zaky dan Akbar yang berjalan menuju kamar mandi. Ia dan Gina menuju kamar mandi khusus wanita.


Usai shalat subuh, memutuskan mengisi perut dengan bubur ayam yang kebetulan baru saja mendorong roda ke depan parkiran masjid. Perut kosong menjadi hangat karena terisi oleh semangkok bubur dan segelas teh. Mobil pun melaju lagi meneruskan perjalanan pulang ke Ciamis di saat fajar menyingsing.


Tiba di perbatasan Tasik Ciamis setelah melewati jembatan yang di bawahnya mengalir sungai Citanduy, gugusan hijau Gunung Sawal mulai nampak memanjakan mata. Senyum Ami terkembang lebar menyambut pagi yang cerah di tataran Galuh Ciamis.


"Kak, kenapa harus nganter pulang sampai ke Ciamis segala. Pasti capek berat lho." Ami menyapa Akbar yang sedang mengetik cepat di keypad ponsel.


Akbar mendongak dan menoleh ke arah kami seulas senyum manis. "Tenang aja. Setelah nganter kamu, aku akan Istirahat di Seruni sampai hari Senin."


"Wuih asyik dong. Tinggal lama di Seruni. Kita jadi bisa ketemu tiap hari kan ya." Keceriaan dan kebahagiaan menghias wajah Ami yang lelah dan kurang tidur.


"Hm, maybe no, maybe yes." Akbar menjawab santai diiringi mengulum senyum.


"Ih, tumben Kak Akbar begitu jawabannya. Biasanya kamu yang paling semangat pengen ketemu." Ami mencibir sambil memalingkan wajah ke arah jendela.


"Eh-eh, pelan-pelan pak sopir. Rumahku udah kelewatan." Ami baru sadar jika rumahnya baru saja terlewati. Rumah makan Dapoer Ibu yang masih tutup. Pintu gerbang rumah yang masih menutup. Hanya bisanya disaksikan saat memutar badan ke belakang.


"Mi, kan Zaky udah bilang, kita nginep di rumah Papa. Kan biar adil, hari ini nginep di rumah aku dulu. Baru besok kita pulang ke rumah Ami. Deal ya?" Ucap Gina yang duduk di jok belakang seorang diri dengan bebas posisi dan gaya.


"Hm, oke deh." Ami terpaksa mengalah. Tak lama kemudian, mobil memasuki pekarangan rumah biru yang dijaga dua orang sekuriti.


"Aku nggak masuk ya, Cutie. Mau langsung ke Tasik." Akbar hanya mengantar Ami sampai teras rumah.


Ami mengangguk. "Ayang istirahat ya. Biar besok bisa main ke rumah ibu. Tapi tunggu dulu kabar dari aku. Aku belum tahu besok pulang ke rumah ibu jam berapa."


"Besok kayaknya gak bisa datang deh. Paling kita vc aja ya."


"Kenapa? tumben Kak Akbar gak semangat. Apa masih menyimpan marah sama aku karena pergi jauh ke Jerman?"


"Sstt, tidak boleh negatif thinking, sayang. Seharian besok mau istirahat total di hotel. Nggak akan kemana-mana biar fresh. Kamu juga sama. Istirahat yang cukup ya. InsyaAllah kita akan ketemu hari Minggu." Akbar mengusap puncak kepala Ami dengan tatapan sayang.


"Yaah Minggu masih lama. Sekarang baru Kamis. Aku masih kangen." Ami menunduk lesu.


"Sabar. Hari Minggu nanti kita bisa melepas kangen dengan bebas."

__ADS_1


Ami mendongak dengan satu alis terangkat. "Bebas gimana?!"


__ADS_2