
setelah bersama-sama makan siang dan dengan sedikit mengobrol.
"paman, bibi, Haniyah.. saya pamit pulang dulu!" ucap feri sopan seraya berdiri.
"maaf feri paman tidak bisa mengantarkan mu langsung ke terminal, karena ada janji dengan seseorang, biar Yadi yang akan mengantarmu!"
kata master Hardi dengan sedikit berat.
feri mendekati master Hardi dan memeluk nya.
"terima kasih atas semuanya paman, saya mohon maaf karena sudah merepotkan!" ucap feri tegas sambil memeluk master Hardi beberapa saat.
"sama-sama feri, jangan sungkan bila kau perlu bantuan kami!" sahut master Hardi dengan pasti sambil menepuk-nepuk pundak feri.
"bibi.. saya pamit, terima kasih banyak untuk semuanya!" ucap feri menghampiri nyonya Halimah.
kedua tangan nyonya Halimah meraih wajah feri dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang dan berurai air mata.
"jaga dirimu baik-baik ya nak, kalau ada waktu sering-sering lah kesini, pintu rumah kami selalu terbuka untuk mu!" ucap nyonya Halimah dengan menahan tangisnya.
feri hanya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca terharu, dan mencium tangan kanan nyonya Halimah, nampak usapan tangan yang lembut pada rambut feri menandakan kasih sayang dari nyonya Halimah.
"dek.. kakak pamit dulu, sekolah yang rajin biar jadi orang sukses!" ucap feri dengan tersenyum, dan menjabat tangan Haniyah.
"iya kak.. do'akan Haniyah ya!" sahut Haniyah dengan manja sambil mencium tangan kanan feri.
mereka pun melangkah menuju keluar rumah, setelah feri mengambil tasnya di dalam kamar tamu.
sebuah mobil Pajero sport hitam yang di kemudikan Yadi telah menunggu di halaman rumah.
feri pun masuk ke mobil tersebut, ia melambaikan tangan pada master Hardi sekeluarga, yang di balas lambaian oleh mereka saat mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah tersebut.
dalam perjalanan feri dan Yadi nampak mengobrol biasa saja, dan belum genap 20 menit mobil tersebut sampai ke terminal.
"itu mas, bis tujuan Jakarta pusat!" ucap Yadi pasti sambil menunjuk ke salah satu bis yang terparkir di terminal tersebut.
"iya bang terima kasih banyak!" sahut feri dengan sopan sambil memasukkan selembar uang 100 ribu ke saku Yadi.
"apa ini mas?" tanya Yadi terkejut.
__ADS_1
"bukan apa-apa, cuma untuk rokok aja!" sahut feri tegas dan bergegas berjalan menuju bis tersebut.
setelah melihat feri sudah dekat dengan bis, Yadi pun menjalankan mobilnya dan meninggalkan terminal tersebut.
setelah membeli tiket untuk tujuan Jakarta pusat, feri pun masuk ke dalam bis, nampak beberapa penumpang yang lain telah duduk terlebih dahulu, setelah menyesuaikan nomor tiket dan kursi penumpang ia pun segera duduk.
feri mengambil hp nya dan teringat akan mengabari Rita kalau sudah berada di Jakarta, ia pun mengirim pesan wa, kalau ia sedang dalam perjalanan menuju ke Jakarta pusat.
setelah mengirim pesan wa tadi, feri menyimpan hpnya dan menyandarkan tubuhnya untuk di gunakan beristirahat dalam perjalanan tersebut.
suara beberapa pedagang asongan yang menawarkan jualannya masih dapat feri dengar silih berganti, tak lama kemudian bis pun mulai bergerak meningkatkan terminal tersebut.
*******
master Law dan master Chun nampak duduk santai sambil menikmati secangkir kopi.
"apakah sudah ada jawaban dari feri?" tanya master Chun serius.
"belum.. rencana ku nanti malam akan ku telpon dia, supaya kita cepat mengambil keputusan apabila dia tidak ikut seleksi tersebut!" jawab master Law tegas.
"berapa pendekar yang sudah pasti akan mengikuti seleksi tersebut?" tanya master Chun dengan penasaran sambil mengangkat gelasnya untuk minum.
********
sore hampir hilang dan berganti malam, bis yang di tumpangi feri akhirnya sampai di terminal Jakarta pusat, walaupun lebih lambat dari biasanya, itu di karenakan ada kecelakaan yang menghambat arus lalu lintas, kemacetan pun terjadi karena hal tersebut.
beberapa tukang ojek, dan calo angkutan umum nampak menawarkan jasa mereka pada penumpang yang turun, feri hanya tersenyum dan menolak secara halus tawaran tersebut.
ia pun melangkah menuju sisi terminal yang terdapat beberapa warteg dan kios, setelah memilih sejenak ia pun masuk ke sebuah warteg dan memesan segelas kopi, setelah duduk di bangku warteg ia mengeluarkan hp nya untuk menelpon.
setelah beberapa kali nada dering panggilan.
"halo.. Surya kamu dimana?" tanya feri tegas setelah Surya yang di telpon nya menerima panggilan tersebut.
"di jalan bang, arah pulang ke rumah, ada apa bang? tumben nelpon.. ha.. ha..!" sahut Surya santai dan balik bertanya dengan nada mengejek.
"kamu sekarang ke terminal bis, jemput aku ya.. aku berada di pojokan terminal di sebuah warung!" pinta feri dengan pasti.
"oke bang.. saya meluncur kesana sekarang!" jawab Surya dengan serius.
__ADS_1
tak lama setelah mematikan panggilan, kopi yang di pesan pun datang, sambil menunggu Surya ia pun menikmati beberapa kue yang ada di meja warteg tersebut, setelah beberapa saat.
"bang feri..!" panggil Surya sambil berjalan mendekati feri.
"eeh.. sudah sampai ya, mau minum dulu?" sahut feri singkat dan menawarkan minuman pada Surya.
Surya sedikit melirik ke arah kopi feri di atas meja, karena nampak masih banyak.
"mbak.. kopi hitam nya 1 lagi ya!" pinta Surya pada penjual warteg.
sang penjual hanya tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan permintaan Surya.
"kok abang ngabarin datang nya telat? kalau sebelum sampai sudah kasih kabar, kan saya bisa kesini untuk nunggu!" ucap Surya ketus.
"tadi macet karena ada kecelakaan, terus aku ketiduran, pas bangun ee.. rupanya dah sampai!" sahut feri dengan tersenyum malu.
"gimana kerja mu? lancar kan?" tanya feri dengan santai mengalihkan topik pembicaraan.
"aman bang.. lancar!" sahut Surya tersenyum sambil mengacungkan jempol nya.
"Sur.. kamu tau nggak lokasi alamat ini?" tanya feri serius sambil menyerahkan kertas yang tertulis alamat seseorang yang siang tadi di berikan master Hardi padanya sebelum berangkat.
Surya menerima dan melihatnya dengan cermat.
"kalau lokasi daerah nya saya tahu bang, tinggal mencari alamat nya saja di sekitar daerah itu!" jawab Surya pasti.
"bagus..besok kita cari alamat itu ya?" ucap feri bersemangat.
"memang nya alamat siapa itu bang!" tanya Surya penasaran.
"ini alamat seorang keluarga ku, semoga saja ia masih tinggal di alamat ini!" sahut feri tegas dengan bersemangat.
Surya mengangguk setuju dan ikut bersemangat.
setelah minum dan makan beberapa kue, mereka pun berjalan keluar setelah membayar makan dan minum tadi, Surya yang mengemudikan motor perlahan mulai berjalan dan keluar dari terminal tersebut.
"sebelum pulang kita cari makan malam dulu aja, kamu lapar kan?" ucap feri dengan sedikit bercanda.
"abang tau aja keinginan saya, he.. he.. he..! sahut Surya bersemangat dan tertawa kecil.
__ADS_1