Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Dua sisi yang sangat berbeda.


__ADS_3

Gadis cantik yang memandu acara tersebut, terlihat sangat profesional, tidak kalah dengan para bintang host yang biasa memandu acara di televisi.


feri melihat dengan tatapan takjub, selain cantik, gayanya juga tidak monoton, bisa membuat para hadirin yang ada tertawa karena gaya humor nya yang mampu menghidupkan suasana.


acara satu demi satu di lalui dengan lancar penuh kebahagiaan.


"okee.. acara selanjutnya, pemberian ucapan selamat ulang tahun serta penyerahan kado atau hadiah!" gadis pemandu acara menyampaikan nya dengan penuh semangat dan intonasi yang menggebu.


feri dan Surya saling pandang, karena lupa membawa sesuatu sebagai kado.


mungkin bisa di maklumi bila mereka tidak membawa apa-apa, karena bagi feri ini adalah pertama kalinya ia menghadiri acara ulang tahun, karena waktu sekolah di desa dulu feri tidak pernah hadir di acara ulang tahun teman-temannya di karenakan jarak rumahnya yang berada jauh di luar desa.


Mita yang melihat feri dan Surya agak bingung, memahami kondisi kedua orang temannya ini.


"Heii.. kalian nggak usah bingung, nanti kalian maju aja, ucapin selamat ulang tahun dan do'akan semoga sukses, gitu aja!" Mita menjelaskan dengan suara yang pelan.


raut wajah feri terlihat lebih tenang setelah mendengar bisikan dari Mita, iya pun mengangguk setuju.


feri pun memperhatikan para tamu yang lain, karena ada juga dari mereka yang tidak membawa apa-apa.


untuk rombongan dari karyawan toko sumber cahaya Salim dan keluarga nya berada paling depan, di susul Wawan serta keluarga nya, Lia, Ali, Widya, kemudian feri dan Surya paling belakang rombongan mereka, dan di susul tamu yang lain.


dari rombongan karyawan toko hanya Ali dan feri yang tidak membawa kado, membuat feri lebih percaya diri walaupun tidak memberikan apa-apa, selain ucapan selamat ulang tahun dan do'a.


setelah Widya memberikan kado dan ucapan selamat pada yang berulang tahun, feri pun berdiri tepat di hadapan Rahman Kaka Widya.


"selamat ulang tahun ya bang.. sukses selalu!" itulah ucapan dari feri dengan senyuman tipis serta menjabat tangan Rahman.


"ooh.. iya, terima kasih!" jawab Rahman singkat.


setelah beberapa saat akhirnya semua hadirin selesai memberi ucapan.


gadis cantik pemandu acara pun kembali berdiri dengan senyuman yang manis, memberi tahukan bahwa acara selanjutnya adalah pemotongan kue ulang tahun, dan di berikan pada seluruh keluarga inti, tak terkecuali Mita yang juga berada disana.


kemudian acara pun di lanjutkan dengan makan bersama, acara ini lah yang paling di tunggu oleh Surya, karena dari pertengahan acara tadi beberapa kali Surya menepuk perut, mengkode feri kalau ia sudah lapar.


ketika para tamu undangan antri untuk mengambil makanan di meja prasmanan yang di sediakan.

__ADS_1


"di minta dengan hormat pada bang Rojali, agar bisa menyumbangkan satu atau dua buah lagu"


panggilan dari pemandu acara melalui mikrofon nya.


terlihat seorang lelaki yang berpakaian rapi berdiri di depan teras yang cukup luas itu bersiap untuk menyanyi, menghibur semua orang di acara ini.


sudah banyak yang secara bergantian menyanyikan lagu-lagu yang di iringi musik organ tunggal.


"brak.. brak.. stop.. stop..!" suara kursi yang di tendang dan bentakan kasar terdengar dari bagian dekat pagar masuk.


nampak 5 orang lelaki dengan tampilan seperti preman masuk ke acara tersebut.


seorang ibu yang sedang menyanyi pun diam, juga pemain organ tunggal menghentikan musiknya.


salah seorang dari mereka berjalan dengan angkuhnya menuju teras rumah, sedang kan 4 orang lain nya berdiri dengan sorot mata tajam dan dengan tangan kanan mereka memegang gagang golok yang terselip di pinggang mereka masing-masing, membuat para tamu yang hadir tidak berani berbuat banyak.


di antara tamu ada yang menyebut nama Bondan dengan berbisik.


sebelum lelaki yang di sebut bernama Bondan tadi sampai di teras, salah seorang pria kerabat Cang Ahlun menghentikan langkahnya.


Bondan berbalik dan..


"plakk.." Bondan menjawab dengan pukulan ke wajah pria yang menghentikan nya.


membuat pria tadi termundur 2 langkah Sambil memegangi pipi kirinya yang terkena pukulan telapak tangan Bondan.


"nggak usah ikut campur!" bentak Bondan dengan mata melotot.


pria tadi merasa tidak terima, dan akan maju mendekati Bondan, tapi langkahnya terhenti karena di pukul oleh seorang anak buah Bondan dari belakang.


"dhupp.." pria tadi jatuh pingsan karena keras nya pukulan di bagian belakang leher nya.


Cang Juki tiba-tiba berdiri.


"heeh.. apa-apaan ini?" dengan raut wajah yang marah, dan berjalan menuju anak buah Bondan yang membuat pingsan kerabatnya.


"Cang Arsyad.. encang belum bayar uang keamanan pada kami!" Bondan berkata dengan menatap seorang pria paruh baya yang berdiri menggunakan sebilah tongkat untuk menopang berat tubuh nya, tanpa memperdulikan pertanyaan Cang Juki.

__ADS_1


"bayar uang keamanan???" tanya pria yang di panggil cang Arsyad tadi dengan tatapan bingung pada Bondan.


Cang Juki mempercepat langkahnya untuk mendekati Bondan yang mencoba mengintimidasi abangnya.


"yang benar aj.. aaarghh.." belum selesai perkataannya, terdengar Cang Juki merintih dan jatuh ke tanah kesakitan, karena terkena pukulan tinju salah seorang anak buah Bondan di dagunya.


menyaksikan Cang Juki di perlakukan seperti itu, feri yang awalnya diam karena ingin mengetahui terlebih dahulu duduk permasalahannya, tiba-tiba berdiri tegap dengan gagah.


"untuk apa lagi bayar uang keamanan dengan kalian?? karena Cang Arsyad sudah membayar pada ku"! pernyataan dari feri yang tegas, membuat Bondan dan anak-anak buahnya menatap ke arah Feri dengan tajam.


para tamu pun menatap dengan bingung tidak mengira bahwa ada yang berani berkata seperti itu, karena sebagian besar dari mereka mengetahui bagaimana kelakuan Bondan dan anak-anak buahnya.


"berani-beraninya kau di daerah kekuasaan ku, siapa kau?" jawab Bondan dengan mata melotot, dan balik bertanya.


"aku feri!" jawabnya dengan muka yang memerah karena marah dengan kesombongan Bondan.


Bondan hanya menggerakkan tangan, mengkode anak buahnya menyerang.


2 orang melangkah cepat ke arah feri, dan bersiap melayang kan tinju.


"hiyaat.. kreg.. kreg.. aaarghh..


jelas terlihat 2 orang tadi menyerang feri bersamaan.


tapi terdengar seperti suara ranting yang patah, di susul suara erangan kesakitan dari 2 orang yang menyerang feri tadi.


dengan sedikit terjongkok 2 orang tadi memegangi tangan kanannya masing-masing yang bergetar karena rasa sakit yang luar biasa.


ternyata feri menahan serangan tinju 2 orang tadi dengan 2 tinju kedua tangannya, yang mengakibatkan tinju 2 orang tadi seperti sedang meninju tembok yang kokoh.


feri dengan tatapan yang sangat mengerikan.


"cepatlah kalian pergi dari sini! sebelum kalian semua ku buat menyesal" ancam feri pada Bondan dan anak-anak buahnya.


Cang Ahlun menatap feri yang berdiri begitu gagahnya, menatap dengan heran dan tidak percaya.


"bagaimana bisa anak muda yang biasa terlihat sopan, santun dan murah senyum, bisa berubah seketika seperti seekor harimau yang ganas, dan siap untuk memangsa, seperti dua sisi yang sangat berbeda, benar-benar tidak terduga" gumam Cang Ahlun dalam hatinya, dan mengeleng-gelengkan kepala nya sendiri karena masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya pada diri feri.

__ADS_1


__ADS_2