
Ami memilih berdiri paling akhir diantara urutan keluarga yang naik ke pelaminan. Lebih tepatnya di belakang Ibu. Ia baru bertemu pertama kalinya dengan suaminya Iko sehingga hanya cukup bersalaman. Beda saat berhadapan dengan Iko yang tampil cantik dalam balutan gaun pengantin modern warna putih.
"Hai Ami, makasih sayang udah hadir. Ayangnya diajak gak?" Tanya Iko dengan senyum jahil usai cipika cipiki dengan Ami. Dan Ami hanya menjawab dengan kekehan.
"Eh, Ami ya? Pangling deh. Makin cantik aja." Mama Mila mengusap-usap bahu Ami yang sudah mencium tangannya. Lalu berakhir cipika cipiki dan berucap terima kasih atas kehadirannya.
"Iya, Tante. Aku kan calon mantu Tante." Hanya menjawab dalam hati. Ami mewakili dengan tersenyum saja.
Sebelum turun dari pelaminan, seorang kru WO menahan satu keluarga itu untuk berfoto dulu bersama pengantin dan mengatur posisinya. Dalam dua kali jepretan, sesi foto pun usai.
"Mbak, sebentar ya. Difoto sekali lagi bersama Mas Akbar." Dengan sopan, kru WO yang mengatur urusan foto menahan lengan Ami agar jangan dulu turun.
Ami spontan menoleh dan melihat Akbar naik ke pelaminan. Kemudian berdiri di samping Iko. Isyarat mata pria dalam balutan jas hitam itu menyuruh mendekat. Kru WO mengarahkan Ami berdiri di samping pengantin pria. Meski jantung berdegup kencang, ia tetap bisa memasang senyum manis menatap kamera.
"Aduh semoga gak ada yang curiga." Ami berharap dalam hati.
Akbar mengajak Ami turun dari pelaminan. Ia nampak tenang dan biasa saja begitu melewati tempat berdiri Mama Mila dan Papa Darwis.
"Cutie, nanti kalau diajak Tasya ikut ya!" Bisik Akbar saat langkah sejajar menuju meja VIP dimana Ibu Sekar, Puput, dan Rama, sudah duduk.
"Emang mau kemana?" Ami menoleh meski Akbar cuek meluruskan pandangan.
"Nanti juga tau." Akbar menggenggam tangan Ami sejenak. Curi-curi kesempatan.
Ami yang terkejut dan tersenyum malu, tidak lagi bertanya meski penasaran karena sudah sampai di meja dan bergabung duduk mengitari meja bundar. Akbar hanya mengantar dan mempersilakan kepada semuanya untuk menikmati hidangan yang tersedia di area VIP. Tak perlu mengantri di stan umum. Ia pamit dengan alasan akan menyapa tamu lain.
Gita mengedarkan pandangan mencari sosok Akbar yang menghilang diantara hilir mudik para tamu. Senyumnya kecut karena mengira malam resepsi ini bisa menjadi momen memamerkan kebersamaan dengan sang CEO kepada keluarga dan para tamu. Faktanya malah susah didekati dan baru saja tertangkap mata dari jarak jauh, pria pujaannya itu berfoto di pelaminan dengan seorang wanita cantik.
"Leo, bisa kita bicara sebentar?" Akhirnya Gita menghampiri meja Leo yang sedang duduk bersama Tasya.
"Kamu mau tanya siapa cewek yang berfoto dengan Akbar di pelaminan?" Leo mendongak menatap Gita yang berdiri dengan ekspresi kaget.
"Kok kamu tau?" Gita tidak bisa mengelak.
"Duduk, Git. Biar aku jelasin."
__ADS_1
Gita masih bergeming di tempatnya berdiri dengan raut wajah bimbang.
"Don't worry, Gita. Aku udah tau kok kalau kamu suka sama Mas Akbar. Ayolah duduk biar kita ngobrol bareng." Tasya seolah bisa membaca kesungkanan Gita. Hingga akhirnya sekretaris Akbar itu bersedia duduk.
"Gita, yang di pelaminan tadi itu pacarnya Akbar. Lebih tepatnya calon istrinya."
"Jangan becanda, Leo!" Gita tertawa sumbang. "Belum ada cewek spesial yang dekat dengan Mas Akbar. Aku selalu merhatiin keseharian Mas Akbar saat weekday or weekend."
"Kamu jadi stalker?" Leo menaikkan satu alisnya.
"Hanya untuk make sure kalau Mas Akbar pantas untuk aku tunggu." Gita membela diri.
"Pacarnya Akbar dari luar kota. Kamu tau kan cara komunikasi LDR-an?" Leo mengetuk-ngetuk ponselnya yang tersimpan di meja.
Gita terdiam dengan bibir mengatup. Penjelasan Leo masuk akal. Ia memang mengawal keseharian Akbar saat di kantor. Mengetahui pula kegiatan weekend Akbar yang rajin nge gym dan hangout dengan teman-teman pria.
"Dia orang mana?" Pada akhirnya Gita penasaran.
"Untuk sekarang ini gak penting dia orang mananya. Yang penting buat kamu, jangan lagi mengejar Akbar. Sama aja dengan buang waktu percuma. Akbar udah punya calon istri. Menunggu sama aja bersiap patah hati."
"Biarin aja, sayang. Udah dibilangin tapi masih bebal ya resiko tanggung sendiri." Tasya menatap punggung Gita yang menjauh sambil tersenyum sinis.
Leo pun tidak ambil pusing. Ia menjawab telepon masuk dari Akbar. "Oke." Jawabannya singkat. Beralih menatap Tasya. "Sayang, waktunya tugas negara."
Tasya mengangguk mengerti. Ia beranjak dari duduknya menuju meja Ami. Menyapa dulu Ibu Sekar dan Puput. Tidak ada Rama karena mengawasi Rasya yang mengajak jalan-jalan.
"Ibu, aku pinjam dulu Ami ya. Pengen kangen-kangenan mumpung ketemu di Jakarta." Tasya merayu Ibu Sekar dengan alasan yang masuk akal.
Lebih tepatnya Akbar, Bu yang pengen kangen-kangenan.
"Iya boleh." Ibu pun menyuruh Ami untuk mengikuti keinginan ibu hamil yang tinggal menghitung hari menuju lahiran.
Tasya dan Ami keluar dari ballroom. Keduanya masuk ke dalam lift menuju lantai 21.
"Kita mau kemana, Kak?"
__ADS_1
"Nganter Ami ketemu ayangnya." Tasya mengerling sambil tersenyum mesem.
"Ah kak Tasya bikin aku deg degan aja." Ami spontan meraba.
Tasya terkekeh karena kepolosan Ami yang bicara jujur. Andainya Ami tahu betapa Akbar jadi berubah cerewet saat memberi tugas padanya dan Leo. Mengingatkan harus bekerja sigap.
Lift yang berisi empat orang itu terbuka di lantai 21. Semua orang keluar dari lift dengan tujuan berbeda. Tasya menggandeng lengan Ami menuju sebuah kamar. Namun langkahnya terhenti karena Ami menahannya sebelum mengetuk pintu kamar.
"Kak, aku gak mau kalo berduaan di dalam kamar. Takut ada syetan." Ami menggelengkan kepala.
Tasya mengulum senyum. Dalam hati memuji sikap tegas Ami yang takut akan berbuat dosa. "Ami tenang aja. Aku juga ikut masuk kok. Hanya beda tempat duduk aja. Jadi yang ketiganya bukan setan tapi Tasya."
Ami dan Tasya kompak cekikikan bersama. Dengan kode ketukan sebanyak dua ketukan, pintu pun dibuka dari dalam. Sosok Akbar muncul dan mempersilakan masuk.
"Sayang, kok ikutan disini juga?" Tasya terkaget melihat ada Leo sedang duduk santai di sofa.
"Noh si boss yang telpon suruh datang biar kamu ada teman ngobrol. Biar pendengaran tidak terkontaminasi sama ucapan yang lagi bucin." Di saat tadi Tasya menghampiri meja Ami, Leo mendapat telepon lagi agar naik ke lantai 21 lebih awal.
"Leo, tolong fotoin dulu mumpung oitfit kita couple. " Akbar leluasa berekspresi di hadapan orang-orang kepercayaannya itu. Ekspresi bahagia karena ada waktu bersama dengan Ami.
"Wah ini sih di luar draft kontrak kerja. Harus ada bonus tambahan." Seloroh Tasya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck, laki bini matre semua." Akbar mencebikkan bibir. Membuat Ami dan Tasya terkekeh.
Usai berswafoto dengan berbagai gaya. Akbar menjadi terbawa pose Ami yang bergaya gokil sehingga menjadi angle yang bagus yang ditangkap Leo. Ia pun puas dengan hasil jepretan asistennya itu.
Tinggallah Akbar dan Ami duduk di sofa berdua. Leo dan Tasya sudah berpindah lokasi bersantai di ranjang yang tertutup tirai penghalang.
"Ish, Kak...kenapa natapnya gak ngedip gitu sih?" Ami menggoyangkan tangan di depan wajah Akbar.
"Cause...kalau mengedip aku takut jika wajah cantik di depanku ini hanya mimpi, tidak nyata."
"Ish, Kak Akbar jadi pintar mgegombal deh."
...*****...
__ADS_1
Tbc lagi cocz udah ngantuk berat akunya 🥱🥱🥱