
"kak.. berhenti di depan gang itu!" pinta feri sambil menunjuk gang yang nampak gelap dan sempit.
mobil pun berhenti, dan mereka keluar.
"aku ikut ke rumah kalian!" kata master Herman dengan semangat.
"tapi dari sini kita harus jalan kaki 10-15 menit kak!" timpal feri.
master Herman tersenyum dan bergumam dalam hati nya "kalian mau bohongi aku ya?, agar aku nggak boleh tau rumah kalian!"
"nggak apa-apa, aku cuma ingin tau rumah kalian!" master Herman menyeringai.
"baiklah.. ayo kak! Surya yang menjawab permintaan master Herman.
"mmm.. ayo!" mereka bertiga pun melangkah memasuki gang yang sempit tersebut.
suasana yang sangat sepi mereka jalani, master Herman nampak serius memperhatikan kondisi gang yang sempit tersebut, ia memang belum pernah masuk ke kawasan pemukiman padat penduduk seperti itu, rumah-rumah yang sederhana, bahkan ada juga yang sudah tidak layak huni, di beberapa persimpangan gang nampak beberapa pemuda yang ronda sambil bermain kartu.
sudah hampir 10 menit mereka berjalan, tapi belum ada tanda-tanda akan sampai, master Herman mulai sedikit gelisah dan berjalan dengan alis yang mengerut, dan merasa tebakan nya tadi salah, kira-kira 15 menit mereka berjalan, nampak Surya yang berjalan di depan berhenti di depan rumah.
walaupun tengah malam dengan pencahayaan yang kurang, tapi master Herman bisa melihat kondisi rumah sederhana tersebut sudah mulai lapuk pada beberapa bagian.
"nah.. ini rumah kami kak!" suara feri mengagetkan master Herman.
"mari kak masuk!" ajak feri lagi.
"oh iya!" sahut master Herman yang merasa sedih melihat kawasan pemukiman yang padat itu.
didalam rumah master Herman lagi-lagi mengerutkan alisnya, karena hanya ada selembar tikar karpet terbentang, belum lagi lampu yang cuma 10 watt sebagai penerang ruangan itu.
"yang di depan ini kamar Surya, dan kamar saya disana!" feri menjelaskan kondisi rumah tersebut.
"maaf ya kak cuma lesehan, kami nggak punya kursi!" Surya berkata dengan membawa 3 gelas kopi di nampan.
"sudah berapa lama kalian disini?" tanya master Herman mencoba tetap santai.
"kalau saya sih sejak lahir sudah disini, kalau feri baru sekitar 2 bulan lebih!" jawab Surya dengan pasti.
setelah mengobrol beberapa saat, sambil menikmati segelas kopi, master Herman pun berdiri.
"mungkin lain kali kita sambung lagi ya, aku mau pulang!" master Herman mulai melangkah keluar.
"kami antar kakak ke mobil!" sahut feri dengan singkat.
"aah.. tidak usah, kalian cepat istirahat saja!" tolak master Herman.
"kakak yakin nggak mau kami antar?" tanya feri untuk meyakinkan master Herman.
"iya.. yakin!" Jawab master Herman tersenyum tipis.
__ADS_1
"ya sudah kalau begitu, hati-hati ya kak?" sahut feri dengan penuh perhatian.
"iya fer.., tidur yang nyenyak ya!" timpal master Herman melangkah keluar.
feri dan Surya hanya tersenyum mendengarnya.
"ayo bang tidur, aku dah ngantuk banget!" kata Surya sambil melangkah masuk ke dalam kamar nya.
"iyaaa.... aaahhh" jawab feri sambil menguap tanda mengantuk.
keesokan harinya.
"astaga.. sudah jam 8.20, aku kesiangan!" feri bergumam sendiri, tapi ia masih saja duduk dan meraih hp di samping tempat tidur dan menyalakan nya, terlihat banyak sekali panggilan tak terjawab baik dari wa atau telpon biasa, ia membukanya, ternyata panggilan dari Cang Ahlun, Salim, dan Lia.
"apa aku izin aja hari ini ya?, dari awal kerja aku belum pernah izin" gumam feri dalam hati, memikirkan alasan apa yang pantas.
ia pun menelepon Cang Ahlun untuk izin, setelah beberapa saat panggilan itu di angkat.
"Cang.. hari ini saya izin nggak masuk kerja, saya kurang enak badan!" ucap feri dengan nada sedikit serak.
"oh.. iya deh, nggak ape-ape, lho istirahat aja dulu dan jangan lupe minum obat ye!" sahut Cang Ahlun perhatian.
"iya Cang, terima kasih!" sahut feri dan mematikan panggilan tersebut.
feri kembali merebahkan tubuhnya, dan matanya melirik-lirik memikirkan sesuatu.
"seingat ku 2 hari yang lalu adalah hari ulang tahun Surya yang ke 20, jadi aku akan belikan hadiah walaupun sedikit terlambat". pikiran feri terus menerawang untuk mengisi waktu istirahat nya hari ini.
"mungkin tidak salah juga kalau aku beli motor, biar enak kalau mau jalan-jalan". beberapa ide sudah muncul satu persatu di pikiran nya, dan membuat feri tersenyum sendiri.
ia pun bergegas untuk mandi.
setelah selesai mandi feri berjalan langsung ke kamar Surya, dan masih memakai handuk saja yang menutupi bagian pinggang ke bawah.
"Sur.. tok.. tok..!" panggil feri.
"haaaah.. jam berapa sekarang bang?" tanya Surya terkejut melihat cahaya matahari yang masuk dari jendela.
"hampir jam 9, cepat mandi dulu sana!" pinta feri sedikit memaksa.
setelah beberapa saat, Surya keluar dari kamar mandi, mendapati feri yang sudah berpakaian lagi duduk sambil menikmati secangkir kopi.
"Abang nggak kerja?" tanya feri sambil masuk ke kamar nya.
"hari ini aku izin istirahat, dan hari ini kamu juga nggak usah kerja, kita jalan-jalan bersama seharian!" sahut feri dengan penuh semangat.
"emang kita mau jalan kemana sih bang?" tanya Surya dari dalam kamar, sambil mengenakan pakaian.
"udah pokok nya kamu ikut aja!" sahut feri tegas.
__ADS_1
kedua nya pun melangkah meninggalkan rumah tersebut, dan berencana mampir di warung makan terdekat untuk sarapan, karena bangun kesiangan jadi feri tidak memasak sarapan seperti biasa nya.
setelah menyelesaikan sarapan, mereka pun melanjutkan langkah mereka, dan dalam perjalanan tersebut.
"Sur.. kamu tau dealer motor Honda terdekat?"
tanya feri sedikit berbisik.
"tau bang!, di jalan Sudirman dekat lampu merah.
"kita beli motor yuk!, biar enak kalau mau jalan-jalan" sahut feri tersenyum halus.
"beneran bang?" tanya Surya semangat.
"mmm..!" jawab feri mengiyakan.
keduanya pun melangkah penuh semangat, ketika akan menuju ke dealer motor, feri melihat beberapa counter hp yang cukup besar, berniat menunda sebentar perjalanan mereka.
"Sur.. kita mampir kesitu dulu ya!" pinta feri menunjuk salah satu counter hp yang cukup besar.
"ngapain kesitu bang?" tanya Surya bingung.
feri hanya tersenyum dengan pertanyaan Surya, sambil menarik tangan Surya untuk mengikuti nya, dan setelah berapa di counter tadi, mereka melihat banyak sekali hp android dengan berbagai merk di dalam telasi counter.
"Surya.. kamu pilih aja 1 hp android, sebagai hadiah ulang tahun kamu 2 hari yang lalu!" pinta feri dengan pasti.
"serius nih bang?" tanya Surya belum yakin.
"iya.. kamu pilih saja!" feri dengan tersenyum menjawab nya.
"terima kasih bang.. terima kasih!" sahut Surya langsung memeluk feri.
karyawan counter yang menyaksikan kejadian itu, hanya tersenyum kecil.
"biar adil saya mau hp android seperti abang aja deh!" timpal Surya dengan yakin setelah melepas pelukan nya.
"terserah kamu aja!" jawab feri sambil menepuk pundak Surya.
setelah menyebutkan tipe, dan merk hp android yang sama dengan milik feri, Surya pun melepaskan kartu nomor miliknya dari hp yang biasa.
setelah karyawan counter membawa sebuah kotak yang berisi hp yang di pesan nya, Surya pun menyerahkan kartu nomor nya, untuk langsung di masukkan ke hp android yang baru.
Surya menyeringai sangat bahagia, mendapat hadiah tersebut, sedangkan feri di dalam counter membayar harga hp tersebut dengan kartu ATM nya.
feri pun keluar setelah selesai membayar, dan mendekati Surya, yang masih menunggu proses registrasi data yang di bantu karyawan counter.
"makasih ya bang!" ucap Surya terharu.
"selagi bisa, dan mampu apapun akan abang usahakan untuk persahabatan kita!" feri berkata sambil merangkul pundak Surya yang menatapnya dengan tatapan bangga dan bahagia.
__ADS_1