
setelah sampai di parkiran, feri meminta nomor hp Rita agar mudah untuk menghubungi nya, kemudian ia keluar dari mobil terlebih dahulu untuk memastikan keadaan aman.
setelah memberi kode Rita keluar dari mobil dan langsung memasuki gedung untuk ke kamarnya, setelah beberapa saat feri menerima pesan wa dari Rita bahwa ia sudah masuk ke kamar dengan aman, baru lah feri yang masuk dan langsung menuju kamar nya.
kebiasaan feri sebelum tidur ialah bermeditasi sebentar untuk menenangkan diri, kemudian ia pun beristirahat.
feri terbangun dari tidurnya, kemudian melihat di hpnya jam menunjukkan pukul 5 lewat 10 menit, ia pun bergegas mandi dan berpakaian, kemudian ia bergegas keluar dari kamar nya, ia pun langsung menuju taman di depan gedung.
banyak sekali orang-orang yang sudah berada di taman tersebut, ada yang sedang bersantai menikmati segarnya udara pagi, ada yang berolahraga, ada juga yang sedang latihan beladiri.
feri melihat-lihat sekitar dan menemukan seseorang yang ia kenal, ia pun melangkah mendekati orang tadi.
"pagi ayah Law!" sapa feri dengan hormat.
"ooh.. feri.. kemari lah!" sahut master Law.
"apakah saya mengganggu ayah?" tanya feri tersenyum ramah.
"tidak nak.. sama sekali tidak!, apa ada yang ingin kau bicarakan?" kata master Law seperti mengetahui maksud feri.
"begini yah, apakah saat pertemuan nanti saya juga boleh masuk?" tanya feri serius.
master Law tersenyum mendengar pertanyaan feri.
"kau memiliki undangan khusus kelas gold, acara yang mana pun bisa kau ikuti!" jawab master Law tegas.
"oo.. syukur lah, jadi saya tidak usah merepotkan ayah dan kakak lagi!" kata feri dengan tersenyum malu.
"apa kau ingin sedikit pemanasan dengan ku?" tanya master Law dengan tatapan tajam.
"tapi sa..
__ADS_1
"hiyaat.." master Law membuka serangan nya.
dengan cepat feri mengelak ke samping, dan membalas dengan tinjunya, tapi master Law menangkis nya dengan mudah, setelah beberapa kali bergantian melakukan serangan, keduanya pun berhenti karena beberapa orang telah memperhatikan mereka.
"kau memang sangat cepat, baik dalam bertahan ataupun menyerang!" puji master Law pada feri.
"ayah.. jauh lebih hebat, di usia seperti sekarang ini masih memiliki kemampuan seperti orang muda, mungkin kalau saya nanti seumuran ayah belum tentu masih bisa cepat melepaskan serangan seperti yang lakukan tadi!" feri membalas pujian.
"ha.. ha.. ha.. kau benar-benar pemuda yang pandai menghormati orang tua!" sahut master Law seraya merangkul pundak feri.
"ayo kita sarapan terlebih dahulu, sebelum bersiap-siap ke acara pertemuan!" pinta master Law dan mulai melangkah santai bersama-sama.
setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di cafe & resto grand garden, terlihat masih banyak meja yang kosong, hanya ada beberapa meja yang berisi.
beberapa orang yang melihat master Law masuk nampak menyapa dengan hormat, master Law hanya tersenyum membalas sapaan mereka.
setelah mengambil makanan dan minuman di meja prasmanan, master Law dan feri duduk semeja di tempat khusus para master yang masih kosong.
"feri.. apakah kau tidak mau mencari pekerjaan yang lain?" tanya master Law setelah menelan makanan di mulut nya.
"suatu saat kau harus mencari pekerjaan yang lebih baik lagi!" pinta master Law lagi.
"iya yah.. nanti saya pertimbangkan lagi!" jawab feri singkat.
setelah menyelesaikan sarapan, mereka pun kembali berjalan untuk menuju kamar, bersiap untuk acara pertemuan.
master Law terlebih dahulu masuk ke kamarnya, karena berada tidak jauh dari resepsionis, dan feri melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk bersiap juga.
tepat jam 8 acara pertemuan di mulai, yang bertempat dalam aula yang tidak terlalu besar, karena yang hadir hanya para master dan pimpinan geng serta ketua perguruan.
Ratna nampak memandu acara tersebut dengan sangat baik, setelah pembukaan acara di lanjutkan dengan pembahasan daerah kepimpinan masing-masing pimpinan master.
__ADS_1
feri nampak mengikuti acara tersebut dengan penuh perhatian, dan sesekali memperhatikan master Roy sebagai pimpinan perguruan macan kumbang, dan Soyuki Maeda sebagai pimpinan geng bayangan hitam.
ia belum melihat pergerakan yang mencurigakan dari 2 kumpulan tersebut.
sampai tiba waktunya istirahat siang, feri belum menemukan kejanggalan yang bisa membahayakan 5 pimpinan master.
jam 1 lewat acara di lanjutkan kembali, setelah mengikuti sebentar, feri keluar untuk meninggalkan ruang aula tersebut.
di luar gedung feri melihat mobil semakin banyak berdatangan, karena di acara pertarungan nanti setiap perguruan dan geng boleh membawa 10 orang anggota masing-masing sebagai suporter.
ketika sedang duduk di sebelah meja resepsionis feri melihat Julio salah seorang penjaga cafe & resto.
"paman Julio!" sapa feri dengan berdiri mendekati nya.
"iya mas.. ada yang bisa saya bantu?" sahut Julio ramah.
"kalau untuk acara pertarungan nanti, tempat nya dimana ya?" tanya feri sambil tersenyum.
"oh tempat itu... di lantai 3 anda bisa naik lewat tangga disana bisa juga pakai lift mas!" jawab Julio dengan jelas.
"terima kasih paman!" ucap feri dengan hormat.
"sama-sama mas!" sahut Julio ramah.
setelah beberapa saat berpikir feri pun berjalan mendekati anak tangga dan menaikinya, setelah berada di lantai 3, ia melihat ada beberapa pintu besar aula, feri pun memasuki sebuah aula yang bernama AULA LAGA, beberapa orang ob nampak sedang membersihkan tempat tersebut.
aula itu di desain seperti stadion mini, di tengah nya terdapat matras tipis 8 meter persegi, yang di setiap pojok nya terdapat kursi, di kelilingi dengan stadion mini bertingkat 4 baris tempat duduk membentuk huruf U, sedang di ujung aula ada panggung , yang terdapat 5 meja dan kursi kayu berukir tempat 5 pimpinan master duduk nanti nya.
feri berdiri dari tengah arena dan mengawasi seluruh bagian aula, kemudian ia mengukur tempat arena bertarung dengan tempat duduk 5 pimpinan master hanya berjarak 4 meter.
"kemungkinan besar penyerangnya adalah salah seorang pendekar yang akan bertarung disini, dugaan ku iya akan menyerang dengan menggunakan senjata rahasia!" gumam feri dalam hati sambil mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"berarti aku harus bersiaga di dekat 5 meja pimpinan master!" gumam feri yakin dengan mengangguk kepalanya.
setelah mengamati dan menganalisa kemungkinan yang akan terjadi feri pun keluar dari aula tersebut.