
setelah melangkah meninggalkan counter hp tersebut, keduanya kembali berjalan menuju dealer motor, Surya terus tersenyum bahagia mendapatkan hadiah dari feri.
dari kejauhan terlihat jelas lambang dealer motor Honda yang akan mereka tuju, jadi meningkatkan semangat mereka untuk terus melangkah.
sesampai di halaman dealer suasana cukup ramai, mereka pun berjalan menuju bagian pemasaran.
"feri..!" suara seseorang memanggil dari samping bangunan dealer.
feri menoleh dan menemukan seseorang yang tadi memanggil nya, seorang pemuda berpakaian rapi dengan merk terkenal serta sepatu pantofel hitam yang mengkilap seumuran feri menuju ke arah mereka.
"Wildan..!" sahut feri mengenali nya.
feri tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, ketika pemuda yang di kenali nya berada di hadapan nya.
"ngapain kamu di Jakarta?, mau menambah daftar pengangguran disini ya?" tanya Wildan jelas dengan nada menghina, bahkan menghiraukan uluran tangan feri.
Wildan menatap feri dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan menyunggingkan senyuman sinis, karena melihat pakaian feri yang kusam.
dan juga menatap Surya dengan gaya sombong, karena merasa jauh berada di level yang tinggi.
"Wildan.. Wildan.. kau benar-benar masih belum berubah!" sahut feri dengan menggeleng kan kepala.
Wildan adalah teman sekelas feri baik di SMP maupun SMA waktu di desa, ia adalah anak salah seorang juragan kaya yang sukses di desa nya, kelurganya memiliki pabrik penggilingan padi terbesar di desa, dan juga memiliki usaha Empang yang luas, dan dari dulu ia selalu memandang seseorang dari status sosialnya saja.
feri menarik pundak Surya untuk melangkah menuju bagian pemasaran.
"heii.. mau kemana buru-buru?" dengan sombong iya menghadang feri dan Surya dengan tangan nya.
__ADS_1
"lebih baik kalian segera pergi, karena disini bukan tempat untuk mengemis, sebelum di usir satpam!" Wildan sengaja meninggikan suaranya untuk mempermalukan feri dan Surya.
karena suara hinaan yang lantang membuat beberapa orang di dalam dealer memperhatikan mereka bertiga.
feri yang sejak tadi mencoba tenang, dan mulai terpancing emosi karena mendapat hinaan dari teman lamanya ini.
"kami kesini bukan untuk meminta-minta, dan walaupun meminta juga tidak akan padamu, kau hanya anak orang kaya yang bisanya cuma minta sama orang tua mu, jadi kau secara tidak langsung juga menghina dirimu sendiri, dasar pemuda tidak tau diri!" sahut feri dengan nada tinggi.
mendengar penuturan feri yang balik menghina, wajah Wildan memerah menahan marah.
"mau apa sebenarnya kalian kemari?" tanya Wildan dengan nada meremehkan.
feri yang sudah mulai emosi karena sejak tadi di hina, mulai mencoba untuk memprovokasi Wildan.
"memang nya kalo kami kesini harus minta izin dulu sama kamu ya? kamu nggak ada sangkut pautnya dengan urusan kami, jadi minggir lah!" feri menjawab dengan kata-kata penuh penekanan.
"security.. security..!" Wildan berteriak memanggil 2 orang security yang ada.
mendengar teriakan memanggil, kedua orang security itupun berlari ke arah mereka, orang-orang yang mendengar teriakan Wildan pun menjadi gaduh karena belum mengetahui apa yang terjadi.
"pak.. cepat kalian aman kan kedua orang ini, gelagat mereka seperti nya mencurigakan, dan bungkusan di tangan nya itu seperti sebuah bom" Wildan berakting ketakutan, dan menuduh plastik di tangan Surya adalah bom.
suasana menjadi ribut, sebagian orang berlari mencoba mengamankan diri, karena mendengar ada bom.
feri membalikkan matanya dengan perasaan marah, karena bisa-bisanya Wildan menjatuhkan tuduhan seperti itu.
kedua security tadi bersiap-siap untuk meringkus feri dan Surya.
__ADS_1
feri mengambil bungkusan plastik tersebut dari tangan Surya.
"saudara-saudara harap tenang, ini bukan bom tapi kotak hp yang baru kami beli" feri menjelaskan dengan suara keras dan lantang untuk mengamankan situasi.
"coba kalian lihat..!" feri mengambil kotak tersebut dari dalam plastik, dan membuka kotak nya.
"lihatlah.. hanya charger hp yang ada!" jelas feri memperlihatkan semua isi dalam kotak tadi.
Wildan terlihat pucat, ketika kedua security tadi berjalan ke arahnya, dan dari dalam dealer keluar seorang lelaki dengan setelan jas warna coklat yang elegan, nampak seperti seorang pebisnis yang biasa ada di televisi.
"hei.. kamu sudah memfitnah mereka, dan kalau mereka mau melapor maka kamu akan terkena pasal tentang pencemaran nama baik!" hardik lelaki tadi dengan nada tinggi.
Wildan semakin terpojok dan salah tingkah, karena ia di kepung oleh 3 orang, dan juga beberapa orang yang di dealer menatap dengan sinis karena tuduhan nya tidak terbukti.
"Wildan.. untuk kali ini aku tidak akan melaporkan mu, karena masih menghormati mu sebagai teman sekelas, tapi kalau kau mengulanginya lagi, kau akan tanggung akibatnya!" ucap feri dengan penuh penekanan.
Wildan yang merasa di permalukan feri, langsung berbalik ke samping bangunan dealer untuk mengambil motor nya, tanpa meminta maaf.
"terima kasih atas bantuan nya pak!, feri berjabat tangan dengan lelaki tadi, serta kedua security yang berada dekat dengan nya.
"emang nya tadi itu teman abang ya?" tanya Surya polos.
"cuma teman sekelas di desa dulu!" jawab singkat feri.
"kalau boleh tau mas kesini mau apa ya?, siapa tau ada yang bisa saya bantu!" salah seorang security bertanya dengan sopan.
"rencananya kami mau beli motor sih!" feri menjawab dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"oohh.. begitu! mari saya antarkan ke dalam!" ajak security yang bernama Santoso, karena tertulis di dada baju sebelah kiri nya.