
setelah beberapa saat, para master elang hitam pun menyelesaikan makan malam bersama mereka.
"Herman.. ada yang ingin aku bicarakan secara khusus dengan mu!" master Law berkata dengan berdiri.
"iya master.. mari kita ke ruangan saya!" jawab master Herman berdiri dan mempersilakan dengan penuh hormat untuk menuju ke ruangan nya.
keduanya berjalan menuju lift, untuk menuju lantai 4 dimana ruangan master Herman berada.
setelah di dalam ruangan.
"mengapa master tidak memberi kabar kalau mau kesini? jadi bisa saya perintahkan orang untuk menjemput master!" tanya master Herman sambil mempersilahkan guru nya duduk di sebuah sofa di ruang kerjanya.
"jarak rumahku dan perguruan mu ini hanya 1 setengah jam saja, jadi aku tidak mau merepotkan mu" sahut master Law dengan sedikit tersenyum.
"siapa pemuda tadi? berasal dari mana dia?" master Law balik bertanya dengan penuh penasaran.
"namanya feri master, untuk asal usul nya saya belum mengetahui nya, maaf!" jawab master Herman dengan menundukkan kepalanya.
"besok siang bawa aku untuk menemuinya langsung!" pinta master Law.
"siap master!" jawab master Herman dengan sopan.
"ajak juga master Chun, minta dia menemani kita besok!" perintah master Law tegas.
"siap master, saya akan menghubungi nya" jawab master Herman tanpa berani bertanya alasannya, mengapa mengajak master Chun, walaupun sedikit bingung.
master Chun adalah salah seorang master ternama dari 5 master di Jakarta, ia pendiri perguruan kera sakti di Jakarta timur, dan memiliki cabang perguruan di beberapa kota di Indonesia.
*******
keesokan harinya seperti biasa, feri dan Surya berpisah di simpang jalan dekat toko, untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing.
"Sur, hati-hati ya!" kata feri dengan melangkah ke arah toko.
"iya bang!" jawab Surya singkat dengan senyuman penuh semangat.
dari pagi hingga siang hari keadaan di toko berjalan normal seperti biasa.
dan sebelum jam istirahat siang, nampak sebuah mobil sedan Mercedes Benz, terparkir di depan toko.
__ADS_1
master Herman membuka pintu mobil bagian kiri belakang, dan seorang supir membuka pintu bagian kanan belakang.
master Law dan master Chun keluar secara bersamaan, nampak master Law memperhatikan toko bangunan sumber cahaya di hadapan nya.
"silakan!" master Herman meminta kedua master berjalan di depan.
beberapa orang yang melihat kedua master beladiri tersebut menuju toko, ada yang menyapa dengan penuh hormat, dan sebagian hanya berbisik penuh tanda tanya, mengapa kedua master beladiri yang terkenal itu berada di tempat umum, sangat tidak biasa.
setelah hampir masuk ke toko.
"master Law, master Chun, ee.. ini sungguh suatu kehormatan bagi kami, mendapatkan kunjungan dari master berdua, mari silakan!" Cang Juki menyapa dengan penuh hormat, yang kebetulan berada di depan toko.
"ada apalagi ini?" gumam Cang Juki dalam hati, karena melihat master Herman yang bersama mereka.
beberapa pelanggan yang berada di dalam toko, melihat kehadiran 2 orang master ini nampak memberi jalan menghormati mereka.
para karyawan toko yang mengenal 2 sosok master yang tidak asing lagi itu nampak heboh, dengan penuh pertanyaan dalam hati mereka, untuk apa mereka kesini.
Mita yang berada di meja tengah toko nampak memucat, karena takut kejadian kemaren terulang lagi.
Cang Ahlun menghampiri para master yang juga di kenalnya.
"master Law dan master Chun ingin bertemu feri!" jelas master Herman dengan nada ramah dari belakang kedua master tersebut.
"se sebentar kami panggil kan!" jawab Cang Ahlun sedikit terbata.
"kalau ia di gudang, mungkin kami bisa langsung bertemu dengannya disana!" pinta master Herman.
"ba baiklah silakan!" Cang Ahlun dengan gugup menjawab.
3 orang tersebut berjalan melalui pintu belakang toko yang langsung menuju dalam gudang, saat sudah di gudang pandangan mereka mencari keberadaan orang yang mereka cari, dan mendekati.
feri dan Salim nampak lagi menyusun pipa paralon dengan berbagai ukuran, setelah lebih dekat.
"feri.." panggil master Herman dengan ramah.
feri menengok sumber suara yang memanggil nya.
"ooh.. master Herman!" sahut feri dan melangkah mendekati master Herman yang terlihat bersamanya 2 orang lainnya.
__ADS_1
feri merasakan sesuatu yang tidak biasa dari tatapan kedua lelaki tua tersebut, tapi ia mencoba tenang.
master Herman yang berada di depan 2 orang tersebut tiba-tiba di lalui feri, dan langsung menyambut 2 lelaki tua yang di rasakan feri memiliki kekuatan yang luar biasa.
feri menggenggam kepalan tangan kiri nya dengan tangan kanan, dan membungkuk hormat.
"terima lah hormat saya" ucap feri dengan nada merendah.
master Law dan master Chun saling bertatapan tanpa langsung menjawab.
Cang Ahlun dan Cang Juki yang juga telah berada di gudang terlihat panik menyaksikan kejadian itu, karena khawatir kedua master beladiri yang terkenal itu, ingin membalas kan kekalahan master Herman dan murid-muridnya.
"kalau boleh saya tahu siapakah master berdua yang berada di hadapan saya yang lemah ini?" tanya feri dengan masih membungkuk.
kedua master ini masih diam beberapa saat.
"rupanya pemuda ini bisa merasakan aura kekuatan orang lain" gumam master Law dalam hati, karena merendah kan diri padanya berdua.
"kau masih sangat muda, tapi sudah memiliki bakat yang luar biasa!" ucap master Law, tanpa menjawab pertanyaan feri.
"iya.. benar sekali master Law, pantas saja ia bisa mengalahkan master Herman dan murid-muridnya!" timpal master Chun menguatkan perkataan master Law.
"master berdua terlalu memuji, itu hanya kebetulan saja!" ucap feri merendah.
master Law berbalik menatap Cang Ahlun dan Cang Juki yang berada beberapa meter di belakangnya.
"Ahlun.. apakah kau tidak keberatan kalau anak buah mu ku ajak makan siang bersama?" master Law meminta persetujuan Cang Ahlun sebagai boss dari feri.
"ee..silakan master, itu juga kalau feri bersedia dengan ajakan master!" Cang Ahlun menjawab dengan perasaan bingung, karena ia tidak berani menolak, walaupun ia ragu kalau terjadi sesuatu pada feri.
"apa kau bersedia menerima ajakan ku?" tanya master Law kembali menghadap feri.
"sebuah kehormatan bagi saya bisa bersama dengan para master!" jawab feri dengan penuh hormat menyetujui nya.
master Chun menatap feri dengan penuh kekaguman, "benar-benar pemuda yang sopan" gumamnya dalam hati.
mereka berempat pun melangkah keluar.
Cang Ahlun dan Cang Juki hanya menatap pasrah, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1