Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Asal usul keluarga 1.


__ADS_3

pintu belakang rumah kembali terbuka, nyonya Halimah nampak muncul dari balik pintu yang terbuka.


"ayah, feri ayo sarapan dulu!" pinta nyonya Halimah dengan tegas.


"iya..!" sahut master Hardi dengan pasti.


"ayo fer, kita sarapan dulu nyambung ngobrol nya di dalam aja!" pinta master Hardi dengan tersenyum kecil.


"iya paman!" sahut feri dengan sopan.


mereka berdua pun melangkah masuk menuju rumah dengan santai, ketika sudah tiba di ruang makan nampak hidangan sudah siap dan tersusun rapi, seorang gadis remaja nampak duduk menunggu sambil memainkan hpnya.


"Haniyah.. kenalin ini, kak feri Handoyo!" pinta master Hardi pada putri bungsunya dengan tegas.


"saya Haniyah kak!" sapa Haniyah seraya menjabat tangan feri dan mencium tangannya.


"aku feri.. salam kenal juga adik manis!" sahut feri dengan senyuman tipis.


"ayo fer duduk..! pinta nyonya Halimah ramah.


feri hanya tersenyum dan mengangguk, sambil menarik kursi yang ada di tepi meja makan.


"kak feri sekarang tinggal dimana?, masih kuliah atau sudah kerja?" tanya Haniyah beruntun.


"sayang.. kalau nanya satu-satu dong!" tegur nyonya Halimah dengan tegas.


"nggak apa-apa bi!" ucap feri dengan tersenyum ramah.


"kak tinggal di Jakarta pusat, sekarang sudah kerja, tapi sementara izin dulu, karena jalan-jalan kesini!" jawab feri dengan penuh perhatian.


Haniyah tersenyum kecil mendengar jawaban feri.

__ADS_1


"feri.. ambil makanan nya yang banyak, jangan sungkan ya!" pinta nyonya Halimah dengan serius.


"iya bi.. nanti kalau kurang kan bisa ambil lagi!" sahut feri dengan pasti.


master Hardi hanya tersenyum mendengar ucapan feri.


tak berapa lama mereka pun menyelesaikan sarapan tersebut.


"aku penasaran bagaimana ceritanya kau bisa mengenal tuan Rangga?" tanya master Hardi serius.


feri tersenyum sejenak.


"dia pernah memaksa saya agar mau bekerja untuk nya, karena saya menolak, ia membayar master Herman dan 4 pendekar serta 40 orang murid-murid perguruan elang hitam, dan yang membuat dia rugi besar, saya meminta dia sebelum bertarung agar bertanggung jawab atas cedera yang akan di derita orang-orang master Herman, serta kerusakan bahan-bahan bangunan yang ada di gudang tempat pertarungan tersebut, dan singkat cerita saya mampu mengalahkan mereka semua!" feri bercerita sedikit dengan santai.


"apakah master Herman juga berhasil kau kalah kan?" tanya master Hardi bersemangat.


"iya paman!" sahut feri pasti.


"kau memang luar biasa feri!" sahut master Hardi dengan kagum.


"itu cuma kebetulan saja kakak menang!" sahut feri merendah.


"yang penting kan hasil akhir kak, mau kebetulan kek, keberuntungan kek yang penting menang!" sahut Haniyah dengan bersemangat.


mereka semua tertawa kecil melihat tingkah laku Haniyah.


"ayo kita ngobrol di ruang tamu, ada yang ingin paman perlihatkan!" ajak master Hardi serius sambil berdiri dari kursinya.


feri pun hanya mengikuti seraya berdiri dan mengikuti langkah master Hardi menuju ruang tamu.


malam tadi feri ingat bahwa ia duduk di salah satu sofa di ruang tamu tersebut, tapi karena malam tadi matanya kena racun yang di semprotkan jadi ia tidak bisa melihat, dan subuh tadi saat ia keluar rumah, kondisi ruang tamu masih gelap karena lampu ruang tamu juga di matikan, jadi ia tidak mengetahui bahwa di dinding ruang tamu tersebut, sangat banyak hiasan dan beberapa foto besar yang berbingkai dan tergantung disitu.

__ADS_1


"perawakan badan, dan gaya jalan mu sangat persis dengan ayahmu!" ucap master Hardi dengan serius ketika berhenti di depan sebuah foto.


feri memperhatikan dengan seksama foto yang masih model hitam putih, terlihat 4 orang sedang berpose dengan background sebuah bangunan mirip kantor.


"yang gondrong ini paman kan?, apakah ini ayahku?" tanya feri penasaran.


"benar feri, ini aku, dan ini ayahmu!" jawab master Hardi dengan ekspresi sedikit melamun.


"yang 2 orang lagi siapa paman?" tanya feri dengan serius lagi.


master Hardi menghela nafasnya sesaat.


"di sebelah kiri ayahmu itu paman mu, dan paling pojok kiri itu sidik, salah seorang teman dan penjaga kantor ayahmu!" jawab master Hardi dengan sedikit berat.


"paman?" tanya feri terkejut.


"ayahmu 3 bersaudara, dan ayahmu adalah nomor 2, yang tertua perempuan bernama Faridah, sedangkan adik ayahmu ini bernama Fadil!" master Hardi bercerita dengan pasti.


"apakah mereka masih ada paman?" feri bertanya dengan sedikit mendesak.


master Hardi duduk di salah satu sofa, dan nampak sedikit mengingat sesuatu.


"kalau Faridah uwak mu aku pernah bertemu 2 tahunan yang lalu, sedangkan pamanmu Fadil yang ku dengar, ia pindah ke Bandung dan menjadi pengusaha besar disana!" jawab master Hardi dengan ragu-ragu.


"uwak Faridah tinggal dimana paman?" tanya feri dengan penuh semangat.


"dulu di Jakarta pusat juga, asalkan ia masih disana aku akan berikan nanti alamat nya, semoga saja belum pindah!" jawab master Hardi sedikit ragu.


feri mengangguk setuju.


"sewaktu kita di grand garden sentral dulu, paman bilang sudah bekerja dengan keluarga ku sejak kakek masih di Jakarta, memang nya kakek kemana lagi paman?" feri bertanya lagi setelah mengingat perkataan master Hardi beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Kakek mu bernama tuan Farhan Handoyo, adalah seorang pengusaha yang sukses menurut cerita kakek mu, ketika ayah mu dan 2 saudaranya masih remaja nenek mu meninggal karena sakit kanker, dan setengah tahun kemudian kakek mu menikah lagi agar ada yang mengurus anak-anak dan rumah tangga nya, setelah ayahmu dan yang lainnya dewasa, beliau memberikan harta dan beberapa perusahaan kepada mereka semua secara adil, dan beliau pun pensiun dari semua bisnis yang telah dijalankan nya saat itu, dan beliau kembali ke Bandung untuk menikmati hari tua dan sisa hidup nya bersama istri keduanya, dan sampai sekarang aku belum mengetahui lagi bagaimana kabar beliau, apakah masih ada, atau telah wafat!" master Hardi menceritakan dengan singkat tapi berisi.


feri nampak memahami akan cerita master Hardi tadi.


__ADS_2