Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Kecelakaan parah.


__ADS_3

ketika mereka berdua akan keluar dari restoran tersebut, tiba-tiba hp Rita berdering dan ia pun segera menerima telpon yang ternyata dari ibunya.


"halo bu, ada apa?" sapa Rita dengan sopan.


"Rita.. cepat kau ke rumah sakit sentosa, abang mu kecelakaan dan di bawa kesana!" ucap ibunya Rita dengan suara yang panik.


"apa bu?, abang kecelakaan, saya kesana secepatnya!" sahut Rita dengan terkejut.


wajah Rita nampak pucat mendapatkan berita tersebut.


"siapa yang kecelakaan?" tanya feri serius.


"abang ku!" jawab Rita sedikit bingung.


"tunggu apalagi?, ayo kita ke rumah sakit!" ajak feri serius.


Rita hanya mengangguk dengan tatapan sayu.


saat berjalan dengan tergesa-gesa.


"mas, motor kita masih di dealer, bagaimana?"


"kau telpon saja penjaga dealer biar dia jaga kan motor kita, sekarang kita naik taksi online aja, cepat kau pesan!" sahut feri dengan serius.


sambil melangkah Rita pun memesan kembali taksi online lewat aplikasi di hpnya.


tak lama menunggu taksi online tersebut pun datang, dan mereka segera menuju rumah sakit sentosa seperti yang di kabarkan ibunya Rita.


saat di perjalanan menuju rumah sakit, feri memberi kabar dengan mengirimkan pesan wa pada Surya bahwa ia akan terlambat pulang, bahkan kemungkinan tidak akan pulang.


sedangkan Rita menelpon penjaga dealer untuk mengamankan motor nya dan motor feri yang ada di parkiran dealer.


setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah sakit tersebut, dan langsung menuju IGD untuk mencari keberadaan abangnya Rita.


setelah beberapa saat mencari.


"ibu..!" panggil Rita dengan pasti dan sedikit berlari kecil menghampiri ibunya, dan feri hanya mengikuti dengan langkah yang cepat.


"bagaimana abang bu?, dimana dia sekarang?" tanya Rita penasaran dengan raut wajah yang khawatir.

__ADS_1


"abang mu di ruang ICU!" jawab ibunya dengan yakin.


"dimana ayah?" tanya Rita lagi dengan serius.


"ayahmu dan nia sedang membicarakan sesuatu dengan dokter! sahut ibunya dengan kecemasan yang nampak di wajahnya.


tiba-tiba sebuah pintu ruangan di ruang tunggu itu terbuka, dan keluar seorang lelaki paruh baya dan seorang wanita yang nampak sambil menangis.


"ayah.. kak nia.. bagaimana keadaan abang?" tanya Rita penasaran sambil mendekati ayahnya.


ayah Rita berjalan gontai mendekati mereka, dan setelah duduk di samping ibunya Rita.


"keadaan nya sudah stabil, tapi luka-luka nya sangat parah!" sahut ayah Rita dengan suara berat.


nia yang mendengar ucapan ayahnya Rita semakin menangis tersedu-sedu.


"abang mu terkena geger otak yang parah, dan ada pembekuan darah di sekitar otak bagian dalamnya, dan dokter menyarankan untuk secepatnya di operasi!" ucap ayah Rita bingung dengan raut wajah suram.


"mengapa tidak langsung di operasi saja?" tanya ibu Rita serius dengan air mata yang berlinang.


ayah Rita menarik napas nya dalam-dalam.


semua keluarga Rita tertunduk pasrah.


"apa resiko nya bila kita tidak segera membawanya operasi?" tanya ibunya Rita dengan sedikit panik.


"kalau tidak segera di operasi dalam jangka 4 hari, Ruslan memang bisa tetap hidup, tapi dia tidak bisa beraktivitas dengan normal, bahkan bisa berpikir seperti biasanya!" jawab ayahnya Rita dengan berat dan tertunduk mengucurkan air mata.


semua nya ikut tertunduk sedih.


"paman apakah boleh saya membantu?" tanya feri dengan sopan.


"siapa kau?" tanya ayahnya Rita dengan tatapan tajam.


"saya feri Handoyo, teman dekat Rita!" sahut feri tegas memperkenalkan diri, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"aku Rustam ayahnya Rita!" sahut pak Rustam dingin sambil menerima uluran tangan feri.


"apa benar kau bisa membantu kami feri?" tanya pak Rustam dengan penuh harapan.

__ADS_1


"saya usahakan paman, sebentar saya menelpon seseorang yang mungkin bisa membantu dengan cepat!" sahut feri dengan pasti memberi semangat.


Rita dan seluruh keluarga nya menatap dengan harap kepada feri.


feri pun sedikit menjauh, dan mulai menelpon, setelah beberapa kali nada panggilan.


"halo tuan Richard, bisakah aku minta bantuan anda secepatnya?" tanya feri tegas.


walaupun sedikit menjauh tapi suara feri masih bisa di dengar mereka.


"apa yang bisa aku bantu?" tanya tuan Richard singkat.


"begini, salah seorang kerabat ku mengalami kecelakaan yang parah, dan mengakibatkan pembekuan darah di bagian otaknya, dan menurut dokter yang menanganinya disini, kerabat ku itu hanya bisa di operasi dan di obati di luar negeri, jadi aku perlu bantuan anda, yang pertama tolong anda carikan seorang dokter atau rumah sakit di luar negeri yang bisa melakukan operasi secepatnya, karena apabila tidak di operasi dalam waktu 4 hari, maka keadaannya akan semakin buruk, yang kedua, bila telah mendapatkan dokter atau rumah sakit tadi, tolong anda carikan sebuah pesawat yang bisa di sewa untuk mengantarkan kerabat ku ini ke negeri yang di maksud, apa tuan mengerti?" ucap feri menerangkan dengan singkat, dan bertanya kepastian tuan Richard.


"iya fer, aku mengerti, tolong beri aku waktu kurang lebih setengah jam akan ku usahakan secepatnya, nanti akan ku kabari!" sahut tuan Richard tegas dan yakin.


"terima kasih tuan, kami sangat mengandalkan mu, tolong kabari secepatnya!" ucap feri sopan dengan suara penuh harap.


setelah memutuskan panggilan tersebut, feri kembali mendekati pak Rustam dan keluarga nya.


"bagaimana dengan biayanya?" tanya pak Rustam ragu-ragu.


"soal itu paman tidak usah memikirkan nya, yang terpenting sekarang kita berdo'a saja, semoga teman saya memberi kabar yang kita harapkan!" sahut feri pasti.


mendengar jawaban yang pasti tersebut pak Rustam nampak sedikit bersemangat.


Rita sedikit mencuri pandang pada feri yang duduk berdampingan dengan ibunya.


"dia teman atau pacar mu?" tanya ibunya pelan dengan tatapan tajam.


"iya.. pacar saya bu!" sahut Rita agak gugup sedikit berbisik.


"anak orang kaya ya?, sampai berani menanggung ratusan juta untuk abang mu!" tanya ibunya serius.


"saya suka sama dia karena orang nya sopan dan pengertian, dan kami juga baru aja jadian nya bu, jadi belum sempat tanya lebih banyak!" sahut Rita polos dengan wajah gembira.


"kalau di lihat sih, orang nya memang sopan dan seperti nya ia tulus dalam berbuat!" ucap ibunya yakin dengan menatap feri.


mendengar ucapan ibunya yang ikut memuji feri, perasaan Rita sementara dapat mengurangi beban yang mereka hadapi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2