
Matahari baru membiaskan cahaya, terlihat sesosok anak muda yang dengan gesitnya menghindari aral rintang dan jebakan yang bisa muncul tiba-tiba.
Dan yang terakhir Feri harus bisa mengalahkan 6 orang pendekar kepercayaan ayah angkatnya, karena apabila kalah, ia harus mengulang dari awal lagi.
Hari ini Feri harus menyesuaikan ujian akhir dari latihan beladiri yang di ajarkan langsung oleh ayah angkatnya Azuro Nakamura.
Seluruh ujian mampu di lewati, meskipun ada beberapa bagian tubuh Feri yang harus terluka.
"cukup!"perintah tegas dari Nakamura.
Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Feri pun membungkuk memberi hormat pada ayah angkatnya.
"selamat nak, kau ku nyatakan lulus" Nakamura berkata sambil berjalan mendekati Feri dan langsung memeluknya dengan erat.
"Terimakasih ayah!" sahut Feri dengan pelan sembari membalas pelukan hangat ayah angkatnya.
"Bersihkan lah dirimu, dan temui aku di ruang latihan" perintah Nakamura sambil melepaskan dekapannya.
"Baik ayah" jawab Feri dengan tegas sambil membungkuk.
setelah 15 menit membersihkan diri, feri berjalan dari kamarnya menuju ruang latihan.
Di dalam ruangan itu selain ayahnya ada pula 6 pendekar dan adik angkatnya, anak dari Azuro Nakamura sendiri yaitu Akenta Nakamura.
Azuro dan Akenta duduk berdampingan, dan 6 pendekar saling berhadapan, 3 di kanan dan 3 di kiri.
"salam hormat semuanya!" Feri membungkukkan badan memberi hormat pada semua yang ada di ruangan, kemudian masuk dan duduk di hadapan Azuro dan Akenta.
Azuro menarik napas dalam-dalam kemudian berkata "tak terasa sudah 20 tahun kau disini, ku rawat dan ku besar kan kau dengan penuh harapan, kau akan menjadi orang yang baik, dan ku berikan ketrampilan beladiri yang ku miliki, supaya bisa kau membela yang benar, dan mencegah kejahatan.
flashback on.
20 tahun yang lalu Azuro berjalan di pinggiran hutan, dia menajamkan pendengarannya, karena sayup-sayup terdengar suara bayi yang menangis dari arah bawah tebing, semakin mendekat suara tangis bayi itu semakin jelas, diarahkannya senter ke seluruh arah di bagian bawah sisi tebing itu, diapun bergegas menghampiri sebuah kotak hitam karena yakin suara tangis bayi itu berasal dari sana.
"Ya Tuhan!" Azuro terperanjat ketika dia membuka kotak hitam tersebut, seorang bayi yang sedang menangis ada di dalam nya.
__ADS_1
Di arahkannya lagi cahaya senter untuk mencari apa ada yang lain selain bayi yang ada di dalam kotak hitam ini.
setelah mengitari seluruh arah dari bagian bawah tebing itu dan tidak menemukan apa-apa. "aku harus membawa dan menolong bayi ini!" gumamnya dalam hati.
Dan sesampainya di rumah istri Azuro Marina saat itu terkejut melihat Azuro membawa sebuah kotak hitam, yang dari dalamnya terdengar suara bayi yang menangis, sampai di dalam kamar Azuro membuka kotak itu dan meminta istrinya mengangkat dan memberikan pertolongan pada bayi itu.
"Angkat dan coba susui bayi itu!" perintah tegas dari Azuro.
"Tapi bayi siapa ini mas?" tanya Marina sambil mengangkat dan menggendongnya.
"Entah lah tadi aku menemukan nya di bawah sisi tebing!" jawab Azuro sambil mengusap kepala bayi tersebut karena merasa iba.
setelah di gendong, Marina pun berinisiatif untuk menyusuinya, karena kebetulan dia pun memiliki seorang bayi laki-lakinya yang baru berumur 2 bulan.
bayi itu pun diam setelah mendapat ASI dari Marina, dan mulai tertidur.
karena sudah tertidur bayi itu pun di taruh nya di samping bayinya.
Azuro dan Marina pun tersenyum melihat bayi yang baru di temukan itu sudah terlelap dalam tidurnya.
"apa ini?" tanyanya sambil membuka amplop tersebut.
Marina pun mendekati suaminya karena penasaran.
Azuro mengambil kertas yang bertuliskan "Feri Handoyo" serta tanggal bulan dan tahun lahir yang kalau di hitung baru 1 tahun 2 bulan.
"Berarti nama bayi ini Feri Handoyo!" gumamnya pelan pada istrinya sambil melihat bayi yang ada di samping bayi mereka.
kemudian mengambil sebuah kalung dan kain hitam lagi yang ada dalam amplop coklat tersebut.
Azuro menatap kalung bermata bintang yang di lingkari seekor naga, dan kain hitam yang terdapat logo 2 naga yang berhadapan.
"apa maksudnya dari semua ini?" Azuro mengerutkan alisnya seperti memikirkan sesuatu.
kemudian Azuro menatap wajah istri nya yang juga terlihat bingung "Kau Mau kan kita juga merawat bayi ini?" tanya Azuro pada istrinya dengan penuh harap.
__ADS_1
istrinya mengangguk sambil tersenyum tanda setuju.
flashback off.
"Feri mendekat lah!" pinta Azuro.
Feri pun mendekat kira-kira 1 meter dari Azuro.
Azuro membuka kotak hitam di sampingnya, dan menyerahkan pada Feri "terimalah ini dan simpan baik-baik, semoga benda ini dapat menjadi petunjuk bagi mu untuk mencari jati diri dan asal usul keluargamu!"
Feri memperhatikan 2 benda yang ada di tangan nya, "apakah dengan ayah menyerahkan benda-benda ini, ayah menyuruh ku untuk pergi?" tanya Feri dengan menundukkan kepalanya.
Azuro menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Feri.
"Dengan berat hati ini harus kamu lakukan nak, siapa tau di luar sana kamu bisa mendapatkan jawaban dari teka-teki yang selalu kau tanyakan dulu".
suasana hening sejenak, dan dari arah belakang Azuro terdengar langkah kaki, dan nampak seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati Feri.
"karena kami sayang kepada mu, jadi kau harus mencari jati diri mu yang sebenarnya, dan ketika nanti kau tidak menemukan apa yang kau harapkan, rumah ini selalu terbuka untuk mu, kau sudah Ibu anggap anak sendiri!"
Marina berkata sambil mengusap kepala feri dengan kasih sayang nya.
Feri yang mendengar nya mengangguk-angguk dan meraih tangan ibunya, dan mencium nya dengan manja.
Azuro dan Akenta serta 6 pendekar tersenyum melihat Feri yang mulai memahami maksud mereka.
Bu Marina mengambil kalung bermata bintang yang di lingkari seekor naga.
"Sini ibu pakaikan kalungmu!" seraya tangan Bu Marina melingkari leher Feri dan mengaitkan kalung tersebut di belakang leher Feri.
"Jaga dirimu baik-baik ya nak, semoga nanti kau mendapatkan apa yang kau inginkan!" setelah berkata itu Bu Marina mencium kening feri.
"Terimakasih Bu!" Feri menjawab dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu dengan sikap ibu angkatnya ini, yang selama ini memberikan kasih sayang nya seperti darah daging nya sendiri.
kemudian Bu Marina berdiri dan duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Tidak terasa hari sudah sore, sebaik nya kita semua beristirahat" Azuro berdiri menandakan pertemuan itu berakhir.