
Melihat 2 orang temannya yang terluka oleh feri, 2 orang anak buah Bondan yang lain pun bereaksi, mereka segera mencabut golok nya masing-masing.
"hiiiyaaa.." 2 orang tadi menyerang secara bersamaan, ingin menebas tubuh feri.
dengan tenang feri sedikit mundur menghindari serangan tersebut.
ketika mereka mau menyerang lagi, feri sudah menangkap tangan 2 orang yang memegang golok tersebut, dan memutar tangan mereka ke atas dengan kekuatan nya.
"taak.. taak.. aaargh.." terdengar suara yang membuat ngilu bagi yang mendengar nya, golok mereka terlepas karena mereka seakan tidak mempunyai tenaga pada tangan kanan mereka, karena feri mencederai bahu mereka.
feri melepaskan genggaman pada tangan 2 orang tersebut.
"duup.. duup.." feri menendang ke kanan dan kiri dengan sangat cepat dan bertenaga.
membuat 2 orang tadi terlempar dan jatuh ke tanah dengan erangan kesakitan.
"bedebah kau" Bondan menghardik feri seraya turun dari teras, karena melihat anak-anak buahnya tak berdaya, Bondan mencabut sebilah golok dari salah satu anak buahnya yang tangan kanan nya mulai membengkak.
"ku cincang kau!!" Bondan maju dan mengayunkan golok nya untuk menebas feri.
Bondan mencoba menebas, menikam, tapi semua sia-sia, karena feri bisa menghindari serangan nya dengan santai.
sebagian para wanita menjerit histeris menyaksikan perkelahian itu, karena melihat Bondan yang memakai golok terlihat seperti akan mengenai feri, yang sedari tadi hanya menghindari serangan tersebut dengan mundur, dan mengelak ke kiri, atau kanan.
Cang Ahlun yang berdiri menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin terkagum-kagum dengan karyawan nya tersebut.
"rupanya dia ini bukanlah orang biasa" tanpa sadar suara itu keluar dari mulutnya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
merasa serangan nya tidak jua membuahkan hasil, Bondan sedikit mundur mencari ancang-ancang yang lebih baik.
"hiyaaaat" Bondan akan memulai lagi serangan.
tiba-tiba "taap.. duup..duup..duup.. aaarghh!!"
__ADS_1
feri maju memanfaatkan momentum tersebut, ia maju sangat cepat, tanpa di sadari Bondan, feri bergerak dengan menangkap pergelangan tangan Bondan yang memegang golok, dan menyerang balik dengan meninju perut Bondan 3 kali.
terdengar lagi dengan sangat jelas.
"kreeek... aaarghh..! Bondan berteriak dengan mata terbelalak karena merasakan sakit yang luar biasa.
"aaahh.. aaahh.." Bondan terduduk di tanah tak berdaya dengan tangan kanan yang membengkok karena di buat patah oleh feri.
"kau sudah ku peringatkan, ini lah jadinya!" ucap feri di hadapan Bondan.
beberapa tamu sebagian menutup mulut dan wajah mereka, karena merinding melihat keadaan Bondan yang menyedihkan.
sebagaian lagi tersenyum puas dengan hasil kejadian ini.
karena Bondan selama ini kerap melakukan perbuatan-perbuatan yang meresahkan di daerah tersebut.
tidak lama setelah kejadian itu, para anggota polisi datang.
"tunggu pak, yang itu jangan di tangkap" Cang Ahlun berdiri dan melarang seorang anggota polisi, karena ingin memasangkan borgol pada feri.
"Dia lah yang sudah melumpuhkan mereka!" sergah Cang Ahlun memberikan alasan.
mendengar pernyataan Cang Ahlun, komandan polisi yang memerintah tadi mendekat.
"baiklah Cang!" Jawab komandan tadi.
"benar kah kamu yang melakukan semua ini?"
tanya komandan polisi setelah mengarah kan pandangan nya pada feri.
"iya pak!" Jawab feri singkat.
"terima kasih telah membantu kami!, tapi apabila nantinya kami meminta kepada saudara untuk memberikan keterangan, mohon kerjasamanya untuk datang ke kantor!"
__ADS_1
pinta komandan polisi pada feri.
"saya akan siap kapan saja pak!" feri menjawab dengan tegas.
"masukkan ke mobil!" perintah komandan polisi pada anggota nya.
"siap Ndan!" jawab beberapa anggota polisi, yang segera melaksanakan perintah komandan nya.
"rasakan kalian!"
"membusuk saja di penjara!"
"dasar sampah masyarakat!"
hinaan dan cercaan dari para tamu undangan terdengar menghiasi langkah Bondan dan anak-anak buahnya, ketika mereka di gelandang oleh anggota polisi.
setelah anggota polisi membawa Bondan cs, terlihat Cang Arsyad mencoba berdiri dengan bantuan tongkat nya dan mengambil mikrofon dari pemain organ tunggal.
"perhatian semuanya!" suara Cang Arsyad membuat semua hadirin diam untuk menyimak.
"saya selaku tuan rumah, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang sama-sama sangat tidak kita harapkan!" para hadirin pun mengangguk kan kepala memahami maksud Cang Arsyad.
"dan saya secara pribadi dan atas nama keluarga, mengucapkan terima kasih kepada anak muda kita, siapa nama kamu nak?" lanjut Cang Arsyad dan bertanya ke arah feri.
"saya feri Cang!" jawab feri singkat sambil sedikit menunduk kan kepala.
"ooh.. iya feri, sekali lagi terima kasih yang tak terhingga atas keberanian dan keberhasilan nya mengatasi kejadian tadi" Cang Arsyad sedikit menunduk pada feri.
"mungkin agar kita bisa lebih cepat melupakan kejadian tadi, dengan berat hati acara malam ini saya nyatakan selesai, dan terima kasih sudah menghadiri undangan dari kami, sekali lagi mohon maaf dan terima kasih!" Cang Arsyad pun menyudahi sambutan nya.
para hadirin yang mendengar pun memahami situasi yang ada.
sebagian dari tamu bersalaman dan mulai meningkalkan tempat acara tersebut.
__ADS_1