
setelah beberapa saat Surya telah berada di depan pintu kamar, setelah mengetuk pintu ia pun masuk.
"ini bang foto-foto yang abang minta!" ucap Surya sedikit terengah-engah sambil menyerahkan beberapa foto yang di bawanya.
"bagus Sur, terima kasih!" ucap feri bersemangat sambil menerima beberapa foto tersebut.
setelah melihat-lihat satu persatu foto tersebut, akhirnya feri menemukan foto yang di maksud.
ia dan Surya memperhatikan dengan seksama wajah uwak Faridah yang terbaring di ranjang dengan wajah yang berada di foto.
"seperti nya memang iya bang, beliau adalah orang yang abang cari!" ucap Surya serius dengan pelan.
feri memang telah yakin saat pertama melihat tadi, dan tanpa di rasa air mata feri mulai mengucur deras dari kedua belah matanya.
"wak Faridah.. saya feri wak..ponakan uwak, cepat sehat ya wak!" ucap feri dengan terisak-isak sambil memegang erat tangan uwak Faridah dan duduk di samping ranjang.
suasana haru dari feri sangat bisa di rasakan oleh Surya yang juga ikut menangis, karena ikut merasa bahagia saat feri bisa bertemu langsung dengan salah seorang kerabat terdekat nya.
dan saat feri memegang tangan uwak Faridah.
"aahh.. dimana aku?" ucap uwak Faridah lemah.
"wak.. uwak sudah sadar?" tanya feri tegas dengan tatapan senang sambil berdiri.
"kamu siapa?" tanya uwak Faridah bingung sambil menarik tangan nya yang di pegang feri.
"kami yang menolong dan membawa uwak saat pingsan tadi!" jawab feri berkilah karena waktu yang kurang tepat untuk langsung menjelaskan.
"ooh begitu.. ini dimana?" tanya uwak Faridah pelan sambil melihat sekitar nya.
"anda di rumah sakit wak!" sahut Surya pasti yang berdiri tidak jauh dari feri.
"sekarang uwak istirahat saja dulu, kalau sudah baikan baru bisa keluar dari rumah sakit ini!" sahut feri ramah dengan tersenyum.
"tapiii.. aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini!" ucap uwak Faridah sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"untuk itu uwak nggak usah kuatir, saya yang akan menanggung biaya nya sampai uwak sembuh!" jawab feri pasti.
__ADS_1
"iya wak.. lebih baik uwak istirahat saja, dan jangan berpikir macam-macam!" sahut Surya sopan menyemangati.
"terima kasih atas bantuan kalian, semoga kebaikan kalian mendapatkan kebaikan dari Tuhan!" ucap uwak Faridah pelan dengan pandangan sayu pada mereka berdua.
feri mengangkat kan selimut untuk uwak Faridah, dan ia pun mulai memejamkan matanya.
feri sedikit menjauh dari ranjang dan memanggil Surya.
"kamu beli roti dan air mineral, serta makanan ringan dan minuman seperti biasa!" pinta feri tegas dengan sedikit berbisik.
"iya bang, saya keluar dulu!" sahut Surya pasti sambil melangkah perlahan.
dan tak berapa lama setelah Surya keluar, 2 orang suster datang untuk mengecek kondisi uwak Faridah.
"kalau ada sesuatu yang di perlukan, silakan anda pencet bel di sebelah ranjang itu!" pinta seorang suster dengan ramah.
"baik sus.. terima kasih!" sahut feri yakin dengan tersenyum ramah.
dan setelah selesai mereka pun keluar.
dan saat Surya telah kembali ke kamar itu.
"oke bang!" sahut Surya singkat sambil memakan makanan ringan yang tadi di belinya.
Surya nampak tertidur dengan pulas di ranjang khusus untuk kerabat yang menemani pasien, sedangkan feri tidur di sofa dekat dengan ranjang uwak Faridah.
dan saat mereka masih tertidur.
"hei anak muda.. bangun.. bangun..!" teriak uwak Faridah dengan berat.
feri kaget dan segera mendekati uwak Faridah.
"ada apa wak?" tanya feri dengan suara serak.
uwak Faridah nampak menatap feri dengan tajam.
"siapa kau sebenarnya?, dari mana kau mendapatkan kalung itu?" tanya uwak Faridah tegas dengan penasaran.
__ADS_1
rupanya uwak Faridah melihat dan mengenali kalung yang di pakai feri, yang tanpa sengaja mata kalung tersebut keluar dari sela baju feri saat tertidur tadi.
"sebenarnya saya ingin memberitahukan uwak saat uwak sadar tadi, saya adalah feri wak.. feri Handoyo, keponakan uwak, anak dari Fahri Handoyo adik kandung uwak..!" jawab feri tegas dengan mata berkaca-kaca.
"feri.. benar kah kau feri Handoyo?" tanya uwak Faridah gemetar dan belum yakin sambil memegang wajah feri dengan kedua tangan nya dan bercucuran air mata.
"iya wak.. saya feri Handoyo keponakan uwak!" sahut feri haru dengan terisak-isak.
"feri..!" panggil uwak Faridah sambil memeluk feri dengan erat.
setelah beberapa saat memeluk feri dengan hangat penuh rindu, feri juga memeluk dengan isak tangis yang menjadi-jadi akhirnya beliau sedikit demi sedikit melepaskan dan menatap feri.
"siapa yang telah merawat mu nak!" tanya uwak Faridah terisak sambil membelai rambut feri.
"cerita nya panjang wak, yang terpenting sekarang uwak sembuh dulu!" jawab feri dengan ramah dengan air mata haru.
karena raungan tangis yang cukup keras, Surya yang mendengar nya akhirnya terbangun, dan mendekati keduanya.
"kalau ini siapa fer?" tanya uwak Faridah berat dengan tatapan penasaran.
"ini Surya wak, dia sudah saya anggap adik wak, dan selama ini saya numpang tinggal di rumah nya!" sahut feri pasti sambil menatap Surya dengan lembut.
Surya pun menjabat tangan uwak Faridah sambil mencium tangan nya.
"bagaimana kau bisa tau dengan ku feri, padahal saat terakhir kali bertemu kau baru berumur 1 tahunan lebih beberapa bulan!" tanya uwak Faridah penasaran.
"apa uwak ingat dengan paman Hardi?, katanya dulu dia pernah bekerja pada ayah, dan dia lah yang menceritakan tentang keluarga kita!"
"sama seperti uwak yang mengenali kalung keluarga kita, begitu juga dia mengenali saya karena melihat kalung ini!" ucap feri dengan tegas dan jelas.
"iya.. aku ingat, dan beberapa kali masih pernah bertemunya!" sahut uwak Faridah sambil mengangguk kan kepala nya.
"paman Hardi yang telah memberikan alamat uwak pada saya, tapi karena kesibukan saya belum sempat mencari uwak!"
feri menyeka air matanya sejenak.
"dan saat uwak pingsan Surya lah yang menemukan dan membawa uwak ke rumah sakit ini, dan setelah melihat KTP uwak, Surya ingat nama dan alamat rumah uwak yang sama persis seperti yang saya berikan padanya beberapa hari yang lalu, jadi dia meminta saya kesini untuk memastikan nya!" cerita feri dengan tegas dan jelas.
__ADS_1
"terima kasih nak Surya atas bantuan nya, dan karena kamu juga kami bisa di pertemukan kembali, terima kasih..!" ucap uwak Faridah ramah dengan tersenyum.
"iya wak.. sama-sama!" sahut Surya singkat dengan senyuman.