Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku

Bodyguard Ku Adalah Kakak Kandung Ku
Bertemu penanggung jawab grand garden sentral.


__ADS_3

sejumlah ob di bantu karyawan dan para pendekar telah selesai memindahkan mayat-mayat yang tadi berada di aula tersebut, kini nampak para ob membersihkan darah yang mengotori tempat itu.


para pimpinan master dan beberapa master lainnya kembali masuk ke aula tersebut.


"feri.. lebih baik kau bersihkan dirimu terlebih dulu, sebentar lagi makan malam, dan setelah nya kita akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah pertarungan yang tertunda ini!" pinta master Chun dengan tegas.


"baik yah!" sahut feri dengan sopan.


ia pun mulai melangkah.


"master.. kau punya hutang cerita padaku!" bisik feri pelan pada master Hardi.


"mmm.." gumam master Hardi mengangguk setuju.


"ayo mas ku temani!" pinta Rita dengan tatapan penuh perhatian.


mereka pun berjalan keluar dari aula tersebut.


Ketika melewati resepsionis beberapa karyawan menyapa feri dengan hormat, karena mereka juga melihat bagaimana kehebatan feri yang telah melawan ratusan orang tadi di dalam aula laga.


para karyawan wanita nampak berbisik melihat body atletis feri yang tidak mengenakan baju, di tambah wajah nya yang rupawan membuat ia semakin gagah saat berjalan.


Rita nampak sedikit mengangkat alis matanya melihat tingkah para karyawan wanita tersebut.


"mas aku langsung ke kamar ku ya!" ucap Rita pelan, karena arah kamar Rita dan feri berbeda.


"mmm.." gumam feri menjawab dengan alis berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Rita melangkah menuju arah kamarnya, feri pun demikian, setelah beberapa saat feri masuk ke kamar nya.


namun feri tidak langsung membersihkan diri, ia masih saja memikirkan perkataan master Hardi tadi yang mengenal kedua orang tua nya,


"apakah orang tua ku masih ada? kenapa aku bisa terbuang? apa yang sebenarnya terjadi?" beberapa pertanyaan muncul terus menerus di pikiran nya, membuat ia semakin gelisah dan penasaran.


ketika pikiran nya sedang berkecamuk, feri terkejut mendengar suara hp nya berdering.


"halo feri.. kami sudah menunggumu di cafe!" ucap master Herman yang menelpon.


"iya kak.. sebentar lagi saya kesana!" sahut feri dengan pasti.


karena noda darah yang mulai mengering di sekujur tubuhnya feri sedikit kesulitan untuk membersihkan nya, setelah 20 menit ia pun selesai mandi, dan bergegas berpakaian.


feri keluar dari kamar dan mulai melangkah menuju cafe untuk makan malam, sesampainya di depan cafe.


"mas.. aku minta maaf atas tuduhan ku sore kemaren!" pinta Ratna dengan tatapan menyesal.


"iya.. nggak usah di pikirkan aku sudah melupakan nya!" sahur feri dengan senyuman halus.


"terima kasih juga ya mas, karena sudah memberi tuan muda Rian pelajaran, semoga nantinya ia bisa berubah, saya tidak dapat menyaksikan langsung kehebatan mas feri sore tadi, karena dari siang saya ada urusan di luar, Rita baru saja menceritakan nya!" ucap Ratna dengan penuh semangat.


feri hanya tersenyum mendengarnya, dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke cafe.


Julio yang sedang berjaga menunduk hormat melihat kedatangan feri, ia pun mengarahkan feri untuk langsung menuju meja khusus tempat para master berada.


beberapa pendekar yang melihat kehadiran nya nampak menatap penuh hormat dan kekaguman padanya, bahkan semua master yang berada di tempat khusus itu, semua berdiri hormat menyambut kedatangan nya.

__ADS_1


"para master.. saya mohon duduk saja, tidak usah berlebihan!" pinta feri dengan sopan.


master Herman melangkah ke tengah panggung sambil memegang mikrofon.


"baiklah para hadirin semua..! tamu kehormatan kita telah bergabung bersama kita, dan mohon kiranya agar hidangan makan malam segera di sajikan, terima kasih!" master Herman berkata dengan bersemangat.


puluhan pelayan mulai menyajikan hidangan, menu malam ini berbeda dari malam kemaren, kalau malam kemaren harus memesan dulu, tapi malam ini beberapa masakan langsung di hidangkan di meja masing-masing, jadi bisa makan dengan sepuasnya.


kira-kira setengah jam makan malam pun selesai, dan master Chun bersama master Herman berdiri di tengah panggung dengan memegang mikrofon masing-masing.


"para master, para pendekar dan hadirin sekalian, sore tadi kita sama-sama telah mengalami suatu kejadian, yang pastinya tidak pernah kita harapkan, semoga saja dengan kejadian tadi kita bisa mengambil pelajaran dari nya, bahwasanya tidak semua keinginan bisa kita dapatkan dengan cara kekerasan, dan juga keinginan yang kita paksakan dengan cara yang kotor, itu adalah hawa nafsu yang bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, tidak hanya merugikan orang lain, tapi juga merugikan diri kita sendiri, seperti yang kita ketahui bersama, hanya karena hawa nafsu dari beberapa individu, sampai harus mengorbankan banyak nyawa, saya atas nama pribadi dan mewakili dari 5 pimpinan master, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut, semoga hal seperti tadi tidak akan pernah terjadi lagi disini, terima kasih atas semua partisipasi dari hadirin sekalian, untuk selanjutnya kita akan membahas masalah pertarungan yang telah tertunda karena kejadian sore tadi, kepada master Herman silakan untuk memandu acara tersebut!" ucapan dari master Chun membuat semua yang hadir diam menyimak penjelasan tersebut.


setelah beberapa lama melakukan pembicaraan, akhirnya di putuskan bahwa pertarungan tidak akan di lanjutkan, karena beberapa pendekar ada yang terluka akibat kejadian sore tadi, dan besok pagi akan di adakan pemakaman secara massal untuk para korban yang meninggal berjumlah 436 orang, 402 orang adalah anak buah master Roy, 34 orang dari beberapa perguruan.


setelah acara di tutup beberapa hadirin pun mulai meninggalkan cafe tersebut.


"master Herman, dan kau feri setelah ini kalian ikut kami untuk bertemu penanggung jawab grand garden sentral ini!" pinta master Law dengan serius.


master Herman dan feri hanya mengangguk tanda setuju.


"master Law.. kalian sudah di tunggu tuan Said Harly di ruang kerjanya!" ucap seorang penjaga dengan sopan.


"baiklah.. terima kasih!" sahut master Law sambil berdiri.


para pimpinan master berjalan paling depan diikuti master Herman dan feri, untuk menuju ruang kerja yang berada di lantai 4 mereka menggunakan lift.


beberapa saat pun mereka Sampai di lantai 4, dan di sambut oleh 1 orang penjaga yang menuntun mereka menuju ruang kerja tersebut.

__ADS_1


__ADS_2