
setelah sepakat dengan hasil pembicaraan tadi, feri pun pamit untuk kembali ke kamarnya.
"terima kasih tuan atas kebaikan anda selama ini, dan maaf karena masih merepotkan tuan!" ucap feri sopan, sebelum keluar dari ruang kerja tuan Said.
Ketika memasuki lift feri teringat bahwa master Hardi belum menceritakan tentang kedua orang tua nya.
"apa harus mengganggu beliau malam ini ya?" gumam feri bertanya dalam hati.
setelah berpikir sejenak dan keluar dari lift, feri pun menunda rasa penasaran nya tentang kedua orang tua nya, karena merasa tidak nyaman untuk mengganggu waktu istirahat master Hardi.
karena merasa belum mengantuk feri pun tidak langsung ke kamar, melainkan menuju cafe untuk sekedar bersantai.
di dalam cafe masih terlihat beberapa orang yang sedang duduk santai sambil ngobrol, feri sengaja mencari meja di bagian pojok.
"tuan muda feri.. anda mau pesan apa?" tanya seorang pelayan laki-laki dengan hormat.
"saya minta segelas jus apel dan seporsi kentang goreng, dan saya juga minta.. agar kamu panggil saya feri saja, tidak usah pakai tuan muda, oke?" feri berkata dengan tersenyum kecil.
"baik tu.. eh mas feri!" sahut pelayan tadi dengan ragu.
"nah.. gitu kan enak!" ucap feri tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
sang pelayan pun tersenyum seraya berbalik untuk menyiapkan pesanan feri.
"maaf master feri.. boleh minta waktu nya sebentar?" ucap seorang pemuda yang bersama teman nya, yang membuat feri terkejut.
"oh.. silakan.. tapi syaratnya jangan panggil aku master, panggil saja feri, karena sepertinya usia kita tidak beda jauh!" pinta feri tegas.
__ADS_1
"ba.. baiklah feri!" sahut salah seorang dari kedua lelaki itu dengan tersenyum malu.
"kenalkan nama saya Fajri dan ini Rahta!" mereka berdua pun bersalaman dengan feri sambil memperkenalkan diri.
"aku feri Handoyo.. senang berkenalan dengan kalian!" sambut feri dengan tersenyum ramah.
mereka bertiga pun mengobrol dengan santai dan terlihat cukup akrab, setelah beberapa lama mengobrol mereka pun sempat meminta nomor hp masing-masing, dan feri pun meninggalkan kedua orang tersebut untuk beristirahat.
setelah tiba di kamar feri pun langsung berbaring dan tidur untuk beristirahat karena memang sudah tengah malam.
keesokan harinya setelah semua orang sarapan, jam 8.00 mereka pun berkumpul untuk mengikuti acara pemakaman massal.
setelah acara tersebut, tuan Said, feri, dan para pimpinan master melangkah bersama kembali ke gedung grand garden sentral.
"master Law, rencananya saya dan feri akan keluar bersama untuk mengurus sesuatu di luar!" ucap tuan Said dengan jelas.
"silakan tuan Said, anda atur saja semuanya dengan nya!" sahut master Law dengan santai.
"saya pamit dulu ayah Law, ayah Chun, para master permisi!" ucap feri dengan penuh hormat.
para pimpinan master hanya mengangguk dan tersenyum melihat feri yang mulai melangkah bersama tuan Said.
di depan gedung sebuah mobil sedan Toyota Camry berwarna hitam menyambut kehadiran tuan Said dan feri, pintu bagian belakang kiri mobil di buka oleh seorang lelaki mengenakan setelan jas berwarna hitam, tuan Said pun masuk, sedangkan di bagian belakang kanan dibukakan oleh supir, feri pun masuk dengan cepat.
"tuan.. apakah bisnis ini telah berjalan sebelum ayah angkat ku pergi meninggalkan semuanya?" tanya feri dengan santai.
"sewaktu master Azuro menyerahkan padaku sebagian besar sudah di mulai, tapi belum berjalan, seperti beberapa hotel di daerah lain sudah berjalan pembangunan nya, dan beliau meminta padaku agar di selesai kan dan di kelola sebaik-baiknya, dan aku hanya sedikit mengembangkannya, agar semakin maju dan bisa bersaing dengan hotel-hotel yang lain!" jawab tuan Said dengan tegas.
__ADS_1
"terus terang saya masih sedikit ragu untuk menerima semua ini, karena semua itu bukan hak saya!" ucap feri dengan sedikit berat.
"keyakinan master Law dan master Chun padamu sangat besar, dan aku yakin bahwa keputusan mereka ini adalah yang terbaik!" sahut tuan Said dengan jelas.
"apakah boleh nantinya uang tersebut sedikit ku pergunakan untuk berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu?" tanya feri penuh harap.
"setelah kau terima itu menjadi hak kamu, dan aku juga yakin meskipun master Azuro tidak mengetahui nya, tapi ia pasti akan mendukung rencana mu, karena dia adalah orang yang dermawan dan bijaksana, bahkan ia sering membantu teman-teman nya yang dalam kesulitan ekonomi, seperti master Law dan master Chun sendiri, mereka bisa hidup dengan harta kekayaan melimpah itu juga berkat bantuan master Azuro, jadi kau bisa pergunakan saja untuk bakti sosial dan lainnya, juga untuk menunjang kehidupan mu!" sahut tuan Said bersemangat.
feri hanya mengangguk mengerti tentang apa yang di sampaikan tuan Said.
mobil pun berhenti di sebuah bank BCA yang besar, ketika turun dari mobil nampak seorang satpam menyapa mereka dengan tersenyum ramah.
tuan Said termasuk orang yang terpandang di daerah Jakarta barat tersebut, ia mendapat kan prioritas pelayanan di bank tersebut.
feri hanya mengikuti aturan yang di jelaskan oleh seorang pegawai wanita di bagian customer servis.
"tuan feri ini buku rekening anda dan kartu ATM gold, yang mana anda bisa melakukan penarikan dana sebesar 20 juta rupiah perhari, dan juga bisa sebagai alat bantu pembayaran apabila anda tidak mempunyai dana cash, dan untuk transaksi lain di hp anda sudah kami masukkan aplikasi BCA mobile, disana tuan bisa melakukan beberapa transaksi sesuai keinginan anda dengan cepat dan mudah!" ucap pegawai customer servis menjelaskan.
"apakah masih ada yang kurang jelas?" tanya pegawai tadi melanjutkan.
"terima kasih, saya mengerti!" sahut feri dengan sopan.
ketika feri membuka buku rekening, ia terkejut melihat nominal saldo yang tertulis.
"tu..tuan Said! berapa jumlah uang yang ada ini?" tanya feri dengan bingung dan tak percaya.
tuan Said tersenyum kecil dan mengangguk ke arah pegawai customer servis tadi agar memberitahukan feri.
__ADS_1
"tuan.. saldo di rekening anda berjumlah 22 triliun rupiah!" ucap pegawai wanita tersebut dengan tegas.
"triliun??" sahut feri ternganga kaget tak percaya mendengar nya.