Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
75. Jaga Hati


__ADS_3

Ami berada di dalam kamarnya. Berjalan mondar mandir sambil menggosok-gosokkan telapak tangan yang mendadak dingin. Mules di perut sudah mereda usai ke kamar mandi. Namun tetap saja ia gelisah. Bukan tanpa alasan jika tiba-tiba menjadi over thinking. Itu bermula karena Iko. Kemarin waktu memberikan nastar, adiknya Akbar itu memberi clue, "Mi, kalau besok keluarga Iko makan di Dapoer Ibu, dan datang bawa parsel buah, itu tandanya sekalian lamaran kecil."


"Ah, Kak Iko canda kali ya. Eh tapi beneran dia bawa parsel buah." Ami berbicara sendiri di depan cermin. Sempat berpikir untuk menelepon Akbar untuk memastikan. Namun lebih dulu pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Neng Ami kata Ibu, itu tamu pengen ketemu." Ucap Bi Ela.


"Oh, iya bentar lagi aku turun." Ami menuju cermin meja rias. Menatap pantulan wajah yang masih nampak tegang. Mengatur nafas dulu. Barulah touch up.


Tenang, Mi. Tenaaang.....Kak Iko pasti ngeprank. Percaya aja sama Ayang.


Berhasil mensugesti diri, barulah Ami meninggalkan kamarnya. Menuruni tangga dan berjalan semakin mendekati ruang tamu, tak dipungkiri deg degan terasa lagi. Ia samarkan dengan mengumbar senyum begitu pandangan semua tamu tertuju padanya.


"Ami, ini Bu Mila udah repot-repot bawa buah tangan segala. Simpan dulu ke meja makan gih." Wajah Ibu Sekar masih nampak kaget karena mengira keluarga Akbar datang hanya untuk makan siang saja.


Ami mendadak menghela nafas lega. Sekilas melirik Iko yang kentara sedang senyum-senyum. Ia pun tersenyum samar menerima kekalahan kena prank. Sesuai perintah Ibu, buah tangan dipindahkan ke belakang. Lalu bergabung lagi duduk di samping Ibu. Ia abaikan sosok Akbar yang sedari tadi terus menatapnya. Tidak mau Ibu curiga.


"Bu Sekar, Ami, kita makannya bareng-bareng ya. Masih muat kan ya satu gazebo. Biar seru, biar rame. Sekalian foto-foto. Hihi, udah jadi kebiasaan apa disebut penyakit ya kalau sebelum makan tuh kalau gak foto dulu berasa sayur kurang garam. Eh tapi kalau saya sih bukan buat diposting di medsos ya. Gak mau pamer. Buat kenang-kenangan aja. Nah, abis foto baru deh berdoa." Mama Mila melanjutkan obrolan usai tadi cukup lama berbincang dengan Ibu Sekar.


"Mama bicara terus bikin Akbar lapar. Yuk ah pindah." Akbar mengeluh sambil mengusap perut.


Ibu Sekar hanya mengulum senyum. Tak berani mentertawakan seperti Iko yang tanpa beban. Ami juga sama, menahan tawa.


"Bu Mila maaf kalau saya gak bisa ikutan. Lagi tanggung bikin bolu. Paling diwakilin Ami aja." Ibu Sekar menepuk lengan Ami.


Ami mengangguk. "Mau kesana sekarang atau nanti, Ma?"


"Sekarang aja yuk, Mi. Sebelum Mama dapat SP 2 dari Akbar." Mama Mila berdiri lebih dulu memasang wajah ketus. Menggandeng lengan Ami dan keluar lebih dulu memimpin di depan.


Tak ada percakapan selama berjalan hingga sampai ke gazebo yang sudah di reservasi. Mama Mila betah menggandeng lengan Ami dengan wajah semringah. Menu yang diinginkan sudah dicatat. Sambil menunggu menu serba dadakan itu matang, Akbar dan Papa Darwis juga Galih, lebih dulu ke mushola untuk menunaikan sholat Duhur. Ami pun izin dulu kembali ke rumah karena Ibu meneleponnya.


"Ada apa, Bu?" Ami mendekati ibunya yang baru mengeluarkan bolu pisang ketiga yang udah matang dari dalam oven.


"Kalau Mama Mila dikasih ini apa gak malu-maluin gitu, Mi?" Ini alasan Ibu memanggil dulu Ami. Meminta pendapat. Dua bolu pisang pertama yang kini hangat kuku, sudah dikeluarkan dari loyang bulat.


"Gak lah, Bu. Menurutku malah spesial. Kan home made. Bungkussss."

__ADS_1


"Ya udah kalau Ami setuju. Nanti Ibu masukin dus kalau udah dingin. Nanti disatuin sama oleh-oleh galendo." Ibu Sekar merelakan dua bolu pisang permintaan Pak Bagja, dialihkan dulu untuk oleh-oleh Bu Mila. Nanti akan buat lagi adonan baru. Galendo dan aneka cemilan khas Ciamis memang sudah lebih dulu disiapkan begitu tahu keluarga Akbar akan mampir dulu sebelum pulang ke Jakarta.


"Sip. Jadi nambah banyak ngasih oleh-olehnya. Ah, mumpung di rumah mau sholat dulu aja." Ami bergegas melangkah menuju tangga.


***


Cukup lama keluarga Akbar berada di gazebo. Satu jam lebih. Ami membersamai tanpa canggung lagi. Hanya saja tak berani menggombal di hadapan orang tua Akbar. Harus menjaga image. Lain cerita kalau kumpulnya bersama Leo dan Tasya.


"Cutie, nanti libur panjang bakal ke Jakarta gak?" Akbar sengaja berjalan paling akhir dengan Ami begitu turun dari gazebo. Bersiap pulang.


"Belum tau, Kak. Soalnya Ibu sama pak Bagja kan mau nikah. Tanggal belum pasti karena nunggu kepastian liburnya A Zaky dan Teh Gina. Terus ada wacana setelah nikah, Papa...cie Papa." Ami terkikik sendiri karena ucapannya itu. Membuat Akbar tertawa. "Maksudku Pak Bagja mau ngajak liburan ke Jerman sekalian nganterin teh Gina pulang lagi ke Negeri Adolf Hitler itu."


"Yaaaa kita gak pasti kapan ketemu lagi dong. Kirain bakal liburan di rumah Teh Puput, nanti Ami kan bisa main ke rumahku. Ada Mama yang bisa atur itu. Nanti aku kenalin sama John dan Lucy."


"Siapa John dan Lucy?" Ami menghentikan langkah di puncak tangga. Menatap Akbar dengan kening mengkerut.


"Anak bulu ras BSH. Si Lucy lagi hamil." Akbar memberikan ponselnya yang sudah dibuka ke satu album.


"Wihh kucing sultan ini sih. Lucy yang putih ya, Kak?" Ami antusias melihat foto demi foto kebersamaan Akbar dengan kucing berwarna abu-abu dan putih itu.


"Iya, yang putih. Lucu, kan? Ami suka?" Akbar mengikuti Ami yang duduk dulu. Ada satu meja yang kosong di pojok kiri.


Akbar mencondongkan badan melihat foto yang ditunjuk oleh Ami. Ia pun terkekeh. Karena itu foto dirinya sedang fitnes.


"Finalnya gimana, nanti aku kabarin ya Kak. Sekarang mah selamat jalan. Fii amanilah. Kabarin kalau udah sampe rumah." Ami menatap Akbar dengan rasa berat karena harus berpisah.


"Kamu juga disini jaga hati ya, sayang." Akbar menatap hangat.


"Pastinya. ATK, Panda." Ucap Ami dengan wajah tersipu malu. Hati meleleh bak keju mozarella terkena panas wajan.


Akbar membalas dengan tersenyum manis. "KTP, Cutie. Forever."


Teras rumah menjadi tempat perpisahan keluarga Akbar dengan Ibu Sekar dan Ami. Ami menyerahkan oleh-oleh kepada Mama Mila usai cipika cipiki.


"Ma, ini ada makanan khas Ciamis ditambah bolu pisang buatan ibu. Buat ngemil di jalan."

__ADS_1


"Aih, wanginya aja udah sedap gini. Rasanya pasti maknyus. Makasih ya sayang." Mama Mila menerimanya dengan senang hati.


Mama Mila kembali bersalaman dengan Bu Sekar di saat yang lain sudah berjalan menuju mobil. "Bu Sekar, kalau ke Jakarta kabarin aku ya. Jangan cuma ke rumah Puput dan ke rumah besan aja. Bu Sekar juga harus main ke rumahku. Tak boleh tidak ya!"


"InsyaAllah, Bu Mila." Ibu Sekar tersenyum dan mengangguk.


"Bu, Akbar pamit dulu. Assalamu'alaikum!" Akbar merangkum bahu Mama Mila. Mengulas senyum dan mengedipkan sebelah mata kepada Ami yang berdiri berlawanan dengan Ibu Sekar.


Ami menjawab salam kompak dengan sang ibu. Usai mobil melaju, barulah masuk ke dalam rumah.


***


Hari berganti. Tiba waktunya kembali kepada rutinitas. Hari pertama masuk sekolah. Ami memasukkan motornya ke parkiran khusus siswa. Semangat dan rindu pada sekolah juga rindu pada teman-temannya.


"Amiiiii." Almond berteriak dan setengah berlari mengejar langkah Ami yang cepat.


Ami berbalik badan dengan memasang senyum lebar. Anak juragan tekstil itu selama libur lebaran berada di Jakarta. Tapi hampir tiap hari sering chatingan. "Kapan dari Jakarta, Mon?"


"Kemarin sore. Masih betah libur, Mi. Tadi aja bangun kesiangan." Almond mensejajari langkah Ami menyusuri koridor kelas.


"Aku kebalikannya. Semangat sekolah. Kangen konser akbar di kelas. Hihihi." Ami terkikik karena nama Akbar kebawa. Padahal maksudnya konser bareng sekelas.


"Kelasmu anak-anaknya asyik semua ya, Mi. Beda sama kelasku gak kompak. Gaulnya blok-blokan."


"Harus ada komandan yang bisa mengayomi semua murid. Kalau di kelasku non blok, non geng. Aku selalu peringatkan anak-anak untuk kompak, saling bantu teman yang susah, ada belajar kelompok giliran rumah."


"Berarti Ami ya komandannya?" Almond menoleh dengan menatap takjub.


"Ya...begitulah. Demi kondusifitas kelas, aku sampai duduk di bangku paling belakang."


"Amazing. Duduk di bangku belakang aja ranking satu. Gimana kalau duduk paling depan ya." Almond mengikuti ritme langkah Ami begitu mulai menaiki tangga menuju lantai dua.


"Duduk paling depan mah aku langsung naik status jadi guru." Ami memeletkan lidah yang membuat Almond tertawa lepas. Ia dan Almond berpisah arah di lantai dua.


Dua jam pelajaran pertama diisi kegiatan halal bihalal. Lapangan basket merangkap lapangan upacara, menjadi tempat acara. Kepala sekolah dan semua guru beserta staf tata usaha berjajar panjang usai acara sambutan. Semua murid pun berbaris mengular menyalami sekaligus membubarkan diri.

__ADS_1


Ami berjalan bersama Kia menyusuri koridor untuk kembali ke kelas. "Kia, aku hampir lupa. Ada titipan dari A Zaky. Kemarin A Zaky udah berangkat lagi ke Singapura."


"Nitip apa, Mi?" Kia dibuat penasaran sekaligus deg degan mendengar nama kakaknya Ami itu disebut. Jadi terbayang pemuda berbaju koko dan bersarung yang makan nasi goreng dalam diam. Yang ia curi pandang dengan diam-diam.


__ADS_2