
saat fajar mulai nampak semakin meninggi, guratan wajah uwak Faridah terlihat lebih sehat dan segar setelah bertemu dan mengetahui identitas feri yang sebenarnya, dan dengan tersenyum bahagia ia pandangi wajah feri yang masih terlelap dalam tidurnya.
dan Surya nampak terbangun terlebih dahulu.
"selamat pagi wak!" sapa feri dengan sedikit serak karena bangun tidur.
"pagi juga Surya!" sahut uwak Faridah ramah dengan tersenyum.
"Sur.. bisa ya uwak minta tolong!" ucap uwak Faridah pelan dengan malu.
"apa yang bisa saya bantu wak?" tanya Surya serius sambil berjalan mendekati ranjang pasien.
"tolong belikan lontong sayur ya, uwak lapar.. sekalian saja untuk sarapan kalian!" pinta uwak Faridah dengan tersenyum malu-malu sambil mencoba mencari uangnya di dompet.
Surya yang melihat uwak Faridah seperti mencari sesuatu di dompet nya bisa memahami apa yang di carinya.
"baik wak.. akan saya belikan, biar pakai uang saya aja dulu!" jawab Surya tegas sambil menepuk kantong dompet nya sedikit bercanda.
uwak Faridah hanya tersenyum dan mengangguk melihat tingkah laku Surya, setelah sekedar mencuci muka nya Surya pun langsung melangkah keluar dari kamar tersebut.
feri yang mendengar suara pintu tertutup jadi terbangun.
"siapa tadi yang keluar wak?" tanya feri parau dengan mata yang masih sipit karena baru bangun.
"Surya yang keluar, uwak minta carikan sarapan lontong sayur tadi, dan juga sekaligus untuk sarapan kalian!" jawab uwak Faridah ramah dengan tersenyum kecil melihat feri.
"lebih baik kamu mandi dulu sana biar segar!" pinta uwak Faridah dengan lembut.
feri mengangguk dengan tersenyum.
setelah beberapa saat feri pun telah selesai dan keluar dari kamar mandi.
dan terdengar suara orang mengetuk pintu kamar.
"permisi ibu Faridah, kita tensi sebentar ya?" ucap seorang suster sopan dengan tersenyum ramah.
uwak Faridah hanya tersenyum menyambut kehadiran suster tersebut.
dan setelah beberapa saat memeriksa uwak Faridah.
__ADS_1
"tekanan ibu normal, ini ada obat yang harus ibu minum pagi ini, dan kemungkinan kira-kira setengah jam lagi akan datang dokter yang memeriksa ibu lebih lanjut!" ucap suster tegas sambil menyerahkan beberapa butir obat.
"iya sus, terima kasih.. setelah sarapan akan saya minum!" sahut uwak Faridah pelan sambil menerima obat tadi.
dan suster itu pun pamit.
dan feri berniat untuk memberi kabar pada master hardi bahwa dia telah bertemu dengan uwak nya, ia pun segera melakukan video call pada master Hardi.
setelah beberapa nada panggilan, akhirnya video call itupun terhubung.
"halo paman.. apa kabar?" sapa feri saat telah melihat gambar master hardi.
"kami disini baik-baik saja feri, bagaimana kabar mu?" tanya balik master hardi dengan gaya santai setelah menjawab pertanyaan feri.
"ini dia kabar yang paling baik paman!" sahut feri tersenyum sambil menyerahkan hpnya pada uwak Faridah.
"halo hardi.. masih ingat aku kan?" tanya uwak Faridah ramah setelah menyapa.
"mbak Faridah kan, syukur lah mbak anda telah bertemu kembali dengan feri, ini lagi dimana mbak?" sapa master Hardi terkejut, dan balik bertanya.
"aku lagi di rawat di rumah sakit, dan malam tadi aku telah bertemu dengan feri, terima kasih atas bantuan mu ya Har!" jawab uwak Faridah sambil sedikit menunduk hormat.
"dimana Halimah istri mu?" tanya uwak Faridah serius.
"maaf mbak.. dia lagi belanja ke pasar!" jawab master Hardi pasti.
"ooh iya lah.. sampai kan saja salam ku padanya nanti, dan kalau ada waktu mampir lah ke Jakarta sesekali!" ucap uwak Faridah tersenyum ramah.
"iya mbak, nanti saya sampaikan.. mungkin kapan-kapan kami pasti kesana!" jawab master Hardi yakin.
dan tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Surya masuk dengan membawa beberapa bungkusan plastik.
"nanti kita lanjutkan lagi ngobrol ya Har, sekarang aku mau sarapan dulu, biar cepat minum obat!" ucap uwak Faridah tegas.
"ooh silakan mbak.. semoga cepat sembuh ya mbak!" sahut master Hardi dengan tulus.
"terima kasih..!" sahut uwak Faridah dengan tersenyum ramah.
dan panggilan pun di matikan, dan uwak Faridah menyerahkan hp tadi pada feri kembali.
__ADS_1
"ada lontong sayur nya Sur?" tanya feri tegas.
"oh ada bang, ini tadi saya juga sekaligus beli beberapa piring, sendok dan gelas, dan untuk sarapan kita biasa bang.. nasi uduk, ha.. ha.. ha..!" jawab Surya pasti dengan tertawa halus.
setelah menyiapkan semuanya, Surya pun menyerahkan makanan tadi pada uwak Faridah dan feri.
ketiganya pun sarapan bersama dengan lahap dengan suasana yang gembira.
setelah beberapa saat selesai sarapan, dan uwak Faridah meminum obat yang di berikan suster tadi, terdengar suara ketukan pintu beberapa kali, dan masuk lah 3 orang wanita dengan seorang berpakaian putih panjang nampak seperti seorang dokter, dan di ikuti 2 wanita yang salah seorang tadi adalah suster yang memberikan obat pagi tadi.
"permisi ibu Faridah, gimana perasaan ibu sekarang?, apa masih ada keluhan?" tanya seorang wanita cantik berkacamata dengan sopan berpakaian seorang dokter dan bersiap memeriksa keadaan uwak Faridah.
"cuma masih sedikit lemas saja dok!" sahut uwak Faridah pasti sambil langsung berbaring untuk pemeriksaan lebih.
setelah memeriksa keadaan uwak Faridah dengan teliti.
"keadaan ibu memang sudah jauh membaik dari sebelumnya, kemungkinan besok ibu Faridah sudah boleh keluar, dan melakukan rawat jalan saja, nanti saya akan berikan obat dan vitamin biar keadaan ibu bisa cepat pulih, dan ibu perlu menjaga makanan ya bu!" ucap dokter tersebut yakin sambil menulis sesuatu di kertas kecilnya.
feri sedikit melangkah mendekati ranjang pasien tersebut.
"kira-kira makanan yang seperti apa dok yang tidak boleh di konsumsi beliau?, biar kami bisa menjaga nya!" tanya feri ramah dengan serius.
"untuk makanan seusia beliau, jangan terlalu sering memakan masakan yang terlalu banyak santan, juga yang terlalu berminyak, dan usahakan beliau ada sedikit berolahraga, seperti jalan pagi atau sore hari untuk menjaga kestabilan jantung beliau!" ucap dokter tegas menjelaskan nya.
"baik bu dokter.. kami akan usahakan menjaga pola makan beliau, terima kasih!" sahut feri dengan tersenyum ramah dan mengangguk paham.
"baiklah.. kami permisi dulu, semoga cepat sembuh ya bu!" ucap dokter ramah sambil membelai lembut tangan uwak Faridah.
"iya dok, terima kasih!" sahut uwak Faridah dengan tersenyum.
dan ketiga wanita itu pun keluar dari kamar tersebut.
feri mendekati uwak Faridah.
"maaf ya wak, saya harus meninggalkan sementara karena ada urusan, kemungkinan sore saya baru kesini, tapi uwak nggak usah kuatir karena ada Surya yang akan menemani uwak sampai saya kembali!" ucap feri tegas.
"iya nak.. semoga urusan mu lancar!" sahut uwak Faridah dengan tersenyum.
mendengar jawaban tersebut feri pun segera melangkah keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1