
seorang penjaga menghampiri kedatangan mereka.
"selamat malam mas, ada keperluan apa ya?" sapa penjaga tadi dengan ramah.
"apa benar ini rumah tuan Edwin Bernard?" ucap feri sopan setelah turun dari motor.
"betul.. mau cari siapa?" tanya penjaga dengan serius.
"saya ingin bertemu dengan nona Maya!" jawab feri dengan santai.
mendengar ucapan tersebut penjaga itu menatap feri dengan alis mengkerut.
"maaf mas.. untuk saat ini tuan besar, tuan muda, dan nona lagi ada tamu penting, mereka tidak bisa di ganggu!" ucap penjaga dengan pasti.
feri sedikit tersenyum mendengar ucapan penjaga tadi.
"tolong anda laporkan ke dalam, dan katakan bahwa saya feri Handoyo ingin bertemu!" ucap feri dengan tegas.
"maaf mas, saya tadi menerima perintah, bahwasanya selama pertemuan mereka dengan tamu tersebut, tidak ada yang boleh mengganggu!" sahut penjaga itu dengan tegas.
"saya mengerti.. tapi tolong anda sampaikan saja kepada tuan besar Edwin dan nona Maya, kalau saya ingin bertemu karena ada sesuatu yang sangat penting, dan pasti mereka akan keluar menyambut kedatangan saya!" feri berkata dengan tersenyum ramah.
penjaga itu berpikir sejenak, dan tak lama kemudian.
"baiklah.. tunggu sebentar!" pinta penjaga tadi dengan sopan dan pergi menuju rumah tersebut.
sementara di dalam ruang tamu rumah itu, tuan Edwin, Elson, dan El Maya sedang berbicara serius dengan 5 orang yang memakai pakaian jaket jubah hitam panjang dengan les merah di beberapa bagian.
ketika mereka di ruangan tamu masih berbicara dengan serius.
"permisi tuan..!" ucap penjaga dengan sopan.
pandangan mereka semua tertuju pada penjaga tersebut.
__ADS_1
"kau tidak mengerti ya? kan tadi sudah ku katakan tidak ada yang boleh mengganggu pertemuan ini!" bentak tuan besar Edwin dengan tatapan tajam.
"maaf tuan.. saya tadi telah menyampaikan nya, tapi pemuda itu tetap ngotot ingin bertemu anda dan nona Maya katanya ada hal yang sangat penting!" ucap penjaga lagi dengan penuh hormat.
"memang nya siapa dia?, sehingga berani mengganggu pertemuan ini!" tanya tuan muda Elson dengan sedikit marah.
"namanya feri Handoyo tuan muda!" sahut penjaga itu dengan pasti.
semua terkejut mendengar nama itu.
"feri Handoyo datang kemari?, apa kau tidak salah dengar?" tanya nona Maya dengan mata melotot tak percaya.
penjaga itu bingung melihat tingkah mereka, terlebih dengan nona Maya yang sampai terkejut mendengar nama itu.
"saya yakin nona.. jelas-jelas ia mengatakan nama tersebut!" Jawab penjaga dengan sedikit bingung karena reaksi yang berlebihan dari nona Maya.
"rupanya jalan kalian kali ini telah di permudah, tanpa mencari pun orang nya sendiri yang mengantarkan diri ha.. ha.. ha..!" ucap tuan besar Edwin dengan tertawa, yang juga diikuti oleh 5 orang yang duduk di sofa seberang tuan besar Edwin.
"kau buka kan saja pagarnya, kami akan menyambut nya di halaman depan!" pinta tuan besar Edwin berwibawa.
penjaga itu pun keluar dari ruang tamu tersebut, dan bergegas menuju pagar.
"pemuda itu luar biasa, sepenting apakah dia sampai tuan besar sendiri yang akan menyambut nya di luar, persis seperti apa yang di ucapkan nya!" gumam penjaga dalam hati.
di dalam ruang tamu itu tuan besar Edwin menyampaikan rencananya.
"aku dan anak-anak akan menyambut nya langsung di depan rumah, sedang kan kalian berbagi pada kedua arah, sisi kanan dan sisi kiri untuk mengepung nya!" ucap tuan besar Edwin dengan tatapan mata yang bersemangat.
setelah menyampaikan rencana tersebut, tuan besar Edwin, tuan muda Elson, dan nona Maya segera melangkah keluar rumah untuk menyambut feri, sedang kan 5 orang tadi berjalan masuk ke dalam rumah untuk keluar dari pintu belakang dan berbagi ke sisi kanan dan kiri.
Surya memarkir motor di samping pos jaga, lalu menghampiri feri untuk berjalan bersama menuju rumah tersebut.
penerangan lampu yang terang dari taman kecil di depan halaman membuat mereka bisa melihat dengan jelas kemegahan rumah itu.
__ADS_1
saat mereka mendekat terlihat 3 orang berdiri di teras rumah megah itu dengan tatapan tajam.
dan ketika telah berhadapan dengan 3 orang tersebut.
"perkenalkan saya feri Handoyo, dan ini Surya, anda pasti tuan besar Edwin Bernard!, salam hormat kami tuan!" sapa feri dengan sopan.
"dari mana kau tau alamat rumah ini?" tanya nona Maya dengan ketus.
"tidak terlalu sulit untuk mencari kediaman keluarga Bernard yang sangat terkenal di kota ini!" puji feri dengan tersenyum ramah.
"kalau kau sudah tau kekuatan keluarga kami, apakah tujuan kau kesini ingin meminta maaf?" tanya tuan muda Elson dengan yakin.
feri tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.
"maksud saya kesini selain untuk menyerahkan kwitansi pembelian toko, juga ingin mengenal lebih dekat dengan tuan besar Edwin secara langsung!" jawab feri dengan santai.
"feri.. kau sungguh pemuda yang sopan dan berani, tapi walaupun begitu aku tetap ingin kau mengembalikan toko pakaian yang sudah kau rebut dengan paksa dan tipuan licik mu!" ucap tuan besar Edwin dengan tatapan tajam.
"maaf tuan besar, saya rasa anda harus mengklarifikasi ucapan anda barusan, karena saya tidak pernah memaksa nona Maya untuk menjualnya pada saya, apalagi menggunakan tipuan licik untuk mendapatkan toko tersebut, tapi karena keangkuhan, dan kesombongan nya lah, yang telah membuat ia kehilangan toko tersebut!" sahut feri dengan tegas.
"rupanya kau mempunyai mulut besar juga ya!" hardik tuan muda Elson dengan nada sedikit tinggi.
"saya hanya membela diri tuan muda, dari apa yang di tuduhkan nona Maya, dan kalau kalian tidak percaya saya mempunyai barang bukti yang kuat, serta beberapa saksi yang ada pada saat itu!" sahut feri dengan serius.
"aku tidak perduli dengan alasan apapun dari mu, kemauan ku cuma 1.. kembali kan toko tersebut, dan ku harap kau mau mengembalikan nya dengan cara baik-baik, kalau tidak, aku tidak segan-segan menggunakan cara kekerasan untuk merebut toko itu kembali!" tuan besar Edwin berkata sambil memberi kode dengan bertepuk 2 kali.
setelah mendengar ucapan tuan besar Edwin tadi, feri melihat ada 2 orang lelaki yang gagah dan sangar dengan mengenakan pakaian jaket jubah keluar dari sisi kanan rumah, dan dari sisi kiri muncul lagi 3 orang yang berpakaian sama persis seperti 2 orang yang keluar dari sisi kanan tadi.
mereka pun berjalan mendekat ke arah teras rumah tersebut, dan berdiri di belakang feri seperti mengepung.
"maaf tuan besar.. untuk saat ini saya tidak akan menjual toko tersebut.
"dan dari ucapan mu tadi, berarti jelas kau tidak mau mengembalikan nya?" tanya tuan besar Edwin dengan serius.
__ADS_1