
miko dengan hati-hati meletakkan 2 cangkir kopi di meja kecil di depan kursi tersebut.
"terima kasih mas!" ucap feri tersenyum ramah.
"sama-sama mas!" sahut miko hormat.
miko pun kembali ke pos jaga nya dengan langkah gagah dan pasti.
"feri, seperti nya kamu harus memikirkan perkataan ku yang tadi deh!" ucap master Herman serius.
"perkataan yang mana kak?" jawab feri dengan bingung.
"tentang mencari istri, masa rumah besar dan mewah seperti ini kamu tinggali sendirian, kan kurang pantas!" master Herman berkata dengan tersenyum mengejek.
"iya kak saya pikirkan, kakak tunggu aja tanggal mainnya, ha.. ha.. ha..!" sahut feri dengan tertawa kecil.
"kamu nanti mau langsung ambil motor mu? atau gimana?, sekarang sudah mulai senja!" tanya master Herman santai sambil melihat ke langit yang mulai gelap.
"saya mau nunggu roman dan orang dealer dulu kak, kalau kakak ada keperluan biar besok saja saya ambil motor nya!" sahut feri dengan sopan.
"baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya!" ucap master Herman pasti sambil berdiri.
"iya kak.. terima kasih atas bantuan nya!" sahut feri dengan tersenyum ramah.
dengan tersenyum kecil master Herman mulai meninggalkan rumah tersebut.
dan tak berapa lama kemudian, 2 buah mobil memasuki halaman rumah, sebuah mobil CRV berwarna silver metalik, dan sebuah Innova rebound berwarna hitam.
3 orang lelaki yang gagah berjalan dengan tegap mendekati feri yang duduk di teras.
"waah.. rumah kamu bagus banget fer!" ucap roman terkagum dengan kondisi rumah tersebut.
"aah.. biasa saja, mau minum dulu ya?" sahut feri semangat dengan sopan.
"nggak usah repot-repot fer, kami langsung saja karena masih ada urusan lain, ini kunci dan surat-surat mobil nya!" jawab roman dengan pasti sambil meletakkan kunci mobil, STNK serta BPKB nya.
"ini terima lah, sebagai tanda terima kasih ku!" ucap feri serius sambil menyerahkan amplop besar yang berisi uang.
"waduh.. terima kasih banyak ya fer!" sahut roman malu-malu sambil menerima nya.
__ADS_1
feri hanya tersenyum ramah menanggapi ucapan roman.
"kami langsung pulang saja fer!" pamit roman pasti dengan tersenyum.
"baiklah.. sekali lagi terima kasih!" sahut feri sopan.
"sama-sama!" sahut roman singkat, dan melangkah menuju mobilnya.
dan belum lagi mobil Innova rebound berwarna hitam itu keluar, tiba-tiba sebuah mobil Pajero sport berwarna putih yang masih sangat bening masuk ke halaman tersebut, dan di susul sebuah mobil Mitsubishi Xpander sport berwarna putih.
Miko hanya terdiam melihat 2 buah mobil tersebut masuk, sedang kan roman dan kedua orang nya terlihat terkagum bingung atas kedatangan 2 mobil tadi.
seorang lelaki kurus tinggi nampak keluar dari mobil Pajero sport tadi dan berjalan ke arah feri yang berada di teras.
"permisi.. tuan feri ya?" sapa lelaki itu dengan hormat.
"iya saya sendiri!" sambut feri dengan ramah.
"kami mengantarkan mobil Pajero sport yang kemaren tuan beli, dan ini kunci serta surat-surat nya, silakan tuan bisa anda cek kondisi mobil nya!" ucap lelaki tadi dengan sopan.
"aah.. nggak perlu lah, saya percaya dengan kalian!" sahut feri yakin dengan tersenyum ramah sambil menerima kunci dan surat-surat nya.
"baik pak, kalau tidak ada pertanyaan kami permisi pulang!" pamit lelaki tersebut penuh hormat.
setelah mereka pamit, feri memandangi 3 mobil tersebut dengan tersenyum kagum.
"tidak pernah terbayangkan aku bisa memiliki mobil seperti ini, dulu cuma bisa lihat di televisi !" gumam feri dalam hati sambil tersenyum sendiri.
dan saat masih terbenam dalam lamunan yang panjang, karena mengingat kehidupan di desa dulu yang serba pas-pasan, feri terkejut saat mendengar hpnya berdering tanda panggilan masuk, dengan tersenyum bahagia saat mengetahui siapa yang menelpon, ia pun segera mengangkat nya.
"halo.. Rita!" sapa feri gembira dengan tersenyum.
"mas feri, kami dah sampai di rumah sakit, dan sekarang bang Ruslan lagi di periksa oleh dokter bedah saraf tersebut!" ucap Rita pasti dengan suara gembira.
"ooh.. bagus lah kalau begitu!"
"nanti setelah selesai di periksa, dokter itu akan menghitung rincian biaya operasi bang Ruslan, dan kau kirim biayanya padaku, nanti aku yang akan urus biaya tersebut dari sini!" pinta feri tegas dan serius.
"aduh.. gimana ya mas?, aku jadi nggak enak harus ngerepotin mas terus!" ucap Rita dengan suara berat.
__ADS_1
"sudah.. kamu nggak usah khawatir, aku ikhlas kok, dan ini juga demi hubungan kita berdua!" sahut feri dengan pasti.
"iya deh mas, aku tutup dulu ya!" pinta Rita dengan ragu-ragu.
"iya say.. jaga dirimu baik-baik ya!" sahut feri mesra dengan tersenyum.
"iya.. i love you!" ucap Rita mesra.
"i love you to!" sahut feri dengan manis.
setelah mematikan panggilan tersebut, feri melangkah ke dalam rumah untuk melihat-lihat keadaan di dalam nya, dan saat sedang melihat sebuah kamar yang cukup luas, feri bertemu dengan miko yang sedang menyalakan beberapa lampu di dalam rumah tersebut.
setelah meminta agar miko membawanya untuk melihat seisi rumah dan menjelaskan nya, mereka berdua pun memasuki setiap kamar dan ruangan baik di lantai 1 maupun lantai 2, dan miko menjelaskan nya dengan sangat detail dan jelas fungsi dan siapa saja yang bertempat di kamar ataupun ruangan di rumah tersebut.
dan saat berada di halaman belakang, feri melihat ada garasi yang mampu menampung 4 buah mobil, dan iya berniat untuk memindahkan semua mobil ke garasi tersebut, dan di sebelah garasi ada sebuah bangunan yang cukup besar.
"bangunan di sebelah garasi itu apa mas?" tanya feri penasaran sambil berjalan mendekati.
"itu dulu kamar tidur para pembantu tuan Edwin mas feri!" jawab miko pasti.
miko membukakan pintu ruangan tersebut dan menyalakan lampunya, feri melihat-lihat ruangan yang cukup besar tersebut dan ada sebuah kamar mandinya, feri memperhatikan dengan mengangguk kan kepala nya.
"mas miko sudah berkeluarga ya?" tanya feri serius sambil menatap tiap sudut ruangan itu.
"sudah mas, sudah punya anak 1 perempuan berumur 3 tahun!" jawab miko sopan.
"terus mas tinggal dimana?" feri bertanya lagi dengan serius.
"di sebelah cluster ini ada kawasan pemukiman kira-kira 2 kilometer dari sini mas!"
"oh iya mas, saya juga mau menyampaikan bahwa saya jaga disini hanya sampai jam 10 malam, terus jam 7 pagi baru saya jaga lagi!" ucap miko dengan hormat.
feri mengangguk paham.
"mas tinggal di rumah sendiri ya?" tanya feri tegas sambil berbalik keluar dari ruangan itu.
"masih di kontrakan mas, 750 ribu perbulan!" sahut miko dengan sedikit malu.
"bagaimana kalau mas miko dan keluarga tinggal disitu, jadi nggak usah bayar kontrakan, nggak perlu jauh-jauh untuk kerja, kan bisa ruangan itu kita buat dinding tambahan untuk kamar dan ruangan lain, istri mas miko juga bisa bantu bersih-bersih rumah disini, nanti juga saya gaji, istri mas miko nggak kerja juga kan?" ucap feri dengan pasti dan bertanya tegas.
__ADS_1
"biar nanti saya rundingan dulu sama istri saya ya mas, kalau sekarang istri saya cuma jadi buruh cuci untuk bantu-bantu biaya hidup mas!" sahut miko sopan.
"baiklah.. mas miko rundingan saja dulu, saya tunggu keputusannya!" ucap feri dengan tersenyum ramah, sambil berjalan menuju ke dalam rumah utama.