Biarkan Aku Jatuh Cinta

Biarkan Aku Jatuh Cinta
66. Hayuk Ke KUA


__ADS_3

Ami dibuat deg-degan saat harus membuka paket dihadapan Ibu. Membayangkan, bagaimana jika di dalamnya ada terselip kartu seperti hadiah dari Pak Bagja untuk Ibu. Terus kartunya kelihatan oleh Ibu dan dibaca. Bunyinya seperti ini, "Baju lebaran dari Mama Mila untuk Ami si calon mantu imut." Kan gawat kalau harus bocor sebelum waktunya. Bisa-bisa setelah salam-salaman lebaran bakalan sidang keluarga. Mana semuanya bakalan kumpul. Bahaya ini sih.


"Mi, malah bengong. Cepetan bukanya! Ibu mau bikin adonan kastengel nih keburu adzan."


Ami mengerjapkan mata. Terlalu banyak spekulasi berputar di benaknya. Membuat ia tak sadar berhenti merobek kemasan plastik pembungkus paket. Ia pun tersenyum menyeringai.


Bismillah. Ya Allah, tolong selamatkan Hamba dari sidang keluarga. Kebayang mata A Zaky yang melotot, aduhhhh.


Bungkus plastik berwarna abu-abu sudah lepas. Menyisakan kotak berwarna merah marun dengan nama butik bertinta emas.


"Bu, kata Ceu Nining menu yang mau dikirim ka panti asuhan jadinya yang mana?"


"Oh iya, lupa. Saya ke kesana aja." Ibu beranjak dari duduknya usai Bi Ela memberi laporan dari dapur umum rumah makannya.


Ami menghembuskan nafas panjang. Lega rasanya. Wajahnya berubah semringah karena doanya tokcer terkabul. Inginnya berlari naik ke kamar agar bisa membuka paket dengan leluasa sekalian mencoba bajunya. Namun bagaimana nanti nasib nastar. Bisa-bisa gosong. Mana sudah bekerja keras sedari pagi hingga siang. Mumpung Ibu sudah pergi, bergegas membuka tutup kotak.


Benar kan, diatas gaun terselip selembar kartu ucapan. Ami membaca dengan cepat dan lalu memasukkan kartu itu ke dalam saku celananya.


Huft, selamat....selamat....selamat.


Ami melanjutkan mengeluarkan gaun berwarna soft pink floral dari kotaknya yang satu set dengan pashmina. Bahannya adem dan lembut. Gaunnya sangat cantik dan sesuai dengan usianya.


Tak berselang lama, Ibu datang lagi dan melihat Ami sedang lenggak lenggok di depan kulkas dengan gaun yang di coba di depan badan. "Cantik sekali bajunya. Ami jangan lupa bilang makasih ke Bu Mila."


"Iya, Bu. Nanti aku chat Mama Mila."


Hingga sore, proses membuat kue selesai semuanya. Sesuai target sehari harus beres karena besok ada acara buka bersama dengan Pak Bagja yang sudah mengkonfirmasi siap datang.


Usai mandi sore, Ami mencoba memakai gaun lebaran dari Mama Mila. Mematut diri di depan cermin diiringi senyum puas. Ukurannya sudah pas tak perlu lagi ada yang dirombak. Tadi siang sudah mengirim pesan ucapan terima kasih ke Mama Mila sambil melampirkan foto gaunnya.


Buat calon mantu BNI, hehehe. Semoga suka dengan baju lebaran dari Mama ini. Selamat Idul Fitri, sayang. (Mama Mila)


Ami tersenyum simpul sambil membaca ulang kartu yang disembunyikannya itu. Apakah Mama Mila tahu istilah BNI karena masih ingat ucapannya atau karena dikasih tahu oleh Akbar. Nanti akan ditanyakan pada ayangnya itu.


***


Hari berganti. Aul yang dikabari Ami agar ikut buka bersama, mengkonfirmasi tidak bisa ikut serta karena bentrok jadwal buka bersama dengan Bunda Ratih sekeluarga. Jadilah ia berdua dengan Ibu menerima kedatangan Pak Bagja dan Gina.


"Ami, apa kabar?" Pak Bagja tersenyum saat berhadapan dengan Ami yang membukakan pintu.


"Alhamdulillah baik, Pak. Silakan masuk." Ami tersenyum ramah. Beralih bersalaman dengan Gina sambil berciuman pipi.


"Zaky udah mudik belum, Mi?" Gina mengakrabkan diri dengan Ami sambil duduk satu sofa.


"Besok, Teh. Bareng Teh Puput mudiknya."


Gina mengangguk. "Oh ya, aku gak bawa apa-apa, Mi. Cuma ini aja."

__ADS_1


"Teh Gina padahal gak usah repot-repot." Ami menerima uluran kantong kresek putih yang isinya parsel buah. Ia pun mengucapkan terima kasih.


"Kita duduknya pindah ke ruang makan aja ya soalnya lima menit lagi adzan." Ucap Ibu Sekar menatap Pak Bagja yang sedang memperhatikan interaksi Gina dan Ami


"Boleh. Tapi sebaiknya setelah buka lanjut sholat magrib dulu, baru makan ya." Pinta Pak Bagja.


Ibu Sekar mengangguk setuju. Ia menyuruh Ami menyiapkan sajadah untuk digelar di karpet ruang tengah. Jadilah setelah berbuka dengan tiga butir kurma, sholat magrib dilaksanakan berjamaah. Bacaan surat sang imam terdengar fasih dengan lagam yang enak pula didengar. Dadanya mendadak berdesir, serasa sedang berjamaah dengan diimami kepala keluarga.


"Ami, boleh gak Bapak dan anak cucu silaturahmi kesini dihari kedua lebaran?" Pak Bagja menatap Ami usai acara makan bersama dengan menu yang dirindukannya sejak di Jerman. Semuanya masih betah duduk di kursi makan sambil menikmati kolak candil ubi dengan wangi aroma nangka yang diiris kecil-kecil.


"Boleh pake banget, Pak. Ditunggu kedatangannya. Pas juga disini kumpul keluarga." Ami mengangguk diiringi senyuman.


Bu Sekar yang duduk berhadapan dengan Pak Bagja, menatap dengan mata menyipit serta kening yang bergaris. Pria paruh baya masih bugar dan gagah itu hanya membalas dengan tatapan hangat dan senyum simpul penuh arti.


"Ahh, sebetulnya masih betah. Tapi gak mau ketinggalan tarawih yang tinggal tiga kali lagi. Bapak dan Gina mau permisi ya, Ami."


Kenapa Pak Happy dari tadi ke aku terus fokus ngobrolnya. Bukannya ke Ibu.


Meski dalam hati dipenuhi keheranan, tak urung Ami mengangguk lalu ikut berdiri melihat Pak Bagja dan Gina keluar dari kursinya.


"Teh Gina, tunggu sebentar!" Ami melangkah menuju lemari bufet usai menahan Gina yang bersiap keluar rumah.


"Ini ada kue lebaran buatan aku dan Ibu. Biarin ya di rumah Teh Gina udah banyak kuenya juga. Hehehe." Ami menyerahkan goodie bag berisi dua toples tinggi berupa nastar dan kastengel.


"Wah, nastar sama kastengel. Tahu aja kalau ini favorit aku dan Papa. Papa sukanya nastar, aku sukanya kastengel. Makasih ya Ami, Ibu." Gina tersenyum lebar dan terlihat sangat senang dengan hadiah yang didapatnya.


"Iya, Teh." Ami tersenyum. Ibu Sekar pun sama. Keduanya mengantar sampai teras. Barulah masuk ke dalam usai mobil yang dikemudikan Pak Bagja melaju meninggalkan pekarangan rumah.


"Ibu tau Pak Happy suka nastar ya?" Ami memicingkan mata diiringi senyum usil. Jahilnya tak mengenal orang. Mau kakak-kakaknya, mau ibunya, kena semua.


"Ya nggak tau. Kan Ami yang punya inisiatif pengen balas ngasih hadiah. Ami juga yang mutusin ngasih nastar dan kastengel. Jangan amnesia ya!"


"Eh iya-ya." Ami cengengesan.


"Bu, tanggal dua itu maksudnya Pak Happy mau lamar Ibu, gitu? Tadi kan bilangnya mau bawa anak cucu. Aku harus pengumuman di grup nih." Ami mengekori langkah Ibu yang memasukkan mukena ke dalam kantong. Bersiap ke masjid.


"Jangan ngarang, Ami. Tadi terdengar jelas kan bilangnya mau silaturahmi." Ibu menatap tajam si bungsu yang cengengesan lagi. Ia mengajak anak yang paling ramai itu untuk bersiap karena adzan isya sudah berkumandang.


***


Lebaran hanya tinggal sehari lagi saat keluarga kecil Puput serta Zaky tiba di rumah jam lima sore. Berangkat dari Jakarta selepas subuh dengan lama perjalanan 10 jam karena terjebak macet begitu keluar tol Cileunyi. Suasana rumah berubah ramai dengan adanya Rasya dan Rayyan.


"Ate, ayo ke kamal Ate." Rasya menarik-narik tangan Ami yang sedang membongkar oleh-oleh Jakarta. Gak ada rasa lelah di wajah bocah itu. Malah paling dulu berlari masuk begitu turun dari mobil sambil berteriak memanggil nenek dan Ate.


"Ih, mau apa ke kamar Ate? Kamar Aa sama Umma sekarang di bawah, di kamar Ate Aul ya."


"Ga mau. Aa bobonya mau sama Ate. Umma sama Papa sama adek." Rasya beralih menarik-narik baju Ami. Keukeuh ingin ke kamar Ami sekarang.

__ADS_1


"Udah turutin aja, Mi. Dari semalam udah semangat banget mau ketemu Ate, mau bobo di kamar Ate. Katanya Ate punya boneka namanya Kunti. Bener gitu namanya Kunti?" Ucap Puput yang membawakan bantal untuk Rama. Suaminya itu sedang telentang meluruskan kaki usai menyetir dalam suasana macet. Untung ada sopir cadangan yaitu Zaky sehingga bisa bergantian menyetir. Sementara Rayyan bersama Ibu dan Zaky di halaman belakang.


"Ya Salam. Itu boneka namanya Cutie kenapa jadi Kunti, Aa." Ami melotot dengan gemas. Menatap Rasya yang memasang wajah tanpa dosa dengan senyum meringis memperlihatkan deretan gigi susu yang putih terawat. Ia menuntun keponakannya itu menaiki tangga.


"Wuahh, besal syekali bonekanya." Rasya langsung saja loncat dengan riang ke atas kasur dan memeluk boneka panda setinggi dirinya.


Ami garuk-garuk kepala melihat tingkah Rasya yang terjengkang hingga tertimpa boneka yang dipeluknya itu. Bukannya kaget, malah cekikikan.


"Aa, itu boneka bukan mainan Aa ya. Anak cowok gak boleh main boneka. Sini ya, bonekanya Ate simpan di sofa." Ami merayu dengan lembut. Mencoba menarik boneka yang mengurung badan Rasya.


"Nanti dulu, Ate. Ini namanya siapa dulu?" Rasya mempererat pelukan tangan di boneka jumbo itu.


"Namanya Panda. Udah, ayo lepas. Aduh nanti bulunya rontok kalau dipegangnya kayak gini, Aa." Ami menahan sabar dengan tingkah Rasya. Suka menjengkelkan tapi sangat dirindukan. Rasanya tak aman jika tetap terlihat oleh keponakan yang suka usil sepertinya itu.


"Ate, boneka kunti mana?" Rasya duduk sambil melihat boneka jumbo itu dimasukkan ke dalam lemari gantung.


"Cutie, Aa Ucul. Bukan kunti." Ami mengacak-acak rambut Rasya dengan gemas.


"Aa Lasya. LA - SYA. Bukan Aa Ucul, Ate Malimal." Rasya menggeram dengan bibir dimanyunkan. Gelak tawa tercipta di dalam kamar karena berakhir saling menggelitik.


***


Takbir menggema di setiap masjid menyambut hari yang fitri sejak semalam hingga pagi sebelum sholat sunnah Idul Fitri digelar. Jalanan Jakarta berubah lengang. Rumah-rumah banyak yang kosong karena ditinggalkan separuh warganya yang mudik ke kampung halaman masing-masing.


Tidak dengan keluarga Akbar yang memang sudah lama menetap di Jakarta. Juga sanak keluarga lebih banyak yang tinggal di Jakarta juga di Tangerang. Iko dan suaminya pun sudah datang dari Singapura sejak dua hari yang lalu. Usai momen bermaaf-maafan di rumah, yang lalu dilanjutkan berkunjung ke rumah kakak dari Papa Darwis, siang menjelang sore ini menjadi waktu santai di rumah.


[Cutie, masih sibuk silaturahmi or udah santai?]


[Pengen vc]


Akbar baru sempat membalas chat dari Ami yang berisi ucapan selamat Idul Fitri, yang dikirim satu jam yang lalu. Itu karena ia baru sampai rumah usai menjadi driver untuk rombongan keluarganya. Baju kurta warna biru muda yang menjadi warna dress code keluarga, sengaja belum diganti karena ingin terlihat dulu oleh Ami.


Bagaimana pun juga, Akbar sudah ketagihan dengan pujian dan gombalan Ami. Kemarin pagi waktu video call menanyakan haruskah lebaran memendekkan rambut lagi? Si Cutie tidak setuju.


"Jangan dipotong dulu, Kak. Biar semi gondrong gitu. Aku lagi suka gaya rambut kakak yang seperti ini. Itu aja brewoknya tipisin aja. Pasti Pandaku makin handsome deh. Apalagi kalau lebarannya pakai kurta yang slimfit. Adudu kebayang perfetco deh ayangku."


Hidung Akbar mekar begitu mengingat lagi ucapan riang Ami itu yang bicara apa adanya. Senyum-senyum sendiri. Untung berada di kamar yang pintunya sudah dikunci. Nunggu tanggal tiga Syawal untuk bisa berangkat ke Tasik. Karena besok masih ada acara keluarga besar di Tangerang.


[Hayuk ke KUA]


[Eh, hayuk vc Kak 😁]


Akbar terkekeh menatap balasan Ami melintas di beranda. Ia beranjak dari duduknya. Sempatkan dulu berkaca merapihkan rambut dengan sisir lalu mengamati kesegaran wajahnya. Setelah dirasa yakin penampilannya sudah sempurna, ia meletakkan ponsel pada dudukannya. Panggilan video terhubung pada nama 'Cutie'.


...***...


Insyaallah up kedua nanti malam ya. Moga gak ada halangan 🙏. Yang mau kedipan maut Akbar, cus intip igs. Dan....jangan lupa kopi dan mandi kembangnya ditunggu ya, Bestie 😉

__ADS_1


__ADS_2